3

Guru dan Etika Bersosmed (+2)

Syaiful Mustaqim May 31, 2017

Beberapa kali penulis menyusuri jejaring sosial, Facebook yang dimiliki para pelajar terdapat keganjilan-keganjilan yang semestinya tidak mereka lakukan.

 

Pertama, penulisan status “apa yang anda pikirkan” menggunakan diksi (pemilihan kata) yang kurang sopan, baik dengan kata-kata ke-binatang-an maupun kalimat yang tidak seronok lainnya.
Kedua, dalam pemasangan gambar (foto profil-foto dinding) banyak ditemukan foto-foto tidak senonoh yang di-upload dari google maupun pasangan sejoli yang sedang berciuman, berpelukan ataupun foto pribadi laiknya bintang “syur”.
Bagi saya situs sosial yang diluncurkan pada 04 Februari 2004 silam adalah “ruang publik”. Meminjam istilah Roger Scurton (1984) ruang publik merupakan sebuah lokasi yang didesain seminimal apapun, memiliki akses yang besar terhadap lingkungan sekitar, tempat berkumpulnya manusia (pengguna) dan perilaku masyarakat satu dengan lain harus mengikuti etika yang berlaku.

 

Artinya, pemilik sosial media berada dalam satu lingkungan umum, satu sama sama lain bisa saling menyapa dan yang terpenting harus saling menaati etika yang berlaku.

 

Sehingga, segala aktivitas yang diperbuat pemilik sosmed bisa disaksikan oleh khalayak umum (siapa pun saja). Baik orang yang sudah kenal maupun yang belum saling mengenal.
Sebenarnya, penggunaan jejaring sosial yang diciptakan Mark Zuckerberg mestinya digunakan untuk sarana penunjang belajar. Karena Facebook adalah sarana sosial yang menghubungkan orang-orang dengan teman dan rekan mereka yang lain untuk bekerja, belajar, dan hidup di sekitar mereka.

Etika Bersosmed

Istilah etika sebagaimana diungkapkan K Bertens (2000) adalah sekumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak (moral).

 

Sehingga etika sosmed berarti moral yang seyogianya dimiliki pemilik sosmed. Sebagai peserta didik yang memilikinya tentu tidak masalah asalkan tahu moralitas yang harus diperhatikan apalagi mereka masih berada dalam naungan lembaga pendidikan.
Sesuai dengan fungsinya sosmed memang bisa dijadikan lahan untuk bekerja. Bekerja apa saja yang penting “halal”. Semisal, siswa yang pintar dalam desain menjual karyanya dalam bentuk kaos, baju, stiker dan lain-lain lewat jejaring sosial yang dimilikinya.

 

Bisa juga peserta didik menjual hasil kreativitas-kreativitas yang lain. Hasilnya tentu bisa digunakan untuk menambah nominal uang saku yang diberikan oleh orang tua.
Selian itu berfungsi sebagai sarana pembelajaran. Sebagai pelajar masa kini memang jangan sampai menjadi generasi gaptek (gagap teknologi).

 

Hal itu diaktualisasikan dengan memiliki akun sosmed. Karenanya, fasilitas yang ada semestinya digunakan untuk kebutuhan positif.

 

“Status” dan “Catatan” bisa digunakan untuk praktik pelajaran bahasa Indonesia maupun Asing. Praktik membuat puisi (sajak) maupun karangan yang lain. Sementara fasilitas yang lain “Foto”, “Grup”, dan sebagainya digunakan hal-hal yang baik.
Sedangkan perannya untuk hidup adalah saling berteman dengan yang lain. Dalam Add (menambahkan) dan “Konfirmasi” pertemanan harus hati-hati.

 

Sebab, jika tidak hal-hal yang tidak diinginkan semisal penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sesuai diberitakan di Koran maupun ditayangkan di Televisi beberapa waktu lalu rentan terjadi. Maka, disinilah sebenarnya letak pentingnya etika yang perlu dimiliki pelajar yang memiliki sosmed.
Perlu Pengawasan

Salah satu dari tujuh peran guru sebagaimana dikemukakan WF Connell (1972) adalah nurturer (mendidik). Artinya selain transfer of knowledge guru bertanggung jawab untuk memberikan pengawasan dan pembinaan kepada anak didiknya.

 

Dalam hal ini, guru perlu memberikan pengawasan kepada siswa barangkali ditemukan penyalahgunaan sosmed untuk kepentingan-kepentingan yang negatif.
Sebab, secara tidak langsung hal-hal buruk tersebut akan mencoreng citra baik sekolah yang bersangkutan. Oleh karenanya, jika guru menemukan hal itu, maka diperlukan pembinaan moral agar siswa mau mengakui kesalahannya dan merubahnya.

 

Sehingga, berikutnya fasilitas sosmed benar-benar dimanfaatkan oleh para pelajar untuk kebutuhan yang lebih baik. (*)

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

1,156 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

  1. Dalam hal ini, guru perlu memberikan pengawasan kepada siswa barangkali ditemukan penyalahgunaan sosmed untuk kepentingan-kepentingan yang negatif.

    setuju sekali, kita kadang harus jadi POLISI dan POL PP untuk melihat sosmed anak2 heeeee

    artikelnya sudah sy VOTE UP dan like facebook
    semoga sukses
    bisa lihat juga inovasi pembelajaran berikut ini
    artikel 1
    http://guraru.org/guru-berbagi/peningkatan-motivasi-belajar-siswa-saat-liburan-dengan-game-bom-whatsapp/?replytocom=43267#respond
    artikel 2
    http://guraru.org/guru-berbagi/kearifan-lokal-dunia-digital-belajar-menakjubkan-2/

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar