3

Guru dalam pandangan Kaum Pinggiran (+1)

M.Iqbal Fardian December 1, 2012

Kata banyak orang jadi guru itu enak dan mudah. Enaknya guru itu banyak liburnya, murid libur gurunya ikut libur. Jadi guru itu mudah, lho kok sudah enak mudah lagi. Mudahnya jaman sekarang untuk jadi guru nggak butuh syarat macam-macam, yang penting pernah kuliah, jadi deh pak guru. Setidaknya di masa transisi seperti di Indonesia ini, pendapat semacam itu ada benarnya. Sewaktu saya dulu mengawali karir sebagai guru, juga mengalami hal seperti gambaran diatas. Tidak pernah saya melamar jadi guru. Bahkan cita cita pun tidak pernah terbersit menjadi guru. Tapi inilah hidup perjalanan takdir mengharuskan saya menjadi guru. Dunia guru adalah dunia bagi kalangan akademis adalah dunia penuh idealisme. Sebuah profesi yang sangat mulia. Satu satunya profesi yang di gelari Pahlawan tanda jasa. Pokoknya serba ideal dan normative. Tetapi bagaimana kalangan kaum pinggiran menilai sosok guru. Salah satu figure yang kepingin saya hadirkan dalam tulisan ini adalah cak Ali. Sosok yang saya beri gelar Hiden Wise Man. Sebuah gelar yang mencerminkan sosoknya yang penuh hikmah dan dia bukan tokoh elite yang genit, yang sangat suka dengan gemerlapnya sanjungan dan puja puji masyarakat. Dia maunya peran yang kecil-kecil yang penting bermanfaat bagi masyarakat. Cak Ali biasa istrinya memanggilnya, Ustadz Ali jikalau dia sedang berada di tengah tengah santrinya. Tetapi untungnya tidak ada seorangpun yang memanggilnya Saydina Ali. Sebagai seorang Hiden Wise man, biasanya dia selalu mengajak diskusi yang intinya mengajak untuk berpetualang di dunia hati yang dalam. Salah satunya dia pernah memberikan masukkan kepada saya agar saya belajar dari alam dan kehidupan menapak tilasi perjalanan Nabi Ibrahim. Dalam diskusi terakhir dia mencoba mengajak saya diskusi persoalan guru. Cak Ali tidak mengerti tentang apa itu kompensi pedagogic, kompensi professional apalagi kompetensi Sosial yang sering disarikan dalam seminar, workshop, sarasehan bahkan dalam ujian kompetensi guru. Dalam pandangan dia guru adalah profesi mulia dan sulit. Nah….Khan sama saja dengan pendapat para akademisi formal. Menurut dia untuk menjadi guru itu mulia karena guru itu adalah orang berilmu, dan kemudian mengajarkan ilmunya untuk masyarakat. Sangat mulia. Tetapi letak kesulitanya adalah bagaimana guru tersebut mampu menyeimbangkan antara Allah- hati – akal- manusia. “ Kamu seorang guru, hadirkan Allah pertama kali, jangan kau akhirkan Allah setiap kau mengawali langkah tugasmu. Tanpa kehendak Allah kau tak akan pernah jadi guru, yang menggerakkan langkahmu kesekolah, otakmu untuk berpikir dan menggerakkan hatimu untuk peduli semuanya Allah. Pantas jika kau mendahulukan Allah sebagai Dzat yang maha berkehendak, termasuk yang membisakan murid-muridmu menangkap pelajaranmu adalah Allah semata.” “ Katanya mantap. Sedikitpun saya tidak menyanggahnya, karena itu biasanya kealpaan saya ketika menjadi guru. “ Setelah itu baru kita hadirkan hati, karena karenanya akan muncul ketulusan dan kepedulian dengan perangkat ini kau akan menyangi dan mengasihi anak didikmu seperti engkau menyangi anak kandungmu.” Lanjutnya. Dalam hati saya bertanya kemana akal, kok belum dia sebut. Seolah dia mengerti pertanyaan hati saya selanjutnya dia menambahkan, “ Akal itu harus kau tempatkan setelahnya, sehingga kau akan mendapat tuntunan dari Allah dan hatimu dari ilmu yang kau miliki. Dengan akal kau dapat memahami ilmu. Perdalam ilmu yang kau miliki sedalam-dalamnya, agar kau dapat member konstribusi kepada ilmu itu sendiri jangan berhenti belajar terus gali dari alam dan kehidupan “ Runtut dia menyampaikan, semakin nampak betapa dalamnya pemahaman dia tentang ilmu. “ Selanjutnya, para ulama sering menyampaiakan bahwa ilmu yang nantinya dapat dijadikan bekal kita dihari kemudian adalah ilmu yang bermanfaat. Bahkan dalam doa kita dianjurkan untuk dihandarkan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Akhirnya apa yang kau lakukan harus bermanfaat buat manusia. Karenanya guru itu bukanlah hanya ketika kau ada di sekolahmu, tetapi kau harus juga menjadi guru buat masyarakat.” Katanya dengan mimic wajah yang masih datar. Saya masih diam tak berkata apa-apa. Lidah terasa kaku. Apa yang dikatakan sungguh jauh dari apa yang saya kerjakan sebagai seorang guru. “ Ilmu yang bermanfaat itu tidak saja berarti adalah dengan ilmu yang kamu miliki kamu bisa memanfaatkannya untuk bekerja kemudian kamu mendapatkan imbalan uang atas kerjamu. Itu salah besar.” Katanya dengan intonasi yang mulai meninggi. “ Ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang dapat menuntun dirimu kepada keselamatan di dunia dan akhirat. Atau ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu dimana engkau berani mengatakan tidak atas larangan Allah. Dan atas ilmu itu pula semakin dekat engkau kepada Allah. Dan ingat jangan engkau dalam menekuni profesimu mengharap pujian dari manusia. Carilah dan berharaplah keridloan dari Allah semata. ” Urainya dengan tangan menunjuk keatas. Masya Allah, begitu luas pengetahuannya. Disinilah perbedaanya dengan kebanyakan kita, selalu Allah kita hadirkan belakangan, ketika kita telah bersusah payah melakukan iktiar dengan ilmu yang kita miliki. Kita pamrih dalam bekerja. Kita merasa paling berjasa atas apa yang kita lakukan kepada orang lain. Allah selalu kita nomor sekiankan. Semakin kita mendiskusikan profesi ini semakin terbuka prespektif lain tentang profesi guru ini, termasuk didalamnya prespektif dari kaum pinggiran terhadap profesi guru yang sama-sama kita cintai. Wassalam…… Wallahua’lam bishowab.

1,037 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar