9

Bersastra dalam Teknologi Memang Mudah (+6)

Nur Kholis Huda May 30, 2017

Ujian sekolah telah berakhir, terdengar jelas nafas panjang anak-anak kelas VI SDN Jetis 3 Lamongan. Nafas mereka seakan berteriak “Ah, akhirnya selesai juga”.

Dalam kalimat tersebut tergambar jelas setiap yang kita ungkapkan, akan terasa indah jika terdapat sentuhan sastra.

Sastra dan teknologi memang berbeda, tapi bukan hal yang mustahil jika kita belajar sastra dengan menggunakan kemajuan teknologi. Hal ini saya praktikkan pada anak-anak kelas VI SDN Jetis 3 Lamongan. Tidak terlalu “muluk”, karya sastra yang saya terapkan yaitu puisi. Iya, salah satu karya sastra yang memungkinkan dibuat oleh anak-anak usia sekolah dasar.

Selain wujud dari pembelajaran, kegiatan ini saya lakukan sembari menunggu pengumuman hasil ujian sekolah, agar kami tetap menjaga komunikasi dan membangun daya rasa dalam sastra. Kami membuat karya “enteng” berupa puisi dengan dua tema “ibu dan guru”.

Mengapa saya memilih tema “ibu dan guru”?. Seperti yang kita pikirkan bersama, bahwa Ibu dan Guru adalah sosok yang telah mengantar kita semua dalam setiap proses pendidikan. Tiada kata apapun yang sanggup mengganti jasa-jasa ibu. Begitupun guru, sosok orang tua kedua yang telah mendidik kita semua, khususnya anak-anak kelas VI SDN Jetis III Lamongan. Seperti nukilan sajak berikut:

Guru,
Tanpamu, aku takkan bisa menggapai cita-cita
Jika aku telah dewasa,
Aku takkan lupa jasamu yang berharga
–Ahmad Fahrendi Shofian–
Siswa kelas VI SDN Jetis III Lamongan dalam Antologi Puisi Anak “Sajak Akhir di Sekolah Dasar”.

Sebagai langkah awal, saya merangsang daya minat anak-anak dengan memberikan contoh karya puisi yang telah saya buat dengan kawan-kawan guru Lamongan, karya ini terangkum dalam Antologi Puisi Berlima “Kapur Tulis Terakhir”. Pada kesempatan ini, saya juga menyampaikan sedikit info yang saya ketahui, misal judul puisi tidak melulu harus mirip dengan tema saja. Memang awal akan terasa sulit bagi anak-anak, tapi dengan konsistensi pembimbingan, Insya Allah semua akan mengalir begitu mudah.

17629773_1488951571115956_7297730362355361029_ndok. pribadi (Coretan Guru Desa dan Antologi Puisi Kapur Tulis Terakhir)

Lantas dimana letak perkawinan antara sastra dan teknologi?. Sebentar, kita perlu memberikan pengarahan secara tatap muka terlebih dahulu. Selain akan lebih jelas, disini kita juga menjabarkan langkah-langkah selanjutnya.

Peran Teknologi dalam Berbagi Gagasan

Jika hal tersebut sudah tercapai, baru kita bisa mulai memainkan peran teknologi dalam pembuatan karya sastra (dalam hal ini puisi anak). Dalam sebuah komunikasi jarak jauh, atau lebih kerennya komunikasi online, pastinya kita butuh sebuah sarana aplikasi. Disini saya menggunakan aplikasi Whats App. Apa harus berkomunikasi secara perorangan? tentu tidak, kita bisa menggunakan group chat pada aplikasi WA. Hal ini bertujuan untuk efisiensi waktu agar tidak mengulang pembahasan yang sama. Selain itu, dalam group ini kita bisa berbagi gagasan, bertanya jawab, dan diskusi ringan perihal atau permasalahan yang berhubungan dengan puisi yang anak-anak akan ciptakan. Selain sebagai sarana menjalin komunikasi, sharing, juga sebagai kendali untuk memberikan sedikit pemahaman tentang warga digital yang positif.

group kelas

 dok. pribadi (Group Whats App Kelas VI)

 Peran Teknologi dalam Pembuatan Karya

Anak sekarang apa yang tidak bisa dilakukan, dengan melihat saja mereka bisa dengan cepat meniru dan melakukan. Begitu juga dengan pembuatan puisi ini, mereka tidak perlu menuliskan pada lembaran kertas atau buku mereka. Mengapa? Karena, hal ini tidak akan menyita waktu di jam sekolah, dan juga kita tidak tahu kapan inspirasi kata itu akan datang. Sehingga, ketika insprasi datang,  peran teknologi ini akan sangat menunjang untuk mengguritkan sajak-sajak sederhana mereka.

Kita bisa manfaatkan semua aplikasi yang mendukung pembuatan puisi-puisi tersebut. Misal, menggunakan WPS Office, Color Note, atau paling minim yaitu dengan menggunakan chat WA. Perkembangan karya anak-anak selalu saya pantau. Kita jangan bosan untuk mengingatkan mereka, dengan kata lain selalu kirim update karya pada obrolan group WA.

hasil puisi 2

hasil karya siswa dalam bentuk .doc

hasil puisi 1

hasil karya siswa dalam bentuk pdf

update hasil puisi

dok. pribadi (Update karya dalam obrolan group WA)

Draft Antologi

cover depan 6a

dok. Pribadi (Hasil karya siswa dalam bentuk Antologi Puisi Anak)

Terakhir, setelah semua karya terkumpul, kita jadikan satu dalam sebuah file .doc. Nah, lebih keren jika kita menggunakan Acer Chromebook 14 loh. Hasil dari karya anak-anak tersebut bisa kita naikkan cetak dalam sebuah antologi puisi anak. Selain dalam bentuk buku, saya juga mengunggah “Sajak di Akhir Sekolah Dasar” ini dalam bentuk file pdf pada group WA. Kurang lebihnya saya kemas dalam video berikut ini:

YouTube Preview Image

Karya ini akan menjadi apresiasi bagi mereka, bahkan akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Memang tidak mudah untuk mengungkap rasa dalam sastra, khususnya puisi. Tetapi dengan peran teknologi, ide-ide mereka akan mudah tertuang dalam setiap aplikasi yang sangat membantu mereka kapanpun dan dimanapun.

Semoga bermanfaat.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

1,134 total views, 3 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (9)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar