3

Guru Melek Digital untuk Siswa Millennial (+3)

Mang Ugit May 29, 2017
source: us.123rf.com

sumber: us.123rf.com

Guru Melek Digital untuk Siswa Millenial
Oleh: Mughits Rifai, S.Pd.

Akhir-akhir ini istilah ‘generasi millennial’ sering didengang-dengungkan di berbagai kesempatan dan dalam topik yang beragam. Istilah ini ternyata merujuk kepada kelompok generasi yang lahir pada tahun 1980-an sampai 1990-an atau awal 2000. Kelahiran generasi ini dibarengi dengan perubahan dramatis terutama di bidang teknologi. Perubahan ini ternyata memiliki dampak yang tak boleh dipandang sebelah mata. Salah satu perubahan yang tampak jelas adalah bergesernya budaya berkomunikasi dan pemerolehan informasi. Generasi millennial tidak sekadar berkomunikasi dan atau mendapat informasi, lebih dari itu mereka menemukan cara baru dalam berkomunikasi yang efektif dan mampu mencari informasi bahkan mengkreasikan informasi secara mandiri untuk disajikan kepada orang lain.

Guru Melek Digital
Pendidikan sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan tentu tidak terlepas dari keberadaan generasi millennial. Generasi yang terlahir dalam kondisi kemajuan teknologi komunikasi ini tentu membutuhkan pengalaman belajar yang tidak sama dengan generasi-generasi sebelumnya. Paling tidak dari keragaman media komunikasi dan tingkat kemudahan akses informasi yang jauh berbeda, generasi millennial membutuhkan pengalaman belajar yang lebih. Sehingga, guru pun dituntut tidak hanya bisa memberi pelajaran tapi juga membuat bahan ajar dan menyediakan ruang bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar secara mandiri. Untuk itulah, guru melek digital (digital literate) sangat diperlukan oleh dunia pendidikan pada masa ini.

digital literacy infographic

Untuk menjadi melek digital, tidak hanya kemampuan Teknologi Informasi yang harus dikuasai tetapi juga ada beberapa hal lain yang harus menjadi perhatian. Merujuk pada Wikipedia, melek digital (digital literacy) didefinisikan sebagai sekumpulan kompetensi yang dibutuhkan dalam sebuah masyarakat ilmu. Kompetensi itu mencakup pengetahuan, keahlian, dan perilaku yang melibatkan penggunaan alat-alat digital seperti telepon pintar (smartphone), tablet, laptop, dan sebagainya untuk tujuan berkomunikasi, berekspresi, berkolaborasi, dan advokasi.

Faktor Penunjang Digital Literacy
Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa guru melek digital harus memiliki wawasan yang luas, keahlian teknologi yang mumpuni, dan perilaku yang bijak dalam memanfaatkan alat digital. Sehingga, untuk menjadi melek digital, faktor penunjang pertama baik bagi guru maupun siswa adalah keahlian dasar komputer yang merupakan basis pengembangan alat-alat digital. Computer literacy ini menjadi sangat penting ketika informasi yang tersedia harus disajikan melalui komputer. Hal-hal mendasar seperti menggunakan aplikasi perkantoran yang lazim digunakan, menjelajah dunia maya melalui jaringan internet, berkomunikasi melalui surat elektronik, hingga menggunakan program-program lanjut seperti adobe photoshop perlu dikuasai oleh guru dan siswa.

Faktor penunjang kedua yang tak boleh dilewatkan adalah Media Literacy. Kemampuan guru dan siswa dalam menelaah dan mengkritisi konten digital sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi yang absah dan dapat dipertanggungjawabkan. Tentu kita tahu bahwa di dunia maya netizen punya kebebasan yang tak terbatas dalam menyebarkan segala macam informasi, termasuk informasi palsu. Ini menjadi tugas guru dan siswa untuk dapat mengenali mana konten yang bisa dipercaya untuk dijadikan rujukan dan mana konten yang sebaiknya dihindari.

Faktor ketiga yang dapat menunjang digital literacy adalah critical thinking skill atau kemampuan berpikir kritis. Dengan beragam cara pandang yang muncul dalam informasi-informasi yang didapatkan, guru maupun siswa dituntut untuk bisa berpikir kritis dan mampu memandang suatu masalah bukan hanya dari satu sudut pandang saja, melainkan dari berbagai sudut pandang. Lebih dari itu, keduanya diharapkan dapat mengakomodasi informasi yang ada dan menyampaikannya melalui cara dan media yang berbeda.

Terakhir dan yang terpenting adalah kemampuan untuk menghasilkan produk. Sekarang sudah bukan masanya untuk hanya menikmati apa yang sudah disediakan oleh orang lain untuk kita. Sekarang adalah masanya kita mencari, mendapatkan informasi, menelaah secara kritis, mengelaborasi dengan pengetahuan yang kita miliki sebelumnya, lalu menyampaikannya kembali sebagai sebuah informasi yang lebih segar. Dengan keempat faktor penunjang ini, melek digital bukan lagi sebuah angan-angan.

sumber: tcta.org

sumber: tcta.org

Netiquette
Apakah sudah sampai di sini? Belum. Dalam definisi digital literacy yang dipaparkan di atas, selain keahlian ada kompetensi wawasan dan perilaku. Wawasan tentu saja pengetahuan kita mengenai topik yang menjadi pokok bahasan. Sedangkan perilaku merupakan etika kita dalam menggunakan alat digital untuk tujuan yang disebutkan tadi, seperti berkomunikasi, berekspresi, berelaborasi dan advokasi. Sebagai digital citizen, guru harus pula mengedukasi siswa dalam menggunakan alat digital yang mereka punya.

Dalam mengedukasi para siswa sebagai digital citizen, paling tidak ada tiga poin penting yang baik untuk disampaikan:

    1. Lindungi informasi pribadi seperti kata sandi, nomor telepon, alamat rumah dan sebagainya untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
    2. Hargai diri sendiri dan orang lain dengan tidak berkata-kata kasar atau menghina juga tidak menyebarkan informasi palsu.
    3. Seimbangkan waktu antara menggunakan alat-alat digital untuk berselancar di dunia maya dan beraktivitas di dunia nyata.

Penutup
Sebuah artikel mengenai generasi millenial yang diterbitkan Republika Online menyebutkan terjadinya peningkatan yang tajam mengenai perilaku berinternet para remaja kini dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Fenomena streaming native sebgai contoh, pada akhir 2011 disebutkan hanya ada sekira tujuh persen remaja usia 16-19 tahun yang menonton video di YouTube. Angka ini kemudian melonjak hingga 20 persen pada empat tahun berikutnya. Pada bagian lain, sebuah penilitian tentang perilaku berbelanja menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat teratas di dunia dalam penggunaan smartphone untuk berbelanja online. Hal ini menunjukkan semakin tingginya intensitas penggunaan alat-alat digital dalam kehidupan sehari-hari. Melihat fenomena ini, maka peran guru melek digital sangat diperlukan utamanya dalam membimbing para siswa yang merupakan digital citizen untuk memanfaatkan alat digitalnya dalam memaknai pengalaman belajar yang mandiri.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

304 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!