Artikel Pilihan

Proyek Berbagi Kebudayaan TK di Denpasar Dengan TK di New Jersey

Dua minggu yang lalu unit TK memasuki tema “Alat Komunikasi”.…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

PENERAPAN MODEL PBL DENGAN MENGGUNAKAN GAMES TTS

Assalamualaikum Wr. Wb Alhamdulilah, puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang…

Selengkapnya

Artikel Pilihan

Luar Biasa, Pembelajaran Berbasis Proyek Sudah Mendunia

Selamat Siang Guraru. Insya Allah kita selalu sehat wal afiat. Terasa…

Selengkapnya

Lain-lain
Home > Kategori: > Apa Itu Olimpisme?

Apa Itu Olimpisme? (+4)

Penulis: Nunung Nuraida
Kategori:

Minggu, 30 Juni 2013

Wisma UNJ kembali menjadi saksi pencerahan. Kurang lebih tiga puluh dua guru menghadiri satu workshop TOT dengan tema penanaman nilai-nilai Olimpisme pada masyarakat. Workshop yang diprakarsai oleh Komite Olimpiade Indonesia dan didukung oleh IGI Bekasi dan Indosat ini cukup menggugah semangat perubahan. Semangat menanamkan nilai-nilai positif yang menjadi dasar dari paham olimpisme itu sendiri.

Itu setelah kami mengikuti workshop. Sebelumnya? Saya berasa salah masuk. Ketika ditawarkan oleh Om Jay, saya memang sangat antusias. Maklum sudah lama tidak ikut pelatihan. Saya sendiri tidak tahu materinya apa, saya hanya tahu sebatas TOT. Yang saya pahami, TOT itu kan melatih calon trainer, makanya saya berminat.

Namun, sesampainya di lokasi, saya dan rekan saya, ibu Mugi, malah kebingungan. Koq, di dalam ruangan ada banner KOI (Komite Olimpiade Indonesia) ya? Plus ada symbol lima cincin olimpiade dan bendera Indonesianya. Ada juga slogan olimpiade yang bunyinya “citius, altius, dan fortius” (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) dan banner yang bertuliskan “respect, excellence, friendship”. Waduh, koq jadi ke olimpiade gini ya? Kami pun menerka-nerka, jangan-jangan workshop ini ditujukan untuk guru-guru yang sering membawa peserta didik ikut olimpiade fisika, kimia, biologi, dll. Akhirnya kami pun memutuskan, kalau ternyata salah alamat, kami akan bertahan sampai istirahat siang saja. Lalu, cabut deh!

IMG04380-20130630-0812

Kami merupakan peserta pertama yang hadir. Karena saya belum sarapan, saya pun masuk ke ruangan workshop. Di tengah asyiknya menikmati sarapan pagi saya, tiba-tiba sekelompok orang datang dan langsung sibuk mengubah formasi tempat duduk. Saya pun tergusur pindah ke kursi paling belakang. Ternyata, mereka adalah tim pembicara, salah satunya Pak Sony Teguh Trilaksono, yang menjadi pembicara utama dalam workshop tersebut. Posisi duduk yang sebelumnya model klasikal, diganti menjadi posisi duduk U, sehingga kesan luas mulai terasa. Kembali kami berpikir, jangan-jangan kita bener-bener mau dilatih olahraga nih!

Pukul 08.30, acara workshop dimulai. Acara dibuka oleh Om Jay selaku panitia dan pembacaan doa oleh Pak Bhayu. Tidak terlalu formil tetapi cukup khidmat. Diawali oleh Pak Sony Teguh, yang tadi pagi rela turun tangan mengatur formasi duduk, dengan memberikan semacam kontrak belajar antara pembicara dan peserta. Belum apa-apa, sudah terlontar dari mulut beliau “Kami berharap acara ini dikuti hingga selesai, dan kami mohon maaf, bagi yang tidak mengikuti full, maka kami tidak bisa memberikan sertifikat.” Oow, niat kabur kami, gagal total! Kami berdoa semoga workshopnya menarik dan menyenangkan! :)

IMG04382-20130630-0838

Apa itu olimpisme?

Pertanyaan-pertanyaan kami terjawab dengan cukup gamblang oleh pemateri kedua, yaitu Ibu Rossi Nurasjati, seorang mantan atlet karate Indonesia. Dan memang, olimpisme ini memiliki hubungan sangat erat dengan olimpiade. Itulah sebabnya mengapa tim KOI lah yang menyampaikan materi ini.

Sebelum kita membahas tentang olimpisme, mungkin ada baiknya kita menelisik sedikit tentang sejarah olimpiade kuno yang sangat terkenal itu.

¡  Olimpiade, pada mulanya adalah sebuah festival olahraga yang merupakan bagian dari ritual keagamaan bangsa Yunani (Greece) dan koloninya untuk menyembah dan memuja Dewa Zeus (dewa penguasa  gunung  olympia /olympus).

¡  Setelah dilakukan ritual keagamaan di sebuah kuil di bukit  Kronus wilayah Gunung  Olympia , maka selanjutnya dilakukan sebuah festival/lomba  olahraga yang diikuti oleh ratusan atlit bangsa Yunani, yang dimaksudkan sebagai penghargaan dan rasa syukur bagi dewa Zeus.

¡  Olahraga yang diperlombakan pada awalnya adalah aktivitas yang berkaitan dengan peperangan : Lari (192 M, 384 M dan 1344 M), Gulat, Penthatlon (lompat jauh,lempar lembing, lari 192 M, lempar cakram dan lempar martil), Tinju, Balap kreta kuda, Pancration (gabungan tinju dan gulat), Balap kuda, dan Lomba lari membawa senjata.

¡  Lomba diselenggarakan  setiap 4 tahun sekali di sebuah stadion yang berkapasitas 40.000 (300M X 200 M) di dekat sungai Kladeios dan berlangsung selama 5 hari.

¡  Para atlit melakukan lomba dengan bertelanjang bulat, dimaksudkan untuk menjaga kesucian festival

¡  Peserta dan penonton yang diizinkan berpartisipasi hanyalah kaum pria.

¡  Selama masa perlombaan berlangsung semua aktifitas peperangan dan sikap sikap permusuhan dihentikan dan dilarang.

¡  Pemenang lomba diberikan penghargaan tertinggi berupa mahkota daun Zaitun dan diberikan gelar pahlawan.

¡  Para pemenang sangat dihormatinya oleh masyarakat yunani, sehingga sebuah peperangan akan berhenti bila “sang pemenang”  sedang melintas medan pertempuran.

Dari sejarah olimpiade kuno ini, terdapat nilai-nilai dan filosofi penyelenggaraan olimpiade, yaitu bahwa peserta olimpiade diharapkan mampu 1) selalu menjaga kesucian diri selama bertanding (saat ini bisa diartikan dengan berdoa dan mensucikan diri); 2) menjaga kekuatan dan kebugaran fisik, ketrampilan dan ketahan mental (jiwa satria); 3) semangat untuk selalu berprestasi; 4) jujur; 5) saling menghargai; 6) tercipta perdamaian; 7)terjadinya kompromi dan kesepakatan antar suku; 8) menerima penghargan tertinggi sebagai pahlawan; 9) peningkatan ekonomi (dengan adanya transaksi perdagangan); 10) menciptakan sukaria/sukacita.

Sementara itu, pada perkembangan olimpiade modern, Baron Pieree de Coubertin, seorang bangsawan Perancis, menggagas dan membangkitkan kembali semangat lomba Olimpia melalui penyelenggaraan pertandingan/festival  olahraga tingkat Internasional yang kemudian  dikenal dengan Olimpiade (Olympic  Games).  Selain penyelenggaraan festival olahraga Internasional, dilakukan juga gerakan penyebarluasan  filosofi, nilai –nilai, faham Olimpiade (Olimpisme), yang kini dikenal dengan gerakan olimpiade (Olympic movement).

Berdasarkan sekelumit kisah sejarah di atas, benarlah bahwa olimpisme ini berakar dari ajang olimpiade yang diselenggarakan setiap 4 tahun sekali.

Jadi olimpisme itu apa?

Olimpisme adalah dasar fundamental dan filosofi kehidupan yang mencerminkan dan mengkombinasikan keseimbangan antara jasmani (badan yang sehat) dan rohani (kemauan, moral dan kecerdasan) serta mengharmonikan antara kehidupan keolahragaan, kebudayaan dan pendidikan, sehingga dengan demikian dapat diciptakan keselarasan kehidupan yang didasarkan pada kebahagiaan dan usaha yang mulia, nilai nilai pendidikan yang baik dan penghargaan pada prinsip-prinsip etika yang  baik pula.

Visi Olimpisme adalah menempatkan olahraga di mana saja sebagai wahana  pembentukan manusia secara utuh yang harmonis dalam  usaha  membangun suatu masyarakat yang damai dengan saling menghormati. Untuk kepentingan ini gerakan olahraga berusaha secara sendiri-sendiri ataupun bekerjasama dengan organisasi yang terkait menciptakan kegiatan-kegiatan dalam usaha membangun perdamaian yang abadi.

(Tercantum Dalam Piagam Olimpiade)

Ada tiga basic living value dalam olimpisme yaitu:

  1. 1.      Living Excellence (Selalu berusaha menampilkan dan memberikan yang terbaik dari diri kita)
  2. 2.      Living Respect (Saling menghargai antar umat manusia)
  3. 3.      Living Friendship (Saling menumbuhkan rasa persahabatan dengan siapapun tanpa pandang bulu)

 

Karena olimpisme ini bernilai universal, maka faham ini dapat diterapkan di berbagai sisi kehidupan. Dalam dunia pendidikan, tentu ini menjadi sangat penting. Selain sejalan, paham ini tentu akan membentuk pribadi peserta didik yang seimbang dalam segi otak dan otot. Peserta didik tidak saja hanya mementingkan sisi akademis mereka saja, tetapi berusaha memunculkan sisi atletis dan humanisnya. Selalu menjaga kebugaran tubuh dan menanamkan nilai-nilai persahabatan dalam berbagai aktivitas.

Anda tertarik menerapkannya di kehidupan Anda? Saya iya! Saya akan memulai menanamkan aktivitas olah raga sebagai bagian penting dalam kehidupan keseharian saya dan keluarga. Tentu tidak harus mengikuti klub-klub olah raga jika kita tidak memiliki banyak waktu luang. Cukup dengan melakukan gerakan olah raga sendiri di rumah, yang penting teratur dan konsisten, maka kita sudah menerapkan nilai-nilai olimpisme tersebut.

Semangat Berolah Raga!

 

 

43 total views, 2 views today



Harap login untuk Vote UP postingan ini.


  1. Avatar of Endar Sudarjat Parmasasmita

    Inspiratif plus menarik sekali topiknya.
    Sayangnya saya belum bisa menulis yang baik. Semoga di TWC2 6-7 Juli nanti, insyaAllah saya hadir,bisa belajar menuliskan suatu peristiwa dengan lancar dan layak bisa dibaca rekan sejawat para pendidik.
    Salam sukses bu Nunung Nuraida.

    Endar Sudarjat Parmasasmita Komentar pada July 4, 2013 12:42 am

  2. Avatar of wijaya kusumah

    Mantap, liputan yg lengkap

    salam
    Omjay

    wijaya kusumah Komentar pada July 4, 2013 8:03 am

  3. Avatar of Botaksakti

    Olah raga otak dan jari……..menulis! Keren, tks!

    Botaksakti Komentar pada July 4, 2013 9:46 am

  4. Avatar of Pak Sukani

    Terimakasih pak Nunung Nuraida atas sharingnya. Saya sependapat dengan teman-teman guraru (pak Endar, Pak Wijaya, dan Pak Isna)

    Pak Sukani Komentar pada July 4, 2013 11:11 am

  5. Avatar of Bu Etna @gurutematik

    Sip deh pak, terima kasih. Salam kenal dan salam perjuangan.

    Bu Etna @gurutematik Komentar pada November 4, 2013 7:37 am

You must be logged in to post a comment.

Panduan

Mari bergabung dengan Guru Era Baru! Baca panduan disini.

Panduan Bergabung

Klik Disini
Dr. Acer

Punya pertanyaan seputar komputer dan produk Acer lainnya?

Tanya Dr. Acer

Submit