5

Hardwork-Based Learning, Habis Susah Jadilah Senang (+5)

Endang Suhendar May 20, 2015

Bagi para guru, judul diatas sepertinya terdengar sebagai sebuah model pembelajaran. Tetapi saya pastikan…BUKAN!!! Sengaja saya pilih judul tersebut supaya terdengar tidak asing ditelinga para guru, karena biasa mendengar berbagai model pembelajaran seperti problem-based learning, project-based learning dan lain-lain. Selain supaya terdengar familiar, alasan lainnya adalah ingin menggambarkan dan berbagi terhadap rekan-rekan guru, pengalaman “berjuang” mengajarkan materi-materi yang relatif sulit dan meningkatkan semangat peserta didik dalam belajar.

Semuanya dilatarbelakangi oleh pengalaman saya selama beberapa tahun mengajarkan matapelajaran Administrasi Server terhadap siswa SMK jurusan Teknik Komputer & Jaringan (TKJ). Bagi siswa TKJ, sepertinya pelajaran ini dianggap sebagai pelajaran yang relatif susah. Jika dibandingan dengan pelajaran lain yang saya ampu, misal Pemrograman Web, untuk kelas yang sama dengan model dan metode pembelajaran yang sama pula, antusiasme siswa terlihat berbeda jauh. Padahal keduanya memiliki karakter materi yang hampir sama, yaitu sama-sama membutuhkan daya ingat, fokus, dan ketelitian yang tinggi. Bahkan kedua pelajaran tersebut juga diajarkan hingga ke tataran aplikatif.

Untuk menjawab kebingungan, kemudian saya mencoba mengidentifikasi permasalahan melalui komunikasi dengan beberapa siswa. Disini saya menggali pandangan mereka mengenai kedua pelajaran tersebut, pertanyaan diarahkan untuk memahami alasan kecenderungan mereka diantara kedua mata pelajaran tersebut dan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Komunikasi dilakukan dalam suasana santai dan saya menempatkan diri sebagai pendengar saja.

Dari hasil komunikasi yang dilakukan, setidaknya ada dua hal yang menjadi fokus perhatian saya. Pertama, berat ringannya materi pembelajaran ternyata tidak mempunyai pengaruh yang signifikan. Yang kedua, terdapat perbedaan rasa dan suasana kebatinan siswa yang berbeda pada kedua mata pelajaran tersebut. Dalam perspektif mereka, mata pelajaran web lebih menarik karena sangat memancing kreatifitas serta semangat mereka dalam belajar. Siswa merasa begitu banyak ide yang muncul karena ingin sekali menghasilkan web yang bagus. Bahkan tidak sedikit siswa yang terlihat bakat dan kemampuannya saat mengisi konten web, ada yang senang menulis puisi, cerita, atau bahkan semacam catatan kegiatan hariannya. Sesama siswa terasa nuansa berkompetisi untuk menghasilkan web yang bagus.

Sebaliknya pada pelajaran administrasi server, mereka merasa hanya seperti mengikuti perintah saja lewat jobsheet yang dipraktekan sendiri. Tidak ada ide atau gagasan baru yang bisa diterapkan, tidak ada perbedaan yang signifikan antara produk yang mereka buat dibanding dengan produk temannya. Agar lebih dipahami, saya analogikan kedua pelajaran ini ibarat pohon hias. Administrasi server adalah akarnya yang ada dibawah tanah, pemrograman web adalah bagian yang muncul ke permukaan tanah, batang, dahan, bunga dan lain-lain. Pastilah orang akan sangat memperhatikan pohon (pemrograman web) dibanding akarnya (administrasi server), dapat dipastikan pula akan lebih banyak ide penataan pohon daripada akarnya bukan ???. Bisa juga diibaratkan, mereka hanya tahu fungsi akar yang terbatas (sisi aplikatif administrasi server), itulah kira-kira gambaran yang terjadi.

Maka, kemudian saya mencoba untuk mencari ide penerapan materi pembelajaran administrasi server, dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu menyenangkan bagi siapapun, dan materi relatif ringan, dan menghindarkan kesan bagian dari materi pembelajaran. Dan itu tidaklah mudah, karena sebenarnya sisi aplikatifnya sudah mereka pelajari. Perjuangan mencari ide ini setidaknya membutuhkan waktu lebih dari satu bulan !!! Hingga akhirnya…munculah ide membuat robot. Kenapa robot ? karena robot identik dengan sesuatu yang canggih, hebat, dan modern. Siapa pula yang tidak senang dengan robot ? semua orang saya yakin senang, baik yang tua ataupun yang muda. Dan terkait dengan materi, informasi awal yang saya dapat, bahwa robot dapat dibangun menggunakan sistem operasi debian, sesuatu yang biasa dipelajari oleh siswa jurusan TKJ, terlebih lagi pada mata pelajaran Administrasi server, Debian adalah makanan sehari-hari mereka.

Dan perjuangan berlanjut kembali, bisakah saya membuat robot ? mahalkah biaya membuat robot ? adakah tutorial pembuatan robot secara tuntas ? mengingat saya sangat awam mengenai hal tersebut dan segudang pertanyaan lainnya. Dan kembali google menjadi teman saya, hingga akhirnya didapat satu tutorial pembuatan robot yang dapat digerakan melalui wifi, yang dalam pandangan saya relatif mudah, baik bagi saya pribadi ataupun siswa. Materi pelajaran yang dapat diintegrasikan diantaranya web, FTP dan DHCP server. Dalam kurikulum 2013, materi tersebut diajarkan di kelas XI TKJ. Maka langkah selanjutnya mulailah googling untuk mencari dimana mendapatkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Namun alangkah terkejutnya saya ketika merekap total kebutuhan alat yang mencapai dua juta rupiah, sesuatu yang saya anggap terlalu tinggi untuk sebuah proyek awal dimana saya tidak punya pemahaman dan pengalaman yang cukup. Akhirnya saya batalkan rencana pembuatan robot, dan berusaha mencari ide yang lain. Dalam suatu kesempatan diakhir sesi pembelajaran, saya menceritakan mengenai hal ini, dan alangkah terkejutnya saya, siswa sangat berkeinginan untuk bisa membuat robot. Bahkan mereka siap untuk iuran membeli peralatan yang dibutuhkan. Saya merasa terharu dan bersemangat sekali, karena itu saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kemudian saya berkomunikasi dengan manajemen sekolah, berupaya agar sekolah mau membiayai proyek ini, sesuatu yang saya hindari di awal munculnya ide ini karena alasan saya khawatir tidak bisa memberikan pertanggungjawaban jika gagal, karena tidak adanya pengalaman sama sekali. Akhirnya sekolah memutuskan untuk membiayai proyek ini, dan ketika diceritakan ke siswa, alangkah senangnya mereka, tetapi saya merasakan harap-harap cemas.

WiRo Controller

WiRo Controller

smkn2-3

WiFi Robot (WiRo)

Satu masalah terselesaikan dan jalan semakin terbuka bagi kami, namun perjuangan masih panjang. Robot dibuat dengan menerapkan berbagai disiplin keilmuan, diantaranya elektronik dan programming. Dan perlu diketahui, jurusan TKJ tidaklah fokus pada ketiga bidang tersebut, hanya sebagian kecil saja. Untuk programming adalah sesuatu yang biasa, walaupun hanya mengenal saja. Tidak seperti jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) yang benar-benar mempelajarinya. Apalagi elektronik, siswa sama sekali tidak pernah belajar, begitupun dengan saya. Boleh dibilang, ini adalah proyek nekat.

Maka yang kemudian terjadi adalah…”eksperimen” yang sangat tidak dianjurkan. Dengan pengetahuan  awal dan pengalaman yang kurang, kami cenderung trial & error, mengikuti tutorial yang didapat dari internet tanpa pemahaman yang cukup. Solderan yang blepotan dan butuh lebih dari 30 menit untuk memasang sebuah komponen sederhana adalah salah satu permasalahan yang kami hadapi, namun mereka pantang menyerah, semangat siswa sangat luar biasa, mereka berupaya menggali informasi lebih lanjut dari berbagai sumber di internet. Untung saja tidak ada kesalahan fatal yang kami lakukan.

Disinilah saya seperti merasa menemukan jawaban dari permasalahan diawal tulisan ini. Pembelajaran terasa “hidup”, siswa sangat antusias untuk bisa memahami. Tanpa banyak memberikan instruksi, hanya dengan memberikan printout tutorial dan sedikit arahan, maka yang kemudian terjadi adalah proses pembelajaran secara mandiri, saya istilahkan “Autonomous Learning System”. Pembelajaran saya ibaratkan sebagai mesin, sekali tekan tombol semua proses berjalan dengan sendirinya. Terbayar sudah kerja keras selama ini.

Aksi robot kami dapat dilihat di link berikut >> DISINI <<

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, saya mengambil kesimpulan bahwa masalah sebenarnya dalam menyampaikan materi pembelajaran yang relatif sulit bukanlah pada kesulitan materinya itu sendiri, tetapi kita yang belum menemukan aktualisasi materi pembelajaran yang tepat buat anak. Ketepatan ini tentunya bersifat relatif karena tergantung pada kondisi siswa, sekolah, guru dan lingkungan sekitarnya. Dalam meningkatkan semangat dan motivasi belajar, perlu kiranya kita berfikir diluar kerangka kerja (framework) yang biasa. Jangan terjebak dengan rutinitas pembelajaran, jangan jadikan pembelajaran di sekolah sebagai dunia yang lain, tetapi bawa segala kondisi kekinian diluar kedalam pembelajaran di sekolah. Sentuh sisi emosional siswa, misal kesenangannya, walaupun tidak ada hubungan langsung dengan penerimaan materi, namun jika siswa sudah merasa senang, maka materi akan lebih mudah diterima oleh siswa.

Demikianlah, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

2,097 total views, 5 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!