0

Digital Learning Untuk Generasi Millenials Indonesia (+1)

Heni Prasetyorini May 24, 2017

Ingin hal serupa isi video berikut ini terjadi di kelas anda?

Tuh, menarik sekali kan ya? ketika kita belajar tentang gunung berapi. Lalu kita bisa menyaksikan langsung wujud aslinya dalam bentuk digital menggunakan teknologi Augmented Reality (AR). Bahkan wujud DNA pun bisa tampak. Selain murid menjadi mudah paham, mereka juga mendapatkan “Momen WOW” dalam proses pembelajaran.

 

WOW bentuk DNA itu seperti ini!

WOW gunung berapi ketika meletus dan mengeluarkan lava, itu tampak seperti ini!

 

Dengan teknologi digital, momen WOW itu bisa kita sajikan di kelas.

Tanpa ada bahaya, seperti halnya jika kita datang langsung ke gunung berapi yang masih aktif. Juga tidak memerlukan mikroskop canggih untuk melihat DNA. Kita hanya perlu mengunduh aplikasi yang sesuai untuk melihat gambar yang sudah dikaitkan dengan teknologi Augmented Reality (AR). Kabar gembiranya, hal ini bisa dibuat sendiri. Jika anda penasaran, bisa mencarinya di Google.

 

Apakah Indonesia bisa melaksanakan pembelajaran seperti tampilan di video itu?

jawabannya BISA pakai banget!

Di video tersebut ditampilkan profil orang luar negeri. Melihat hal tersebut, kita tidak perlu skeptis. Karena teknologi yang sama juga sudah mulai dan banyak digunakan di Indonesia. Kartu belajar dengan teknologi AR pun diproduksi anak bangsa di Bandung dan dijual bebas. Penggunaan teknologi sudah bukan hal aneh lagi di negeri ini. Yang menjadi kendala hanyalah hal tersebut belum merata.

Ketidakmerataan akses internet ini pun, tidak perlu menjadikan kita, para pendidik menjadi gundah gulana.

Karena prinsip belajar menggunakan teknologi digital itu tidak harus selalu online dalam waktu bersamaan (synchronous). Akan tetapi, bisa diakses online di awal, kemudian data disimpan dan disajikan secara offline tanpa akses internet (asynchronous).

 

Hal ini berhasil dilakukan oleh pak Jamil Abdullah, seorang guru di daerah terpencil yang punya keinginan kuat untuk mengenalkan teknologi digital untuk muridnya. Silahkan simak video berikut ini:

Menarik sekali bukan?Bahkan di daerah terpencil pun bisa menerapkan teknologi untuk belajar.

Yang lebih menarik lagi, dengan teknologi belajar berbasis internet dan digital, kita juga bisa lebih mudah memfasilitasi para difabel atau pelajar dengan kebutuhan khusus. Mereka bisa mendapatkan pembelajaran secara jarak jauh melalui kelas online, baik secara synchronous maupun unsynchronous.

 

PelatihanKomputerUntukTunaNetra240910-2-EI

Dengan teknologi yang tepat, keterbatasan para difabel bisa diatasi.

 

Adanya komputer untuk tuna netra, maupun keyboard khusus tuna daksa, bisa dijadikan perangkat agar para difabel bisa mendapatkan hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Maupun peluang yang sama untuk berkarya dan bekerja di berbagai hal terutama pekerjaan di ranah digital.

116612-teknologi-difabel

Teknologi membuat kehidupan manusia jauh lebih mudah.

Apalagi teknologi berbasis digital dan internet yang bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Kesulitan yang dihadapi oleh difabel, bisa diatasi dengan teknologi. Keterbatasan akses murid daerah terpencil, tak menghalangi mereka mendapatkan wawasan berskala global dan internasional, karena teknologi juga. Dengan manfaat inilah, penggunaan teknologi dalam pembelajaran harus semakin gencar dilakukan.

Mengapa kita perlu melakukannya?

Karena kita wajib mempersiapkan generasi yang sanggup bertahan hidup dan sukses di era digital ini, di abad 21 ini.

 

The goal of 21st Century schooling is the creation of knowleadgeable, adaptable people who can work with others to innovate in the new economy.

 

Tujuan pembelajaran di abad 21 adalah memfasilitasi manusia yang mempunyai pengetahuan sekaligus adaptif, yang dapat bekerja dengan orang lain untuk berinovasi dalam era ekonomi baru. Ada 3 kata kunci yang diperlukan, yaitu Pengetahuan, Adaptif, Mampu bekerjasama atau berkolaborasi. Tiga hal ini menjadi digital era skill yang mutlak diperlukan oleh semua orang, terutama generasi millenials.

Untuk menjadi generasi adaptif, mereka harus mempunyai Continuous Learning Mindset (Paradigma Belajar Berkesinambungan). Dengan beberapa kemampuan untuk:

  • Memecahkan masalah
  • Berkomunikasi
  • Membentuk jaringan
  • Belajar mandiri
  • Mampu berkolaborasi dan bekerjasama dalam tim
  • Mampu berpikir kreatif, kritis dan tingkat tinggi (High Order Thinker)

 

Mengapa mereka harus mempunyai kemampuan tersebut? Karena di masa depan, sudah akan semakin tipis lagi batas-batas antar negara dengan adanya internet. Pekerjaan dalam satu projek, bisa dilakukan dengan membentuk satu tim yang anggotanya berasal dari berbagai negara, juga secara fisik berada di negara yang berbeda-beda.

Istilah paperless (tanpa kertas) dan officeless (tanpa kantor) sudah mulai muncul sekarang. Oleh karena itu, sedini mungkin generasi millenials bangsa ini dipersiapkan untuk terbiasa dan piawai menggunakan teknologi dalam setiap lini kehidupannya, termasuk untuk belajar.

Bagaimana hal tersebut bisa dilakukan?

Salah satunya adalah memilih platform digital yang sesuai. Misalnya seperti beberapa platform berikut ini:

  1. G Suite. G Suite adalah produk cloud computing dari Google yang meliputi

– Google Drive untuk menyimpan file

– Google Doc untuk menulis artikel

– Google Slide untuk membuat slide presentasi (semacam power point)

– Google Form untuk membuat formulir atau ujian online

 

Video Pengenalan tentang Efektifnya menggunakan produk G Suite dari Google

 

  1. Platform LMS (Learning Management System) seperti:

– Edmodo (www.edmodo.com),

– Course Networking (www.thecn.com),

– Schoology (www.schoology.com),

– Kelase (www.kelase.net).

– Moodle

 

  1. Platform CMS (Course Management System), seperti:

– blogspot (www.blogger.com)

– wordpress (www.wordpress.com)

 

Beberapa platform yang disebutkan di atas ini, bisa diterapkan untuk peningkatan kinerja dan pembelajaran di sekolah, komunitas maupun untuk umum (bisnis). Contohnya untuk penggunaan produk G Suite bagi guru, akan sangat memudahkan kinerjanya. Dalam membuat file soal ujian atau materi belajar, guru bisa menyimpan file tersebut di Google Drive dengan aman. Bisa sewaktu-waktu mencari kembali filenya, mengedit di Google Doc, dan menyimpan kembali dengan mudah. Tanpa memerlukan flash disk maupun hardisk external. Hanya memerlukan akses internet.

Jika guru maupun para karyawan administrasi sekolah, sudah terbiasa menggunakan teknologi cloud computing ini, akan sangat membantu meningkatkan kinerja. Karena, kendala yang bisa terjadi jika laptop, komputer atau flash disk mendadak rusak dan file hilang, tidak akan menimbulkan masalah berarti karena file sudah aman tersimpan di Google Drive.

 

teknologi digital meningkatkan kinerja dan membuatnya jauh lebih mudah

Dan jika juga misalnya guru harus pergi tugas dinas dan meninggalkan kelas, guru masih bisa memberikan materi belajar atau soal ujian yang sudah ditulisnya menggunakan Google Form, lalu tautan file dibagikan kepada para murid di kelas.

Sehingga proses belajar mengajar tidak harus berhenti karena tidak hadirnya salah satu pihak (murid atau guru) di kelas. Pembelajaran jarak jauh bisa dilaksanakan. Begitupun jika kelas belajar ingin menerapkan strategi belajar kelas terbalik (flipped classroom) yang menarik untuk murid.

 digital learning vs strategi kelas terbalik (flipped classroom)

Dalam metode Flipped Classroom biasanya guru sudah memberikan stimulasi berupa konten digital yang menarik, seperti gambar, animasi atau video kepada muridnya. Caranya dengan menggunakan teknologi digital. Jadi murid mengakses internet di rumah, lalu membuka materi yang diberikan guru melalui platform yang dipilih (misalnya Edmodo).

Guru kemudian meminta murid untuk mempelajari materi tersebut lebih dulu di rumah. Kemudian esok harinya, materi tersebut dibahas bersama di kelas. Kalau biasanya guru memberikan materi baru di kelas dulu, baru memberikan tugas untuk mempelajari lebih lanjut, ini terjadi sebaliknya. Itulah kenapa disebut Flipped Classroom.

Strategi Flipped Classroom ini menarik untuk dibahas disini, karena praktek nyata, mudah dan menarik dalam penggunakan teknologi digital untuk pembelajaran bisa diterapkan dalam strategi Flipped Classroom tersebutJika tanpa teknologi, bisa terbayang guru harus bersusah payah menyampaikan pesan dan materinya secara tatap muka langsung kepada semua muridnya.

Sedangkan, dengan teknologi, kapan pun guru ini membuat materi dan menyampaikan pada muridnya, bisa dilakukan kapan pun dan dimanapun asal ada akses internet.

digital learning dalam terbatasnya akses internet

Tentu kita tidak menutup mata, bahwa akses internet bahkan listrik di negara Indonesia ini belum merata. Namun di beberapa negara lain pun mengalami hal yang sama. Oleh karena itu beberapa organisasi dunia seperti Khan Academy, juga menyelenggarakan projek pembelajaran digital yang offline dalam Khan Academy Lite.

Caranya adalah semua materi belajar berupa video, ebook dalam bentuk pdf ataupun soal ujian interaktif, disajikan dalam satu berkas file yang bisa diunduh atau disimpan dalam DVD atau flashdisk. Kemudian disebarkan di berbagai daerah yang belum ada akses internet.

Menarik sekali bukan? Mungkin kendalanya adalah bahasa. Karena di Khan Academy ini hampir semua materi menggunakan bahasa Inggris. Namun sekali lagi, tidak perlu galau. Jika para pendidik ingin melakukan hal serupa, bisa menggunakan teknik sederhana. Yaitu membuat media belajar interaktif serupa menggunakan kode Website.

Jadi, bagi guru yang sudah mengenal teknik membuat website menggunakan bahasa pemrograman HTML, Javascript dll, bisa memasukkan gambar, video dan ebook pdf dalam website tersebut. Lalu berkas file disimpan dalam flash disk ataup DVD, sehingga kelak bisa diakses secara offline di kelas atau di rumah masing-masing murid.

Dari sini tampak bahwa, menerapkan teknologi digital untuk pembelajaran itu tidak sulit.

Adanya kendala yang muncul bisa diatasi dengan turunan teknologi yang sudah ada sebelumnya. Lalu apa saya yang perlu diperhatikan jika sebuah lembaga pendidikan ingin menerapkan digital learning di kelas pembelajaran? Berikut beberapa tahap yang perlu dicermati sejak awal:

  1. Menganalisa kebutuhan dan kondisi sekolah.
  2. Mempersiapkan perangkat seperti komputer dan akses internet (router wifi)
  3. Mempersiapkan tenaga ahli digital learning
  4. Menyusun strategi pembelajaran berbasis digital learning
  5. Menerapkan digital learning sesuai hasil analisa pertama
  6. Melakukan evaluasi dan meningkatkan level digital learning yang bisa diterapkan sesuai dengan kemampuan sumber daya manusia dan perangkat.

 

Jika akses internet belum ada, atau belum stabil. Maka bisa dilakukan metode asynchronous (tidak langsung).

Seperti video pemenang kompetisi Indonesia Digital Learning yang ditampilkan di atas. Jadi pihak sekolah atau guru, datang ke kota atau lokasi dengan akses internet bagus. Kemudian mengunduh bahan ajar yang diinginkan, kemudian di simpan di flash disk atau hard disk external. Kemudian sampai di kelas, bisa ditampilkan kepada muridnya.

Jika akses internet sudah ada, tetapi belum maksimal, bisa menerapkan Metode Blended Learning. Yaitu kombinasi antara metode belajar online dan offline (tatap muka). Pada intinya untuk menerapkan hal baru memang harus melakukan pembiasaan, penjelasan singkatnya seperti berikut ini:

1. Mulai dari hal termudah. Yaitu pengenalan dan pembiasaan berinteraksi secara digital.

Caranya bisa mulai menggunakan email. Jadi setiap murid, harus membuat email. Begitu juga dengan pihak sekolah. Guru terhadap guru, atau guru terhadap kepala sekolah, dibiasakan mengecek email untuk mengetahui informasi terbaru. Agar selanjutnya leluasa menggunakan produk google untuk pendidikan, sebaiknya email dibuat dari platform Gmail, bisa diakses di www.gmail.com

2. Jika sudah terbiasa dengan gmail, lanjut menggunakan google drive.

3. Lalu mulai mengenal platform LMS, misalnya Edmodo.

Screenshot_3

Contoh sekolah di Indonesia yang sudah menerapkan Edmodo untuk pembelajaran di kelas (SDN 226 Arca Manik Endah).

 

Jika semua langkah sudah dilewati, maka tinggal pembiasaan dan praktek yang berkesinambungan.

Pihak guru harus terus meng-update konten sumber belajar untuk kelas virtual yang sudah dibuat di platform LMS. Guru juga memerika interaksi yang terbina antar murid, keaktifan dan menilai hasil ujian juga secara online. Pekerjaan ini terasa sulit jika pihak pendidik tidak mempunyai perangkat yang mumpuni. Oleh karena itu, perlu dilakukan investasi terhadap perangkat seperti laptop, yang spesifikasinya memudahkan pekerjaan. Contohnya seperti laptop Acer Chromebook 14.

Acer-Chromebook-14-tahan-lama

Laptop Acer Chromebook 14 ini adalah laptop pilihan untuk pendidikan.

Karena laptop ini berbasis Chrome OS yang menawarkan keunggulan fitur dan akses ke ribuan aplikasi pendidikan yang ada di Google Play Store. Cocok banget untuk guru dan pelajar. Terlebih lagi, mengakomodasi fitur yang disediakan oleh Google. Jadi jika sejak awal kita menggunakan produk G Suite seperti Google Drive, Google Doc, dll, akan mudah diakses melalui laptop ini. Sebuah gawai yang layak dijadikan investasi untuk bekerja dan belajar lebih baik dalam konteks digital learning di Indonesia.

Ya, perangkat yang tepat akan sangat membantu pekerjaan menjadi jauh lebih efektif begitu juga dalam konteks belajar mengajar. Teknologi adalah segala sesuatu yang mempermudah manusia. Sementara teknologi pendidikan adalah segala upaya untuk memperbaiki masalah belajar.

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran, pada intinya adalah sebagai upaya untuk mengatasi masalah belajar yang mungkin muncul pada peserta didik di abad 21 ini. Peserta didik yang kisaran usianya masuk dalam kriteria generasi millenials, generasi digital atau sering juga disebut generasi layar.

Karakter generasi millenials yang unik dan telah melek teknologi bahkan sejak mereka dalam perut ibundanya, perlu ditindak lanjuti dengan bijaksana. Penggunaan teknologi digital yang biasa mereka gunakan sehari-hari adalah cara efektif untuk meningkatkan keterikatan dan ketertarikan (engagement) mereka terhadap proses belajar.

Menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran (digital learning) harus terus diupayakan agar proses belajar generasi baru bangsa di masa depan ini bisa maksimal dan sesuai perkembangan jaman. Bukankah lebih baik mendidik anak sesuai jamannya, seperti yang diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib, r.a.

Jika pihak pendidik atau guru, sudah terbiasa menggunakan teknologi digital, platform digital learning, membuat konten digital untuk materi belajarnya, maka dalam keberlanjutannya juga akan menjadi bekal mandiri.

konsep Digital Teacherpreneur muncul dengan digunakannya teknologi

Dalam arti, guru bisa menjadi Digital Teacherpreneur, yaitu guru yang berwirausaha di bidang pendidikan secara digital. Guru bisa membuat lembar ujian (worksheet), atau buku elektronik (ebook), bahkan satu bentuk kelas virtual yang bisa diakses oleh orang lain di luar domisili tempat tinggalnya. Dan dari karyanya tersebut, guru mendapatkan kompensasi financial yang sesuai.

Dengan konsep ini, guru bisa mendapatkan penghasilan tambahan tanpa banyak lelah secara fisik, karena pekerjaan bisa dikendalikan hanya di depan laptop. Apalagi jika laptopnya menggunakan Acer Chromebook 14, pasti jauh lebih lancar dan cepat kinerjanya.

 

Begitulah, teknologi bisa jadi senjata yang sangat mumpuni dalam bidang pendidikan asal bisa mengelola dengan baik. Sebaliknya juga, bisa menjadi senjata yang sangat mematikan jika kita tidak mengetahui etika atau aturan yang bisa memberikan dampak buruk bagi penggunanya.

Oleh karena itu, dalam mengenalkan teknologi terutama teknologi digital di kelas, perlu juga disampaikan tentang aturan yang ada dalam Digital Netizens, yang mencakup etika berinteraksi secara digital kepada murid, guru dan orang tua. Sehingga pihak penyelenggara pendidikan dan keluarga serta lingkungan, bisa bersinergi secara baik walaupun di dunia digital.

 

Menggunakan teknologi digital untuk pembelajaran, bukan sekedar mengganti atau mengubah cara belajar tradisional menjadi dalam bentuk layar atau digital. Akan tetapi lebih pada pembiasaan kepada para peserta didik, untuk bisa menggunakan gawainya sebagai media belajar. Sedangkan teknologi digital untuk para guru atau pendidik, adalah media atau cara yang jauh lebih baik untuk mengikuti, menelusuri pencapaian tiap murid secara individual juga berinteraksi secara personal dengan mereka.

Generasi millenials yang suka berinteraksi dan terkoneksi selama 24 jam ini, sedikit demi sedikit akan memahami bahwa teknologi yang ada ini harus digunakan dengan bijak. Bahwa mereka harus siap dengan segala perubahan.

Penerapan pembelajaran yang tepat, juga harus mengarahkan mereka untuk terus menerus kreatif dan produktif dalam memanfaatkan teknologi, sehingga kelak mereka bisa menjadi pembuat konten bukan hanya sekedar pengguna.

Penulis optimis, jika dunia pendidikan semakin melek teknologi, maka Indonesia akan semakin maju karena semakin banyaknya pembuat konten (produsen) yang bernilai ekonomis dan bermanfaat untuk kesejahteraan negeri. Semoga.

 

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

Literatur, Sumber video dan gambar:

  1. http://tekno.kompas.com/read/2016/10/24/15064727/2016.pengguna.internet.di.indonesia.capai.132.juta diakses tanggal 24 mei 2017, 09:04 WIB
  2. Channel Google for Education https://www.youtube.com/channel/UCt84aUC9OG6di8kSdKzEHTQ
  3. https://kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media , diakses tanggal 24 mei 2017, 09:04 WIB
  4. http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1285328413/komputer-tuna-netra
  5. https://www.brilio.net/news/inspiratif-anak-anak-muda-indonesia-ciptakan-teknologi-untuk-difabel-1512096.html

669 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar