11

Empowering Student Learning Through ICT (+7)

Deasi Saragih March 9, 2014

Sabtu pagi  22 Februari 2014  ini terasa dingin, maklum saja hujan yang sering mengguyur Kota Jakarta kembali datang sejak pukul 4 dini hari dan sedikit mengusik rencana untuk mengikuti seminar. Berhubung semangat cukup tinggi karena tertarik dengan tema yang diusung maka setelah mempersiapkan diri dengan mantel hujan, cepat-cepat saya kemudikan motor menuju sekolah tempat mengajar  untuk memenuhi janji berjumpa dengan salah satu rekan yang akan bersama-sama menuju gedung Jakarta Design Center.

Begini rupanya kalau punya tekad yang kuat ya 😀 hehe jalan berlubang dan hujan yang deras tak sedikitpun menyurutkan langkah untuk mengikuti seminar di JDC. Semangat mengikuti seminar yang berjudul Empowering Student Learning Through ICT, pembicaranya Christ Siew, dari Singapura.

Memang bukan sebuah pilihan yang mudah bagi sebagian orang untuk mau mengikuti seminar di hari Sabtu, berhubung hari kerja Senin-Jumat sudah melalui berbagai  kegiatan yang menyita tenaga, jadi wajar memang sabtu dipergunakan untuk istirahat :D, tapi kami berdua  memang masih cukup punya tenaga menganggap bahwa ini justru acara “bersantai” karena kami hanya duduk dan mendengar, namun beberapa pengetahuan akan kami dapatkan.

Jujur saja mengikuti seminar seperti ini merupakan refreshing tersendiri, ada beberapa alasan untuk mengikuti seminar ini, pertama temanya menarik, kedua, kami punya waktu untuk melihat suasana baru di luar rutinitas kerja dan bisa bertemu atau ber-networking , dan yang terakhir yang paling penting nih hehe… sekolah tempat mengajar sangat berbaik hati karena membayar seluruh biaya seminar hari ini, sekaligus memberikan voucer taksi Blue Bird nan nyaman pulang-pergi :D. Jadi meski hujan menghadang saya dan Adi, rekan kerja dari departemen SD tak surut niat  untuk tetap pergi.

Sesampainya kami di JDC, dengan lift kami menuju lantai 6 dan mengisi form registrasi, Mentari Book yang mengadakan acara menyambut kami dengan sangat baik. Acara dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama mengenai latar belakang pentingnya online learning di abad 21 dan sesi kedua mengenai pengenalan program  Marshall Cavendish Online Showcase yang sudah dipakai oleh beberapa sekolah di Jakarta. Silahkan klik disini.

Tulisan ini hanya akan mendeskripsikan apa yang didapat di sesi pertama, karena ini merupakan dasar yang penting yang mau saya bagikan mengenai Empowering Student Learning Through ICT.

Pendidikan memang merupakan bahasan yang sangat penting dan menarik, apalagi apabila mendiskusikan mengenai hal yang menjadi tujuan pendidikan. Ya , tidak dapat dipungkiri pendidikan merupakan sebuah elevator terbaik untuk menyambut masa depan. Itu sebabnya pendidikan yang ada saat ini ditujukan untuk mempersiapkan siswa siap untuk menghadapi masa depan, setidaknya siap menghadapi tantangan jaman melalui skill dan kompetensi yang dibutuhkan jaman.

Road sign to  education and future

Sumber :http://mumsintheknow.co.uk/

Pembicara menyampaikan salah satu negara yang dianggap bisa bersaing di bidang pendidikan adalah Singapura, ini sesuai dengan hasil dari riset  dari PISA (Programe for International Student Assesment. PISA merupakan sebuah proyek dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dirancang untuk mengevaluasi hasil pendidikan dalam hal kemampuan siswa yang berumur 15 tahun di bidang matematilka, membaca, dan sains.  Singapura telah menerapkan ICT sebagai bekal untuk dapat mengubah paradigma pendidikan dengan pemanfaatan teknologi dalam mengembangkan Self Directed Learning dan Collaborative Learning.

Self Directed Learning (SDL) Menurut Gibbons (2002), adalah peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi dan mengembangkan diri dimana individu menggunakan banyak metode dalam banyak situasi di setiap waktu.  SDL diperlukan karena dapat memberikan siswa kemampuan untuk mengerjakan tugas, mengombinasikan perkembangan kemampuan dengan perkembangan karakter dan mempersiapkan siswa untuk memepelajari seluruh kehidupan mereka. SDL meliputi bagaimana siswa belajar setiap harinya, bagaimana mengambil inisiatif sendiri. Fokus SDL adalah Ownership of LearningSelf Management Mentoring dan Extension of Learning, sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa akan diarahkan untuk terus mau belajar sepanjang hayat.

Pentingnya SDL tentulah membutuhkan support guru di sekolah yaitu dengan cara menggunakan ICT (Information and communications technology) dan mendorong siswa untuk melakukan pembelajaran yang mengarah kepada terbentuknya kebiasaan untuk berinteraksi dan bekerjasama, hal ini bisa dilakukan dengan penggunaan Google Doc, Mind Mapping, Edmodo, Schoology atau Forum diskusi dengan menggunakan media sosial yang dapat mendorong kebiasaan memberikan feedback antar teman sebaya.

Konsep pendidikan di abad 21 memang merupakan sebuah paradigma yang harus dibangun, kondisi jaman membawa para digital native akan lebih mengalami percepatan dalam menggunakan kemaksimalam teknologi dalam mendukung pembelajaran di kelas. Nah, Lalu bagaimana dengan  guru yang merupakan immigrant native?. Sebuah kenyataan menunjukkan bahwa guru harus menjadi fasilitator  sehingga pebelajaran yang mengarah ke SDL dapat terlaksana.

Saat pembicara, Chris Siew memengaruhi pikiran para peserta mengenai pembelajaran dengan menggunakan ICT, pikiran saya diingatkan mengenai hal yang mendasar sekali yaitu bahwa sebuah pembelajaran  bagaimanapun metodenya haruslah meaningful, ya pembelajaran yang berlangsung di kelas haruslah bermakna bagi siswa karena melalui pembelajaran bermaknalah siswa dapat memahami apa yang dipelajarinya dengan pemahaman yang menyentuh long term memorinya.

Bagaimana menciptakan kebermaknaan di dalam proses belajar di kelas ? Bagaimana menciptakan pembelajaran yang bermakna di kelas dengan intervensi penggunaan ICT? Supaya penasaran silahkan bagi yang ingin mendapatkan hand out seminar, ini saya berikan link-nya.

Tidak terasa sesi pertama sudah selesai, saatnya break dan berjejaring dengan teman-teman peserta lainnya. Belajar mengenai tema pendidikan abad 21 memang selalu menyenangkan, diteguhkan bahwa guru harus terus sadar akan jaman, siap menghadapi  abad 21 yang penuh tantangan.

“The Illeterate of 21 century will not be those who can ‘t read and write, but those who can ‘t learn, un-learn and re-learn”. Alvin Toffler

 

1,538 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (11)

  1. @ pak Subhan : Saya di departemen SMA pak (mengajar SMA), rekan saya yang dari departemen SD, karena jenjangnya SD sampai SMA. memang sekolah saya termasuk sekolah yang mendukung personal development guru pak, tapi walaupun begitu tidak banyak teman yang mau ikut seminar juga walau sudah ditawarkan secara terbuka..karena Sabtu biasanya waktu buat istirahat dan keluarga.

  2. Thx so much. It is an excellent way for SDL. Sejak dulu bringing learning theories into manner amat urgent. SDL amat diperlukn terbiasakn tiap saat agar everything will be meaningful. Coz sll msk ke long term memory. Tony Buzan dll smp menggamb mind map di long term memory. Sayangnya di neg kita hal ini tak sejak dulu dilatihkn in practis for teacher S1 & dipl. S2 sj mkn menurun mutu SDLnya. Bgmn siswa bisa mandiri shg meaningful if guru tak menyadari utk terbiasa dulu. Shg tampak copas dmn2 shg block otak mkn tebal shg lepas dari self di otak kcl yg kapasitasnya 9 x otak besar ki n ka. So sharingkn terus bu utk acuan yg meaningful, refresh n develop mind. Salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.