7

Guru Melek Teknologi, Murid Melampaui Diri (+5)

Darul Azis May 26, 2017
technology-in-the-classroom-digital-teacher

Guru Melek Teknologi, Murid Melampaui Diri [Foto via http://www.teachhub.com]

Memori 10 Tahun Lalu, Momen Pertama Saya Melihat Laptop

Top

Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 1 dan masih berstatus sebagai murid baru, untuk sebuah sekolah menengah kejuruan yang juga baru dibuka. Ya, saya dan 26 murid lain adalah murid pertama sekolah itu, SMK Tunas Wiyata Way Tuba.

 

Jurusan Administrasi Perkantoran telah menarik saya untuk bersekolah di sana, dengan harapan kelak dapat bekerja sebagai orang kantoran pula—selain biaya yang lebih murah dibanding sekolah lain tentu saja. Ya walaupun, sebagai konsekuensinya, saya tidak berpindah sekolah. Karena gedung sekolahnya pun juga merupakan gedung sekolah saya ketika masih SMP, yakni gedung SMP Pembangunan Way Tuba.

 

Alhasil, kami harus bersekolah pada siang harinya, setelah murid SMP Pembangunan Way Tuba pulang. Hal itu merupakan sebuah keuntungan tersendiri, karena dengan begitu kami jadi bisa membantu pekerjaan orang tua kami, baik di rumah, di ladang, ataupun di sawah.

Top

Siang itu, cuaca sangat panas. Kelas sedang kosong karena guru kami tidak datang. Kekosongan jam pelajaran kala itu memang sering terjadi, karena jumlah guru masih sangat terbatas. Padahal mata pelajaran yang dibebankan kepada kami amatlah banyak. Karenanya, kami sering belajar mandiri. Pelajaran akuntansi sering menjadi proyek belajar mandiri kami.

Top

Namun siang itu berbeda. Pak Risdiyanto yang saat itu merupakan salah satu perintis sekolah kami, menemani kami untuk sekadar mengisi kekosongan. Beliau masuk kelas kami dengan membawa sebuah tas gendong, yang ternyata setelah dibuka, berisi sebuah laptop milik sekolah. Tentu saja kami, khususnya saya, terperangah. Hari itu adalah hari pertama saya melihat secara langsung wujud laptop—dan menyentuhnya!

Top

Pak Ris menjelaskan kepada kami bahwa dengan laptop yang sedang berada di hadapan kami kala itu, kita bisa bekerja kapan saja. Karena pada laptop tersebut sudah tertanam baterai yang mampu bertahan hingga kurang lebih lima jam lamanya.

Top

“Di laptop ini kita juga bisa mendengarkan musik.” lanjut Pak Ris menerangkan. Lalu beliau memutar lagu “Demi Kau dan Si Buah Hati” yang dinyanyikan oleh Pance Pondang. Suasana menjadi semakin syahdu. Dan siang itu menjadi momen tak terlupakan bagi saya walau perkenalan kami dengan laptop hanya beberapa saat saja.

Top

Hingga kemudian, saat masuk semester dua kami bertemu Pak Ohan. Beliau mengampu mata pelajaran organisasi dan manajemen. Beliaulah yang kemudian melanjutkan perkenalan kami dengan laptop. Bisa dibilang, beliau adalah sosok  guru yang modern dan melek teknologi; mengajar dengan menampilkan power point.

Top

Asyik dan mengagumkan. Itulah kesan yang saya dapatkan. Ditambah lagi, Pak Ohan pandai sekali mengemas tampilan power point-nya. Beliau menampilkan animasi kalimat, menunjukan aneka rupa gambar, dan beberapa video tentang organisasi dan manajemen serta video-video hikmah.

Top

Karena itulah kemudian, hari Rabu menjadi hari yang paling kami nantikan. Sebab pada hari itu kami bisa diajar dengan menggunakan laptop.

Top

***
Sekarang sudah tahun 2017. 10 tahun sudah berlalu dari momen itu. Kini, laptop sudah bukan barang langka lagi. Terlebih dalam dunia pendidikan. Murid SD saja sudah mahir mengoperasikan laptop.

Top

Karena itulah, tidak bisa kita mungkiri lagi, seorang guru harus membekali dirinya dengan kemampuan teknologi yang mumpuni. Selaku tenaga pendidik, guru harus lebih aktif menggunakan teknologi dalam proses belajar dan mengajar. Agar sang murid tidak ketinggalan ilmu dan pengetahuan.

Top

Begitu pun dengan dirinya sendiri. Seorang guru harus senantiasa berada di garis terdepan dalam mengakses, memperoleh, dan mengaplikasan ilmu terbaru, untuk kemudian ditularkan kepada anak didiknya. Semakin luas pengetahuan dan semakin kreatif seorang guru dalam mengajar, maka akan semakin berkualitaslah anak didiknya.
Untuk menjadi guru yang demikian, tentu kemudian mereka butuh begitu banyak referensi, baik yang berupa artikel, buku, buku elektronik, gambar, audio, maupun video. Dari kesemuanya bahan ajar tersebut, video yang notabene file-nya berukuran besar, sering kali menjadi pilihan favorit siswa karena meliputi audio dan visual.

Top

Dengan demikian, seorang guru kemudian membutuhkan laptop dengan kapasitas penyimpanan yang besar agar dapat menyimpan banyak file-file pembelajaran. Sekurang-kurangnya mereka butuh laptop dengan RAM berkapasitas 4 GB. Pun demikian dengan memori internalnya, kapasitas 32 GB sudah sangat cukup menjadi pilihan.

Top

Di samping kapasitas penyimpanan yang besar, kebutuhan akan laptop berkecepatan tinggi pun juga harus menjadi perhatian. Dalam proses mengajar di kelas, seorang guru dibatasi oleh waktu. Jangan sampai waktu yang ada justru terpangkas banyak hanya karena perangkat mengajar yang lambat. Kalau untuk booting saja lamanya minta ampun, maka sudah berapa lama waktu yang tersia-siakan?

Top

Belum lagi jika proses pembelajarannya menggunakan koneksi wifi. Di samping membutuhkan koneksi internet yang cepat, kemampuan laptop dalam menangkap sinyal pun juga harus diperhatikan.

Top

Kemudian, mengingat di Indonesia ini juga masih banyak  guru yang punya mobilitas tinggi atau jarak tempuh dari rumah ke sekolah terbilang jauh dan terjal, serta gajinya juga banyak yang masih kecil, maka kebutuhan laptop yang kerangkanya kuat juga harus menjadi perhatian utamanya. Tentu ini tak lain agar laptop tidak gampang pecah, kuat, dan tahan lama.

Top

Dalam hal ini, bahan alumunium bisa menjadi pilihan. Karena di samping kuat, logam alumunium juga mengesankan sesuatu hal yang premium (berkualitas) dan elegansi (keelokan, kerapian); sesuatu hal yang memang sudah selayaknya melekat pada diri seorang guru.

Top

Persembahan Acer untuk Guru-guru di Indonesia

Top

Guru memang profesi yang sangat mulia. Seperti kata Iwan Fals ketika mengisahkan Oemar Bakri, tangan dingin seorang guru mampu melahirkan profesor, doktor, insinyur, menteri, bahkan hingga presiden.

Top

Guru adalah pahlawan yang jasa-jasanya tak bisa dinilai, dengan apa pun. Guru ibarat petani ilmu yang terus menanam benih ilmu, pengetahuan, dan kebaikan, hingga tanamannya itu berbuah lebat, tumbuh lagi, berbuah lagi, tumbuh lagi, dan berbuah lagi. Demikian seterusnya. Jasa seorang guru bersifat abadi, tidak seperti jasadnya yang pasti akan mati.

Top

Barangkali karena kesadaran itulah, Acer mempersembahkan 3 Cromebook (laptop berbasis Crome Os) untuk dunia pendidikan di Indonesia, khususnya kepada para guru. Ketiga seri laptop tersebut, yakni Cromebook 11, R11, dan 14, telah diluncurkan sejak awal Desember 2016 lalu di Jakarta.

Top

Ketiganya memiliki keunggulan masing-masing dan karena Cromebook 14 cenderung lebih sesuai dengan kebutuhan para guru Indonesia, maka kali ini kita akan mengulik secara lebih detail Cromebook 14.

 

Chromebook_14-sku-main

Tampilan Acer Cromebook tampak dari depan. Kualitas layarnya yang premium dapat menampilkan gambar dengan begitu jernih. [Foto via https://www.acer.com]

 

Dilansir Kompas.com, Commercial Product Manager and Business Development Head Acer Indonesia, Riko Gunawan mengatakan, Cromebook 14 tidak untuk business to business dan tidak dijual di ritel. Karena tujuan utama Acer merilis Cromebook 14 ini memang hanya untuk edukasi.

Top

Dalam berita lain, seperti ditulis Beritagar.id sistem operasi laptop ini memiliki tiga keunggulan utama sehingga lebih baik dibandingkan sistem operasi lain yang ada di pasaran saat ini. Menurut Riko, speed, simplicity, dan security menjadi tiga perhatian utama di Cromebook.

Top

Soal kecepatan, sistem booting laptop dengan RAM berkapasitas 4 GB dan memori internalnya sebesar 32 GB ini hanya memerlukan waktu 8 detik. Sedangkan soal keamanan, laptop ini lebih kebal virus karena semua aplikasinya memiliki sistem sandbox (memisahkan program yang sedang berjalan). Tak hanya itu, laptop yang memiliki prosesor Intel Celeron ini juga sudah terintegrasi dengan semua produk Google.

 

Chromebook_14 dilengkapi dengan berbagai produk Google

Acer Cromebook 14 sudah terintegrasi dengan semua layanan Google. [Foto via https://www.acer.com]

Desainnya yang tergolong tipis seperti MacBook Air besutan Apple, dengan material kerangkanya berbahan logam, membuat laptop ini tidak menyusahkan untuk dibawa ke mana-mana. Begitu juga dengan pemakaiannya, karena sistem operasi Crome Os sangatlah sederhana. Sangat cocok untuk menunjang aktivitas guru yang biasanya mobile ke mana-mana.

Chromebook_14-photogallery-04

Desain kerangka yang elegan dan kuat, membuat Acer Cromebook akan selalu menarik perhatian banyak orang. [Foto via https://www.acer.com]

Dengan demikian, maka tepatlah bahwa Cromebook berlayar 14 inci dengan resolusi full HD (1920 x 1080 piksel) ini dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan: guru, murid, dan sekolah karena kecepatan, kesederhanaan, dan keamanannya.

Acer Cromebook 14 Bertahan sampai 12 Jam

Yang menakjubkan dari Acer Cromebook 14 adalah daya tahan beterainya yang mampu hingga 12 jam. [Foto via https://www.acer.com]

 

 

Guru di Era Media Sosial

Top

Guru harus dapat menjadi contoh. Ini sesuai dengan namanya, guru dalam istilah Jawa merupakan akronim dari digugu (didengar perkataannya) dan ditiru (perbuatannya). Senada dengan hal tersebut, pepatah Melayu mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Keduanya sama-sama menegaskan bahwa guru merupakan tauladan bagi siswa. Baik dalam kehidupan sosial di sekolah, di tengah-tengah masyarakat, bahkan hingga di media sosial. Artinya sebagai orang tua kedua, tindakan, ucapan, dan pikiran seorang guru akan selalu menjadi referensi—untuk tidak disebut sebagai acuan- muridnya. Bahkan terkadang melebihi apa yang telah dicontohkan oleh gurunya.

Top

Demikian halnya di media sosial. Sekarang ini kita semua bisa merasakan, media sosial hadir sebagai media yang sangat bebas dan terbuka. Siapa pun bisa bersuara, menuliskan pemikiran, mengabarkan keberadaan dan kegiatan, dan memamerkan kepunyaan kepada sesama pengguna media sosial yang menjadi teman atau yang mengikutinya.

 

Lagi-lagi, di sini seorang guru kembali dipanggil untuk memainkan perannya. Yakni dengan tetap menjadi seorang petani ilmu, pengetahuan, dan kebaikan. Menjadi sosok yang layak ditiru. Dan menjadi sosok pembangun insan cendekia dengan membagikan konten-konten yang bermanfaat, mendidik, mencerdaskan, dan inspiratif.
Saya optimistis, di tengah maraknya isu terorisme, SARA, hoaks, dan fitnah di media sosial seperti sekarang ini, para guru di Indonesia dapat menjadi (harapan) oase atas kondisi tersebut. Kepada merekalah kita bisa datang.

 

 

Ket: Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

913 total views, 4 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (7)

  1. mas azies lengkap banget ulasan acer chromebook 14nya
    heeee… tambah tahun ni kehebatan acer chromebook

    Sekarang sudah tahun 2017. 10 tahun sudah berlalu dari momen itu. Kini, laptop sudah bukan barang langka lagi. Terlebih dalam dunia pendidikan. Murid SD saja sudah mahir mengoperasikan laptop.

    as azies layak ikut MTMH my teacher my hero nih …..

    artikelnya sudah sy VOTE UP dan like fiacebook
    semoga sukses mas Azies
    bisa lihat juga inovasi pembelajaran berikut ini
    http://guraru.org/guru-berbagi/peningkatan-motivasi-belajar-siswa-saat-liburan-dengan-game-bom-whatsapp/?replytocom=43267#respond

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar