0

Buat apa Sekolah Tinggi? (0)

Andi Ardianto July 20, 2018

Beberapa waktu yang lalu bapak dan ibu mengadakan tabligh akbar di kampung. Sebagai ungkapan syukur atas segala karunia. Kami mengundang salah satu kiai besar dari kabupaten tetangga.

Target kami, orang sekampung plus kampung-kampung sebelah, bisa hadir.

Kata bapak, untuk mengefisienkan waktu cukup undang saja hadirin lewat pengeras suara masjid. Persis seperti pengumuman pengajian lainnya. Suara pengeras itu akan terdengar sampai bilik-bilik rumah.

Untuk warga kampung sebelah bisa minta tolong pada ketua RT. Lebih hemat waktu dan tenaga.

Tapi, aku menolak. Khususnya untuk yang kampung sendiri.

Sudah lama saya tidak di rumah. Kalaupun ada waktu pulang, lebih banyak dihabiskan untuk tiduran dan jarang keluar rumah. Akibatnya saya jadi sering lupa nama orang kampung. Apalagi anak-anak kecil.

Maka saya putuskan untuk tidak menggunakan pengeras suara. Saya mendatangi mereka. Satu per satu. Dari satu rumah ke rumah yang lain.

Cara ini saya rasa akan lebih mendekatkan pada masyarakat yang sering saya tidak di situ. Juga tentu ada nilai kekeluargaannya.

Akhirnya dua hari pintu-pintu rumah itu saya ketuk.

Ternyata ide ini banyak sekali menghadirkan makna tersendiri. Di sela menyampaikan undangan, ada percakapan lain. Tentu saja.

Tema seputar keluarga, hasil pertanian, dan apa saja bisa jadi bahan menghangatkam suasana.

Hingga, sampailah saya pada sebuah keluarga itu. Pasangan suami istri yang sudah menikah belasan tahun, tapi belum berputra. Singkatnya dia pun akhirnya mengangkat anak. Yang darinya cita-cita dilangitkan.

Cukup lama saya di keluarga ini. Permasalahannya beliau ini banyak nanya dan cerita. Seputar pendidikan anaknya. Baiknya kemana anaknya melanjutkan, setelah jenjang sekolah dasar.

Beliau memaparkan bahwa keluarganya sangat terinspirasi acara Hafidz Indonesia. Setiap acara ini ditayangkan, keluarganya akan menyimak.

Ada keharuan disana. Di saat anak-anak kecil itu melantunkan ayat demi ayat. Keharuan yang tidak jarang beriring air mata itu membuatnya berkeinginan, anaknya bisa seperti mereka itu.

Beliau ingin anaknya hafal qur’an dan memahami ilmu agama. Tidak seperti orangtuanya, katanya. Setelah SD ini baiknya kemana? Beliau minta saran.

Saya pun memberi gambaran beberapa sekolah dan pondok di sekitar yang sekiranya bisa jadi pertimbangan. Dari sisi jarak, pun biaya. Beliau sangat antusias. “Pokoknya dia harus sekolah atau mondok. Kalau bisa ya setinggi-tingginya” Tegasnya.

Saya tentu sangat bersyukur mendengar cerita ini.

Pendidikan… Sebuah pekerjaan besar kampung saya. Sebagaian besar warga memang masih belum memprioritaskannya.

Pikir mereka, daripada sekolah apalagi kuliah mending anaknya kerja saja. Tidak menunggu lama untuk dapat uang. Buat apa sekolah tinggi-tinggi, buang banyak uang dan belum tentu nanti lebih sukses dibanding yang sekolah rendahan.

Ya, kebanyakan memang masih menganggap sukses itu berwujud materi. Kekayaan, karir, tanah.

Di satu sisi, ini menjadikan saya lebih bersyukur. Lahir dari orangtua yang hanya lulusan S-1 dan D-1 yang kalau digabung jadi SD, orangtua sangat memprioritaskan pendidikan. Mereka sangat mendorong anaknya menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Ya, sampai detik ini, baru ada dua sarjana di kampung. Saya dan adik. Total yang kuliah juga baru tiga. Ditambah satu yang sekarang jadi bidan desa kami.

Jangankan sarjana, lulusan menengah saja saat itu baru belasan. Sisanya memilih bekerja selepas SD atau SMP.

Entah, berapa tahun atau bahkan generasi lagi kami harus menunggu hadirnya sarjana baru di kampung.

Permasalahan utamanya bukan pada biaya. Karena sejatinya banyak warga kampung yang mampu. Bahkan banyak yang sangat mampu. Meski sebagaian besar bekerja sebagai petani, hasilnya tidak bisa dianggap remeh. Tanah mereka luas. Dimana-mana.

Ada yang dikhususkan ditanami salak. Lahan lain dipenuni teh. Jagung dan padi pun tidak ditinggal. Dan, banyak juga yang menginvestasikan sebagaian tanahnya untuk ditanami ribuan kayu.

Hasilnya besar. Sekali panen, mereka bisa menghasilkan berton-ton salak dan teh. Dari hasil kayu pun, dalam jangka beberapa tahun pun cukup untuk membiayai sekolah, andai mereka mau.

Tapi memang begitulah. Kesadaran masih sangat minim.

***
Masih teringat beberapa tahun lalu, seorang anak dari keluarga berada meminta kepada orangtuanya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi, pandangan konservatif orangtua masih sangat kuat.

Ditolaknya keinginan itu. Padahal kalau mau dikalkulasi, beliau mampu menyekolahkan anaknya tidak hanya sampai sarjana.

Patahlah hatinya. Hilang semangatnya. Makin menganga ketika tahu teman sekolahnya ada yang masuk universitas ini. Sekolah tinggi itu. Akademi di sana. Diputuskannya minggat, ke Jakarta. Pelampiasan atas keinginannya yang patah, oleh orangtua.

***

Maka mendengar ada orangtua yang antusias, sangat antusias malah, menyekolahkan anaknya, saya sangat bahagia. Ini menjadi setitik harapan bahwa kelak apa yang dilakukannya menjadi inspirasi bagi lainnya. Semoga.
—-
Andi Ar

Guru SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali

319 total views, 5 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar