1

Karena Pilih Kasih (+3)

febri prasetyo June 8, 2017

BESOK, Galih berencana untuk duduk di kursi bagian depan. Persis berhadapan dengan meja guru. Dia melakukannya demi sebuah misi. Kali ini tekadnya sudah bulat. Biar lebih menyakinkan, kata-kata sumpah berkali-kali dia ikrarkan. Gayanya bak seorang pujangga yang tengah dimabuk asmara. Saksinya ada empat temannya dan saya. Memang bukan peristiwa penting, kecuali bagi kami. Karena itu berarti esok hari Galih atas nama keadilan akan melabrak sang guru!

GALIH tidak sedang main-main kali ini. Untuk takaran anak sekolah dan perempuan, dia memang termasuk nekat. Nyalinya sudah diakui oleh teman-temannya. Termasuk juga saya. Dan siang itu nyalinya semakin garang begitu mendapat dukungan keempat temannya. Saya sendiri, cukup tersenyum kecut melihatnya. Sambil menduga-duga apa gerangan yang akan terjadi esok di kelas Galih. Jadi, tidak mengamini atau pun menolaknya.

Target Galih esok adalah Ibu Tika, sang guru fisika. Satu-satunya sosok guru yang paling dibencinya. Demi menuntut keadilan atas apa yang telah terjadi sebelumnya. Saat Galih merasa diberlakukan tidak adil dengan mendapat nilai-nilai ulangan yang selalu rendah meski dia yakin mampu menjawabnya.

Bagi Galih dan kelompoknya, Bu Tika adalah sosok guru paling buruk dan menyebalkan yang pernah ada. Dari anehnya cara beliau mengajarnya, pilih kasih dalam memberi perhatian dan ketidakadilan saat memberikan nilai ulangan. Konon Galih sendiri sudah melakukan investigasi demi mengumpulkan bukti-bukti yang cukup akurat. Dan didapat kesimpulan bahwa setidaknya ada dua alasan utama mengapa Ibu Tika perlu mendapat protes keras.

Pertama, cara beliau mengajar payah. “Lah, bagaimana tidak, wong belajar fisika ko pakai model presentasi kelas! Kapan bisanya!?”, begitu gerutu Galih. Bagi Galih dan teman-temannya, cara belajar model presentasi tidak cocok untuk belajar fisika. Menjelaskan secara bergantian suatu teori fisika di depan kelas disaksikan semua temannya padahal dia sendiri tidak paham sama sekali, betul-betul metode pembodohan. Sudah begitu, tidak ada penjelasan sama sekali oleh sang guru apakah teori yang dipresentasikan itu sudah benar atau belum.

Untuk alasan pertama saya sepakat. Wajar anak-anak protes. Jangankan mereka, saya juga akan keder kalau harus menjelaskan sesuatu agar orang lain paham atas sesuatu yang tidak saya pahami.

Kedua, perhatian beliau saat mengajar sangat pilih kasih. Beberapa siswa yang diduga anak “asuh” (baca: privat) beliau selalu mendapat nilai bagus saat ulangan. Bahkan meskipun ulangan diadakan secara mendadak. Beberapa siswa yang pernah menjadi anak asuh beliau pernah membocorkan rahasia. Bahwa semua soal ulangan yang diadakan oleh Bu Tika, pernah dibahas dalam sesi privat.

Menurut Galih, sebenarnya kecurangan ini bukan lagi rahasia. Sehingga alasan beberapa temannya mengikuti les privat yang diadakan Bu Tika sebenarnya hanyalah mencari status sebagai anak asuh beliau. Bukan karena untuk pendalaman materi. Karena meski nanti nilai asli ulangan kurang, tak perlu khawatir. Dijamin nilai jelek tadi bisa dikatrol jadi bagus. Maka meskipun nilai-nilai anak asuh beliau tidak menonjol di pelajaran lain, tapi untuk pelajaran fisika pasti lain cerita. Dan, sekali lagi atas nama keadilan, saya pun sepakat.

Kini saya mengerti mengapa Galih bertekad bulat siang itu. Meski jujur saya tidak tahu pasti apa hubungannya duduk persis di depan guru dengan protes terhadap sang guru tersebut. Maka saya hanya menduga-duga. Mungkin saja Galih ingin mengawasi gerak-gerik ibu gurunya. Sekaligus agar bisa leluasa menatap sinis sang guru sepanjang jam pelajaran berlangsung. Atau mungkin bisa jadi bukan keduanya. Yang pasti, dengan cara ini Galih bisa menumpahkan rasa amarahnya.

Sebenarnya perseteruan ini bukanlah untuk kali pertama terjadi. Sebelumnya sebuah kabar masuk ke telinga saya, kalau Bu Tika pernah menangis gara-gara ulah Galih. Beruntung Galih adalah putri dari pembesar di Dinas Pendidikan di kota itu. Jadi, amanlah posisinya di sekolah.

Zaman memang sudah berubah. Anak-anak sekolah sekarang bukan lagi anak-anak yang pemalu. Tidak lagi bisa dikendalikan semau kita. Mereka sudah berani menyampaikan suara. Bahkan mungkin saja bertindak di luar nalar demi menyuarakan nuraninya. Hanya mungkin perlu kita arahkan agar tidak salah langkah dalam penyampaian. Jangan seperti apa yang terlihat dari sebuah video yang sempat menuai kontroversi dari negeri Cina.

Di video yang beredar akhir Mei 2007 lalu terekam dengan jelas penyiksaan dan pelecehan yang dilakukan oleh dua orang siswa pada guru berusia 70 tahun. Siswa lelaki itu melecehkan sang guru dengan cara membanting topi sang guru sebelum akhirnya melemparkan sebuah botol plastik kepadanya. Pelecehan itu diperparah dengan riuhnya anak-anak lain di kelas menyoraki adegan itu.

Nah, jika dibandingkan dengan pelecehan itu, aksi Galih memang bisa dianggap wajar. Tapi meski begitu, perseteruan antara guru dan siswa tentu saja tetap tidak wajar. Jadi, mari kita korek permasalahannya dan mencoba mencari solusinya.

Anak-anak sekolah sekarang, termasuk di dalamnya Galih, tidak lagi hanya bisa sekadar maklum jika dalam proses pembelajaran berlangsung kurang sehat. Mereka juga pada dasarnya sedang menakar kinerja gurunya. Tak cukup hanya dengan berkeluh kesah di kantin. Tapi mereka juga siap dengan aksi yang lebih nyata. Tidak ada lagi kata-kata sungkan.

Saya pernah punya pengalaman mendapat protes keras dari anak-anak. Saat itu saya menjelaskan suatu konsep materi pelajaran yang ternyata saat dikroscek anak-anak terdapat kekeliruan. Bagi mereka itu sangat berbahaya. Karena bisa menyebabkan mereka salah dalam mengerjakan suatu soal. Dan saya mohon maaf untuk itu. Bagaimanapun juga saya memang berada di pihak yang salah. Mungkin anda juga pernah mengalaminya, bukan?

Harusnya setiap pihak bisa memainkan peran dengan sebaik-baiknya. Baik itu guru, kepala sekolah, orang tua siswa hingga siswa. Jujur, adil, tidak pilih kasih, tegas tapi juga penuh kasih sayang. Jangan ragu untuk memuji jika mereka berprestasi. Tapi juga jangan tebang pilih jika menerapkan sistem punishment. Tegasnya, semua harus sesuai dengan porsinya.

Jika memang perlu ada pengkhususan pada salah seorang siswa didik, maka jelaskanlah alasannya pada mereka. Wajar si A mendapat nilai bagus karena dia lebih rajin belajar. Wajar si B lebih diperhatikan karena kemampuannya di bawah siswa yang lain. Wajar pula jika seorang guru hanya bisa menghafal anak-anak didiknya yang menonjol dari yang berkemampuan rata-rata. Misalnya, anak-anak yang paling pintar, paling rajin, paling disiplin. Atau sebaliknya, anak-anak yang paling kurang, paling bandel dll.

Jadi, tidak mau bukan, jika kelak anak-anak kita bertindak diluar batas demi menyampaikan aspirasi mereka. Introspeksi diri memang sangat diperlukan. Saat saya hampir menyelesaikan tulisan ini, sebuah pesan singkat mampir ke ponsel saya. Kabar gembira dari Galih. Katanya dia batal melakukan aksinya. Kini dia sudah berdamai dengan ibu guru Tika. Alasannya? Tika hanya tersenyum saat saya tanyakan hal ini. Dan menurut saya, biarlah itu menjadi rahasia mereka berdua. Ah, dasar anak-anak 🙂

 

552 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar