2

Jadi Guru? Modalnya Ikhlas Saja! (+1)

Bai Ruindra December 5, 2013

 

Pekerjaan boleh apa saja, asal cinta rasa senang akan datang dengan sendirinya. Begitu pula menjadi guru, kebanyakan orang malah menganggap guru sebagai pekerjaan yang remeh. Guru masih dipandang sebagai pekerjaan loyo dan tak bisa menghasilkan uang banyak. Orang-orang yang beranggapan demikian harus berpikir lagi, bukankah karena seorang guru dia jadi orang hebat?

Guru menjadikan bangsa ini pintar, terhadap apapun. Guru datang membawa kesegaran agar anak muda bisa berkarya. Lantas apakah kita pernah melihat kegalauan guru saat peraturan pemerintah semakin hari semakin berubah-ubah?

Sebagai guru – walau masih berstatus honor yang enak kapan jadi pegawai – saya merasakan hal yang sama. Tahun ini kurikulum seperti ini, tahun depan berubah lagi, tahun depan berubah lagi. Padahal jika ditelusuri pembelajaran yang dilakukan begitu-begitu saja, hanya segelintir orang yang mau berubah menjadi lebih baik. Menciptakan metode dan media pembelajaran spektakuler bukanlah dilakukan oleh semua guru, kebanyakan guru sekarang malah sibuk memikirkan gaji dan tunjangan sertifikasi, urusan mengajar biarlah mengalir seperti air.

Jenuhkah seorang guru? Jelas sekali tampak kejenuhan di mata teman-teman saya. Apalagi bagi mereka yang pegawai, sudah mengambil kredit di bank, gaji tinggal sedikit, berharap pada tunjangan dan sertifikasi. Selain itu, guru yang dituntut mengajar 24 jam seminggu selalu harus disibukkan merancang suasana belajar yang berbeda. Namun hal itu tidak dilakukan, 24 jam pelajaran masih tetap sama dengan 12 jam pelajaran.

Jam pelajaran yang banyak itu menjadi rutinitas yang sangat menjenuhkan saat guru tidak bisa berkreasi menciptakan metode dan media pembelajaran. Jika di dalam kelas hanya bermodal ceramah, diskusi dan duduk termenung sampai kapanpun guru akan jenuh pada rutinitas mengajar.

Sebagai guru honor, tentu saja tidak mendapatkan gaji, tunjangan dan sertifikasi. Jika saya ingin dapat uang maka saya harus mengajar banyak jam. Di sekolah tempat saya mengajar, kami selaku guru honor dibayar perjam pelajaran. Tidak seberapa jika dibandingkan jam pelajaran yang kami emban. Belum seperempat gaji guru yang sudah sertifikasi dan mengajar tanpa kreasi.

Dalam seminggu saya mengajar 37 jam, untuk pelajaran Fisika dan TIK. 37 jam ini terbagi dua sekolah, dan saya harus pintar-pintar membagi waktu antara dua sekolah tersebut. Jika dibandingkan dengan guru pegawai yang hanya mengajar 24 jam tentu 37 jam sangat jauh sekali. Mereka yang pegawai masih banyak mengeluh tentang sertifikasi yang belum masuk rekening, silabus dan RPP belum siap, membagi waktu dengan keluarga dan lain-lain. Giliran saya yang mengajar 37 jam, jika pernah mengeluh; mereka menjawab “Kamu masih muda, sanggup kok ngajar 37 jam?”

Wah, rasanya 37 jam itu bagai 1 jam bagi mereka. Rutinitas yang padat setiap minggu dan mengejar dua sekolah membuat saya berpikir ulang. Jenuh harus dibuang dan berbuat banyak agar anak-anak tak bosan.

Nasib siswa-siswi ada ditangan saya sebagai guru mereka. Saya mulai merancang pembelajaran dengan berbagai metode dan gaya belajar. Bukan saya tidak menggunakan Silabus maupun RPP, namun saya harus mennyesampaikan kedua hal ini terlebih dahulu jika anak-anak ingin memahami materi ajar. Jika saya terfokus pada kurikulum yang ada, maka siswa dan siswi di kampung ini tidak akan menyerap materi ajar sedikitpun.

Saya memutar otak; hari ini saya buat game, besok saya ajak mereka belajar diluar kelas, lusa saya atur bangku di dalam kelas berbentuk huruf U, hari lain saya ubah posisi anak-anak yang dibelakang pindah ke depan, dan macam ragam gaya belajar yang kemudian menjadi bahan protes anak-anak. Namun mereka tetap penasaran setiap kali saya masuk kelas. Apa yang saya bawa dan mereka harap-harap cemas dengan gebrakan saya. Rutinitas ini kemudian menjadikan saya sebagai orang yang terus berpikir, jenuh yang semula banyak jam pelajaran terlupakan dengan sendirinya.

Gaji kami memang tidak seberapa, modalnya cukup ikhlas dan mengajar untuk membisakan siswa-siswi apa yang mereka belum tahu. Jika Anda siap jadi guru, berpikirlah ulang metode dan media yang akan Anda gunakan dalam mengajar sebelum jenuh menghampiri!

***

 

 

1,640 total views, 1 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!