2

Apakah guru yang bijaksana adalah guru yang memiliki kesehatan mental? (+2)

Lusia Gayatri Yosef June 21, 2014

Pekerjaan menjadi guru memang tidak selamanya mudah, kita akan menghadapi berbagai karakter anak juga anak yang memiliki berbagai kegiatan. Sebagai contoh: terdapat anak yang memiliki peran sebagai siswa juga sebagai atlet, terdapat anak yang memiliki peran sebagai siswa juga sebagai pelukis, terdapat anak yang memiliki peran sebagai siswa juga mengikuti kegiatan-kegiatan les tambahan dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa tersebut secara tidak langsung mempengaruhi hidup siswa. Karena siswa memiliki tuntutan untuk mampu mengatur jadwal agar kegiatan-kegiatan yang dimilikinya dapat terlaksana. Tentunya, siswa memiliki harapan bahwa usaha dalam mengatur diri akan membawa dampak kepada keberhasilan kehidupan personal siswa dan kehidupan karir siswa yakni prestasi.
Dalam perjalanannya, siswa ternyata membutuhkan seorang guru yang dapat membimbing siswa untuk memperoleh atau mencapai prestasi-prestasi yang diharapkan siswa. Penulis memiliki pendapat dalam hal ini guru diharapkan memiliki kesehatan mental yang baik. Artinya: walaupun guru memiliki banyak aktivitas mengajar serta beberapa aktivitas mendidik di sekolah, harapannya guru masih memiliki kesehatan dan sedikit waktu untuk memberikan pengarahan kepada siswa. Sebagai contoh: memberikan pengarahan pada siswa untuk tetap menjaga kesehatan dan bersemangat dalam belajar walaupun banyak ujian yang akan diselesaikan oleh siswa, dan lain sebagainya.
Ilustrasi di atas sejalan yang diungkapkan oleh Calhoun, dkk (1994 dalam Notosoedirjo & Latipun, 2001) orang yang sehat dituntut untuk melakukan peran-peran tertentu dan bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain. Sementara orang yang sakit dituntut untuk berperan sebagai orang yang sakit, dibebaskan dari tanggung jawab normalnya, bahkan tidak perlu bertanggung jawab terhadap diri dan orang lain. Selanjutnya, orang yang sakit secara fisik dan mental sama-sama memiliki perilaku dan peran sakit. Orang yang mengalami skizofrenia, depresi atau gangguan mental lainnya dibebaskan dari kewajibannya bekerja, atau menjalankan tugas-tugas rutin keluarganya, sama halnya dengan orang yang menderita sakit jantung misalnya. Justru kewajiban mereka adalah beristirahat atau mencari kesembuhan melalui cara-cara yang dapat diterima secara pribadi maupun kultural. Hal tersebut berdasarkan pada pendapat bahwa manusia terdiri dari dua subsistem, yaitu psikis (jiwa atau mental) dan fisik (soma atau badan) (Calhoun, dkk., 1994 dalam Notosoedirjo & Latipun, 2001). Kedua subsistem yang menyatu pada manusia ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Psikis merupakan bagian dari manusia yang bersifat non material, yang hanya diketahui dari gejala-gejalanya, atau apa yang disebut dengan gejala psikis seperti dorongan (drive), motivasi (motivation), kemauan (willness), kognitif (cognition), kepribadian (personality) dan perasaan (feeling).
Berdasarkan pemaparan di atas maka pengendalian yang dapat dilakukan adalah guru menjaga kesehatan fisik dan mental. Sehingga guru dapat berperilaku sebagai guru yang bijaksana. Artinya guru mampu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya) juga pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dan sebagainya) apabila menghadapi kesulitan. Sebagai contoh: ketika guru memiliki aktivitas mengajar dan lain sebagainya dari pagi hingga sore maka guru perlu memperhatikan kondisi fisiknya. Guru perlu mengetahui kelelahan yang dialami mampu membuat emosi atau persaannya tidak stabil. Sehingga, bila guru sedang lelah maka ia dapat memberi saran kepada muridnya yang ingin konsultasi untuk datang pada lain waktu. Walaupun ia sudah membuat jadwal. Sebaliknya, ketika guru mengalami kelelahan karena ia tidak memiliki jadwal atau catatan tentang aktivitas yang ia lakukan maka ia perlu membuat jadwal. Tujuannya agar guru mampu mengamati ritme fisik dan mental selama beraktivitas. Seperti, apabila guru memiliki kegiatan yang cukup banyak maka ada kemungkinan guru akan mengalami ketidakstabilan emosi/perasaan, apabila guru ingin mengadakan konsultasi dengan siswa maka ia perlu memperhatikan kondisi fisik (yang tidak terlalu lelah) dan kondisi mental (perasaan/esmosi stabil).
Pendapat penulis mengenai prediksi guru yang menjaga kesehatan fisik dan kesehatan mentalnya adalah guru tersebut akan memiliki kesempatan menjadi guru bijaksana. Pada akhirnya, semoga melalui tulisan ini, para guru dapat mengambil sedikit waktu untuk refleksi mengenai perjalanan mengajar dan mendidik 1 tahun lalu. Tujuannya agar guru dapat mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun mental dalam kegiatan mengajar dan mendidik dengan bijaksana pada tahun-tahun berikutnya.
Salam semangat dan sukses selalu!
Daftar Pustaka:
Notosoedirjo, M., Latipun. (2001). Kesehatan mental: Konsep & Penerapan. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang.
Daftar Kata:
bi•jak•sa•na a 1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; 2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dsb.
pres•ta•si /préstasi/ n hasil yg telah dicapai (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb).

3,044 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

  1. Menjadi guru sdh tentu harus sehat secara mental juga fisik, sebab bgmana seseorg guru mendidik siswanya jika secara mental guru itu sakit, dan bisa jd tidak bisa bertindak bikak. Salam guraru ya bu

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar