3

Belajar Kebesaran Jiwa dari Para Murid (+4)

Andi Ardianto May 10, 2015

Menjadi seorang guru bukan berarti hanya murid yang belajar dari kita. Guru dan murid itu semacam sombiosis mutualisme, saling menguntungkan. Keduanya bisa saling belajar satu dengan yang lain. Guru bisa belajar teori dari siswa pada beberapa hal seperti kemampuan siswa membuat rumus matematika yang mudah, yang sebelumnya tidak diketahui guru. Tidak jarang murid juga mengajarkan sikap yang baik pada gurunya, bahkan menjadi tamparan bagi guru karena kalah bersikap dengan murid.

 

Kisah yang akan aku tuliskan kali ini terjadi hampir tiga tahun lalu, saat masih mengajar di sekolah asrama, bukan di sekolah formal. Kisah penuh pelajaran yang bisa kita petik dari anak-anak yatim di sebuah pesantren yatim di Karanganyar, Surakarta.

 

Seperti biasa, setiap Ahad adalah hari bebas, tidak ada kegiatan pembelajaran formal. Untuk mengisinya, mereka bermain bola di halaman belakang masjid yang cukup luas. Permainan cukup asyik sehingga memancingku untuk terlibat. Tapi baru beberapa menit ikut dalam permainan, aku sudah mengundurkan diri, capek. Maklum sudah lama tidak main bola. Beberapa menit setelah beranjak dari lapangan, aku melihat pemandangan yang menakjubkan. Dari lantai atas asrama putra, aku melihat Adi menekel Hasyim Asy’ari dari belakang. Ari pun jatuh dan ada sedikit luka di lututnya. Jelas ini adalah pelanggaran. Kalau mengacu aturan FIFA, pasti dapat hadiah kartu kuning.

 

Ari pun bangkit dan mendatangi Adi dengan muka marah seolah hendak memukul sebagai balasan atas tekelnya. Aku sudah membayangkan akan ada keributan setelah itu. Namun apa yang terjadi? Di luar perkiraanku. Ari yang datang dengan muka garang justru mengulurkan tangannya kepada Adi. Tidak ada kemarahan di situ. Teman-temannya yang ikut bermain tidak menduga Ari bakal meminta maaf.

 

Setelah itu tawa pun pecah. Aku yang dari tadi memperhatikan dari asrama lantai dua bagaimana Adi menekel Ari sampai terjatuh pun ikut tersenyum melihat apa yang dilakukannya. Meski dikasari dalam permainan bola, dia justru mengulurkan tangannya untuk meminta maaf lebih dahulu. Setelah itu permainan pun dilanjutkan seperti semula seolah tidak ada masalah. Padahal kalau kita lihat di kompetisi sepakbola profesional sekalipun, pemain yang dilanggar seperti itu pasti akan naik pitam yang tidak jarang berakibat pada perkelahian.

 

Kejadian ini mengingakanku pada sebuah sms teman yang pernah masuk dalam HPku. Isinya kurang lebih adalah, “Marilah belajar dari anak-anak. Mereka begitu mudah memaafkan. Mungkin saat ini mereka bertengkar, tapi beberapa menit kemudian mereka akan kembali akur dan bermain bersama seperti tidak ada masalah sebelumnya” Sms itu masuk sudah cukup lama. Tapi Ahad sore yang lalu, aku benar-benar menyaksikan kebenaran sms temanku itu.

 

Dalam hidup, apalagi kita adalah makhluk sosial, kita tentu dihadapkan pada berbagai permasalahan, yang tidak jarang datang dari orang di dekitar kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita bijak menyikapi permasalahan itu, tidak langsung marah. Malah kalau bisa, kita dulu yang minta maaf meski pada hakikatnya kita berasa pada pihak yang benar. Permintaan maaf kita adalah dalam rangka menjaga hubungan yang baik.

 

Mari kita belajar dari anak-anak, bagaimana mereka begitu mudah memaafkan orang lain. Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung gengsi mengakui kesalahan. Padahal sejatinya harga diri kita tidak jatuh karena meminta maaf.

 

Koleksi Foto:

 

??????????????????????????????? gambar anak2 IMG_1445

 

“Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

 

1,107 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar