0

Chatbots, Implementasi AI untuk Sarana Edukasi (0)

Pengelola Guraru February 9, 2018

Kemajuan pesat dalam teknologi telah memperkenalkan banyak solusi dan metode inovatif dalam dunia pendidikan. Seperti yang Guraru ketahui, sudah banyak tersedia aplikasi yang menjadi sumber belajar personal bagi setiap siswa. Namun seiring perkembangan zaman, kecerdasan buatan, Artificial Intelligence atau AI, mulai mengambil dan mengubah dunia pendidikan dengan cepat. Salah satu inovasi terbaru tersebut adalah chatbots yang saat ini menjadi alat belajar yang sangat berguna dan paling inovatif.

Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan besar dalam penggunaan chatbots. Chatbots adalah cara terbaru yang digunakan beberapa institusi pendidikan tinggi untuk memungkinkan pengguna berkomunikasi dengan sistem pesan, layaknya Siri Apple dan Alexa Amazon. Lebih sederhananya, chatbots adalah sistem kecerdasan buatan yang dapat berinteraksi dengan pengguna layaknya seorang manusia, baik melalui teks atau suara manusia.

Untuk bisa digunakan, chatbots dapat bekerja berdasarkan kecerdasan buatan. Umumnya, chatbots diprogram untuk beroperasi sesuai instruksi yang telah ditentukan. Semakin banyak chatbots berinteraksi dan belajar hal baru, maka chatbots akan semakin pintar. Guraru pun dapat mencoba mengakses chatbots melalui berbagai platform instant messaging seperti Facebook Messenger, LINE, Skype, WeChat, Slack, dan sebagainya.

Berikut beberapa manfaat implementasi chatbots yang bisa Guraru dan siswa rasakan, di antaranya:

Asisten Virtual Pribadi Siswa

Setiap siswa memiliki keterampilan, minat, dan kemampuan yang berbeda. Itulah sebabnya, siswa membutuhkan tutor pribadi yang memberikan pengajaran face to face. Sayangnya, beberapa sekolah dan perguruan tinggi termahal sekalipun tidak mampu menyediakan layanan seperti ini. Makanya, chatbots bisa menjadi alternatif yang tepat dan terjangkau untuk pengajaran personal.

Sebagai contoh, Bill Gates melalui Bill and Melinda Gate Foundation menginvestasikan lebih dari 240 juta US dolar untuk mengembangkan “personalized learning”. Ini adalah serangkaian inisiatif untuk mengembangkan perangkat lunak di mana chatbots benar-benar dapat melakukan percakapan dengan seorang siswa sehingga menjadikannya guru pribadi yang bisa memandu siswa melewati topik atau materi paling sulit sekalipun.

Dalam sebuah wawancara dengan The Verge, Bill Gates menjelaskan bahwa chatbots adalah masa depan pendidikan. Hal ini karena kunci sukses untuk mempelajari keterampilan baru terletak pada kemampuan siswa dalam mendapatkan feedback dan dukungan dari orang-orang yang memiliki pengetahuan tersebut. Dan, chatbots bisa memberikan hal tersebut.

Menghemat Waktu Guraru

Guraru dapat menyederhanakan jadwal harian dengan menggunakan chatbots. Chatbots bisa menjadi asisten terbaik bagi Guraru dalam banyak aspek. Misal, chatbot bisa menjawab segala pertanyaan dari siswa di luar jam kelas. Pada gilirannya, Guraru memiliki waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk memeriksa pekerja rumah siswa, menyiapkan materi pembelajaran, membuat soal ujian, dan sebagainya.

Ashok Goel, seorang professor ilmu komputer di Georgia Tech, adalah dosen pertama yang memanfaatkan bantuan kecerdasan buatan. Dia membangun sebuah chatbots dengan menggunakan platform IBM Watson yang diberi nama Jill Watson. Chatbots tersebut mampu menjawab berbagai pertanyaan mahasiswa di forum online, dan memberikan informasi teknis tentang suatu pelajaran atau materi.

Banyak mahasiswa percaya bahwa Jill Watson adalah asisten dosen, dan tidak menyadari bahwa selama ini mereka berkomunikasi dengan mesin. Para mahasiswa  pun memuji kemampuan Jill. Bahkan, setelah diperkenalkan pertama kali, Jill kini telah banyak membantu para mahasiswa di seluruh kampus di seluruh dunia.

Mendukung E-learning

Saat ini, banyak siswa belajar suatu materi atau keterampilan secara online. Sayangnya, penelitian menunjukkan hanya 7% orang yang mendaftar yang benar-benar menyelesaikan kursus online. Alasannya, kurangnya interaksi dan feedback yang diterima siswa dalam kelas berbasis web memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, celah ini bisa dijembatani oleh chatbots yang berfungsi sebagai asisten pengajar atau tutor.

Keuntungan utamanya adalah chatbots dapat mengajarkan setiap siswa secara individu dengan menyesuaikan kecepatan dan tingkat kemampuan setiap siswa. Selain itu, chatbots juga membantu memberikan penilaian siswa secara otomatis dan memperbaiki keseluruhan proses belajar. Para siswa pun dapat menggunakan perangkat pribadi sehingga proses belajar dapat diakses oleh siapa saja yang memiliki koneksi Wi-Fi.

Membantu Mahasiswa Baru untuk Pendaftaran Ulang

Banyak siswa atau mahasiswa baru yang kewalahan saat melakukan daftar ulang. Georgia State University bekerja sama dengan edtech startup AdmitHub meluncurkan chatbots berbasis teks universitas pertama pada April lalu. Chatbots ini memiliki fungsi sebagai guide bagi mahasiswa baru yang ingin melakukan pendaftaran, mengajukan permohonan tinggal di asrama, hingga registrasi FAFSA (Federal Student Aid). Selain itu, chatbots yang diberi nama Pounce ini juga bisa menjawab ribuan pertanyaan mahasiswa seputar kampus, kehidupan para mahasiswa, layanan kampus, bantuan beasiswa, dan masih banyak lainnya.

Pada bulan pertama sejak launching di pertengahan April 2017, Pounce mampu melakukan percakapan hingga 50.000 kata dari 3.114 mahasiswa yang baru diterima untuk membantu melakukan pendaftaran di Georgia State University. Dari semua percakapan ini, Pounce hanya mengarahkan kurang dari 1% pesan siswa ke staf administrasi kampus untuk pertanyaan yang membutuhkan bantuan langsung dari ahlinya.

Lantas, akankah kecerdasan buatan bisa mempengaruhi pendidikan? Pounce, personalized learning, dan Jill Watson adalah contoh ideal bagaimana chatbots dapat membawa perubahan ke dalam proses pembelajaran dan menjadikannya lebih efisien. Guraru tak perlu khawatir karena chatbots tidak akan mengambil pekerjaan siapa pun. Justru, chatbots secara otomatis akan mengambil alih tugas berulang, komunikasi rutin, dan menyita waktu, sehingga membuat pekerjaan Guraru lebih ringan.

Jadi, di era modern, chatbots ternyata menjadi solusi paling inovatif dalam menjembatani kesenjangan antara teknologi dan pendidikan. Implikasi chatbots juga dapat menciptakan pengalaman belajar interaktif bagi siswa.

Baca juga : Virtual Learning: Pemanfaatan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Untuk Menigkatkan KualitasPembelajaran

113 total views, 7 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar