13

Guru Tampak Gagap Ketika Membuka dan Menutup Pelajaran Di Kelas? Sudah Gak Jaman Lagi (+3)

Isthifa Kemal January 9, 2014

Pak Doni, guru baru, berjalan memasuki ruang guru. Lalu ia duduk sambil melepas lelah di kursinya. Pak Ali, guru yang lebih senior, melempar senyum dan menanyainya, “Gimana Mas, rasanya mengajar pertama kali?”. Mendengar pertanyaan itu, Pak Doni tersenyum lebar sambil menjawab dengan malu-malu, “Waduuuh, grogi Pak… Deg-degan membuka pelajaran… Apa yang sudah saya siapkan semalam, gak keluar sama sekali Pak…”. “Sama… Dulu, ketika saya baru mengajar disini, saya juga grogi memulai pelajaran di depan anak-anak. Itu wajar. Tak hanya kita, saya rasa beberapa guru akan mengalaminya…”, ucap Pak Ali, membesarkan hati Pak Doni.

Kisah diatas menceritakan seorang guru baru yang mengaku grogi atau tak siap mental ketika pertama kali mengajar, membuka pelajaran dan menutupnya di dalam kelas. Sebuah pengalaman yang kurang menyenangkan. Namun wajar, karena biasanya guru merasa canggung dan jatuh mental ketika pertama kali berdiri dan berbicara di depan murid. Apalagi bagi guru yang memang jarang berbicara di muka umum.
Mengajar, membuka pelajaran dan menutupnya, ketika pertama kali masuk kelas dan memulai pelajaran, seringkali membuat guru “terjatuh”. Indikasinya, tampak grogi, canggung untuk berdiri di muka kelas, gagap ketika membuka pelajaran, dan sebagainya. Namun sekali lagi, hal itu wajar terjadi. Akan tetapi, mungkin masih ada guru yang tampak grogi, salah kata, gagap, tidak hanya ketika pertama kali mengajar, tetapi setiap kali pada saat membuka/mengawali pelajaran di kelas, dan menutup pelajaran itu. Walaupun terkadang, rasa grogi dan gagap itu berhasil ditutupinya dengan cara-cara tertentu.
Mengajar, dalam dunia pendidikan, dinilai sebagai suatu perbuatan yang memerlukan berbagai kemampuan yang meliputi ilmu pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab moral. Tanpa adanya ilmu pengetahuan yang luas dan kesadaran untuk mendidik penerus bangsa, tak layak rasanya seorang guru untuk mengajar. Begitu pula dengan tanpa adanya keterampilan mengajar, seperti keterampilan mengelola kelas, keterampilan menjelaskan pelajaran, keterampilan membimbing diskusi murid, ataupun keterampilan yang lainnya, sulit rasanya seorang guru memberanikan diri untuk mengajar.
Dan berkaitan dengan keterampilan dasar mengajar, terdapat satu keterampilan yang berkaitan dengan kisah di atas, yaitu keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Apa yang dimaksud keterampilan membuka dan menutup pelajaran? Dan bagaimana cara yang tepat untuk membuka dan menutup pelajaran di kelas?
Membuka Pelajaran
Pengertian membuka pelajaran, seperti yang dipaparkan dalam buku terbitan Dirjen Dikti Depdiknas pada tahun 2001, ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam KBM untuk menciptakan keadaan awal bagi murid agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan mengajar. Singkatnya, usaha ini bertujuan untuk menciptakan keadaan/suasana siap mental murid dan menimbulkan perhatian siswa.
Dewasa ini, mungkin masih ada guru sekolah yang belum tepat atau bahkan belum bisa membuka pelajaran dengan baik. Apalagi guru yang berlatar belakang selain kependidikan/keguruan, seperti ilmu murni, sastra, pertanian, teknik, dan sebagainya, bisa jadi belum menguasai, bahkan belum mengetahui keterampilan dasar mengajar, termasuk keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Kecuali, guru tersebut telah mempelajari teknik dan metode yang berkaitan dengan keterampilan dasar mengajar.
Perhatikan 2 contoh kisah berikut:
Kisah 1
Guru:   “Assalamu’alaikum anak-anak, bagaimana kabar kalian pagi ini? Alhamdulillaah jika begitu… Ibu akan absen kalian satu persatu, kalau ada teman kalian yang tidak masuk, sampaikan pada Ibu ya…
Baiklah, anak-anak, dalam pertemuan kali ini, kalian akan belajar tentang Peran dan Pentas Drama. Tetapi, sebelum kalian mempelajari topik ini lebih lanjut, Ibu ingin bertanya. Siapakah diantara kalian yang masih ingat kisah Malin Kundang Anak Durhaka? Bagus, ternyata kalian ingat semua… Ibu tanya lagi, siapakah diantara kalian yang tahu apa peran dari Malin Kundang dalam kisahnya?”.
Kisah 2
Guru:   “Anak-anak, sekarang kalian buka Bab 4. Yang masih mau ramai, akan saya keluarkan. Saya hanya mau mengajar murid yang serius mendengarkan. Sekarang, Budi, baca materi itu dengan keras agar teman-temanmu mendengar!”.
Ada persamaan dan perbedaan dari dua kisah diatas. Persamaannya adalah sama-sama merupakan teknik/cara membuka pelajaran. Perbedaannya adalah, guru pada kisah 1, membuka pelajaran dengan hangat, penuh kasih sayang, senyum, tenang, lebih santai, pandai mengarahkan topik. Hal tersebut amat berbeda dengan sikap guru dalam kisah 2 yang tak ramah, ketus, tak ada senyum, justru memberi ancaman dan terkesan kasar, sehingga mental murid akan tertekan selama pelajaran itu.
Ada beberapa teknik atau cara yang tepat untuk membuka pelajaran, diantaranya:
1.      Menarik Perhatian Siswa
Ø  Memakai gaya/metode mengajar yang variatif.
Hal ini bertujuan agar siswa tidak jenuh dengan kehadiran guru. Misalnya, jika sudah berkali-kali menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi di kelas, sebaiknya menggantinya dengan cara mengajak siswa untuk belajar di luar kelas, membentuk kelompok diskusi siswa, bertanya jawab dengan siswa, atau menggunakan berbagai metode mengajar yang lain.
Ø  Menggunakan alat bantu pelajaran.
Contoh, guru Matematika yang hendak menerangkan topik Volume Ruang, sebaiknya membawa alat bantu seperti air minum dalam kemasan gelas atau botol. Ini akan memudahkan siswa dalam memahami topik materi.
2.      Memotivasi Siswa
Ø  Memberi salam.
Ø  Senyum.
Senyum dapat mencairkan dan menghangatkan suasana. Dalam ilmu kesehatan, senyum dapat menyehatkan otot-otot mulut pelakunya serta akan merangsang orang lain untuk tersenyum pula.
Ø  Menanyakan kabar kesehatan semua siswa.
Ini menunjukan sikap peduli guru terhadap siswa. Juga sebagai tanggung jawab guru sebagai orangtua siswa di sekolah.
Ø  Menyampaikan manfaat yang akan diperoleh siswa setelah mempelajari materi yang akan disampaikan.
Hal ini bertujuan untuk menyemangati dan menimbulkan antusias siswa.
Ø  Bertanya dan memancing rasa ingin tahu siswa.
Contoh, seorang guru bertanya,” Anak-anak, tahukah kalian, apakah manfaat Jogging bagi tubuh kita? Dan tahukah kalian, apa saja saran pakar kesehatan tentang cara jogging yang baik?”.
3.      Menghubungkan Materi yang akan Dipelajari dengan Pengalaman Siswa.
Contoh, seorang guru bertanya, “Anak-anak, materi Kesehatan Lambung sangat penting bagi kehidupan sehari-hari kita. Coba, siapa diantara kalian yang menginginkan sakit perut? Tidak ada kan? Bagi kalian yang pernah atau bahkan sering sakit maag, coba ingat kembali, bagaimana rasanya sakit maag karena telat makan…”.
Menutup Pelajaran
Buku Dirjen Dikti Depdiknas (2001) juga memaparkan bahwa yang dimaksud dengan menutup pelajaran ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau KBM. Dan tujuan kegiatan ini adalah untuk memberi gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajarai oleh siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan mengetahui tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar.
Menutup pelajaran mempunyai peranan yang sama penting dengan kegiatan membuka pelajaran. Guru yang bisa membuka pelajaran dengan baik, tapi salah dalam menutup pelajaran, tidak bisa dikatakan guru yang terampil. Demikian pula sebaliknya.
Teknik / cara yang tepat dalam menutup pelajaran, antara lain:
1.      Membuat rangkuman pokok pelajaran yang telah dibahas.
Hal ini bertujuan agar siswa mengetahui gambaran ringkas tentang materi.
2.      Melakukan refleksi (bertanya pada siswa tentang kesulitan mereka dalam memahami materi yang telah dibahas).
Hal ini bertujuan untuk mengetahui kendala yang dihadapi siswa selama menerima pelajaran. Dilanjutkan dengan pemberian solusi bersama.
3.      Melakukan evaluasi.
Hal ini bertujuan untuk mengukur tingkat ketercapaian siswa. Evaluasi dapat berupa pemberian soal-soal singkat pada 10 menit terakhir pelajaran, atau berupa pemberian soal-soal latihan sebagai PR.
4.      Mengingatkan siswa untuk mempelajari kembali materi di rumah.
Hal ini bertujuan untuk membantu siswa dalam menjaga daya ingat mereka terhadap materi yang sudah dibahas.
5.      Menyampaikan sebuah kalimat motivasi.
Kalimat motivasi akan memompa semangat siswa untuk berprestasi. Kalimat motivasi dapat berupa Ayat Al Qur’an, Hadits, ucapan Ulama’, perkataan tokoh-tokoh terkemuka, atau kata-kata mutiara.
6.      Menyampaikan permohonan maaf atas salah ucap selama penyampaian materi.
7.      Memberi salam dan senyum. 

58,986 total views, 38 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (13)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar