2

Guru dan Teladan Bermedia (+1)

Kuat Pujianto May 31, 2017

Akhir-akhir ini, masyarakat kita dibanjiri dengan beragam berita hoax tentang beragam hal. Mulai masalah pilkada, propaganda agama, isu-isu sosial, bahkan sampai pada sajian berita-berita keilmuan yang simpang-siur kebenarannya. Berita-berita bohong tersebut beredar masif karena dibagikan ribuan orang yang membaca tanpa filter, mereka cenderung berkemampuan literasi rendah yang menelan berita mentah apa adanya tanpa mengolah dan memverifikasi kebenaran yang ada dalam berita tersebut.

Akibatnya, terjadi kegaduhan luar biasa dan perdebatan sengit yang tak berujung di ruang cyber. Media sosial disesaki dengan komentar-komentar yang saling menuding, adu argumen tanpa dasar keilmuan yang valid, hanya karena keyakinan buta. Perdebatan yang tidak berujung ini bahkan semakin mengarah pada perilaku-perilaku negatif, mulai mem-bully, mencaci, memaki, bahkan tidak jarang menjustifikasi orang lain salah.

Maka tak pelak jika kondisi tersebut berlanjut ke dunia nyata, mengakibatkan terjadinya keretakan hubungan sosial antar sesama yang akan mengancam kehidupan bermasyarakat, dan berbangsa. Oleh karena itu, semua ini harus dicegah dan dihentikan. Penggunaan media sosial harus tetap menaati norma dan ketentuan sebagaimana aturan dalam dunia nyata yang selama ini telah dijunjung masyarakat kita.

Hoax_(kompasiana.com)_

Internet sebagai sumber belajar, Berbahaya?

Pembelajaran abad ini mensyaratkan mutlak pada eksplorasi sumber belajar yang tidak terbatas. Keberadaan internet memberikan sumbangan besar pada pergeseran budaya belajar siswa dari sumber belajar tunggal (guru) menjadi sumber belajar multi yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja sesuai kebutuhan. Saat ini sudah tidak ada lagi kendala pendidikan karena alasan ketiadaan sumber belajar. Sepanjang daerahnya terjangkau internet, maka tidak ada halangan untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru. Bahkan jika guru tidak mengikuti perkembangan pengetahuan yang berkembang cepat melalui internet, maka dapat dipastikan guru itu akan ketinggalan informasi, dan ditingalkan siswanya karena dianggap jadul. Akan tetapi, sadarkah kita bahwa internet bisa menjadi sangat berbahaya jika digunakan sebagai sumber belajar?

Melihat banyaknya konten digital yang saat ini berisi berita-berita bohong (hoax) dan penuh propaganda, maka penggunaan konten media digital (internet) sebagai sumber belajar harus dilakukan secara selektif. Di sinilah, guru dituntut untuk melek literasi, bisa memverifikasi konten-konten yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sehingga dapat menyajikan asupan materi belajar yang menyehatkan. Pun juga guru harus memberikan pendampingan kepada siswa dalam mengakses internet, agar para siswa tidak tersesat di belantara media digital dengan mengakses hal-hal yang tidak disarankan.

Peran Penting Guru

Guru, sebagai sosok yang diharapkan bisa digugu (diikuti perkataannya) dan ditiru memiliki peranan yang sangat vital. Darinya diharapkan mampu memberikan teladan dan pencerahan dalam memanfaatkan media, khususnya media sosial. Guru-guru era baru (era milenial) harus menguatkan perannya dengan hal-hal sebagai berikut;

  1. Menguasai teknologi informasi serta selalu memperbarui dengan perkembangan terkini

Perkembangan teknologi informasi melesat cepat, setiap individu yang tidak ingin tertinggal informasi harus mengikuti perkembangan tersebut tak terkecuali guru. Guru-guru yang tidak up date dengan perkembangan teknologi informasi bisa dipastikan akan usang di tinggal zaman. Mereka tidak mungkin bisa memfasilitasi siswanya dengan kebutuhan-kebutuhan ilmu terkini. Oleh karena itu, guru yang baik pada era ini adalah guru yang siap dan selalu belajar dengan perubahan.

  1. Aktif bermedia dengan menjunjung tinggi etika

Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa hadirnya media utamanya media sosial membawa ekses-ekses negatif, selain juga membawa dampak positif. Ekses-ekses negatif ini muncul disebabkan abainya pengguna terhadap norma dan etika. Maka guru sebagai pribadi yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial memiliki kewajiban mutlak untuk ikut mengkampanyekan, mendampingi, dan membina siswa agar menjunjung tinggi etika dalam menggunakan media.

Lebih penting dari itu, guru harus dapat menjadi contoh/ teladan bagaimana menggunakan media yang positif, baik dalam penggunaannya sebagai media belajar maupun dalam kebutuhan sehari-hari.

  1. Menjadi agen perubahan dengan mendorong inovasi-inovasi baru melalui media

Dalam perannya sebagai pendidik, guru harus menjadi bagian dalam agent of social change yang dapat menghantarkan lingkungan sosialnya menuju masyarakat berkebudayaan yang unggul. Peran mulia tersebut tidaklah mungkin bisa terealisasi tanpa penguasaan teknologi informasi yang unggul mengingat saat ini para guru hidup di era milenial yang serba berkebutuhan dengan teknologi informasi.

Peran-peran yang bisa dijalankan guru antara lain adalah mengkreasikan teknologi informasi sebagai media dan sumber belajar yang efektif. Tentu saja tugas ini tidaklah mudah, guru harus banyak meluangkan waktunya untuk bereksperimen untuk memunculkan terobosan-terobosan baru dalam pendidikan agar pemanfaatan media bisa sangat memudahkan siswa dalam belajar tanpa harus ada kekhawatiran penyimpangan dalam penggunaannya.

Peran lainnya yang bisa dijalankan guru baik secara individual maupun secara organisasi yang diharapkan mampu mendorong perubahan secara makro adalah memberikan rekomendasi kepada pihak berwenang akan pentingnya memverifikasi website, sehingga siswa-siswa kita tidak akan tersesat dalam eksplorasi keilmuannya yang disebabkan keberadaan website yang menebar hoax dan propaganda dengan tujuan tertentu. Dengan demikian, para guru bisa sedikit terkurangi rasa kekhawatirannya ketika melepas anak didik untuk mengembangkan keilmuannya dengan mengakses sumber-sumber ilmu dari internet.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

841 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

  1. KADANG SY SERING LUPA DI SESUAI PARAGRAF DI ARTIKEL BAPAK

    Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa hadirnya media utamanya media sosial membawa ekses-ekses negatif, selain juga membawa dampak positif. Ekses-ekses negatif ini muncul disebabkan abainya pengguna terhadap norma dan etika. Maka guru sebagai pribadi yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial memiliki kewajiban mutlak untuk ikut mengkampanyekan, mendampingi, dan membina siswa agar menjunjung tinggi etika dalam menggunakan media.

    kadang masih sering komen terbawa suasana, semoga pencerahannya mengingatkan sy

    salam kenal pak

    artikelnya sudah sy VOTE UP dan like facebook
    semoga sukses
    bisa lihat juga inovasi pembelajaran berikut ini
    http://guraru.org/guru-berbagi/peningkatan-motivasi-belajar-siswa-saat-liburan-dengan-game-bom-whatsapp/?replytocom=43267#respond

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar