20

Ke Sekolah Kok Jabat dan Cium Tangan? (+4)

Mushlihin September 8, 2013

Dari kecil, saya dan keluarga dibiasakan jabat tangan terhadap kedua orang tua atau minimal kepada bapak atau ibu jika akan keluar rumah, bukan cuma ketika akan berangkat sekolah, ke pasar, ke masjid, intinya ke luar rumah. Jabat tangan yang dibiasakan bukan sekedar jabat tangan, tapi sekaligus mencium tangan beliau (orang tua).

Tradisi jabat tangan ini turun temurun, konon dari kakeknya kakek sampai kepada keluarga saya sekarang. Jabat tangan pun dilakukan oleh banyak keluarga, bahkan di sekolah budaya jabat tangan peserta didik terhadap guru juga dibiasakan terutama, jika pulang sekolah. Tak ada yang perotes, namun jarang yang mencoba mencari makna dari jabat dan cium tangan.

Saya terinspirasi menulis ini, ketika melihat gerakan jabat tangan sedikit berubah dari apa yang saya lakukan dahulu terhadap kedua orang tua saya. Menggenggam tangan dengan erat, lalu mencium punggung tangan. Namanya mencium, memakai hidung. Ini beda dengan sebagian anak didik, mereka mencium tangan dengan menempelkan punggung tangan guru di pipi, bahkan ada yang di telinga. Unik, namun jauh dari tradisi.

jabat tangan

Setelah mencoba mengacak-acak sedikit literatur, saya temukan sebuah hadis fi’liyyah (perbuatan) yang artinya; “Aku berbaiat kepada Rasulullah sawdengan tanganku ini, lalu kami menciumnya. Beliau saw tidak mengingkari hal itu.”  (Hadis Riwayat Abu Bakr bin Al-Muqri; hadis Hasan). Dalam penjelasan hadis tersebut, dinyatakan mencium dengan menggunakan kata taqbil berarti mencium dengan menyentuhkan objek cium ke hidung.

Dalam bahasan fikih, jabat tangan dan cium tangan, oleh sebagian ulama fikih, menyatakan bahwa ini adalah bagian dari urf yaitu kebiasaan baik yang layak. Urf hanya baik jika tidak dilakukan berlebihan, seperi jabat tangan pria terhadap wanita yang sengaja keseringa untuk maksud tertentu (mungkin).

Konon, Prof. Quraysh Syihab bersaudara, melakukan tradisi ini sejak kecil. Saya pernah menyatakan langsung hal ini termasuk hikmah yang terkandung dari jabat dan cium tangan. Belia mengatkan; “Banyak sekali, terutama terkait ekspresi cinta. Tak ada wujud tertinggi dari ekspresi cinta, selain menyentuh. Adapun mencium lebih berat kepada membiasakan sifat rendah ahti, tabarruk, dan tawadduk. Keberkahan akan dekat dari sifat tawaduk dan tabarruk.”

Apa yang dikatakan oleh pakar tafsir asal Rappang Sulawesi Selatan ini ada benarnya. Terbukti dari 4 bersaudara semua tergolong sukses secara akademis, dan bisa jadi kesuksesan mereka berasal dari sifat dan rasa cinta olahan jabat dan cium tangan. Jadi kalau ada yang bertanya kepada saya, ke sekolah kok jabat dan cium tangan?, maka aku punya jawabannya “BIAR SUKSES.”

 

903 total views, 4 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (20)

  1. Avatar of Botaksakti

    Tak ada wujud tertinggi dari ekspresi cinta, selain menyentuh. Adapun mencium lebih berat kepada membiasakan sifat rendah ahti, tabarruk, dan tawadduk. Keberkahan akan dekat dari sifat tawaduk dan tabarruk.”
    ————————————————————————————————
    Guru….sentuhlah muridmu, tapi……..

  2. Avatar of Pak Sukani @gurumelekIT

    Terimakasih pak Mushlihin atas sharingnya. Saya setuju banget tuh pak dengan jawabannya “BIAR SUKSES”.

    Namun, berjabat tangan dan mencium tangan adalah untuk menghormati orang yang lebih tua, lebih-lebih kepada orang tua dan guru. Saya sependapat dengan pak M.Rasyid Nur.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!