9

K-13 atawa KTSP, Guru akan Terus Menjadi Guru (+4)

M. Rasyid Nur December 12, 2014

SETELAH Menbuddikdasmen, Anies Baswedan mengeluarkan surat bernomor 179342/MPK/KR/2014 tanggal 5 Desember 2014 tentang penundaan implementasi K-13 (Kurikulum 2013) bagi sekolah-sekolah yang baru memulainya pada Tahun Pelajaran (TP) 2014/ 2015 dan meneruskan pelaksanaannya bagi sekolah-sekolah yang sudah memulai pada TP 2013/ 2014 maka berbagai reaksi bermunculan. Pro dan kontra tidak dapat dielakkan.

Pihak-pihak yang sedari awal tidak menyukai keputusan (mantan) Mendikbud, M. Nuh untuk melaksanakan K-13 setahun lalu bagaikan mendapat amunisi baru untuk menolaknya dan bersuara lagi hari-hari belakangan ini. Ditambah penentang yang muncul ketika implementasi K-13 tiba-tiba diberlakukan bagi siswa kelas XI TP 2014/ 2015 maka semakin riuh-rendahlah yang mempersoalkan berlakuknya K-13 itu. Penolakan dari berbagai pihak bagaikan air bah mengalir setiap hari di seantero berita.

Agak sedih juga, dari komentar dan kicauan sebagian guru di media sosial, ternyata ada pula guru yang bersuka-cita atas penundaan ini. Tanpa mengetahui lebih dalam alasan penundaan itu, malah ada guru yang bersorak karena berharap K-13 diganti dan tidak perlu dilaksanakan lagi. Harapannya bukan ditunda tapi dibatalkan.

Bagi sekolah, selain kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Pusat (Kembudikdasmen), acuan pelaksanannya tentu saja diatur juga di daerah. Dinas Pendidikan Kabupaten adalah ujung tombak pemegang dan pengendali kebijakan dalam pelaksanaan kurikulum di daerah. Sedihnya, kontroversi pro-kontra penundaan implementasi K-13 ternyata tidak diikuti begitu saja oleh semua daerah sebagaimana dijelaskan dalam surat Menbuddikdasmen itu. Ada pula daerah yang justseru dengan tegas tidak mengikuti bunyi surat itu.

Salah satu provinsi di Tanah Jawa, konon membuat kesepakatan di antara seluruh Dinas Kabupatennya untuk terus melaksanakan K-13 sebagaimana sudah dilaksanakan pada TP 2013/ 2014 dan 2014/ 2015 ini. Itu berarti, penegasan menteri agar menunda bagi sekolah (kelas) yang baru memulainya pada tahun ini, tidak diikuti. Sekolah (daerah) itu artinya menolak surat Pak Menteri itu. Tidakkah ini akan memalukan Pemerintah Pusat?

Terlepas dari pro-kontra respon isi surat Menbuddikdasmen, seharusnya bagi sekolah proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan dengan acuan K-13 dalam satu semester ini tidak perlu terlalu risau ketika di semester genap nanti harus kembali ke KTSP (K-2006) itu. Sesungguhnya pendekatan dan strategi pembelajaran sebagaimana dituntut pada K-13, itu sampai batas tertentu juga sudah ada pada KTSP. Pusat pembelajaran pada siswa, misalnya, itu sudah lama dituntut sebelum K-13 diterapkan. Penilaian yang lebih menekankan pada data dan fakta (outentik) juga sudah dituntut pada KTSP meskipun guru juga yang melalaikannya.

Selain itu, pendekatan sanitifik dengan ciri 5-M itu juga tidak berlebihan jika guru tetap menerapkannya pada K-2006 nanti. Jika ada yang berubah hanyalah struktur Mata Pelajaran yang kembali akan memperlakukan TIK/ KKPI, misalnya sebagai sebuah mata pelajaran.Tentang harapan peserta didik lebih kreatif dan inovatif pun sangat diharapkan pada KTSP. Lalu apa yang harus dikhawatirkan?

Sebagai guru, kita yakin bahwa tugas-tugas pokok untuk menjadikan peserta didik menjadi manusia berakhlak, beriman dan bertakwa, berilmu dan terampil akan terus ada dalam fungsi dan tanggung jawab kita. Guru juga tidak akan ragu dengan tugas pokoknya itu. Apakah Pemerintah akan meneruskan K-13 atau kembali ke KTSP bahkan kurikulum lainnya, guru tetap saja menjadi garda terdepan pendidikan bangsa ini. Guru tetap akan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Yang justeru dikhawatirkan adalah jika ada guru yang tidak siap untuk terus mengembangkan dirinya secara terus-menerus sebagai usaha untuk mengembangkan diri peserta didik. Guru tidak boleh stagnan dengan model dan cara mengajar yang sudah mapan pada diri sendiri. Pengembangan diri secara berkelanjutan adalah keharusan yang tidak bisa dinapikan. Maka, mari kita tunaikan kewajiban kita dengan sebaik mungkin yang bisa dilakukan.***
Dari http://mrasyidnur.blogspot.com/2014/12/k-13-dalam-ktsp.html#more

1,996 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (9)

  1. Ehmm … begitulah pak, pro kontra selalu terjadi. Walau saya sdh purna tugas guru dari PNS sebelum kurikulum 2013, namun hingga saat ini saya terus ikut menyiasati pembelajaran yg masih saya lakukan. Dalam melayani siswa dewasa ini, saya memang agak kuwalahan. Namun beberapa siswa tampak makin mandiri dan nalar serta skillnya meningkat lebih hebat dibanding lainnya. Karakter unggul yg dibiasakan membuat mereka lebih rileks, enjoy, siap menghadapi tantangan. Pak, di Jawa Timur sepakat untuk lanjut menerapkan kur 2013. Thx sharingnya, salam perjuangan.

  2. Bagi saya pribadi yang terpenting adalah bagaimana kita tetap berusaha menjadi guru-guru yang bermutu. Ahli dibidangnya, professional dalam bekerja dan unggul dalam karya. Tetap konsisten menjaga amanah mengabdi kepada negeri agar lebih baik…..
    Terima kasih pencerahannya pak…

  3. Benar, Bu Etna. Menurut beberapa teman yang sudah enjoy dengan K-13 mengatakan kalau proses pembelajaran dengan kurikulum baru ini sebanrnya sangatlah baik. Hanya tergantung kepada guru juga. Seperti dijelaskan Pak Tutuk Jatmiko bahwa guru itu yang utama adalah profesionalitasnya. Jika guru mampu mempertahankan profesionalismenya maka apapun kurikulumnya tetap saja akan menyenangkan pembelajarannya. Terima kasih Bu Etna dan Pak Tutuk atas tambahan masukannya.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar