0

GURU DI ERA TEKNOLOGI (0)

Kusnandar Heru Prasojo May 24, 2017

Sangat menarik dan menyenangkan menurut saya kalau kita membicarakan kemajuan teknologi. Bagaimana tidak menarik kalau teknologi berkembang dengan cepat sekali. Begitu cepatnya sampai kadang-kadang disaat kita baru mempelajari teknologi yang baru saja kita peroleh sudah muncul teknologi yang baru lagi. Bagaimana tidak menyenangkan kalau teknologi yang tercipta tersebut membuat hidup kita relatif lebih mudah dan menyenangkan dalam menjalani hidup ini. Dengan perkembangan teknologi yang sekarang kita nikmati membuat kita bisa “berbincang-bincang” ataupun “bercakap-cakap” bersama dengan teman, sanak saudara, atau pun orang lain yang berjarak ribuan kilometer jauhnya dari kita. Bahkan kita bisa melakukan diskusi tentang bermacam hal dalam grup whatsapp misalnya, tanpa perlu bertatap muka secara langsung.

Seperti di salah satu group WhatsApp yang penulis ikuti dimana dalam group sering muncul diskusi beragam masalah, entah politik, ekonomi, agama, sosial budaya, dan lain-lainnya. Diskusi kadang-kadang berlangsung dengan seru, masing-masing mengemukakan argumentasinya, namun semua itu tidak sampai menjadikan kami bermusuhan satu sama lain. Kami bisa menahan diri untuk tidak menyinggung pihak lain. Barangkali karena faktor usia dan kesamaan tingkat pendidikan sehingga meskipun berbeda dalam pengabdian kami di masyarakat, membuat kami bisa tetap saling menghormati satu sama lain. Sehingga dengan situasi tersebut kita bisa saling belajar tanpa bermaksud menggurui, tanpa kita sadari rohani kita akan makin kaya.

Kemajuan teknologi tersebut rupanya memberikan pengaruh juga kepada anak-anak kita. Kemudahan teknologi membuat mereka dengan mudah mendapat informasi dari manapun. Dimana diusia keemasan mereka yang ingin mengetahui segala hal ditambah dengan kemampuan menyerap pengetahuan yang cepat membuat rentan terkontaminasi hal-hal yang buruk sebagai dampak dari teknologi.

Di dalam kehidupan masyarakat Jawa tradisional, secara sosio-kultural guru merupakan suatu profesi yang dihormati. Hal ini terungkap dari kata “guru” yang dalam bahasa Jawa menurut kerata basa atau jarwa dhosok merupakan kependekan dari digugu lan ditiru (dianut dan dicontoh). Bertolak dari kerata basa itu, maka guru merupakan pribadi dan profesi yang dihormati dalam masyarakat Jawa tradisional. Mereka menjadi role model, panutan dan contoh bagi masyarakat karena memiliki keahlian, kemampuan, dan perilaku yang pantas untuk dijadikan teladan. Menurut saya, dalam menjalani hidup ini memiliki role model itu sangat penting. Kenapa? Memiliki role model akan mempermudah kita untuk melihat gambaran dari mimpi kita secara keseluruhan. Role model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu “Sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk di contoh (tentang kelakukan, perbuatan, sifat, dan sebagainya)”. Sedangkan di dalam Wikipedia menjelaskan role model sebagai “person who serve as an example, whose behaviour is emulated by others” yang artinya “Orang yang berfungsi sebagai contoh, yang perilakunya ditiru orang lain”.

Melihat kemajuan perkembangan penggunaan internet dan situs jejaring di Indonesia yang pesat, di satu sisi kita bisa berbangga bahwa hal tersebut disebut sebagai suatu kemajuan, paling tidak masyarakat sudah belajar untuk mengenal teknologi, namun di sisi lain menimbulkan keprihatinan tersendiri, khususnya bila dikaitkan dengan Digital Citizenship ini. Penggunaan situs jejaring sosial di Indonesia mengalami tantangan bahwa masih banyak yang menggunakan untuk hal-hal kurang produktif.

Situs jejaring sosial ditengarai kerap digunakan sebagian orang atau kelompok tertentu untuk menjelek-jelekan atau mencemarkan nama baik orang lain. Sering kali kita melihat berita-berita di televisi antara artis A dan artis B saling melaporkan ke Polisi hanya dikarenakan komentar-komentar yang tidak bijak di akun mereka. Dan banyak lagi kasus-kasus lain sebagai akibat tidak bijaknya mereka dalam menyampaikan pendapat di media sosial, hal ini menunjukan betapa masih perlunya peningkatan pemahaman dan kesadaran akan Digital Citizenship ini.

Untuk menjadi warga digital yang sehat dan bermartabat tentu diperlukan pendidikan tersendiri. Sangat penting bagi anak-anak kita di sekolah untuk diberikan pembelajaran dalam mengakses berbagai informasi melalui internet secara benar dan mampu berkomunikasi secara beradab dan beretika dalam situs jejaring yang diikutinya.

Kemudahan akses terhadap dunia digital merupakan jembatan untuk memasuki masyarakat digital yang harus diimbangi dengan pengembangan nilai-nilai. Mustahil suatu bangsa akan menghalangi warga negaranya memasuki dunia digital karena era digital tidak dapat lagi kita tolak. Kemampuan Indonesia berkiprah dalam dunia informasi dan Internet sangat bergantung pada jumlah/massa orang terdidik. Ketidakberhasilan dalam meningkatkan jumlah orang terdidik akan melemahkan kemampuan Indonesia untuk berkiprah dan bertahan di dunia maya. Sangat jelas bahwa pendidikan menjadi isu yang sangat sentral bagi keberhasilan pembangunan dunia informasi Indonesia dimana anak-anak kita berada, anak-anak yang akan menggantikan kita kelak dalam meneruskan perjuangan bangsa ini.

Sumber Pustaka:

https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2013/09/16/digital-citizenship/

https://yunizar.com/2010/04/24/guru-dalam-konsep-traditional-jawa-dulu-dan-masa-kini/

http://studikewarganegaraan.blogspot.co.id/2013/11/digital-citizens.html

http://masvi2n.blogspot.co.id/2013/04/role-model-itu-penting.html

https://id.techinasia.com/talk/pentingnya-memiliki-role-model-dalam-hidup

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

356 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!