6

Ketika Guru Harus Mampu Membuat Pembelajaran Berbasis Android Sebagai Sarana Pembelajaran Masa Kini (+3)

oloan May 30, 2017
Guru Memberikan Arahan Dalam Proses Pembuatan Bahan Ajar Berbasis Android

Guru Memberikan Arahan Dalam Proses Pembuatan Bahan Ajar Berbasis Android

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teknologi atau sering disebut dengan pertukangan memiliki lebih dari satu defenisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Defenisi filsafat teknologi: adalah analisis kritis tentang suatu hasil ciptaan manusia melalui proses berpikir untuk menciptakan suatu artefak yang berguna bagi kehidupan manusia. Jadi jangan heran, apagila kata teknologi informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang pesat dan tidak akan ada matinya. Oleh karena itu, di abad 21 ini, sudah siapkah kita menerima perkembangan teknologi tersebut dan menjadi bagian dari teknologi?
TIK Dalam Memajukan Pendidikan
Negara di dunia tidak henti-hentinya membangun sistem pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Mengapa demikian? Karena di era berbasis TIK ini dipercaya akan mampu menempatkan bangsa dan Negara Berjaya dalam berbagai bidang, kita sebut saja misalnya dalam bidang ekonomi, kesehatan, militer, kemakmuran, daya saing dalam menciptakan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Informasi menjadi modal utama dalam memajukan Dunia Pendidikan kita saat ini. Media Teknologi Informasi dan Komunikasi yang mengalami perkembangan yang pesat mengharuskan para guru mampu memanfaatkannya dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang lebih kreatif, inovatif dan aktif, sehingga peserta didik lebih cepat paham dan mengerti akan pengetahuan yang diajarkan oleh guru.
Menurut Rosenberg (2001), setidaknya ada lima pergeseran peran Guru semenjak pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan: (1) Dari pelatihan ke penampilan, (2) Dari ruang kelas ke dimana dan kapan saja, (3) Dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) Fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan (5) Dari waktu siklus ke waktu nyata. Yang memaksa guru untuk terus berinovasi dan ber-kreasi untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan bermanfaat bagi mereka, baik dalam bidang studi apapun. Kehidupan sosial di masyarakat senantiasa tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Masyarakat yang maju senantiasa dinilai dari banyaknya teknologi yang dihasilkan karena pada dasarnya teknologi senantiasa mencerminkan kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Teknologi tidaklah senantiasa membawa kebaikan semata dalam masyarakat, meski tujuan teknologi sendiri lahir untuk memecahkan/mempermudah masalah masyarakat. Namun, tidak dapat disangkal perkembanganTIK khususnya internet ibarat “Men Behind Gun”, disamping memberikan manfaat bagi dunia pendidikan, juga menyuguhkan efek negatif yang dapat merusak mental dan moral generasi sekarang.
Oleh karena itu, pendidikan karakter juga sangat perlu diterapkan di rumah dan di sekolah, sehingga generasi sekarang yang kita ajari mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik. Sebab, pendidikan karakter bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaiaan pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh. Pendidikan karakter juga bertujuan agar peserta didik secara mandiri dapat meningkatkan dan menggunakan pengetahuaanya, mengkaji dan mewujudkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Ada delapan belas nilai-nilai pendidikan karakter yang telah dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah dijadikan program sebagai panduan untuk pendidikan karakter bangsa di lembaga-lembaga sekolah, yaitu :

Ketika Kolaborasi Guru dengan Siswa Bekerja Keras untuk memenangkan Kompetisi Desain Grafis Tingkat Kota. Guru membimbing Siswa

Ketika Kolaborasi Guru dengan Siswa Bekerja Keras untuk memenangkan Kompetisi Desain Grafis Tingkat Kota. Guru membimbing Siswa

Sikap jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab dan religius adalah sikap yang harus ditanamkan saat proses pembelajaran di sekolah dengan model pembelajaran berbasis TIK.
Lantas seperti apa proses pembelajaran yang diharapkan di era kekinian, sehingga kita tidak hanya menghasilkan generasi yang pintar, tetapi juga harus bermartabat dan berkarakter sesuai harapan pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 versi amandemen pada pasal 31 ayat 3, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Serta pasal 31 ayat 5, “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.” Sehingga jelas dengan pemanfaatan TIK, maka guru diharapkan mampu mejadi agent of change dari proses pembelajaran berbasis konvensional menjadi berbasis TIK dalam menghasilkan sumber daya manusia indonesia yang seutuhnya.
Hakikat Belajar TIK menurut UNESCO
Menurut resnick (2002) ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang terkait dengan modernisasi pendidikan: (1) bagaimana kita belajar (how people learn); (2) apa yang kita pelajari (what people learn); dan (3) kapan dan dimana kita belajar (where and when people learn). Maka peran TIK dalam moderninasi pendidikan di era kekinian dirumuskan sebagai berikut, bagaimana kita belajar? Terkait dengan metode atau model pembelajaran? Cara berinteraksi antara guru dengan peserta didik sangat menentukan model pembelajaran.
Menurut pannen (2005), saat ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran terkait dengan ketergantungan terhadap guru dan peran guru dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya tidak 100% bergantung kepada guru lagi (instructor dependent) tetapi lebih banyak terpusat kepada peserta didik (student centered learning atau instructor independent). Guru juga tidak lagi dijadikan satu satunya rujukan semua pengetahuan tetapi lebih sebagai fasilitator atau konsultan (resnick, 2002). UNESCO mengklasifikasikan tahap penggunaan TIK dalam pembelajaran kedalam empat tahap sebagai berikut: 1. Tahap emerging: baru menyadari akan pentingnya TIK untuk pembelajaran dan belum berupaya untuk menerapkannya. 2. Tahap applying: satu langkah lebih maju dimana TIK telah dijadikan sebagai obyek untuk dipelajari (mata pelajaran). 3. Tahap integrating: TIK telah diintegrasikan ke dalam kurikulum (pembelajaran). 4. Tahap transforming: merupakan tahap yang paling ideal dimana TIK telah menjadi katalis bagi perubahan/evolusi pendidikan.
TIK diaplikasikan secara penuh baik untuk proses pembelajaran (instructional purpose) maupun untuk administrasi. Dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan paradigma, untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan abad 21 yang lebih dikenal dengan era Digital Learning, memiliki karakteristik yang lebih mengutamakan proses pembelajaran dengan memanfaatkan perangkat TIK yang menjadi media pendukung proses kegiatan belajar mengajar. Implementasi perkembangan TIK dapat menciptakan proses pendidikan yang lebih efektif dan efisien. Seperti disampaikan oleh Hustandi dan Sutjipto (2011: 7) bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses pembelajaran. Seperti saat ini, sudah saatnya para guru mampu membuat media pembelajaran yang dapat diakses secara online dan real time, serta dengan menggunakan smartphone yang tidak asing lagi bagi generasi masa sekarang.

Proses Pembelajaran Abad 21, Guru Harus Cakap memanfaatkan perangkat TIK untuk Mengajar

Proses Pembelajaran Abad 21, Guru Harus Cakap memanfaatkan perangkat TIK untuk Mengajar

Fakta bahwa sampai Oktober 2013 pengguna smartphone di Indonesia sudah mencapai angka 211 juta penduduk dan 89%-nya adalah usia pelajar (anak SD sampai SMA) sudah memakai smartphone berbasis android. Ini adalah sebuah peluang besar untuk mengarahkan pelajar kita untuk lebih maksimal menggunakan perangkat Android mereka sebagai media pembelajaran.
Model Pengembangan Aplikasi Bahan Ajar berbasis Mobile
Berbagai macam perangkat mobile yang biasa digunakan diantaranya sistem Android dengan berbagai vendor pendukungnya, IOS dari Apple, Windows Mobile, BlackBerry, dan lain sebagainya. Pilihan platform menggunakan Android paling masuk akal, mengingat pemakai perangkat Android adalah yang paling banyak di era kekinian. Dalam Ilmu Komputer, platform atau serambi merupakan sebuah kombinasi antara sebuah arsitektur perangkat keras dengan sebuah kerangka kerja perangkat lunak (termasuk kerangka kerja aplikasi). Platform adalah unsur yang penting dalam pengembangan perangkat lunak (Wikipedia). Sebagai contoh beberapa Platform yang sering digunakan, adalah : PC, MAC, PDA/SmartPhone, Xbox, PS3, Nintendo Wii, dll.
Sebuah platform terdiri dari sistem operasi, yaitu program sistem koordinasi komputer yang memberikan perintah-perintah kepada prosesor dan hardware untuk melakukan operasi-opereasi logis dan mengatur pergerakan data di komputer. Banyak orang beranggapan bahwa Platform dan Sistem Operasi adalah hal yang sama, namun pada kenyataannya tidak. Platform merupakan dasar atau tempat dimana Sistem Operasi bekerja, tanpa Platform, Sistem Operasi tidak akan bisa berjalan. Contoh Sistem Operasi yang sering kita dengar, adalah: Windows XP, Windows Vista, Windows 7, Windows 8, Mac OS X Lion, Android Froyo, Android Ice Cream Sandwich, Windows Phone 7, Windows Phone 8, dll.
Tahap selanjutnya adalah memilih Software yang akan digunakan untuk membuat aplikasi Bahan Ajar berbasis Mobile ini. Beberapa pilihan yang dapat dijadikan pertimbangan, adalah : 1. Eclipse dengan ADT Plugins dan SDK, dengan dasar pemrograman JAVA. 2. Android Studio, yang merupakan generasi lebih baru untuk pengembangan Aplikasi Android. 3. Intel SDK, dengan dasar pemrograman HTML. 4. Adobe Flash CS6/CC 2015 atau Adobe Animate. Dengan beberapa pertimbangan, maka akhirnya saya memilih lebih menggunakan Adobe Flash CS6, yang bisa bekerja baik di Platform, maupun pada Windows 32 bit. Disamping itu, Adobe Flash juga dilengkapi dengan beberapa fitur pembuatan animasi yang mudah diajarkan kepada peserta didik yang baru belajar pemrograman. Juga untuk pembuatan proyek animasi misalnya, dapat digunakan dengan fasilitas Adobe Animate yang penekanannya pada penggunaan dokumen HTML akan lebih memudahkan apabila akan dikembangkan lebih lanjut.
Selanjutnya persiapan kita untuk membuat bahan ajar yang seperti apa yang menarik. Tentunya harus disisipi dengan : a. Kelengkapan materi sesuai dengan KD dan Indikator materi. b. Penyajian materi yang simpel, runtut, dan sistematis. c. Pemilihan kualitas yang baik dari file sumber (image, audio, dan video). d. Pemilihan jenis huruf/font yang digunakan dengan mempertimbangkan ketersediaan di perangkat Android. e. Komposisi penyajian yang memudahkan dan menyenangkan pemakai. f. Penyajian gambar/image, audio dan video yang relevan dengan materi. g. Penggunaan contoh kasus dan pembahasannya. h. Penggunaan latihan soal dan pembahasannya.
Tahap terakhir tentunya melakukan publikasi untuk menghasilkan file APK yang siap diinstalasi ke perangkat Android. Tahapan ini membutuhkan beberapa informasi berikut : a. Nama File APK b. Nama Aplikasi c. App ID d. Permission e. Icon Aplikasi f. File yang disertakan Setelah proses publikasi dilakukan, langkah terakhir adalah melakukan pengujian pada perangkat Android yang sebenarnya.

Nah, seperti itulah penjelasan singkat bagaimana membuat bahan ajar berbasis Android yang dapat dinikmati oleh para peserta didik dan memudahkan guru dalam memberikan pembelajaran di abad 21. Dimana interaksi antara guru dan peserta didik dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Nah, untuk mendukung proses pembuatan bahan ajar berbasis android ini sangat dibutuhkan perangkat teknologi yang sangat modern. Chromebook 14 adalah salah satu produk yang sangat diminati oleh guru, karena dirancang khusus untuk mendukung bidang pendidikan dalam mempersiapkan generasi milenial yang cerdas dan berkarekter, karena memiliki teknologi cloud, dimana guru menyebarkan bahan ajar dengan lebih mudah karena teknologi Wifi-nya dapat bekerja lebih cepat dari laptop-laptop keluaran lain. Semoga bermanfaat!
Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

385 total views, 3 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!