0

Disain Kurikulum Digital,Mengatasi Jalan Buntu Kebekuan Dunia Pendidikan Kita (+2)

Wendie Razif Soetikno December 26, 2014

Bermula dari keprihatinan terhadap makin brutalnya tawuran pelajar, makin maraknya pengguna muda narkoba, sampai makin meluasnya remaja terjangkit HIV/AIDS, maka pasti ada yang salah dengan dunia pendidikan kita. Akankah bonus demografi lewat begitu saja?

Kementerian Pendidikan/Dinas Pendidikan nampaknya tengah bermetaformosa menjadi Kementerian Persekolahan/Dinas Persekolahan. Semua hal mereka urus, mulai dari kisi-kisi ulangan semester dan soal-soal ujian, sampai ke cetak rapor. Akibatnya orientasi pendidikan terus menerus dicari melalui “ganti menteri, ganti kurikulum”. Kita tidak pernah belajar dari sejarah bahwa perubahan kurikulum selalu mendistorsi tujuan pendidikan. KBK (2004) yang berbasis kompetensi supaya “link and match” dengan dunia kerja, diganti KTSP (2006) yang disusun berbasis kearifan lokal. KTSP ini mengacu pada Pasal 39 ayat 2 UU Sisdiknas dan Pasal 20 butir a UU Guru & Dosen, yang menuntut profesionalitas guru

Sayang, profesionalitas guru ini kemudian diamputasi dengan penyeragaman kurikulum secara nasional melalui KTSP Bimtek (2008). Bentuk pemasungan inisiatif dan kreativitas guru ini dibungkus lewat program akreditasi sekolah dan program sertifikasi guru, yang diadopsi menjadi Kurikulum 2013 yang menyalahi azas diversifikasi kurikulum (Pasal 36 ayat 2 UU Sisdiknas).

Anehnya PP No.32 Tahun 2013 yang ditanda tangani Presiden SBY 7 Mei 2013 dan Permendikbud No.81A Tahun 2013 yang ditanda tangani Mendikbud M.Nuh 27 Juni 2013 itu sama sekali tidak menyebutkan adanya Kurikulum 2013, yang dilansir adalah KTSP. Malah dalam Permendikbud No.158 Tahun 2014, M.Nuh mendorong sekolah yang mendapat akreditasi A agar menerapkan SKS.
Sehingga Mendikbud Anies Baswedan mengeluarkan Permendikbud No.160 Tahun 2014 : kembali ke KTSP atau lanjut Kurikulum 2013 dengan perbaikan

Melihat kekonyolan itu, saya berkeinginan mengembalikan harkat sekolah sebagai rumah kedua dan mengembalikan hakekat guru sebagai profesi humanioris, yang memandang murid sebagai “subyek didik”, bukan hanya sekedar “peserta didik”. Untuk itu, saya menyusun Disain Kurikulum Digital yang bisa mewadahi KTSP (2006), Kurikulum 2013 dan SKS serta globalisasi pendidikan (MEA 2015), tetapi tetap menjunjung azas kontekstual

1,831 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar