3

KENANGAN INDAH BERSAMAMU (+3)

gardenia augusta May 19, 2015

Kenangan indah ini berawal dari ketika aku sampai di sekolah, bersama sepeda mini yang setia menemani. Saat sepedaku memasuki gerbang sekolah aku disambut dengan suara murid-murid dengan ceria memanggil-manggil namaku. “Mom Diniiii…, Mom Diniiii….” Suara itu bersumber dari murid-murid SD-ku yang sedang ada di atas sana, di lantai 2. Wajahnya begitu menyenangkan untuk dipandang. Mata-mata yang berbinar, senyuman yang mengembang, dan antusiasme itu membuatku merasa disayangi, disukai, dan diharapkan kehadirannya.

Bel pun berbunyi, dua petugas penjemput menjemputku menuju kelas tempatku mengajar. Dari koridor mereka memanggil-manggil namaku, “Mom Diniiiiiiii….” teriak salah satu di antaranya.

“Ayo Mom, waktunya Mom Dini!” temannya ikut teriak. Semuanya meneriakiku dari lantai 2 saat aku masih dalam perjalanan menuju ke sana.

Tibalah aku di depan pintu kelas. Beberapa murid laki-laki mendatangiku, “Mamaaaaa…mamaaa….” sambil membentangkan tangannya seolah ingin memeluk, tetapi kutahan. Kata teman guruku, kelas 7 memang masih kecil, masa peralihan dari SD ke SMP. Anak-anak itu menganggapku mirip mamanya, mungkin karena sosokku yang tampak keibuan bagi murid-murid yang butuh kasih sayang itu.

Murid-murid menganggapku guru yang mudah untuk didekati alias tidak seram. Mereka suka curhat dan bertanya banyak hal yang ingin diketahuinya, termasuk masalah pribadi. Kalau sudah begini aku akan berusaha membantu sebisanya, minimal menjadi pendengar yang baik. Pernah suatu hari beberapa murid muslimah merasa galau di masa transisi ingin berhijab. Aku berusaha meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku berhasil. Aku bahagia bisa melihatnya berhasil melalui masa-masa itu.

Kisah lainnya adalah tentang adalah tentang 2 orang murid yang dipandang terbodoh di kelas oleh teman-temannya. Mereka mengeluhkannya padaku. Salah satunya bahkan kuikutkan jam tambahan denganku agar nilainya bisa meningkat. Sebenarnya berbayar tapi aku menggratiskannya, membiarkannya les dengan seorang temannya. Mungkin hal-hal itu sangat berkesan bagi mereka sehingga selepas UNAS mereka bertiga memberi makanan dan minuman untukku. Selepas UNAS, wali kelas 9 membuat even di mana murid-murid diwajibkan membawa kue beberapa buah serta membuat / membawa makanan dan minuman di sekolah. Barang-barang tersebut diperintahkan untuk diberikan kepada guru yang mereka sukai. Aku mendapat 2 buah kue dari murid-murid tadi beserta 1 minuman dari murid lesku yang lain. Aku tersanjung karena mereka menyukaiku.

Sebagai guru tentu saja aku dihadapkan pada berbagai jenis murid. Ada yang pemberontak ada juga yang lucu. Kelucuan-kelucuan inilah yang sedikit bisa menjadi pelipur lara di hati. Murid-murid SD misalnya, mereka masih diliputi dengan kepolosan-kepolosan. Akan tetapi, kepolosan-kepolosan ini tidak menutupi bakat dan minat mereka. Malahan ada di antara mereka yang memiliki orientasi yang jelas akan masa depannya, seperti Orin yang ingin membuka kafe, Gaby yang ingin menjadi artsitek, dan sebagainya. Pernah di saat mengajar aku mendapat tanda cinta. Dua orang murid SD menyerahkan gambar-gambar mereka padaku, salah satu di antaranya menggambar aku. Pada kertas itu juga tertulis “Mom Dini cantik”. Aku sangat bahagia mendapat tanda cinta itu dan sekaligus pujian di sana.

Terkadang suasana hatiku atau murid-muridku berfluktuasi seiring dengan waktu. Di saat itu tiba, di mana ada murid-murid yang sedang nakal / menyusahkanku teman-temannya akan membantuku. Entah berusaha mendiamkan mereka, membantu mengatasi temannya, membelaku, menenangkanku, dan sebagainya. Hal ini juga membuatku bahagia.

Di hari-hari istimewa para guru akan mendapat makanan, masakan, atau bingkisan dari wali murid. Untuk murid usia SD seringkali ulang tahunnya dirayakan di sekolah dan guru-guru kecipratan (kebagian) kue ulang tahun atau masakannya. Terkadang, ada juga wali murid sedang hajatan dan guru-guru mendapat kiriman makanannya, padahal acara itu bukan untuk murid di sekolah kami, untuk kakaknya misalnya.

Berbicara mengenai makanan aku teringat momen saat Valentine tiba. Saat itu beberapa murid memberiku cokelat. Tadinya aku ingin berkata, “Aku tidak merayakan Valentine”, tapi tak tega rasanya. Aku terharu dan bahagia mendapat hadiah dari mereka. Cokelatnya memang tidak mahal, seharga kantong anak-anak SD, tetapi cokelat itu sangat istimewa bagiku. Aku merasa disayangi dan kehadiranku diterima.

Mengajar dan mendidik murid usia SD tentu berbeda dengan SMP, sensasinya pun berbeda. Pada murid-murid yang SMP aku berhasil membuat mereka bersikap lebih sportif dan kreatif. Ketika bersalah mereka tak lagi mencari-cari alasan dan menolak untuk dihukum, tetapi sudah bersedia menerima konsekuensi dari segala kesalahannya. Dari sisi kreativitas mereka sudah berhasil untuk menjadi lebih kreatif.

Menjadi guru juga tak lepas dari sorotan masalah prestasi. Dari segi prestasi aku bahagia telah berhasil meloloskan seorang murid hingga babak penyisihan. Mungkin bagi guru lain hal itu kurang berarti, tetapi aku menghargai pencapaianku dan muridku sekecil apapun. Sementara itu murid yang lain telah berhasil kumotivasi sehingga memenangkan lomba-lomba kepenulisan. Aku mengarahkannya pada beberapa lomba menulis. Dari beberapa lomba yang diikutinya, beberapa kali pula dia menang. Bahkan, sempat pula menjadi juara 1 lomba menulis di even FLP Sidoarjo. Aku sangat bahagia, sangat bahagia, walaupun pada waktu seremonial penyerahan hadiah aku tidak bisa datang. Kulihat dia begitu bangga dan menunjukkan pialanya ke sekolah. Pada kesempatan lain dia berhasil memenangkan lomba menulis bergenre horor dengan hadiah sejumlah uang dan tulisannya dibukukan. Dengan bangga dia menunjukkan karya itu pada teman-temannya dan membeli sendiri 2 buah di toko buku untuk diberikannya kepada aku dan kepala sekolah SMP. Itu adalah momen yang menakjubkan dalam hidupku. Benar-benar murid yang berbakat.

Bonus lainnya sebagai guru adalah bisa rekreasi ke mana-mana. Melalui acara perpisahan, study tour, dan semacamnya aku dan guru-guru lain serta murid-murid bisa ke tempat mana saja, mengakrabkan diri, merilekskan pikiran dari beban, dan sebagainya.

Di atas itu semua, hal yang terindah mungkin adalah sisi manusiawinya (humanismenya). Ketika murid-muridku silaturahim ke rumah di situ aku merasa seperti keluarga, begitu akrab, seperti aku dimanusiakan, seperti aku tak hanya dianggap seperti pekerja yang dibayar serta hanya dinilai dengan uang dan uang. Murid-murid yang istimewa itu telah mengukir masa-masa indah di saat aku menjadi guru SD dan SMP di sebuah sekolah di Sidoarjo. Aku sangat berharap murid-muridku nanti akan sukses dunia dan akhiratnya dan mengingatku selamanya.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

2,074 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

  1. @Pak M. Subakri : Aamiin. Salam kenal juga Pak Subakri. Benar Pak, sangat membahagiakan. Pak Subakri dari Jatim mana?

    @Pak Iwan Sumantri: Aamiin. Itu juga yang saya harapkan, Pak dan saya yakin Insyaa Allah setiap guru juga berharap demikian pada anak didiknya. Salam persahabatan juga.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar