0

Kebanggaan tak Ternilai (0)

Andi Ardianto July 30, 2018

Alhamdulillah tahun ini santri kami bertambah. Dari berbagai kelas. Dari beragam tempat. Dan dari latar belakang yang berbeda, tentunya.

Bertambahnya santri adalah peluang bagi kami untuk menambah aliran pahala.

Beragam santri juga membuat kami punya sumber belajar lebih banyak. Ya, sebenarnya, pada banyak hal, murid adalah jembatan bagi guru untuk mendapat pengetahuan baru.

Betapa banyak murid yang membuat gurunya lebih cerdas. Karena banyaknya permasalahan yang menuntut diselesaikan. Karena banyaknya pertanyaan yang perlu dijawab.

Karena mereka manusia dengan segala dinamika kehidupannya.

Hal di atas tentu saja menuntut guru banyak belajar. Dengan banyak belajar ujung-ujungnya tambah pintar.

Jadi salah besar kalau guru masih beranggapan dia adalah sumber ilmu untuk murid-muridnya.

Tahun ini pula kami mendapat santri yang lumayan spesial. Tidak hanya satu. Tapi memang yang butuh penanganan khusus satu itu.

Anak kedua dari dua saudara. Ayahnya baru saja meninggal. Beberapa bulan lalu. Karena kecelakaan.

Anaknya super. Ibunya sudah angkat tangan. Selain kesibukannya sebagai single parent yang mengharuskannya mencukupi kebutuhan.

Pilihan paling realistis memang dimasukkan asrama.

Dia, belum begitu mandiri. Belum bisa membuat susu sendiri. Kalau di rumah makan masih disuapi.

Sering mengamuk. Hal kecil saja sudah memancing emosinya. Pernah, ketika sedang makan piringnya tersenggol anak kedua saya, yang baru satu tahun. Piring itu tidak jatuh. Makanan juga masih utuh.

Tapi entah mengapa dia langsung marah. Lari ke kamar sembari berkata dengan intonasi marah, plus memukul-mukul kepalanya sendiri. Setelah itu, mungkin merasa kepalanya sakit di pukul sendiri, dia gantian memukul kasur.

Ah, biarlah.

Kata-katanya, dalam banyak hal, belum begitu jelas. Terkesan seperti anak kecil. Mungkin ini efek bimbingan di rumahnya yang salah arah. Maklum, dia tipe anak yang kreativitasnya dimatikan handphone.

Tiap hari mainannya hanya HP dan PS. Jarang sekali dia bersosialisasi dengan teman-temannya. Permainan kelompok yang seharusnya merangsang inisiatif pun tidak dia dapatkan.

Tidak suka air putih. Hanya susu yang mau dia minum. Kalau lainnya, mau, asal manis. Mungkin itu pula yang membuat badannya kelihatan gemuk. Mungkin karena kebanyakan gula.

Di suruh shalat pun masih butuh banyak bujukan. Ini itu. Super pokoknya.

Padahal usianya sudah sepuluh tahun. Kelas 4 SD.

Sebentar. Sebentar. Tulisan ini bukan keluh kesah saya atas kehadirannya. Bukan pula mengolok-oloknya. Justru saya sangat antusias lewat hadirnya. Dan, saya berjanji pada diri untuk membimbingnya semaksimal mungkin. Sesuai kemampuan saya.

Bagaimanapun dia tetap anak bangsa yang sama-sama punya hak memperoleh pendidikan dengan baik. Dia akan kami manusiakan sebagaimana tujuan pendidikan; memanusiakan manusia.

Dapat murid yang cerdas, penurut, berprestasi, itu biasa.

Kalau toh nanti dia mengharumkan lembaga, sebenarnya peran guru tidak terlalu banyak di dalamnya. Iyalah… modal awalnya saja sudah besar. Guru tinggal memoles. Kebanggaan atas prestasinya pun kurang. Saya rasa.

Tapi ini.. betul-betul tantangan yang keren. Bagaimana saya harus bisa membimbingnya. Menjadi lebih baik. Setidaknya tidak separah sekarang.

Bagaimana saya harus bisa membuatnya minum air putih. Berkali-kali saya coba. Saya bujuk. Alhamdulillah bisa. Memang masih ada susu yang di konsumsi, tapi jumlahnya menurun.

Saya memberinya syarat; satu kotak susu harus didahului air putih hangat. Mau tidak mau, dia akhirnya mau.

Awalnya dia sedikit muntah. Sekali. Tapi setelahnya dia terlihat enjoy. Kemarin, dia berhasil menghabiskan sebotol air putih yang di bawa ke sekolah.

Ditambah dua gelas di pondok. Alhamdulillah.

Saya lakukan ini agar dirinya, kelak, tidak terkena diabetes. Akumulasi tumpukan gula di tubuh akan sangat membahayakan dirinya, di masa depan.

Saya sudah sampaikan hal ini ke ibunya, beliau pun setuju. Beliau sudah pasrah mau diapakan anaknya. Demi kebaikannya.

Saya tahu ini berat baginya. Tertatih dia menjalaninya. Kadang, tidak tega melihatnya. Tapi bagaimanapun bahayanya justru akan lebih besar jika dia berlanjut dengan kebiasaannya saat ini.

Perlahan dia pun bisa membaur dengan teman-teman. Ikut kejar-kejaran, main lego, dan lainnya.

Saya sangat yakin perubahan itu akan hadir. Saya optimis pendar cahaya itu akan datang. Titik-titik itu kian nyata. Sedikit. Demi sedikit. Tapi jelas.

In sya Allah ini adalah peluang besar bagi kami.

Saya yakin, kebanggaan mengawalnya menuju perubahan yang lebih baik tidak bisa dibayar dengan apapun juga.
—-
Andi Ar
– Guru “Sekolah Presiden” SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali
– Pengasuh PPTQ Insan Cendekia, Teras, Boyolali

183 total views, 4 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar