12

Bapak Kejam! (+2)

Botaksakti January 9, 2014

memangkas tak berarti membunuh

Kapan itu, dua orang mantan siswa saya main ke rumah. Seperti biasanya, mereka saya ajak mengobrol di teras rumah. Lebih nyaman karena langsung bersisian dengan kebun tetangga yang hijau.

“Itu pohon apa, Pak?”, tanya salah seorang dari mereka.

“Cin Cau”, jawab saya.

“Lho, itu tumbuhan merambat, ya Pak?”

“Lha itu, akarnya menempel di tembok!”

“Wah, boleh minta, Pak, mau saya tempelkan di tembok pagar saya!”

“Boleh, silakan, nanti saya potongkan!”

“Lho, kok dipotong? Kasihan, Pak, sudah bagus begitu. Dia juga makhluk hidup, lho!”

“Hahahaha……lagumu!”, saya ngakak,”Tahukah kamu, ketika saya memotong salah satu rantingnya itu berarti saya sedang mencurahkan kasih sayang kepada tumbuhan itu?”

“Maksudnya?”

“Kalau dahannya saya pangkas, maka di titik itu akan tumbuh cabang. Ini berarti tindakan saya adalah untuk memberi dorongan atau rangsangan bagi tumbuhan itu untuk berkembang/menumbuhkan dahan/ranting lain dan menjadi semakin banyak”

Anak itu manggut-manggut.

“Jadi, mendidik itu tidak berarti harus membiarkan anak didik berkembang semau-maunya, ya Pak?”

“Kok kamu ngomong begitu?”

“Halah, paling nanti ujungnya Bapak bilang begitu!”

“Hahaaah……..sambel!”, saya ngakak.

Tawa kami berderai. “Crashhhh……!”, pisau dapur istri saya memotong dengan cepat dua dahan/ranting pohon Cin Cau tersebut. Kejam?

 

1,336 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (12)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar