3

Guru Multidimensi (+5)

Ma'ruf May 24, 2017

Muh Risal (2)

Tidak bisa dipungkiri, persoalan berat yang dihadapi pemerintah dalam upaya pemerataan akses pendidikan terletak pada aspek geografis. Meskipun tidak juga mengesampingkan sisi kualitas sumber daya manusia di tempat-tempat terpinggir atau terpencil. Sebab ada juga tempat yang meskipun jauh dan begitu sulit dijangkau, manusia dan pendidikan berkembang dengan baik. Tapi mari kita melihat secara general bagaimana watak dan pola pikir masyarakat di tempat terpencil melihat pendidikan.

Saya mau bercerita di tempat tugas saya sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat kampung di Pulau Balikukup, salah satu pulau terluar di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Saya sudah masuk bulan ke empat bertugas (live in) di pulau ini. Pulau kecil seluas kurang lebih 15 ha, dengan penduduk lebih dari seribu jiwa. Daratan terdekat berjarak sekitar 32 km, jika ditempuh dengan menggunakan perahu nelayan paling cepat akan memakan waktu 2 jam.

Pulau Balikukup adalah pulau padat penduduk yang nyaris terisolasi dari dunia luar. Meski begitu, penduduk di pulau ini begitu plural, disebabkan pulau ini punya letak yang baik untuk melakukan persinggahan dalam pelayaran lintas pulau, antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Pendapat paling kuat mengatakan suku asli pulau ini adalah Suku Bajau Samuntai, sub Suku Bajau yang mendiami daerah perairan dan pesisir Kabupaten Berau. Selanjutnya, suku lain yang juga mayoritas adalah Suku Bajau dari Kepulauan Maginti, Sulawesi Tenggara, suku yang terkenal gemar melakukan pelayaran dan pencarian sumber daya laut. Ada juga suku lain yang tidak pernah ketinggalan dalam pembicaraan dunia laut dan perantauan, yakni Suku Bugis dan Suku Mandar, juga dari Sulawesi.

Pengamatan saya sejauh ini, suku yang diklaim sebagai suku pendatang, melihat dunia sebagai sebuah ladang penemuan sumber daya alam yang digunakan untuk menghidupi diri dan keluarga. Suku pendatang, datang ke pulau ini sebagai persinggahan sementara waktu saja. Sebab, hingga kini Pulau Balikukup masih menjadi pulau yang menjanjikan penghasilan yang besar dari ketersediaan sumber daya alam laut, seperti ikan yang melimpah, teripang, udang, kima, dan segala jenis binatang laut yang bisa dikonversi menjadi uang. Datang dengan memboyong anak dan istri, lalu bila tiba waktunya, ketika kantong-kantong tabungan telah cukup, akan pulang ke kampung halaman membawa predikat sebagai perantau yang sukses.

Ada persoalan yang muncul dengan pola pikir semacam ini, pendidikan anak-anak mereka menjadi begitu tidak terurus. Anak-anak tidak terhiraukan persoalan pendidikannya, asalkan sudah bisa baca, tulis dan hitung itu sudah cukup, apalagi jika kondisi pertumbuhan biologisnya sudah memadai untuk membantu mencari ikan, maka itulah jalan yang lebih baik ketimbang hadir di sekolah.

Kita mungkin hanya akan melihat persoalan ini dari perspektif ke-kota-an, bahwa apa yang dilakukan oleh sebagian orang tua di pulau ini adalah hal yang keliru dan menganggap bahwa itu telah mencabut hak anak-anak mereka sendiri untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Apalagi di pulau ini hanya ada sekolah pada tingkatan sekolah dasar saja. Sekolah lanjutan berada jauh di darat sana, sekolah lanjutan yang mustahil dijangkau pulang pergi dari pulau. Maka tidak ada pilihan selain menitipkan anak-anak mereka yang punya tekad untuk bersekolah ke sanak keluarga yang bermukim di darat, di sekitar sekolah lanjutan. Sedangkan separu penduduk pulau ini adalah adalah kaum pendatang yang tidak punya keluarga di daratan. Maka sejak awal, orang tua yang menyekolahkan anak di sekolah dasar, sudah tau bahwa itulah tingkatan sekolah paling maksimal yang bisa mereka raih. Tidak ada mimpi yang diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya untuk bersekolah tinggi. Ombak di lautan bisa saja mereka taklukkan, tapi menyerahkan anak mereka ke lingkungan liar di darat untuk bersekolah sama halnya memasukkan anak-anak mereka ke padang savana yang diintai macan yang buas, lingkungan akan memaksa dan memangsa anak-anak mereka sebagai umpan masa depan yang celah keberhasilannya untuk lolos, sangat kecil.

Sudah banyak terbukti, kasus-kasus anak pulau yang baru pada sampai tingkatan SMP, sudah pulang berbadan dua, mengonsumsi barang haram, perkelahian dan berbagai tindakan anarkis yang diawali rasa coba-coba. Anak-anak pulau, jika tidak punya fondasi sekuat baja untuk menghalau segala bentuk rasa penasaran akan pasti juga akan lebur oleh lingkungan pergaulan yang tidak terkontrol oleh orang tua mereka.

Keresahan-keresahan inilah yang menjadi ihwal terpatrinya empati dan rasa ingin menolong generasi muda yang dilakukan oleh seorang guru bernama Muh Risal. Muh Risal bukan orang pertama yang mendambakan kebaikan-kebaikan bagi anak-anak pulau, beberapa pendahulunya sudah berjuang lebih lama, tapi tidak sekonsisten dan sekomitmen Muh Risal. Saya melihat wajah optimisme Pak Muh Risal di wajah-wajah lelahnya setiap hari.

Saya juga kadang memanggil Pak Muh Risal dengan sapaan ustadz, sebab saya cermati Pak Muh Risal punya kecenderungan yang tinggi membina generasi muda dengan penguatan nilai-nilai religius. Bahkan tidak hanya generasi muda yang dibinanya. TPA An Nashr adalah TPA yang total diurusi oleh Pak Muh Risal. Ada kelompok pengajian dan majelis taklim ibu-ibu yang rutin terlaksana dua kali dalam seminggu. Ada bapak-bapak yang juga diajari ngaji selepas maghrib.

Pak Muh Risal adalah seorang guru di sekolah dasar di pulau, pria kelahiran 14 Juni 1983 ini adalah seorang alumni sebuah pesantren di tanah Jawa. Setelah mondok di beberapa pesantren, gelar Sarjana Pendidikan pun diraihnya di Universitas Zainul Hasan Probolinggo. Pada tahun 2010, Muh Risal akhirnya memutuskan pulang ke kampung halamannya di daerah Kepulauan Pangkajene, Sulawesi Selatan setelah raihan gelar Sarjana Pendidikan dan sudah meminang gadis pujaan hatinya. Pak Muh Risal kemudian merantau ke Pulau Balikukup pada tahun 2013 setelah mendengar kabar dari sepupuhnya tentang sebuah pulau seratus persen muslim yang sangat butuh pembinaan. Itulah Pulau Balikukup.

Pak Muh Risal mengampuh sebagai wali kelas II di SD 004 Kampung Pulau Balikukup. Hari-harinya diawali dengan mengengkol mesin untuk menyalakan listrik masjid jauh sebelum subuh dan mata manusia terbuka. Lampu masjid sudah menyala, audio dan loadspeaker dibunyikan, berselang beberapa waktu, dia jugalah yang akan adzan. Bila imam rawatib sedang ada uzur dan tidak hadir sholat berjamaah, maka tentu Pak Muh Risal-lah yang akan bertindak sebagai imam. Para jamaah sangat senang dengan bacaan Pak Muh Risal yang begitu tartil melafalkan ayat-ayat Alquran.

Mental dan ahlak anak-anak pulau harus dibentuk sedari dini. Benteng agama adalah benteng terkokoh yang diyakini mampu menghalau badai dan ancaman mimpi-mimpi sekuat apapun. Penguatan nilai religius anak-anak pulau tidak boleh dikerjakan oleh hanya seorang guru, tapi lebih dari itu orang tua juga sangat penting peranannya dalam pembentukan karakter anak-anak pulau. Orang tua juga sangat butuh asupan referensi dan contoh-contoh keteladanan dari lingkungan terkecil mereka sendiri, dari dalam kehidupan rumah atau dari lingkungan sekolah. Sebab tidak sedikit dari orang tua siswa, begitu mengandalkan sekolah sebagai wadah yang mampu mengubah wajah dan perilaku anaknya, sedangkan yang terlupa adalah bahwa sekolah pertama bagi seorang anak adalah orang tuanya sendiri.

Apa yang dilakukan Pak Muh Risal, adalah sebuab pemantik semangat bahwa jalan perubahan menuju kebaikan selalu ada sebagaimana tumbuhnya jiwa pengabdian yang tulus seorang guru kepada murid. Sebab jika sudah tak ada ketulusan dalam pengabdian, maka sudah tak perlu diharap lagi akan adanya kecerahan bagi masa depan pendidikan Indonesia, Indonesia yang cerdas, berahlak mulia, dan unggul dalam prestasi. Pak Muh Risal meyakini, tujuan Tuhan menciptakannya ke dunia ini adalah untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang, dan lebih spesifik, di Pulau Balikukuplah rencana Tuhan itu tergaris.

Tapi Pak Muh Risal tidak berhenti sampai disitu saja, dia juga harus melakukan akselerasi dalam penggunaan dan pemanfaatan teknologi dan informasi yang tidak boleh ditawar lagi. Sebagai seorang guru panutan, berbagai keahlian dan keterampilan harus dikuasai, termasuk keterampilan mengoperasikan perangkat digital. Sebab meskipun di pulau ini internet adalah barang langka tapi keterbatasan itu tidak boleh mematahkan langkah seorang guru untuk selalu berdiri di depan dan menjadi panutan. Sangat penting untuk selalu mengetahui informasi dan referensi terbaru yang terjadi dalam dunia pendidikan. Tentunya, meskipun berada di daerah tertinggal, Pak Muh Risal tidak boleh gagap teknologi. Proses pembelajaran juga musti melibatkan fasilitas teknologi untuk menunjang tercapainya hasil belajar yang memuaskan. Dengan begitu, anak-anak pulau tidak hanya terselamatkan dari dekadensi moral tapi juga tercerahkan berkat perangkat digital.

Inilah guru era baru, guru di jaman serba digital. Guru yang punya kompetensi multidimensi. Guru yang mencotohkan tauladan, guru yang cerdas intelektual, moral, spiritual, dan guru yang menguasai perangkat digital.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

785 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

  1. Sangat luar biasa tulisannya pak.
    Membacanya membuat saya termenung seketika.
    terimakasih atas cerita dan inspirasinya, semoga kita bisa bersinergi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

    salam kenal dari saya Alim.
    guraru.org/guru-berbagi/solusi-mudah-belajar-istilah-sejarah-dengan-kdis-kamus-digital-istilah-sejarah/

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar