Artikel Pilihan

Pengumuman Pemenang Artikel Pilihan 3 Besar di Bulan Juni 2014

Assalamualikum Wr. Wb. Selamat siang guraruers, semoga sehat selalu dan…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Pengumuman tema tulisan bulan Juli 2014 di guraru.org

Selamat pagi guraruers, Semoga kebahagian dan keberkahan selalu tercurahkan kepada…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Membuat Quiz Matematika Online Alternatif Dengan That Quiz

Semakin berkembangnya dunia IT merambah juga pada dunia pendidikan. Sekarang…

Selengkapnya

Lain-lain
Home > Kategori: > Buku Penghubung sebagai Sarana Latihan Disiplin Diri

Buku Penghubung sebagai Sarana Latihan Disiplin Diri (+3)

Penulis: Arti Ariefa
Kategori:

Berawal dari rapat dewan kelas di tahun ajaran baru, salah seorang wali murid, bertanya pada kami, saya dan rekan saya (di sekolah tempat kami mengajar satu kelas dipegang oleh dua wali kelas),

‘Bu, dikelas satu ini akan ada buku penghubung tidak seperti di TK? saya ingin tahu aktivitas anak saya selama disekolah, kalau anak sekolah  lain mungkin saya bisa lihat dari buku catatannya kan Bu, sementara anak saya kalau ditanya jawabannya kurang spesifik, karena dia hanya menceritakan main saja, padahal mungkin permainan itu dirancang untuk belajar sesuatu oleh Ibu dan Bapak guru disini, saat anak saya TK saya tahu kegiatan  selama di sekolah ya dari buku penghubung’

Betul juga apa yang dikatakan Ibu itu, saya pikir, ditambah lagi ada anak-anak yang memang tipenya menjawab ‘tidak tahu’ kalau sedang enggan bercerita kegiatan di sekolah, ambil cepatnya saja.

Tapi, untuk menulis buku penghubung seperti yang rekan guru  wali kelas TK lakukan, jujur akan berat bagi saya dan rekan, karena jumlah murid kelas kami 25 orang, berbeda dengan TK yang jumlah guru dan muridnya satu banding tujuh.

Lalu saya teringat dengan pesan rekan mengajar saya di tahun sebelumnya untuk membiasakan anak-anak menulis catatan harian di sekolah, selain sebagai dokumentasi kegiatan, juga sebagai latihan anak agar melakukan kegiatan di sekolah dengan ritme tertentu. Meskipun setiap hari ada kegiatan yang sifatnya pembiasaan dan itu rutin dilakukan, seperti buka dan tutup kelas, menghafal satu hari satu ayat suci Al-Quran, mengulang hafalan, shalat dhuha, dan shalat dzuhur berjamaah, namun tentunya ada kegiatan inti yang berbeda-beda hari satu dengan yang lainnya.

Saya sudah mencoba menerapkan kegiatan menulis catatan harian tersebut di kelas yang tahun sebelumnya tersebut diatas (saya pegang kelas 4 SD), meskipun bukan merupakan program resmi kelas. Saya akui memang tidak terlalu berhasil karena anak-anak sering terlupa, begitu pula saya dan rekan sering lupa mengingatkan karena kami tidak membuat catatan harian serupa. Kendala lainnya, anak-anak masih sering bingung, timbul pertanyaan-pertanyaan,

‘Nulisnya gimana Bu?’

‘Apanya dulu yang ditulis?’

Dan lain-lain, ternyata sebagian besar anak-anak belum terbiasa menulis secara kronologis, juga masih kesulitan membuat kalimat yang lengkap dan jelas. Ditambah lagi, kegiatan kelas 4 yang sudah mulai padat materi karena sekolah tempat saya mengajar masih menggabungkan  kurikulum Diknas dan kurikulum khas, menyebabkan sering kali tidak tersedia lagi waktu untuk menulis catatan harian,  akhirnya, kegiatan ini tidak berlangsung sesuai harapan.

Hasil dari ketidakberhasilan itu setidaknya saya mengevaluasi ada 3 hal penting yang harus saya dan rekan saya perhatikan jika kami  akan menerapkan kembali kegiatan menulis catatan harian ini,

Pertama, sebagai teladan saya dan rekan juga harus melakukan hal yang sama menulis catatan harian secara kronologis dan dokumentatif.

Kedua, jika tahun lalu anak-anak setingkat kelas empat sebagian belum mampu menulis catatan harian  secara kronologis, maka untuk kelas satu jelas diperlukan bentuk arahan tertentu, supaya sedkit demi sedikit mulai terbiasa.

Ketiga, sebagai penyemangat saya dan rekan harus memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan anak-anak beserta catatan yang dibuatnya.

Keempat, catatan tersebut juga harus bisa menjadi sarana komunikasi antara orang tua dan guru.

Maka, terciptalah buku penghubung seperti yang terpampang pada gambar, sebagai bentuk apresiasi dan penyemangat kami bubuhkan tanda pada setiap kegiatan yang mereka lakukan dengan menggunakan stempel.

Pada awalnya, memang saya dan rekan harus senantiasa mengingatkan anak-anak untuk mengisi buku penghubung, kegiatan yang telah dilaksanakan hari itu ditulis oleh rekan saya di papan tulis untuk kemudian anak-anak menyalinnya. Anak yang belum dapat menulis kami bantu dengan membuatkan  titik-titik untuk mereka tebalkan, sedangkan yang belum terlalu lancar membaca kami minta bantuan anak-anak yang sudah dapat membaca untuk membacakan sedikit demi sedikit. Setelah beberapa bulan, sebagian  besar anak-anak sudah tidak perlu diingatkan lagi, kedisiplinan mereka mulai terbentuk, mereka pun sudah terbiasa dengan alur rutinitas kelas. Karakter lain yang bisa dibangun dari menulis buku pengubung ini adalah kejujuran, karena saya dan rekan kadang terluput untuk mengamati setiap anak dengan seksama, kami sering keliru membubuhkan cap, misalnya ketika seorang  anak makan siang tidak habis tapi saya membubuhkan stempel ‘good’ di bagian makan siang, anak tersebut akan meralat, ‘Bu, tadi makan siangku tidak habis (cap-nya) ‘fine’ saja’ saya kemudian minta maaf dan berterima kasih atas kejujurannya.

Sampai menjelang akhir tahun ajaran, saya menyimpulkan buku penghubung ini sangat bermanfaat dalam membangun karakter disiplin dan kejujuran anak, ditambah lagi manfaat lainnya yaitu sebagai sarana latihan membaca dan menulis. Dalam hal menulis, selain kemampuan menulis huruf-huruf, juga menulis catatan harian secara kronologis, diharapkan kelak anak-anak terbiasa menulis jurnal pribadi.

Saya berencana merekomendasikan kegiatan menulis buku penghubung ini untuk menjadi program kelas di tahun selanjutnya kepada rekan guru saya yang akan mengajar di kelas dua, tentu saja dengan menyertakan beberapa evaluasi seperti masih terdapat anak yang belum mandiri, tidak setiap hari membawa buku penghubung jika orang tuanya lupa memasukkan ke dalam tas, juga masih terdapat beberapa anak yang harus diingatkan untuk menulis, biasanya anak-anak bertipe kinestetik yang sering ‘mengakhirkan’ menulis menjelang tutup kelas karena asyik bermain.

Saran saya juga untuk tahun selanjutnya, anak-anak tidak menyalin kegiatan yang telah dilakukan dari tulisan di paapan tulis yang ditulis guru, melainkan sudah belajar menulis dengan kata-kata sendiri, demikian setiap naik jenjang ke tingakat kelas selanjutnya, ada format yang dirubah sehingga diharapkan di tahun ke 6 menjelang lulus sekolah dasar anak-anak sudah dapat menulis jurnal pribadi. Semoga.

537 total views, 2 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Ramdhan Hamdani

    Sepakat bu, disekolah kami juga masing-masing siswa dibekali buku penghubung

    Ramdhan Hamdani Komentar pada October 1, 2013 6:15 pm

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit