7

Hubungan Princess Elsa Dengan Solusi Pengembangan Profesionalisme Guru Menggunakan I T (+6)

Mister Nuel May 20, 2015

“Mister Nuel, saya mau jadi Princess Elsa! Mau pakai rok yang melambai.” Kata Bondan murid laki laki saya yang berusia empat tahun.

Hah, anak laki laki kok pengen jadi Princess? Anda penasaran? Teruskan membaca.

Guru Ideal

Seorang guru idealnya adalah orang yang telah menyelesaikan pendidikan guru. Guru yang baik juga tidak hanya selesai belajar seusai lulus dan diwisuda. Tetapi orang itu terus mengembangkan dirinya kapanpun dan dimanapun. Dengan kata lain seorang guru adalah seorang pembelajar seumur hidup.

Tapi jangan salah, orang ideal tersebut bukan saya, saya masih jauh dari gambaran ideal tersebut. Sarjana saya adalah Nutrisi makanan Ternak, dan pasca sarjana yang saya ambil adalah manajemen pendidikan. Dengan latar belakang tersebut saya cocoknya menjadi manajer pendidikan, bukannya guru.

Dan saya tidak sendiri, Guru dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, tidak linear, seperti saya, jumlahnya cukup banyak. Dan ini menjadi sebuah tantangan dunia pendidikan tersendiri.

Perbedaan latar belakang pendidikan tentu membawa kesenjangan pengetahuan dan keterampilan dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Untuk menjembatani kesenjangan ini, pihak-pihak yang berkepentingan melakukan beberapa upaya, seperti mengadakan berbagai pelatihan, dan program pendidikan khusus.

Kendala

Tetapi upaya yang dilakukan ini pun menemui beberapa kendala yang cukup berarti :waktu, materi, dan biaya.

Waktu, untuk mengadakan pelatihan, sekolah atau diknas harus menyesuaikan waktu dengan kalender pendidikan, biasanya pelatihan ini dilakukan di sela-sela pergantian tahun ajaran.  Hal ini menjadi masalah karena akan mengurangi jatah liburan, baik itu guru maupun narasumber.

Kedua, materi, kemampuan yang diperlukan oleh masing-masing individu berbeda. Ada yang masih memerlukan materi pembuatan administrasi kelas,  manajemen kelas, ada juga yang masih memerlukan kemampuan berkomunikasi dengan orang tua murid. Semua  ini menjadi tantangan untuk bisa memenuhi kebutuhan semua guru.

Tantangan selanjutnya adalah tantangan klasik. Biaya, penygelenggaraan pelatihan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk sewa tempat, akomodasi narasumber, penggandaan materi. Semuanya memerlukan uang.

Solusi

Dalam usaha memecahkan masalah inilah peran serta teknologi informasi menjadi sebuah terobosan yang bisa didayagunakan.

Sebhutlah diklat yang menggunakan teknjologi informasi seperti yang dikembangkan oleh Pak Sukani.

 

 

Dengan diklat online yang materinya bisa diakses kapan saja oleh peserta yang sudah terdaftar,maka masalah waktu dan materi menjadi bukan persoalan lagi.

Tapi itu kan berbayar Mister Nuel.

Anda mau yang gratis? ada juga, buka saja youtube dan ketikan kata kunci materi yang ingin anda pelajari. Dengan cara ini saya telah belajar materi “Non Violent Communication”,  metode montessori dan cara menjadi guru reflektif.

Lumayan kan.

Oo..anda masih kurang?

Teruskan browsing dan kita bisa mendapatkan satu mata kuliah penuh dari universitas bergengsi di luar negri. Seperti yang saat ini sedang saya ikuti, kuliah Prinsip-prinsip Perkembangan Manusia dari Universitas Missouri State University dengan dipandu oleh Dr. Jim Meyer.

Dengan tambahan pengetahuan dan keterampilan dari penggunaan teknologi informasi ini, kita bisa menjadi guru yang lebih baik, minimal dibandingkan hari kemarin.

Pengalaman Menyenangkan

Dengan berbekal materi tersebut juga lah saya bisa mendayagunakan setiap kesempatan pembelajaran yang muncul melalui interaksi dengan murid. Seperti di suatu hari yang cerah di denpasar.

Saat itu sedang musim Elsa dari film Frozen. Di tempat bermain tampak anak-anak perempuan berlari lari seraya berimajinasi menjadi Elsa.

Empat murid perempuan tersebut sedang saling berebut untuk menjadi Elsa, saat tiba tiba Bondan datang dan langsung berkata dengan suara keras, Aku yang jadi elsa!

Keempat murid perempuan saya dengan segera berbalik dan memandang Bondan dan dengan kompak berkata, “Kamu kan laki laki, ya enggak bisa jadi Princess Elsa!” Sembari meninggalkan Bondan sendirian.

Dengan sedih Bondan melangkah gontai kearah saya sembari berkata, “Mister Nuel, Bondan mau jadi Princess! Mau pakai rok yang melambai.”

Sumpah, saya kaget mendengarnya.

Tapi saya sebisa mungkin tetap terlihat biasa, baca tenang,

Teringat materi komunikasi non violent communication, saya memberikan pengakuan terhadap keinginan murid saya.

Saya mengangguk, “iya Bondan.”

“Iya Mister, nanti bisa seperti ini, sembari Bondan mengarahkan tangan kanannya kedepan seperti peran yang dilakukan Elsa saat mengeluarkan es dari tangannya.”

“Wah menarik ya. Sama lo, dulu mister Nuel juga suka superhero. Namanya spiderman….”

Dan percakapan kami pun jadi berlanjut hingga saatnya masuk kelas untuk belajar kembali.

 

Keesokan harinya, hari Jumat, hari dimana anak anak boleh menggunakan pakaian bebas.

Ada yang menggunakan pakaian sporty dengan topi yang menutup rambut panjang, ada yang mengenakan pakaian princess Elsa, dan  ada juga yang memakai pakaian biasa.

Mendadak saya dikejutkan dengan suara keras dari balik pintu, memanggil nama saya.

 

“Mister Nuel!” Tampak seorang anak mengenakan baju ironman lengkap dengan topengnya, berdiri dengan telapak tangan terbuka seperti Ironman yang sedang menembak musuhnya.

Saya tersenyum dan bernafas lega. Tampak Bondan dengan bangga mengenakan baju superhero favoritnya, yang baru, Ironman.

Ah, masa – masa yang indah bersama anak anak memang tidak tergantikan.

Selamat hari pendidikan semua rekan guru dan calon guru.

 

Mister Nuel

Denpasar, 20 Mei 2015

 

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

 

 

 

820 total views, 3 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (7)

  1. Avatar of Mister Nuel

    Terima kasih untuk apresiasinya. Ini yang membuat guraru jadi seru.
    Berawal dari guraru jug saya jadi rutin menulis, meski sekarang sedangg tidak memiiki laptop dan jaringan internet kabel, tapi pake hp masih bisa buat mengintip lah.

    @ Pak Subakri: masih dong Pak, kenangan menjelang pindah kos dn berpisah dari jaeingan internet kabel. Ahahaha.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!