0

EGRA, Ketika Teknologi  Menopang  Literasi     (0)

Huzer Apriansyah May 31, 2017
Proses pelaksanaan EGRA  (sumber foto :  RTI project staff, USAID/Nigeria Northern Education Initiative)

Proses pelaksanaan EGRA (sumber foto : RTI project staff, USAID/Nigeria Northern Education Initiative)

Menarik menyimak bagaimana kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam perkembangan dunia pendidikan dalam skala global. Salah satu buah kolaborasi itu adalah sebuah perangkat dan metode pemetaan kemampuan membaca siswa di sekolah yang dinamaka EGRA.

EGRA adalah akronim dari Early Grade Reading Assessment atau Penilaian atau pemetaan kemampuan membaca pada kelas-kelas awal (kelas 1, 2 atau 3 sekolah dasar). Apa yang membuat  EGRA menarik ?

Pertama, EGRA lahir dari hasil kolaborasi dari sedemikian banyak ahli dan praktisi pendidikan dari berbagai negara. Berbagai ahli dan praktisi dan berbagai negara, bersinergi guna menyusun sebuah metode dan pendekatan yang tepat bagi proses penilaian terhadap kemampuan membaca anak-anak di kelas awal.

Kedua, teknologi menjadi instrument utama dalam EGRA, karena untuk proses assessment di lapangan digunakan tablet sebagai alat bantu. Kemudian hasil yang didapat dari pengujian di lapangan akan bisa dihubungkan ke server yang telah disiapkan, kemudian dalam waktu singkat hasil assessment akan bisa didapatkan.

Ketiga, EGRA menjadi toolkit pertama yang secara lengkap bisa membantu guru dan pemerintah dalam memetakan kemampuan membaca di sekolah. Bahkan sampai ke level pemetaan dalam skala luas, nasional misalnya.

Keempat, jarang sekali ada tools assessment yang khusus untuk memetakan kemampuan membaca. Egra menjadi satu dari yang sangat jarang tersebut.

 

Literasi Sebagai Pondasi

Kemampuan membaca anak adalah titik awal yang sangat menentukan bagi perjalanannya, selama ini fokus pendidikan kita adalah pada kemampuan membaca, tapi apakah kemampuan itu diikuti dengan kemampuan pemahaman membaca atau kegemaran membaca atau tidak, kita sering tak terlalu peduli. Selama anak bisa membaca sudah cukup.

Padahal inilah yang menjadi pangkal masalah mengapa budaya baca tidak tumbuh dan mengapa anak cenderung tak mampu memahami teks. Hal ini akan berimplikasi luas pada pembelajaran di subyek-subyek lainnya.

Dalam pameo yang berkembang, pada tahap awal anak belajar untuk membaca, tapi kemudian menjadi mmebaca untuk belajar. Jika pondasi belajar membaca ini tidak tepat, akibatnya anak akan kesulitan ketika harus membaca untuk belajar.

Pada titik inilah, guru dan juga tentu pemangku kepentingan di bidang pendidikan harus secara serius berbikir bagaimana pembelajaran membaca di kelas awal bisa memaksimalkan ketrampilan membaca anak.

Apa dan Bagaimana Sebenarnya EGRA ?

Instrumen EGRA pada awalnya terutama dirancang sebagai sistem berbasis sampel Diagnostik . Tujuan utamanya adalah untuk mendokumentasikan kinerja siswa. Jadi bukan merupakan instrumen yang bisa memberi penilaian pada siswa.

Adapaun kegunaan EGRA adalah :

  • Menghasilkan data awal (baseline) untuk meliihat kondisi awal kemampuan membaca di kelas tertentu atau daerah tertentu.
  • Hasil pemetaan dengan EGRA bisa digunakan untuk merancang rancangan program instruksional dengan mengidentifikasi keterampilan atau area utama
  • Mengidentifikasi perubahan tingkat membaca dari waktu ke waktu
  • Evaluasi hasil atau dampak program yang dirancang untuk meningkatkan nilai awal bacaan
  • Mengukur efektivitas biaya dari rancangan program yang berbeda
  • Mengembangkan indikator dan tolok ukur membaca
  • Melayani sebagai diagnostik sistem untuk menginformasikan kebijakan sektor pendidikan, perencanaan strategis, alokasi sumber daya

EGRA memiliki relevansi dalam konteks proses belajar abad 21 yang saat menjadi focus dari banyak negara dalam pengembangan pendidikan. Mengapa demikian ? Sebagaimana kita ketahui bahwa Pendidikan abad 21 salah satu instrument utamanya adalah communication skills, maka untuk berkembangnya kemampuan komunikasi, kemampuan membac amenjadi di kunci di fase awal pendidikan.

Di sisi lain dari sisi instrumentasi penggunaan perangkat teknologi dalam proses assessment menjadi salah satu dimensi pendidikan abad 21, meskipun pendidikan abad 21 bukanlah soal teknologi itu sendiri, melainkan teknologi sebagai instrumen.

Terkait teknologi dalam EGRA, RTI International dan USAID menyebutkan dalam modul yang mereka susun, menyebutkan ada beberapa komponen teknologi yang dibutuhkan :

Sumber : Early Grade Reading Assessment Toolkit, Second Edition (RTI & USAID)

Sumber : Early Grade Reading Assessment Toolkit, Second Edition (RTI & USAID)

Secara lebih teknis, gambaran dari pelaksanaan EGRA dengan teknoologi adalah sebagai berikut :

  1. Periset EGRA telah mempersiapkan diri dengan sebuah tablet yang telah terinstall software untuk assessment. (Softwarenya bisa didapatkan salah satunya dari tangerincentral.org yang merupakan open source)
  2. Selanjutnya dengan pendekatan metodologi penelitian yang disusun untuk EGRA, ditentukanlah sampel di sekolah, yang merupakan anak-anak di kelas-kelas awal.
  3. Dengan tablet yang telah dilengkapi software yang ada, periset melakukan assessment terhadap siswa.
  4. Setelah itu, hasil assessment akan secara otomatis langsung dikelola oleh software tersebut yang kemudian akan memberikan hasil analisasnya dalam waktu singkat.

Bayangkan jika tanpa teknologi, tes dilakukan secara manual dengan kertas dan alat tulis, kemudian, periset melakukan tabulasi data secara manual, kemudian melakukan analisa secara manual dan langkah-langkah lain yang relative makan waktu dan berpotensi terjadi ketidaktepatan. Tapi teknologi telah membuat prosesnya menjadi singkat dan akurat.

Epilog

EGRA telah menjadi semacam contah nyata dari bagaimana teknologi menjadi kunci pengembangan pendidikan ke depan. Meski pada akhirnya, teknologi adalah alat tapi keberadaan teknologi menjadi semacam instrumen yang sangat menentukan.

Pertanyaan selanjutnya, siap dan maukah insan pendidikan tanah air mengambil manfaat dari apa yang telah dikembangkan berbagai pihak, termasuk menjadikan EGRA yang diinisiasi oleh Global Reading Network, RTI dengan pembiayaan dari USAID ini menjadi salah satu instrument dalam pendidikan kita. Terutama menyangkut pengembangan literasi.

 

*Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

 

1,686 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar