3

Dunia Fantasi dengan Sejuta Imajinasi (+1)

Fifin Agustin October 13, 2015

Profesi sebagai guru pre-school, berinteraksi dengan anak-anak yang penuh imajinasi dan tak mudah diprediksi, bagi saya seperti hidup didunia fantasi. -fifin-

 

Sebut saja namanya ‘Mika’, anak perempuan cantik berusia 28 bulan dengan rambut hitam lebat dan ikal di bagian bawahnya, seperti Barbie. Suatu pagi, saya memperlihatkan mainan salon-salonan yang didalamnya berisi kaca, peralatan make-up, gunting, sisir, hair-dryer, lipstick, jepitan rambut, dan handphone (tentu saja semuanya terbuat dari bahan plastik mainan). Ia langsung menghampiri dan mengambil lipstick, ia berdiri menghadap kaca kemudian mengoleskan lipstick tersebut di bibirnya. Setelah beberapa saat, ia kembali mengambil mainan lain, yaitu gunting dan hair-dryer sambil menghampiri saya, dan melakukan gerakan seolah-olah sedang menggunting rambut dan mengeringkan dengan mainan yang ia pegang.

Sebut saja namanya ‘Gael’, seorang anak laki-laki imut berusia 31 bulan yang secara perawakan lebih kecil dari ‘Mika’. “Love-school” sebutan yang cocok untuk dia, karena semangatnya datang ke sekolah, dan menolak saat saya, guru lain, bahkan orangtuanya mengajak pulang. Setiap pagi ia menunjukkan senyum lebarnya pada semua orang, dan tentu saja se-gunung pertanyaan telah ia siapkan untuk menikmati harinya, dan dia senang sekali membaca buku. Suatu pagi saat Gael sedang bermain, dia mengatakan, “Yang ini di kanan, yang ini di kiri!” sambil memberikan mainan dinosaurus kepada temannya. Di pagi yang lain, masih dengan senyum lebarnya, ia masuk dan berdiri dekat pintu kelas dengan bangga memperlihatkan rambutnya yang baru dipotong. Saya mengawali harinya dengan bertanya, “Potong rambut dimana, Gael?” Dia dengan tegas menjawab, “Di bioskop!” sambil tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi putihnya. Ayahnya yang saat itu berdiri menunggu di luar, tertawa terbahak dan kemudian pamitan kepada kami yang berada di dalam kelas.

Sebut saja namanya ‘Timur’, anak laki-laki dengan rambut pendek dan poni lurusnya lima centimeter di atas alis, berusia 34 bulan. Di pagi hari yang damai, kami bermain mengelompokkan makanan sehat dan tidak sehat di kelas, setelah sebelumnya kami guru mengenalkan buah dan sayur sebagai makanan sehat dan makanan minuman kemasan berpengawet sebagai makanan tak sehat. Ketika saya menggenggam satu minuman kopi kalengan dan menunjukkan pada anak-anak, dan kemudian saya mendengar celetukan, “Itu kan yang uat bapa-bapa.” (itu kan yang buat bapak-bapak) lalu saya mengeluarkan permen lollipop dan menunjukkan lagi pada mereka dengan sebuah pertanyaan, “Kalau yang ini makanan sehat atau bukan ya?”. Masih ‘Timur’ yang menjawab, “Ukaaaaan” (bukan) kemudian saya melanjutkan pertanyaan, “Kalau bukan makanan sehat, boleh dimakan atau tidak ya?”. ‘Timur’ kembali menjawab, “Oleh” (boleh) kemudian dia melanjutkan “api ga oleh banyak-banyak” (tapi ga boleh banyak-banyak). Di suatu pagi yang lain, dia datang bersama sebuah buku ditangannya. Dia mengekor di belakang saya, sampai saya membalikkan badan barulah dia memperlihatkan buku yang dipegangnya, “api ini mirip bapa” (tapi ini mirip bapak) sambil menunjuk cover bukunya. Saya mencoba mencerna perkataannya, dengan melihat gambar yang ada di sampul buku tersebut. “Martin Luthernya mirip bapa” ‘Timur’ menegaskan kembali sambil menunjuk gambar di cover bukunya. Dengan penasaran saya bertanya, “Wah! Timur tau Martin Luther? Kok mirip sama bapa?” Dia terdiam sambil menatap lekat gambar di sampul bukunya dan kembali berkata, “api ini mirip bapa.”

Dan, sebut saja anak laki-laki itu ‘Hunter’, ia seorang pemikir dan pemerhati dalam usia yang baru 26 bulan. Setiap hari, dia selalu menemukan ide-ide baru, walaupun bahasa verbalnya belum lancar. Pagi itu ketika saya menemani anak lain bermain di kelas, ‘Hunter’ berdiri di pojok kelas dan melihat kami dari kejauhan. Tidak lama kemudian terdengar suara nyanyian “naik kereta api,, tuut… tuut… tuut…” spontan saya menoleh ke arah sumber suara, saya sempat kaget, melihat ‘Hunter’ dengan tenangnya duduk di salah satu kursi yang sudah dia susun memanjang seperti kereta api. Ketika pada suatu malam, saya dan partner berkunjung ke rumahnya dalam kegiatan Home Visit. Di rumahnya, dia menyanyi dan bermain bersama kami dengan bahagia. Anak ini tak banyak bicara, sehingga saya pun memperhatikan setiap gerak-geriknya. Dia membongkar satu box mainan legonya, kemudian mengambil satu kardus kosong bekas mainan lain berbentuk balok setinggi perutnya, melipat dua buku gambar dan memasukkan ke dalam kardus itu, beserta semua mainan legonya. Saat kardus tersebut penuh, dan masih ada beberapa pasang lego di karpet, dia mengambil lego, dan mencopotnya menjadi bagian terkecil, sehingga semua mainan lego kini taka da yang tersisa di karpet dan memenuhi tepat hingga ujung kardus. Saya iseng menengok ke dalam kardusnya, dan saya tertegun melihat apa yang saya lihat. Kemudian dia menarik kardusnya dan meletakkan di balik pintu yang tertutup, tepat di pojok antara engsel pintu dan tembok. Dia membuka pintu, kemudian berlari menjauh dan berhenti tepat di pojok dimana dia bisa melihat ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Saya berpikir, apa yang sedang dia lakukan, dan saya berasumsi bahwa dia sedang melakukan sedikit percobaan.

♥ ♣ ♠ ♦

 Empat anak diatas hanya beberapa dari puluhan anak yang memiliki karakter dan keistimewaan lainnya, saya selalu berusaha untuk melihat setiap anak memiliki keunikan yang selalu membuat saya takjub. Lalu, apa yang sekiranya anda pikirkan setelah membaca beberapa cerita diatas?

♥ ♣ ♠ ♦

Setelah membaca kembali cerita yang telah dipaparkan diatas, cerita bagaimana ‘Mika’ tahu bagaimana cara menggunakan mainan salon-salonan, bagaimana ‘Timur’ dapat aktif mengemukakan ide-ide yang ada dalam pikirannya, bagaimana ‘Hunter’ kemudian berusaha mencari dan melakukan kegiatan-kegiatan secara spontan dengan caranya, dan bagaimana ‘Gael’ bisa mengemukakan jawaban yang mungkin bagi orang dewasa lain terdengar konyol.

Siang sepulang sekolah, saat ayahnya menjemput, beliau bertanya kepada saya apakah benar ‘Gael’ tahu konsep kanan-kiri, beliau pun akhirnya memberikan informasi yang membuat saya bahkan lebih takjub lagi. Menurut ayahnya, ‘Gael’ tidak pernah diajarkan konsep kanan-kiri, tetapi setiap pulang sekolah, ‘Gael’ selalu menunjukkan arah kepada ayahnya yang sedang menyetir, “belok kiri”. Kemudian ia juga menjelaskan mengapa ‘Gael’ menjawab bahwa dia potong rambut di bioskop. Ternyata menurut sang ayah, salon tempat dia potong rambut, disebrangnya terdapat bioskop. Mungkin yang lebih menarik baginya adalah bioskop yang dia lihat ketimbang salon saat dirinya berada.

Dari cerita dan jawaban yang saya dapatkan, bahwa anak sebenarnya mampu merekonstruksi pengalaman yang dia dapatkan dengan pengetahuan baru, dalam hal ini anak telah mengalami proses belajar secara mandiri.

Sedikit bernostalgia dengan teori constructivism milik Piaget, bahwa “pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif dimana terjadi proses asimilasi (penyerapan informasi baru dalam pikiran) dan akomodasi (menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru) sehingga terbentuk sebuah skema baru”. Ia mengartikan ‘belajar’ dengan proses membentuk pengertian atau pengetahuan secara terus-menerus. (Ruseffendi, 1988 : 132)

Berbeda dengan Piaget yang menekankan ‘belajar secara mandiri’, Vygotsky yang juga seorang tokoh konstruktivisme menyangkalnya. Menurut Vygotsky anak dapat mengkonstruksi konsep pengetahuan karena pengaruh lingkungan sekitarnya.

Kemudian muncul Ausubel dengan teori ‘belajar bermakna’ nya. Walaupun secara teori memiliki kesamaan, yaitu proses mengaitkan informasi baru dengan pengalaman seseorang, Ausubel menambahkan bahwa tahap perkembangan kognitif seseorang maupun cara atau kemampuannya dalam mengkonstruksi berbeda-beda tergantung pada kematangan intelektualnya.

Terlepas dari teori milik siapa yang diakui atau lebih baik, saya melihat adanya keterkaitan dari teori konstruktivisme milik Piaget, Vygotsky maupun Ausubel ini dalam perkembangan kognitif anak, yaitu ‘anak bukan sesuatu yang dipandang pasif, namun mereka memiliki tujuan’ dan ‘proses belajar aktif’ dimana terjadi interaksi antara faktor internal (kesiapan kognitif) dengan faktor eksternal (lingkungan) anak dalam proses belajarnya.

Dari berbagai literatur yang saya baca, dan beberapa teori di atas, kemudian muncul konsep dalam diri saya bahwa apapun jawaban anak, terlepas dari benar atau salah harus kita apresiasi, karena apa yang keluar dari tingkah laku mereka merupakan proses memaknai pengalaman melalui proses belajar dengan keterlibatan aspek kognitif, bahasa, motorik maupun sosial mereka. Sebagai guru, saya hanya butuh bertanya dan menggali, faktor dan sebab dari jawaban anak itu.

Berkaitan dengan perbedaan karakter anak, kesiapan kognitifnya, maupun budaya sosial mereka, maka proses belajar anak haruslah berbeda pula sesuai dengan aspek-aspek yang saya kemukakan di atas. Disinilah pentingnya differensiasi dalam proses belajar anak, yang dimodifikasi dari konten, proses dan produk yang dihasilkan sesuai dengan minat, kesiapan dan gaya belajar anak sehingga mencapai proses belajar yang bermakna.

 

Sebagai guru pre-school, saya tidak dapat menilai jawaban anak benar atau salah, karena setiap apa yang mereka ungkapkan, ada pengalaman yang bermakna bagi dirinya. -fifin-

 

salam edukasi

1,248 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!