6

CERPEN PAK SOMAD VS UDIN KARYA SAYA UNTUK PARA GURU INDONESIA (+2)

Medi Yanto Kidan December 14, 2013

Beberapa hari ini Pak Somad, hanya bisa geleng-geleng kepala lihat kelakuan si Udin, setiap hari murid yang satu ini selalu bikin gubrakan terbaru, maka tidak heran kalau Pak Somad akan mendidih kepanasan lihat kelakuan si Udin, bagaimana tidak mendidih, karena gubrakan ala si Udinlah, akhirnya banyak murid di sekolah ini ikut ikutan gaya Udin, Udin pakai celana pensil, murid yang lain ikut memodifikasi celana mereka, padahal tadinya sudah celana standar anak sekolah, kini sudah menjadi celana pensil gaya anak band, Pak Somad tak habis pikir kenapa celana gaya gituan mau dipakai di sekolah, toh bukankah celana itu jelas-jelas melanggar peraturan sekolah.
Dan satu lagi yang membuat Pak Somad panas, hingga kalau mau digambarkan Pak Somad seperti lokomotif tua yang menderu deru, asap akan keluar mengempul dari hidung dan telinganya, waduh kalau seperti ini Pak Somad bisa-bisa dianggap salah satu toko film kolosal China alias temannya kera sakti yakni siluman kerbau, Udin bikin ulah di dalam kelas, Udin bikin celetukkan untuk membuyarkan konsentrasi temannya dan Pak Somad saat belajar.
“Waduh, Udin ngantuk Pak! Udin mau tidur dulu, ntar kalau jamnya habis Udin tolong bangunin ya pak?” celetuk Udin pada Pak Somad, sehingga murid yang mendengar di kelas tersebut sontak tertawa terbahak-bahak. Dasar kalau bukan ahli membanyol bukan si Udin namanya, melihat Udin yang telah bereaksi maka Pak Somadpun sudah punya siasat untuk membumihanguskan banyolan Udin.
“Bapak tidak masalah kalau Udinya tidur, tapi Bapak minta Udin jawab dulu pertanyaan Bapak sebelum Udin tidur!” mendengar pertanyaan Pak Somad para muridpun terheran-heran, karena Pak Somad tidak marah dan bahkan Pak Somad akan mengizinkan si Udin tidur kalau dia sudah menjawab pertanyaan dari Pak Somad.
“Baik Pak, Udin akan jawab pertanyaan Bapak,” tantang Udin pada Pak Somad .
“Baik Udin, Udin semalam kemana saja?.”
“Udin tidak kemana-mana Pak, Udin ada di rumah!”
“Semalam Udin jaga pos kamling tidak?”
“Tidak Pak, kan Udin sudah bilang semalam Udin tidak kemana-mana.”
“Baik sekarang pertanyaan terakhir Bapak, Udin semalam tidurnya jam berapa?”
“Udin tidurnya jam tujuh Pak! Pak Udin kan sekarang sudah menjawab pertanyaan Bapak, berarti Udin sudah diizinkan untuk tidur?”
“Oh itu belum Bapak izinkan, Udin harus dengar dulu kesimpulan Bapak.”
“Kesimpulan apa Pak?” Tanya Udin
“Udin kan semalam tidak kemana- mana, tidak jaga pos kamling, dan juga tidurnya sangat cepat, yakni jam tujuh, berarti Udin sekarang jangan-jangan.”
“Jangan-jangan apa Pak, kok serius banget.” Tanya Udin pada Pak Somad sambil sedikit panik.
“Jangan-jangan Udin ngobat alias pecandu narkoba, jadi Bapak akan panggil Pak Polisi, untuk segera menangkap Udin.”
“Waduh kalau gitu Udin tidak jadi tidurnya Pak, Udin sudah lupa untuk tidur, Udin sekarang merasa galau kalau tidak belajar.” Mendengar kata-kata ketakutan yang terlontar dari mulutnya Udin, maka teman di kelasnya Udin tertawa terbahak-bahak sampai-sampai si Gembul teman sebangkunya kencing di celana.
***
Akibat kejadian izin tidur itu, maka si Udin tidak berani lagi membanyol saat jam pelajaran Pak Somad, tapi dasar si Udin omongan dan kata-katanya selalu aneh-aneh. Pertanyaannya akan sedikit nyeleneh.
“Pak Somad, Udin mau nanya kenapa kita harus sekolah, toh bukankah sekolah hanya menghabiskan waktu saja, kalau cuma mau mengejar jadi polisi, guru, perawat, presiden, bukankah itu semuanya sudah ada Pak?” lagi-lagi teman kelas Udin merasa bingung dan juga merasa sependapat dengan pertanyaan Udin.
“Baik anak-anakku, sekarang Bapak akan luruskan paradigma kalian, khususnya paradigma sesat si Udin, sekolah tidak buang-buang waktu, malah sebaliknya, sekolah bertujuan untuk menyiapkanmu menjadi manusia yang berguna, baik untuk orang tua maupun bangsamu, dan kalian juga jangan berpikir kalau polisi, perawat, guru dan presiden sudah ada lantas kalian tidak ingin bercita-cita seperti mereka, itu salah besar seharusnya kalian berpikir, kalau seandainya ada seribu polisi saya harus menjadi salah satu di seribu polisi itu.” Terang Pak Somad pada Udin dan teman-temanya di kelas. Mendengar jawaban dari Pak Somad, Udin dan teman-temanya menganguk-angguk tanda mengerti.
“Waduh kalau begitu Udin selama ini salah ya Pak!” mendengar ucapan Udin yang merasa salah memberikan sebuah persepsi arti sekolah, Pak Somad hanya senyum-senyum.
“Pak Somad, Udin mau nanya lagi nih, Bapak kenapa mau jadi seorang guru, toh bukankah jadi guru itu makan hati, dibilang profesi yang paling kurang dilirik, dan juga makan hati karena sering ketemu anak nakal seperti Udin” teman-teman si Udin senyum-senyum dan saling colekan antar mereka mendengar pengakuan si Udin kalau dirinya anak nakal.
“Alasannya sih tidak begitu rumit, Bapak jadi guru adalah pilihan nurani Bapak, biar orang mengatakan guru adalah profesi yang kurang dilirik, tapi bagi bapak profesi guru adalah profesi di atas segalanya.”
“Lho kok diatas segalanya Pak?” Udin memotong pembicaraan Pak Somad.
“Ia diatas segalanya, karena profesi guru bisa menjadikan anak didiknya menjadi seorang pilot, polisi, dokter, hakim, sedangkan seorang pilot, tidak bisa menjadikan seorang siswa untuk menjadi guru, menteri, presiden bahkan profesi lainnya.”
“Berarti seorang guru bisa dikatakan sebagai, tulang punggungnya sebuah negara Pak, karena tanpa guru tidak mungkin murid-murid akan pandai, dan menjadi generasi yang mengharumkan bangsa, berarti saya mengerti kenapa, ketika Jepang hancur di bom atom oleh negara sekutu, yang mereka cari pertama adalah guru, bukan para prajurit dan militer angkatan perang mereka.” Mendengar ucapan Udin semua kelas pun sontak diam dan terperangah, ternyata Udin pintar juga dalam berargumen.

1,813 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

  1. semangat, pak! bisa terus dilanjutkan ke cerpen-cerpen berikutnya.
    benar, kita bisa belajar lewat cerpen. ke depan saya percaya cerpen2 pak medi akan lebih dahsyat, penggunaan tanda baca akan tepat, kapan harus titik, kapan harus koma, dan sebagainya. saya yakin itu. terimakasih sudah berbagi.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar