3

Efek Psikologis Guru yang ‘Melek’ Teknologi bagi Siswa Remaja (+4)

Risa May 30, 2017

Teknologi digital memiliki daya tarik tersendiri bagi remaja. Secara kognitif, remaja memiliki kemampuan yang memadai untuk menggunakan teknologi digital secara optimal. Mereka mampu mengeksplorasi banyak hal yang bisa dilakukan dari teknologi yang ada di sekolah. Teknologi digital juga membantu mereka dalam menyerap materi pembelajaran. Seiring bertambah kompleksnya materi pelajaran di jenjang sekolah menengah, mereka membutuhkan sesuatu yang dapat menyederhanakannya. Teknologi digital adalah salah satu jawabannya. Jika guru bisa mengelola penggunaan teknologi secara tepat, siswa juga akan terhindar dari rasa bosan dan beban.

Jika guru bisa mengelola penggunaan teknologi secara tepat, siswa juga akan terhindar dari rasa bosan dan beban.

Selain itu, usia remaja juga identik dengan pencarian hal-hal yang baru. Selaras dengan minat remaja tersebut, teknologi digital senantiasa menawarkan banyak hal baru. Arus informasi yang cepat, aplikasi dan program yang selalu diperbaharui secara berkala, produk teknologi yang selalu berevolusi – semuanya sangat dinamis yang sesuai dengan karakteristik pribadi remaja secara umum.

Oleh karena itu, akan menjadi sangat menguntungkan bagi guru bila melibatkan penggunaan teknologi digital dalam proses pembelajaran di kelas. Teknologi digital bisa digunakan saat pemaparan konsep, latihan, melakukan project, dan lain sebagainya. Selain memberikan variasi dan dukungan dalam proses pembelajaran, guru yang menggunakan teknologi digital menjadi nilai tambah tersendiri bagi siswa. Nilai tambah tersebut tentunya menjadi efek psikologis yang positif bagi siswa.

 

Sumber: www.classteacher.com

Sumber: www.classteacher.com

Lebih Modern dan ‘Kekinian’
Guru yang fasih menggunakan teknologi akan terlihat modern di mata siswa – atau istilah yang jamak digunakan saat ini, ‘kekinian’. Memasuki masa remaja, mata anak lebih terbuka. Mereka lebih haus untuk mengeksplorasi dunia. Mereka berusaha menjadi yang ‘terbaru’ dan ‘terkini’. Jika seorang guru terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajarannya, siswa akan mempersepsikan gurunya sebagai seseorang yang modern dan ‘kekinian’. Ada rasa bangga menjadi bagian dari kelas yang terasa modern.

 

Sumber: www.slideshare.net

Sumber: www.slideshare.net

Menjadi Teladan yang ‘Maju’
Ing ngarso sung tulodo. Sudah sepatutnya guru berada di depan sebagai teladan. Salah satu hal yang bisa diteladani dari guru adalah semangatnya untuk maju dan menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Seorang guru yang sudah mulai memasuki masa lanjut usia, namun masih berusaha untuk belajar mengenai teknologi pada yang muda, tentu menjadi inspirasi tersendiri bagi para siswa. Begitu juga guru yang berada di daerah terpencil, yang dalam segala keterbatasannya berusaha menghadirkan teknologi di ruang kelas, akan menumbuhkan benih harapan di hati siswanya untuk terus maju dan tidak tertinggal.

 

Sumber: www.linkedin.com

Sumber: www.linkedin.com

Lebih Dipercaya
Saat ini, arus informasi yang hadir melalui jaringan internet sangat cepat dan luas. Terlalu cepat bahkan, hingga tidak ada saringan untuk membedakan informasi yang benar dan salah/hoax. Orang-orang yang ‘melek’ teknologi biasanya lebih peka akan hal ini dan terbiasa untuk mencari sumber referensi yang jamak sebelum mempercayainya. Jika kebiasaan tersebut dibawa ke ruang kelas, siswa akan memahami dan bisa membandingkan guru mana yang pengetahuannya lebih luas dan terpercaya.

 

Sumber: www.thestar.com

Sumber: www.thestar.com

Menjadi ‘In-group’ Siswa Lewat Media Sosial

Media sosial sudah umum digunakan hampir seluruh elemen masyarakat. Didukung dengan kepribadian guru yang lentur dan dinamis, media sosial bisa dimanfaatkan guru untuk memasuki alam sosial siswa remaja. Di usia peralihan dan penuh konflik menuju dewasa, banyak hal-hal yang akan terlihat ‘remeh’ oleh orang dewasa namun terasa luar biasa penting bagi remaja. Salah satu cara untuk melihat dari sudut pandang siswa adalah dengan memasuki pergaulan mereka. Di sinilah media sosial bisa digunakan sebagai alat penghubung, karena untuk masuk langsung ke pergaulan siswa bukanlah hal yang mudah. Ada banyak jarak dan batasan yang muncul dalam interaksi langsung di dunia nyata. Dengan pemilihan kata-kata yang bijak, menunjukkan ketertarikan atau perhatian pada hal-hal yang sedang digandruingi siswa, dan menyebarkan info-info edukatif yang menarik bagi siswa, bukan tidak mungkin guru menjadi in-group siswa (bagian dari komunitas siswa).

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

 

863 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar