4

Ini 3 Kunci Agar Menjadi Guru Sukses di Era Digital Citizenship (+3)

RM May 30, 2017

guru digital citizenship

Kekhawatiran Para Guru

Dear para guru, sadarkah bahwa posisi guru saat ini terancam oleh kehadiran teknologi yang semakin canggih?

Banyak wacana yang menimbulkan kekhawatiran bahwa posisi guru dapat tergantikan oleh teknologi yang semakin berkembang pesat. Beberapa temuan hasil penelitian mendukung kekhawatiran tersebut. Penelitian hole in the walls yang dilakukan di India menunjukkan bahwa ternyata siswa dapat mengajari dirinya sendiri, melalui pengajaran sesama teman dalam mengoperasikan komputer dan internet. Penelitian lainnya yang dilakukan  OECD menunjukkan bahwa siswa yang telah terpapar internet dan mampu mengoperasikan komputer untuk belajar ternyata memiliki rata-rata nilai yang lebih tinggi dibanding anak lainnya.

fungsi guru

Dari fenomena tersebut diatas, tampak bahwa dalam porsi tertentu siswa ternyata tidak membutuhkan kehadiran guru. Cukup ngeri, bukan? Walaupun begitu, jangan panik! Kekhawatiran tersebut seharusnya menjadi lecutan semangat bagi para guru untuk belajar beradaptasi dan meningkatkan kualitas mengajar.

Zaman telah berubah, maka sudah saatnya guru juga menyesuaikan diri dengan perubahan peran barunya.

 

Karakteristik Generasi Millenial

Untuk menentukan langkah yang tepat dalam beradaptasi di dunia digital citizenship, terlebih dahulu para guru perlu memahami karakteristik siswa generasi millenial. Karakteristik yang paling menonjol dari siswa generasi millenial adalah kemampuannya untuk mengakses informasi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas. Hal tersebut salah satunya ditunjang oleh pengoperasian komputer maupun gadget yang tersambung dengan jaringan internet. Saat ini sudah bukan zamannya lagi guru menjadi narasumber utama. Mesin pencari digital terbukti mampu menyediakan beribu-ribu bahan ajar yang lebih bervariasi dari segi tampilan dan kualitasnya. Dengan begitu, siswa lebih berpotensi memiliki wawasan global yang tak dapat dibendung, dan mampu mendapatkannya secara mandiri.

karakteristik siswa generasi millenial

 

Dengan adanya kemajuan semacam itu, lantas bagaimanakah peran guru? Para pakar pendidikan dunia seperti Sir Ken Robinson dan Pamela Wright sepakat setidaknya mengenai satu hal: apabila fungsi guru hanya terbatas pada penyampaian informasi dan pengajaran konsep, maka otomatis guru tergantikan oleh teknologi. Akan tetapi, sejatinya fungsi guru tidak hanya sebatas penyampai informasi dan pengajar konsep, bukan? Menurut Sir Ken Robinson, guru yang baik akan mampu menjalankan fungsi sebagai provokator yang peka, peduli, dan proaktif terhadap perkembangan kreatifitas anak didiknya.

Untuk menjalankan fungsi guru yang ideal di era digital citizenship, tentu saja para guru harus terlebih dahulu melek teknologi. Melek teknologi bukan berarti harus profesional terlebih dahulu sebelum memulai suatu inovasi belajar yang baru. Pengoperasian teknologi yang tepat guna adalah proses belajar seumur hidup, artinya tidak ada kata final dan juga tidak ada kata ketinggalan bagi siapa saja yang mau belajar. Learning by doing,  siapa takut?

 

3 Peran Baru

Berdasarkan fungsi guru sebagai subjek pendidikan yang penting, maka terdapat 3 peran yang dapat dilakukan guru melek teknologi dalam mengelola proses belajar-mengajar di era digital citizenship. 3 peran tersebut adalah:

  1. Guru sebagai motivator

Apakah kehadiran komputer dan internet sudah otomatis meningkatkan hasrat siswa untuk belajar? Jawabannya: tidak! Sebagai manusia (person), tindakan siswa tentu saja senantiasa berlandaskan motif. Terlepas dari bagaimanapun jenis teknologinya, baik sederhana maupun canggih.

guru sebagai motivator

Tanpa kehadiran guru yang kreatif dan inovatif, kehadiran internet dan komputer tidak akan berarti apa-apa bagi proses pembelajaran. Sebaliknya, dengan kreatifitas dan inovasi guru yang baik, kedua hal tersebut dapat menjadi bahan yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Para guru, mulailah untuk memotivasi siswa agar lebih kreatif dan inovatif dalam menggunakan teknologi untuk proses pembelajaran. Caranya, tentu saja dengan menjadi role model bagi siswa. Buatlah kegiatan belajar yang menarik menggunakan teknologi, seperti pembuatan PR berbasis teknologi, project kelompok berbasis teknologi, dan diskusi kelas berbasis teknologi.

Jangan ragu untuk membuat terobosan-terobosan sekecil apapun. Selama hal tersebut mampu membuat siswa bersemangat dan semakin terangsang untuk belajar, maka lakukanlah!

Terus berikan motivasi dan contoh-contoh inovasi kepada siswa. Sehingga mereka memiliki keterbukaan pemikiran yang dapat mengantarkan mereka kepada kreatifitas dirinya masing-masing. Tidak ada yang lebih baik dalam memotivasi selain manusia, bukan? Teknologi tidak mampu melakukannya. So, optimalkan peran ini untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas siswa.

  1. Guru sebagai navigator

Internet (baca: dunia maya) adalah belantara informasi yang teramat luas. Kebebasan tanpa batas yang dimiliki siswa pada gilirannya dapat berbalik menyesatkan siswa. Alhasil, bukan tidak mungkin siswa tersesat pada konten-konten internet yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran, atau bahkan tersesat pada konten negatif.

guru sebagai navigator

Dalam kasus ini, guru memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan siswa dalam pencarian informasi yang efektif. Di beberapa perguruan tinggi sistem pencarian informasi online yang efektif sudah diajarkan pada semester-semester awal. So, tidak ada salahnya sekolah-sekolah juga mulai menerapkan sistem tersebut, kan?

Dalam penggunaan teknologi yang efektif dan efisien, guru berperan untuk menjadi navigator utama. Pengarahan disesuaikan dengan tujuan atau target belajar yang ingin dicapai. Guru merupakan subjek yang paling paham dengan kondisi kelas dan kondisi masing-masing individu siswa. Oleh karena itu, guru jugalah yang paling paham pengarahan seperti apa yang cocok diterapkan di dalam proses pembelajaran berbasis teknologi di kelasnya.

Selain bertujuan untuk mengarahkan penggunaan teknologi yang efektif dan efisien, sebagai navigator guru juga berperan untuk mengarahkan siswa agar dapat berperilaku sesuai etika dan moralitas di dunia maya.

  1. Guru sebagai validator

Informasi yang tersedia di internet tidak selalu benar. Para guru barangkali sudah memahami hal itu dengan baik. Akan tetapi, bagaimana dengan siswa? Anak-anak dan remaja seringkali belum memiliki pemikiran yang cukup kritis, sehingga bukan tidak mungkin mereka menganggap segala hal yang ada di internet merupakan kebenaran.

guru sebagai validator

Disanalah pentingnya peran guru sebagai validator! Dalam proses pembelajaran, guru bertanggungjawab untuk memverifikasi dan memvalidasi temuan siswa yang didapat dari pengoperasian teknologi. Hal tersebut juga sekaligus dapat menjadi lahan bagi guru untuk menanamkan nilai-nilai yang membantu menciptakan pemikiran kritis siswa.

 

Kesimpulan

Tak dapat dipungkiri, pembelajaran di era digital citizenship telah berubah menjadi student-centered learning (pembelajaran berpusat pada siswa). Kehadiran guru di kelas lebih berfungsi sebagai fasilitator, yaitu subjek yang memfasilitasi proses belajar siswa. Dalam era digital citizenship, bukan hal yang mustahil juga apabila guru belajar pada siswa. Semacam interaksi yang saling menguntungkan. Pada intinya, dengan kehadiran teknologi yang semakin canggih, dunia pendidikan dapat menjadi lebih berwarna dan lebih membuahkan hasil. Semoga.

Selamat bekerja keras!

 

Tonton atau download video uraiannya di sini: Teach Digitally

  1. Teach-Digitally


———

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

577 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!