Artikel Pilihan

Tampilan Baru untuk Website Guraru

Guraru, tak terasa website Guru Era Baru (Guraru) hampir menginjak…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Cara Mudah Membuat Aplikasi Android Sendiri

Menjadi tiga besar artikel pilihan di bulan Juni 2014 memotivasi…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Pengumuman Pemenang Artikel Pilihan 3 Besar di Bulan Juni 2014

Assalamualikum Wr. Wb. Selamat siang guraruers, semoga sehat selalu dan…

Selengkapnya

Lain-lain
Home > Kategori: > Belajar Lewat Permainan Tradisional, Bisakah?

Belajar Lewat Permainan Tradisional, Bisakah? (+1)

Penulis: ommie monthie
Kategori:

Pernahkah sampeyan mendengar pendapat orang tua yang menginginkan anaknya bodoh? Andaikan ada, barangkali itu merupakan pendapat orang yang tergolong menarik dan unik. Rata-rata orang tua menginginkan anak-anaknya sukses di sekolah, baik secara akademis, maupun popular dibidang lain. Wajar, ada banyak kebahagiaan jika melihat Sang Anak pintar, juara kelas, memenangkan bermacam lomba, jadi buah bibir di kampung. Demi keinginan itu, mereka rela mengeluarkan banyak uang tambahan. Tak masalah, yang penting anak menonjol sebab berakal tinggi, hingga dua puluh tahun ke depan, menjadi pribadi unggul, bukan masuk dalam golongan orang-orang kalah, tertohok oleh peradaban. Belajar lebih giat Nak, ikuti les ini, les itu, jangan malas, apalagi banyak main!


Benarkah rangking akan menunjuk kemampuan yang lebih, dibanding dengan anak lain? Mampukah piala dan piagam menjawab tantangan dan ujian hidup kemudian hari? Benarkah banyak kegiatan itu diinginkan anak ataukah semata dorongan dan kemauan orang tua untuk mendapat kebanggaan? Jangan-jangan Si Anak malah merasakan kurangnya waktu untuk bermain? Memang, aktivitas manusia di seluruh penjuru dunia bergerak sangat cepat. Tanpa disadari, ini menumbuhkan bermacam budaya, salah satunya adalah budaya instan. Budaya ini merambah tiap segi kehidupan, baik ekonomi, sosial maupun pendidikan. Ada kecenderungan, manusia modern hanya mengukur hidup & kehidupan dalam bentuk materi hingga dengan mudah menganggap permainan adalah main-main dan buang waktu belaka, lalu memacu anaknya untuk belajar dan belajar, karena beragam ilmu harus diserap, diketahui dan dikerjakan, kalau perlu, sepulang sekolah harus les. Tanpa disadari, ini seperti merampas kemerdekaan anak untuk menikmati masa kecil. Bagaimanapun juga ada hak anak untuk bermain. Menurut Konvensi hak-hak anak (1990) “Hak anak untuk beristirahat dan bersantai, bermain dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usia anak dan untuk turut serta secara bebas dalam kehidupan budaya dan seni”


Johan Huizinga, dalam bukunya yang berjudul Homo Ludens: a Study of Play Element in Culture menyebut manusia sebagai “makhluk bermain” hal itu mengindikasikan bahwa manusia -tak peduli laki-laki, perempuan, dewasa maupun anak-anak- adalah makhluk yang suka untuk bermain bahkan mencipta banyak permainan. Tidak aneh bila dari salah satu sifat manusia tersebut ada beratus permainan di dunia, mulai dari permainan tradisional maupun permainan modern. “Play is Older Than Culture”

Kondisi saat ini, anak-anak lebih mengenal permainan modern dibandingkan permainan tradisional. Hal ini ditunjang oleh sebagian kalangan orang tua yang lebih bangga jika membekali anak-anaknya dengan handphone ataupun playstation dibanding membiarkan putra-putrinya riang bermain di sawah ataupun lapangan. Sungguh naïf? Apakah permainan tradisional sudah sedemikian tidak menarik lagi atau justru mungkin karena alasan ini, “Aduh Dik, jangan bermain di luar, nanti kulitmu kusam dan kotor, apalagi nanti kamu ikut-ikutan warga kampung yang suka omong jorok dan banyak misuh! iih.., nggak banget deh!” Diakui atau tidak, permainan modern lebih bersifat efisien, menarik, indoor activity, dan bisa dilakukan sendiri tanpa menunggu kedatangan teman main lainnya, namun sesungguhnya permainan modern sedikit sekali melibatkan aktivitas fisik motorik sebab lawan main hanya berupa mesin (bisa menciptakan generasi kaki mudah loyo?). Permainan modern juga sarat dengan sifat agresif -pernah melihat game yang berisikan tawuran dengan membawa mesin pemotong kayu ataupun dar..der..dor menembakkan pistol ke sana ke mari semau gue? Menakutkan atau justru geli? Permainan tradisional, jelas membutuhkan banyak teman untuk bermain, ini mengindikasikan adanya kemungkinan beragam interaksi dan interelasi antar manusia. Dengan permainan tradisional, anak-anak belajar untuk memahami berbagai karakter temannya, belajar mempertajam kepekaan panca indera, membuat motorik kasar dan halus menjadi lebih terlatih, belajar mengenali lingkungan, alam seisinya. Lewat permainan tradisional pula si anak belajar mengenali karakter diri pribadi. Kapan jangan menyerah, kapan ikhlas sebab kalah, kapan taat aturan main. 

Ada kekhawatiran, permainan tradisional menjadi asing di negeri sendiri, sementara alat-alat permainan hanya akan menghuni museum dimana para penelitinya justru “warga asing” yang mengagumi kebudayaan ini negeri. Ada banyak ketakutan, jika anak-anak bangsa lebih berfokus pada belajar mata pelajaran saja, lupa menyisihkan waktu untuk belajar bermain, terutama permainan tradisional macam gobag sodor, dakon, betengan, jamuran,enklek, petak umpet dan lainnya. Benar, mereka akan menjadi generasi pintar, namun hanya pintar mengali, mengakali hukum bahkan memainkan hidup orang lain karena masa kecilnya jarang main berkelompok untuk berbagi, dan berasa sama. Seorang filosof Rumania, Lucian Blaga (1895-1961), mengatakan bahwa

“Anak tertawa: Permainan adalah kebijaksanaanku dan cintaku.”
“Anak muda bernyanyi: Cinta adalah kebijaksanaanku dan permainanku.”
“Orang tua diam: Kebijaksaan adalah cintaku dan permainanku.”
“Biarlah permainanku menjadi belajarku, dan belajarku menjadi permainanku.”

Dan alangkah bahagianya anak, jika semua pelajaran, entah matematika, Bahasa Indonesia, IPA, maupun IPS terpadukan dengan bermacam permainan. Bisakah?

 

Pernah diposting Surat Kabar Radar Kudus
 

164 total views, 1 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Pengelola Guraru

    Permainan tradisional memang sarat akan pembelajaran bu :)

    Pengelola Guraru Komentar pada January 29, 2013 9:49 am

  2. Avatar of Titin Sulistiawati

    Sudah banyak permainan tradisional yang terlupakan….bermanfaat bu…

    Titin Sulistiawati Komentar pada January 29, 2013 9:54 am

  3. Avatar of ommie monthie

    @Admin Pengelola & Mbak Titin: terima kasih apresiasinya, hehehe..dan saya cowok kok, hehehe…salam kenal nggih

    ommie monthie Komentar pada January 29, 2013 10:14 am

  4. Avatar of Botaksakti

    suatu ketika, siswa saya hampir mati ketakutan. Di tasnya, terdapat kartu remi. Tapi semua berubah, ketika kemudian mereka saya ajak memainkan kartu itu untuk belajar membuat paragraf :D

    Botaksakti Komentar pada January 29, 2013 12:30 pm

  5. Avatar of Botaksakti

    Eh, salam kenal!

    Botaksakti Komentar pada January 29, 2013 12:31 pm

  6. Avatar of ommie monthie

    @Botaksakti: salam kenal juga, Mas…hehe
    metodenya keren juga nih, itu kartu kata ataukah kartu remi (hehe, gojek.com, Mas)

    ommie monthie Komentar pada January 29, 2013 7:12 pm

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit