8

Guru Sastra dan Guru Nyastra (+2)

M. Yusuf Amin Nugroho September 7, 2013

Sebagaimana pernah disinggung Ahmad Tohari dalam kata pengantarnya di buku kumpulan cerpen Episode Daun-Daun Gugur (Kreativa, 2006), bahwa awal kelahiran sastra Indonesia modern didominasi oleh kalangan guru, terutama di Sumatra. Mereka menghasilakan karya satra baik prosa maupun puisi yang kini sudah menjadi karya klasik. Hal ini tidak mengherankan karena guru merupakan kelompok pertama di Indonesia yang bersentuhan dengan pendidikan modern dan berkenalan dengan sastra yang dibawa oleh kebudayaan barat. Setelah sumpah pemuda dan bahasa Melayu diterima menjadi bahasa persatuan Indonesia, bermunculanlah penulis-penulis (sastra) dari berbagai kalangan, baik Jurnalis, Mahasiswa, Dokter, maupaun Ibu Rumah Tangga. Sastrawan dari kalangan guru bukan tidak ada, tetapi jumlahnya yang sedikit menjadi suatu keprihatian tersendiri.

Barangkali karena alasan itulah Pusat Bahasa Nasional kemudian memotivasi dan memacu semangat guru dalam bersastra dengan kembali menggelar ajang bernama Penghargaan Sastra untuk Pendidik 2013. Bagi yang belum tahun infonya, bisa lihat di sini.

Bagaimana pun ajang tersebut patut kita beri apresiasi. Melalui kegiatan tersebut diharapkan akan kita temukan dan akan bertumbuhan lebih banyak lagi guru yang nyastra.

Guru nyastra berbeda dengan guru sastra. Ada ribuan guru sastra tetapi tidak semuanya sastrawan atau penulis sastra. Sebaliknya, ada kita temukan guru-guru non-sastra, tetapi mereka telah menelorkan banyak karya sastra. Fenomena yang menarik, dua dari tiga peraih Penghargaan Sastra untuk Pendidik tahun 2011 merupakan guru Matematika yang nyastra.

Dengan semakin banyaknya guru yang nyastra maka kemungkinan besar perkembangan sastra Indonesia ke depan akan semakin baik. Sebab, guru bisa lebih intens dalam melakukan usaha menanamkan kecintaan generasi muda terhadap sastra. Sehingga, jika kita dapatkan satu saja guru nyastra di sebuah sekolah, program semacam Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab dengan menghadikan sastrawan-sastrawan ke sekolah barangkali tidak perlu di perlukan lagi.

1,807 total views, 2 views today

Tagged with:

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (8)

  1. @Yup, semestinya begitu ya, Pak Sopani.
    @Pak Muslihin, EYD nyastra ditulis miring karena kalau tidak salah merupakan ragam bahasa lisan, seperti nyaleg, nyapres, nyablon, dsb. dan itu tidak masalah.
    @Pak Firdaus Azwar Ersyad, tergantung artikelnya juga mungkin, pak.

  2. Tulisan yang bisa disebut sebagai karya sastra konon didasarkan pada unsur “dulce et utile”-nya. Maksudnya, sebuah tulisan bisa dikategorikan sebagai sastra bila tulisan itu menyenangkan dan berguna. Bahwa kemudian sastra lebih cenderung dipandang sebagai karya fiksi…….itu persoalan lain πŸ˜€ Salam Minggu pagi!

  3. Terimakasih pak M. Yusuf Amin Nugroho atas sharingnya. Tulisan yang menarik. Baik guru sastra asli maupun guru nyastra harus sama-sama dan berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan ya pak.

    Memanfaatkan media sisoal untuk berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi maupun seputar pendidikan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar