0

Hari Guru dan Kado (+2)

cekgurizal November 27, 2015

Tadi sore bincang-bincang dengan rekan saya seorang guru di salah satu SMP di Kota ini, ngalur ngidul membahas seputar pendidikan dan isu-isu yang berkaitan. Bagi saya berdiskusi tentang pendidikan dan turunan2nya suatu hal yang menarik, apalagi pas ketemu dengan guru yang memiliki mindset yang sama. Tentunya diskusi ini mengasyik masyukkan bagi saya yang sudah setahun lebih “HIJRAH” dari profesi ini. Saya lebih senang menyebut proses ini “HIJRAH” daripada “ PINDAH” disebabkan dari dasar pikir, substansi dan filosofis kalimat yang ada, tentang kata “HIJRAH” yang saya yakini memliki makna dan konsekuensi kembali kepada profesi awal dan bersifat tentative, saya menganalogikan dengan hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah yang tentunya memiliki dasar pikir, substansi dan konsekuensi tersendiri. Mungkin bagi rekan2 di dunia nyata ada sedikit yang tidak terima dengan keputusan ini, ini hal yang lumrah, dan saya beranggapan “mereka” itu masih mencintai dan menghormati saya dengan profesi ini.
Kembali kecerita awal, ngalur ngidulnya sampai pada peringatan hari guru kemarin. Ceritanya berlanjut dari soal UKG, Sertifikasi Guru, Soal pangkat Guru hingga soal kado. “ kadang sodih jugo awak Ayah (*kadang banyak teman memanggil saya dengan sebutan Ayah, mungkin karena aura ayah-ayahnya sudah keliatan banget…) hari guruni, kawan-kawan awak banyak mendapat kado, sodangkan awak sebijik pun tak ado”, gumam temanku ini sedikit galau.
Begh… bagi saya ini gumaman kawanni memaksa saya mereview kembali berapa banyak kado yang sy terima ketika menjadi guru….capek juga mengingatnya…seingat saya … Cuma satu kali mendapat kado, isinya waktu itu plakat yang ditempel dinding dalam bentuk kaligrafi yang banyak di jual di serbu Nico jalan teeku Umar. Ya… waktu peringatan hari guru Tahun 2007 saat itu masih ngajar di SMP.
Antah apa asal muasalnya, hari guru tsb selalu diidentikkan dengan kado. Sampai saat ini sy belum menemukan aspek historisnya. Hingga terkadang persoalan kado dihari guru tersebut menimbulkan distorsi tehadap kebermaknaan hari guru tersebut. Sehingga pernah dahulu tahun 2011 kalo tak salah saya pernah membawa kawan2 guru “bertandang ke DPRD” Tanjungbalai gara-gara ada pernyataan seorang tokoh ditanjungbalai yang miring tentang peringatan hari guru.
Tentang Kado; 1.) menurut pemahaman saya bukan persoalan substantive pada peringatan hari guru, sesungguhnya makna hari guru itu tidak sama dengan hari Valentine Days yang ritualnya bagi2 kado dan coklat. 2) Tidak dapat, sedikit dapat atau banyak dapat kado bukanlah indicator guru yang mendapat kado itu sudah mencapai maqom ke-GURU-annya. Kebanyakan jumlah perolehan kado itu didapat melalui subjektifitas bukan objektifitas pandangan pemberi kepada penerima. Sehingga tidak ada alasan guru yang memperoleh peringkat kado yang terbanyak untuk mentasbihkan dirinya sebagai guru yang “paten” atau yang paling disenangi sehingga tidak pantas untuk jumawa. 3) kado itu ya tetap kado…. bukan hadiah yang bisa meluluhkan guru dari tugas-tugas keprofesionalannya. Tidak ada hubungan kado dengan penilaian. Bukan seperti pestelan, antar rantangan…yang kemudian diharapkan kembaliannya.
Jadi jangan bersedih kawan, bagi guru itu bukan kado dalam bentuk “HARD” yang diharapkan, tapi kita sangat bergembira jika kado itu datang dalam bentuk “SOFT” (kalimat “soft” jangan diartikan transfer banking…heheeh) dimana kado yang diberikan anak itu kepada gurunya dalam bentuk pengamalan ilmu-ilmu yang ditransformasikan gurunya. Perubahan tingkah laku, pemahaman terhadap materi pelajaran, kesopan santunan taw akhlak yang baik dari siswa merupakan kado yang terindah. Entah kenapa juga, mungkin saya salah menilai, terkadang siswa yang “semangat kali” memberi kado itu berasal dari golongan anak2 yang memiliki kemampuan intelegensi menengah kebawah?.
Diakhir pertemuan itu saya hanya berkata “ biarlah saya membayar minuman dan lampirannya, hitung2 sebagai kado selamat hari guru untuk anda.”

Salam Takzim buat guru-guru saya di SD Negeri 132403 Jl. MT Haryono Tanjungbalai, MTsN Tanjungbalai, MAN Tanjungbalai, Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN SU Medan dan Prodi Administrasi Pendidikan PPS Unimed Medan. Dan Khususnya bagi guru yang mengajar saya pandai membaca Al-Quran Almarhumah Khalidjah di Selat lancang. Al Fateha.

Kutipan Status Rekan saya Ayah Uwah saat menyambut hari guru kemaren yang sekarang beralih profesi

2,714 total views, 3 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar