0

Belajar Matematika Sambil Bermain Petak Umpet? Kenapa Tidak? (Oleh : Anak Agung istri Sayang Setiadewi) (+1)

Angsa Cinta October 15, 2017

          Situasi hening disertai dengan kening mengkerut selalu saja mewarnai kelas VA SD Negeri 1 Semarapura Kangin saat mulai pembelajaran Matematika. Terlihat jelas di wajah siswa bahwa mereka berpikir keras untuk menyelesaikan tugas. Dari sebagain besar pemandangan itu adapula yang terlihat bahagia di antara kerumunan wajah kusut temannya. Perasaan bangga dirasakan karena merasa dirinya istimewa. Di sisi lain ada pula wajah-wajah santai yang tidak peduli dengan apa yang sedang di pelajari di kelas. Mereka lebih memilih diam dan tidak melakukan apa-apa. Ditambah lagi jumlah siswa yang padat sehingga luput dari pengawasan guru.

            Keadaan yang terus berlangsung demikian berdampak pada hasil belajar matematika siswa kelas VA SD Negeri 1 Semarapura Kangin. Siswa yang yang malas dan berusaha keras namun tetap gagal menyebabkan hasil belajar mereka tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM), meskipun ada beberapa siswa yang tampak percaya diri dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Namun perbandingan antara siswa yang malas dan yang percaya diri masih sangat jauh. Terlihat lebih banyak siswa yang malas dibandingkan dengan siswa yang mau belajar dan bisa menyelesaikan tugas dengan baik.

Dalam Standar Isi mata pelajaran matematika disebutkan bahwa matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi moderen, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini (Standar Isi, 2006: 416). Oleh karena itu pembelajaran matematika sangatlah penting untuk dipahami oleh siswa agar kuat dalam menghadapi perkembangan teknologi modern. Untuk itu agar pembelajaran matematika mudah dipahami oleh siswa perlu adanya pengaitan dengan manfaat dari teori matematika yang sedang dipelajari, sehingga pembelajaran matematika benar-benar bemafaat sesuai dengan kebutuhan.

Dewasa ini sering sekali kita sebagai pendidik mangabaikan tujuan dari pembelajaran matematika itu sendiri. Kita lebih sering mengejar materi agar dikuassai oleh siswa dengan cepat dengan alasan keterbatasan waktu yang tersedia. Kita terus saja menjelaskan cara dan rumus-rumus kepada siswa.  Tidak dipungkiri bahwa pembelajaran yang demikian sering terjadi karena kita sebagai guru dikejar oleh waktu. Bahkan di Bali yang ketersediaan waktu efektif belajarnya sedikit mengakibatkan guru kerap kali mengejar seluruh materi yang tetinggal untuk disampakan pada siswa dengan cepat. Hal ini dilakukan agar nantinya siswa tidak menjawab bahwa mereka tidak bisa karena belum diajarkan oleh guru.  Padahal  kemungkinan terburuk yang akan muncul pada situasi tersebut adalah siswa hanya akan paham pada saat itu saja dan untuk selanjutnya menjadi memori yang sulit  mereka ingat kembali. Dan dampak terburuknya lagi adalah siswa tidak mampu mengikuti pembelajaran selanjutnya karena idak ingat atau belum paham dengan materi prasyarat sebelumnya.

Pembelajaran yang mengejar ketuntasan penyampaian materi tersebut merupakan pembelajaran yang kurang bermakna. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil wawancara terhadap siswa kelas VA SD Negeri 1 Semarapura Kangin. Siswa itu sendiri tidak tahu untuk apa mereka belajar matematika, mereka hanya melakukan latihan dan tugas-tugas yang diberikan guru sesuai penjelasan sebelumnya. Ketika mereka menghadapi soal yang berbeda mereka akan cenderung bertanya, meminta contoh, atau bahkan  malas mengerjakannya karena merasa tugas tersebut sulit.

Sebagai contohnya adalah  dalam pembelajaran matematika materi tentang titik koordinat. Pada umumnya dalam pembelajarn ini guru langsung mengajarkan siswa terkait terori tersebut tanpa menjelaskan latar belakang mengapa mereka harus menguasai materi titik koordinat dan apa manfaat teori tersebut dalam kehidupan.

Pembelajaran titik koordinat ini merupakan salah satu teori yang ada kaitannya dengan letak. Dalam pembelajaranya dapat dikaitkan pula dengan belajar denah. Memalui denah dan titik koordinat, maka siswa dapat belajar tetang letak suatu benda melalui titik koordinat. Ketika letak suatu benda tidak bisa disebutkan sesua arah mata angin, maka titik koordinatlah yang akan membantu siswa menemukan benda tersebut.

Mengubah anggapan bahwa pembelajaran matematika hanya bisa dilakukan dikelas saja, maka pembelajaran matematika terkait tentang materi titik koordinat kelas VA di SD Negeri 1 Semarapura Kangin dilakukan melalui permainan petak umpet.  Permainan ini melibatkan seluruh siswa kelas VA beserta panca indranya. Dalam penerapannya sangatlah sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah siswa, tempat dan benda apa saja yang ingin disembunyikan. Tempat yang dibutuhkan pun tidaklah membutuhkan transportasi yang menghabiskan banyak biaaya. Cukup dengan memanfaatkan  kelas serta lingkungan sekolah.

Dalam permainan ini dilakukan memalui beberapa tahap. Pada awalnya benda disembunyikan sesuai dengan denah kelas yang telah berisi garis-garis koordinat. Berikutnya siswa secara bergantian akan mencari benda-benda yang disembunyikan tersebut. Jika siswa sudah paham arti dari titik koordinat, maka benda tersebut akan dengan mudah mereka temukan.  Mereka akan menunjuk posisi benda tersebut dalam denah terlebih dahulu  yang setelah itu akan mereka lanjutkan dengan mencari benda sesuai dengan lokasi benda dalam denah.

Tahap pengembangan selanjutnya adalah “pemainan menemukan kawan yang hilang”. Aturannya tidak jauh berbeda dengan menemukan benda dalam kelas. Namun jangkauan denahnya lebih luas, yaitu menggunakan denah sekolah. Pada tahap awal beberapa siswa diminta bersembunyi sesuai dengan titik koordinat yang telah ditentukan. Siswa yang lain harus mencari siswa yang bersembunyi sesuai petunjuk titik koordinat persembunyiannya. Sebelum siswa mencari temannya, siswa tersebut harus mengkoordinasikan kepada guru di bangunan manakah posisi  temannya bersembunyi. Setelah itu barulah mereka diminta untuk mencari sesuai dengan analisis posisi persembunyian sesuai titik koprdinat pada denah sekolah.

Di setiap tahap yang dilewati siswa kelas VA SD Negeri 1 Semarapura Kangin dalam pembelajaran tersebut menunjukkan semangat yang luar biasa. Wajah-wajah jenuh dan bosan sudah tidak terlihat lagi. Keceriaan bepadu dengan keseriusan serta diiringi tawa bahagia mewarnai kegiatan pembelajaran matematika. Hal lain ini membuktikan bahwa pembelajaran matematika tidaklah harus berhadapan dengan alat tulis semata. Pembelajaran ataupun latihan pemahaman konsep matematika bisa dilakukan melalui bermain dengan lingkungan seketar. Setidaknya dengan permainan ini dapat membuat seluruh siswa terlibat aktif dalam pembelajaran serta memberi ingatan yang cukup kuat terkait pembelajaran tersebut. Pembelajaran dengan teknik ini pula dapat menghapuskan anggapan siswa tentang pembelajaran matematika itu sulit.

Seperti pendapat Kirkland dan O’Riordan, 2010 dalam buku Potret Pendidikan Kita mengatakan bahwa “Games lighten the mood and this facilitates greater creativity and boost student morale and interest”(Baedowi Ahmad, 2015 : 307) yang artinya permainan meringankan suasana hati dan ini memudahkan kreativitas dan meningkatkan semangat dan minat siswa. Pendapat itu menegaskan bahwa tanpa disadari seringkali peserta didik akan melibatkan diri dalam sebuah permainan. Tidak ada yang meminta atapun memaksanya. Permainan itu sendiri secara alamiah menumbuhkan rasa ingin belajar pada diri siswa.

Hal positif lain dari kegiaan ini adalah bedampak pada hasil belajar mereka. Meskipun pembelajara tersebut telah berlagsung lama, maka mereka akan masih ingat dan mudah untuk mengerjakan soal matematika terkait dengan titik koordinat. Mereka bisa mengingat kembali kegiatan menyenanggkan yang pernah mereka lakukan sehingga tanpa disadari mereka akan ingat kembali dengan teori matematika yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Belajar Matematika sambil bermain petak umpet bukanlah hal yang mustahil untuk diterapkan. Penerapan pemainan ini justru dapat berdampak baik pada siswa dan hasil belajarnya. Selain itu pula permainan ini pun dapat dipadukan dengan pembelajaran lain seperti halnya mencari jawaban dari bacaan yang tersembunyi di kelas ataupun mencari benda-benda konduktor isolator yang telah disembunyikan, serta berbagai pembelajaran lainnya yang tentunya dapat menumbuhkan partisipasi aktif  siswa dan dapat memunculkan kegembiraan siswa dalam belajar. Hal ini tentu akan memberi pemikiran postitif pada siswa bahwa belajar itu sangatlah menyenangkan.

309 total views, 2 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar