0

Keberadaan Bahasa Indonesia Memprihatinkan (0)

Martin Karakabu May 12, 2017
Gambar Ilustrasi

Gambar Ilustrasi

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional keberadaannya sedikit membuat khawatir siapa saja yang mencintai negeri ini. Eksistensinya di tengah penuturnya sendiri agak bergeser dengan bahasa prokem, seperti, gue, luw, ko, koe, trada dan lain sebagainya. Bukan hanya bahasa prokem tetapi pengaruh bahasa alay versi remajapun cukup besar dalam mempengaruhi gaya bertutur mereka. Kata – kata seperti “alay”, ”kepo”, ”sabi”, ”agut”, dan lain- lain semakin marak digunakan.  Terutama di ”sosial media”. Salah satu kata yang sering digunakan adalah “baper”.

Baper, merupakan kata yang biasanya diarahkan pada orang yang sedang dalam fase mengunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu hal. sesuai namanya ”bawa perasaan”. Contoh, Adam sedang sedih lalu Ryan menyela ”lagi baper yaa?”. Kata baper seharusnya digunakan seperti itu. Namun karena kekreatifan remaja milenium ini, kata ini sering diplesetkan dan digunakan sebagai “prisai” dan penganti umum kata Maaf.

Belum lagi pengaruh bahasa Inggris, kecenderungan remaja dalam kebersamaan dan pergaulan mereka; baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata adalah, “oke bro, thanks ya”, GBU bro, singkatan dari god bless you. Di sosial media tidak jarang kita saksikan ulah remaja yang sedang jatuh cinta, kemudian mengekspresikan cintanya dengan kata, I love you.

Pertanyaan saya sederhana pembaca terkasih, apakah terlalu jelek keberadaan Bahasa Indonesia sehingga remaja sepertinya malu mengungkapkan kata, “saya mencintaimu” untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada seseorang. Ataukah kata Bahasa Inggris I Love you kemungkinan diterima cintanya lebih besar daripada kata saya mencintaimu?. Sepertinya hanya remaja sendiri yang tahu jawabannya.

Memang benar, bahwa Bahasa Indonesia yang baik dan benar apabila disesuaikan dengan konteks. Misalnya Kaesang Pangarep mendampingi sang ayah presiden Jokowido dalam sidang kabinet; tentu ini situasi resmi dan kapasitas Jokowi bukan sebagai ayah, melainkan presiden maka siapapun dia termasuk anaknya idealnya wajib berbahasa Indonesia yang baik. Namun, jika konteksnya adalah Presiden Jokowidodo dan Kaesang hari sabtu, di rumah pribadinya di Solo maka, tidak tepat jika Kaesang mengatakan kepada Presiden Jokowi, “apakah saya boleh meminjam hp anda?”. Konteksnya tidak benar dan tidak komunikatif tentunya. Benar adalah, “pak boleh ga, Kaesang pinjam hp bapak”. Ini sangatlah kominikatif daripada, “apakah saya boleh meminjam hp anda?”. Semantara anda yang dimaksud adalah ayahnya sendiri dan situasinya di rumah. Itupun hanya ada anggota keluarga, maka konteksnya tidak tepat.

Jadi bahasa Bahasa Indonesia dikatakan baik dan benar apabila disesuaikan dengan siapa kita berbicara dan dalam situasi apa.

Hubungannya apa dengan topik pembahasan tentang bahasa prokem, alay, dan Bahasa Inggris?. Tentu ada hubungannya, jika seorang tidak tertib berbahasa maka hal ini menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan yang buruk dipeliahara maka akan menjadi tabiat atau karakter yang melekat. Sampai pada taraf ini, maka akibat yang ditimbulkan adalah Bahasa Indonesia kehilangan eksistensi di tempatnya sendiri, Indonesia. Masalah yang ditimbulkan pun karena pemiliknya sendiri yang tidak tertib dalam berbahasa. Dalam konteks ini yang dimaksudkan tertib adalah dengan siapa dia berbicara dan dalam situasi apa.

Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?, yang paling pertama dan utama adalah pengaruh teknologi. Sampai di sini apakah kita harus menyalahkan teknologi?, tentunya tidak pembaca sekalian. Soal ini akan saya bahas pada topik yang berbeda.

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini. Tentunya segenap tumpah darah Indonesia. Presiden dengan kebijakannya melalui menteri Pendidikan, Balai bahasa dan seluruh anak bangsa. Tetapi yang paling utama adalah guru di sekolah dan orang tua di rumah. Soal ini pun akan saya bahas pada tulisan saya berikutnya.

Pembaca yang terkasih, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa; Bahasa Indonesia adalah dasar dari perjuangan para pahlawan kita. Setelah kita memiliki bahasa persatuan Bahasa Indonesia, sekarang kita harus berjuang lagi para guru bangsa dan pembaca terkasih. Apa yang kita perjuangkan?. Kita perjuangkan adalah mengembalikan eksistensi Bahasa Indonesia pada kedudukannya yang sebenarnya, sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Musuh sekaligus teman kita adalah remaja pengguna bahasa alay, bahasa prokem dan teknologi. Mari kita bijak bertindak, sehingga musuh jadi teman dan masalah jadi solusi. Semua ini untuk Indonesia yang lebih baik. Di Tangan guru, terutama guru Bahasa Indonesialah semua ini dititipkan untuk dilaksanakan. ***

KUTITIPKAN REPUBLIK INI KEPADAMU GURU BANGSA.

JAGA DAN “RAWAT” AGAR TERUS BERJAYA.

Tulisan ini pernah dimuat di blog pribadi saya http://martinusruma.blogspot.co.id/2017/04/keberadaan-bahasa-indonesia.html

628 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar