6

Gen Z: Belajar, Berkarya, dan Berpenghasilan Secara Digital (+7)

Hira Karmachela May 25, 2017

Setiap era dibangun oleh setidaknya satu generasi kemudian akan melahirkan setidaknya satu generasi baru. Tentu kita sadari bahwa kita dan orangtua kita merupakan dua generasi yang berbeda. Begitu pula anak-anak yang kita lahirkan atau yang kita didik di sekolah adalah generasi yang berbeda dengan generasi kita.

Dahulu orangtua kita hidup pada zaman dimana segala sesuatu dilakukan secara tradisional. Kemudian, kita hidup di era teknologi yang memudahkan aktivitas dengan sistem analog atau manual. Dan kini, era digital hadir menawarkan teknologi aplikasi dan informasi dengan sistem otomatis.

Mengenal Anggota Gen Z

Anak-anak yang saat ini aktif menjadi siswa di jenjang pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi dikenal sebagai Gen (generasi) Z. Menurut beberapa literatur, Gen Z disebut juga sebagai iGeneration, Generasi Internet, atau Generasi Digital adalah generasi yang lahir pada zaman dimana perkembangan teknologi sudah terbilang canggih dengan ciri ditemukannya aneka perangkat digital seperti komputer, ponsel pintar, beragam gawai, dan internet.

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Setiap generasi memiliki karakteristiknya tersendiri. Sejak kecil, Gen Z sudah diperkenalkan dengan berbagai perangkat canggih dan digitalisasi yang secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan kognisi, psikomotor, dan afeksi mereka. Gen Z biasanya nyaman dengan teknologi sehingga mereka lebih memilih bersosialisasi secara digital melalui aplikasi media sosial. Karakteristik ini tentu akan memberikan dampak yang positif atau negatif bagi seorang Gen Z dan lingkungannya.

Oleh karena itu, pendidikan adalah aspek penting untuk mengoptimalkan karakteristik Gen Z dalam memberikan dampak yang positif, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pendidikan bukan saja berlaku saat seseorang berada di bangku sekolah tapi harus terus memberikan dampak hingga seseorang lulus dari bangku sekolah dan terjun ke masyarakat.

Memahami Konsep Pendidikan Digital Citizenship

Digital Citizenship adalah konsep pendidikan yang sangat sesuai untuk diterapkan bagi anggota Gen Z. Seorang Gen Z harus mampu menjadi warga digital yang baik dengan menerapkan norma-norma kewargaan digital dalam penggunaan teknologi. Alih-alih melarang atau membatasi penggunaan ponsel atau gawai dalam kegiatan belajar mengajar, sebaiknya guru mengoptimalkan setiap perangkat teknologi untuk mengembangkan potensi anak didik.

Saya Hira Karmachela, guru produktif jurusan multimedia di SMK AL-WAFA. Saya diberi tanggung jawab mengajar animasi dan pengolahan citra digital. Tentu bukan tanpa alasan saya memilih atau dipilih untuk mengajar mata pelajaran tersebut. Selain berkaitan dengan latar belakang pendidikanku, yaitu pendidikan seni rupa, digitalisasi merupakan minatku sejak duduk di bangku SMK. Sebagai  seorang individu yang lahir di era peralihan, perkenalan saya dengan komputer dan internet membuat saya begitu terobsesi dengan dunia digital.

Saya memiliki keyakinan bahwa melek teknologi dan digitalisasi itu penting walaupun saya berkecimpung di dunia seni. Perjalananku menggeluti dunia seni dengan mengintegrasikannya bersama teknologi digital membuat saya dikenal sebagai seniman digital di dunia maya. Di samping itu, sebagai seorang pengajar, saya percaya bahwa pengalamanku di dunia digital mampu menjadi guru yang baik untuk menerapkan pemahaman digital citizenship bagi anak didikku.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menerapkan konsep pendidikan digital citizenship? Berdasarkan pengalamanku, ada tiga hal yang sebaiknya dipahami dan diterapkan oleh anggota Gen Z di era digital, yaitu belajar secara digital, berkarya secara digital, dan berpenghasilan secara digital.

Belajar Secara Digital

Gen Z biasanya nyaman bahkan cenderung lebih tertarik pada penggunaan teknologi. Oleh karena itu, larangan terhadap penggunaan ponsel atau gawai saat kegiatan belajar mengajar akan menimbulkan antipati terhadap guru dan kegiatan belajar tersebut. Sebaiknya penggunaan teknologi diintegrasikan bersama kegiatan belajar mengajar. Alih-alih merebut kenyamanan peserta didik, sebaiknya guru memberikan jaminan akan kenyamanan dan keamanan hak mereka dalam penggunaan teknologi.

Contoh paling sederhana adalah mengenai kehadiran di sekolah. Dahulu, kehadiran siswa hanya dihargai dengan sebuah titik di kolom lembar kehadiran sebagai tanda bahwa siswa tersebut hadir. Kini, dengan penggunaan teknologi presensi digital, peserta didik lebih nyaman bahwa kehadiran mereka lebih dihargai dengan adanya visualisasi profil mereka di layar komputer.

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Saya memiliki pengalaman yang menarik, ada seorang siswa yang saya kenal sangat pendiam dan cenderung tertutup. Ketika sebuah tugas menuntutnya untuk melakukan presentasi di depan kelas, ia terlihat sangat tidak nyaman dan tentu membuat orang lain tidak nyaman pula. Tapi, suatu ketika saya berkomunikasi dengan dia melalui aplikasi WhatsApp, dan saya sangat terkejut betapa ekspresif dan cerewetnya dia.

Guru sebaiknya memahami bagaimana eksistensi peserta didiknya ingin dihargai, begitu pula keinginan peserta didik untuk mengenal, menghormati, dan menghargai eksistensi gurunya. Di era digital, eksistensi bukan saja tentang aktivitas di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Itulah mengapa, seringkali peserta didik menanyakan tentang akun sosial media gurunya, atau bahkan mengikuti aktivitas akun gurunya secara diam-diam.

Di sinilah saya mencoba menerapkan prinsip respect sebagai salah satu norma yang harus ditaati pada konsep pendidikan digital citizenship. Seorang warga digital yang baik harus mampu menghargai dirinya sendiri dan orang lain dengan mentaati etika dan hukum digital. Alih-alih menyembunyikan diri dari para siswa di dunia maya, saya dengan bangga menunjukan eksistensiku sebagai seorang seniman digital.

Saya mengajak siswa untuk belajar di ruang kelas digital dengan bantuan aplikasi Google Classroom. Sehingga peserta didik merasa eksistensi mereka di dunia maya lebih dihargai dan tidak ada kesenjangan akan pemahaman digital dengan gurunya. Melalui aplikasi Google Classroom, saya dapat menerapkan gamifikasi dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan begitu, peserta didik akan serasa menyelesaikan misi dalam game ketika mengerjakan tugas mata pelajaran.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: classroom.google.com

Berkarya Secara Digital

Google Classroom merupakan aplikasi yang memudahkan guru mengorganisir peserta didiknya baik mengenai kehadiran, pemberian tugas, dan penilaian. Bagiku, aplikasi ini sangat tepat untuk menerapkan prinsip educate sebagai norma dalam penerapan konsep pendidikan digital citizenship. Seorang warga digital yang baik harus mampu mengedukasi dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain secara formal dan normal walaupun dalam konteks digital.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: classroom.google.com

Selepas dari bangku sekolah, bukan berarti peserta didik lepas dari pendidikan. Kita harus mampu mengedukasi diri sendiri secara berkelanjutan dalam konteks bekerja atau berkarya. Oleh karena itu, saya mencoba memberikan pemahaman kepada peserta didik bagaimana memanfaatkan media digital untuk berkarya.

Dimulai dari yang paling sederhana, yaitu membuat dan mengorganisir portofolio. Dewasa ini, remaja mana yang tidak memiliki akun Instagram atau Facebook. Kebanyakan orang masih menggunakan aplikasi tersebut secara konsumtif dan hanya untuk kepuasan diri semata. Padahal dengan pemahaman digital citizenship, kita dapat memanfaatkan aplikasi tersebut sebagai portofolio. Kita dapat menunjukkan eksistensi diri di dunia maya bukan sekadar mengunggah hasil swafoto saja tapi juga hasil pembelajaran atau karya seperti fotografi seni, dokumentasi pembelajaran, karya seni dan desain, atau hal-hal yang bersifat produktif lainnya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sumber: www.behance.net

Lebih lanjut, saya mengarahkan peserta didik untuk membuat portofolio secara profesional, karena saya mengajar di jurusan multimedia maka saya sarankan aplikasi atau situs pembuat portofolio yang cocok seperti Behance. Dalam pembuatan portofolio, kita tertantang untuk terus memperbaruinya dengan terus membuat karya baru. Pemanfaatan portofolio digital memberikan cara praktis untuk kita saling mengapresiasi karya. Pemberian Like, Share, dan Comment yang tinggal click sesungguhnya memberikan dampak psikologis yang sangat besar, terutama bagi anggota Gen Z.

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Berpenghasilan Secara Digital

Setelah kita menuntaskan pembelajaran di bangku sekolah, selanjutnya adalah menjadi bagian dari masyarakat yang aktif secara ekonomi dan sosial. Kita harus bekerja dan berpenghasilan untuk dapat hidup bermasyarakat. Begitu pula bagi seorang Gen Z, mungkin saat ini kebanyakan Gen Z masih di rentang usia remaja dan cenderung konsumtif dengan aktivitasnya di dunia digital.

Itulah mengapa prinsip protect harus diterapkan dalam konsep pendidikan digital citizenship. Bahwa dunia digital saat ini masih menjadi dunia alternatif bagi sistem manual maupun tradisional. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa bekerja dan berpenghasilan secara digital dapat dilakukan. Dengan bermodalkan konten digital seseorang dapat menghasilkan uang melalui internet. Oleh karena itu, peserta didik harus paham bahwa setiap konten digital yang tersebar di internet harus dihargai dan dijaga sebaik mungkin. Seorang warga digital harus mampu menghargai dan menjaga hak cipta atas konten digital yang diunggah oleh dirinya atau orang lain.

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Sumber: Dokumentasi SMK AL-WAFA

Banyak sekali contoh saat ini, kita lihat kabar mengenai Selebgram atau Youtuber yang berpenghasilan sangat tinggi melalui konten digital yang mereka unggah. Pengalamanku sebagai seorang seniman digital pun membuktikan bahwa berpenghasilan secara digital dapat dilakukan dengan memanfaatkan sistem crowdsourcing.

Crowdsourcing adalah suatu proses untuk mendapatkan pekerjaan atau pendanaan dari sekelompok besar orang dalam konteks online. Biasanya ada dua macam orang yang bergabung ke beberapa situs crowdsourcing. Mereka adalah kelompok pemberi kerja atau pendukung dana dan kelompok pencari kerja atau  penggalang dana. Dengan pengalaman sebagai seorang seniman digital, saya arahkan peserta didik untuk membuat pilihan alternatif dalam menghadapi persaingan kerja. Salah satu situs crowdsourcing  yang saya sarankan kepada peserta didik yang menghadapi kelulusan dan siap bekerja adalah Freelancer.com.

Sumber: www.freelancer.com

Sumber: www.freelancer.com

Di dunia digital, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala untuk belajar, berkarya, dan berpenghasilan. Kita dapat berinteraksi tidak dengan teman sebangsa saja, bahkan kita dapat mengenal seluruh bangsa di dunia. Kita dapat saling mengapresiasi karya dan budaya dari belahan dunia yang berbeda. Bahkan kita dapat membuka pintu rezeki yang ada di seluruh penjuru dunia.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

1,385 total views, 5 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar