4

Anak Singkong versus Anak Digital (+5)

kasmadi January 3, 2015

Pagi ini saya mengawali hari dengan membaca sebuah buku Renald Kasali yang berjudul Self Driver. Sarapan otak yang membuat pikiran menggeliat atas peran saya selama ini baik sebagai orang tua maupun sebagai pendidik. Tetapi bukan tulisan beliau yang akan saya tanggapi, tulisan Renald Kasali menginspirasu tulisan saya ini setelah saya memperhatikan perilaku si sulung selama.liburan di rumah.

Episode Anak Singkong

Saya dilahirkan saar listrik di Jakarta menjadi barang yang teramat mahal, Tanjung Priok pada masa kecil saya merupakan teritorial pelabuhan yang yang sebagian dihuni oleh para pendatang, ada bugis dan makasar, batak, madura juga banten selain suku jawa dan padang, Cina tentu saja karena saya bertetangga dan berkawan dengan mereka. Masa-masa di mana seusia kami bermain perang-perangan di rawa-rawa yang mengering dengan senapan terbuat dari batang pisang dan pelurunya dari buah pohon tablo entah apa nama ilmiahnya. Kami mencari capung yang beragam jenisnya dengan membuat lem dari getah pohon liar sejenis pohon kedondong, membuat minyak-minyakan dari getah pohon waru dan merujak buah jamblang dengan gula putih sebagai hiburan di siang yang penat. Pada malam-malam tertentu biasanya liburan panjang kami bermain tebak anak ayam dan petak umpet serta diterangi rembulan yang sempurna bulatannya kami berlarian memainkan galasin Kami membuat api unggun dan membakar singkong hasil mencari sisa-sisa dipasar dan kadang meminta dari pedagang singkong.

Jadi tidaklah terlalu salanh jika saya meyebutnya generasi kami genenrasi singkong. Generasi yang sempat mengalami kegelapan tanpa listrik, mandi di empang dan tidak lupa mengaji sehabis zuhur dan maghrib dengan ustadz yang galak tapi baik hati. Kalau mau menonton televisi harus berjalan jauh dan mengintip dari pagar yang empunya. Kasian sekali deh.Hidup kami tidak monoton penuh warna dan selalu bermain. {ermainan yag justru anyak kami kecap hikmah pendidikannya.

Episode Anak Digital

Semua anak saya dilahirkan pada zaman digital. Hampir  semua produk yang dinikmati bernuansa digital. Si sulung sudah sangat familiar dengan alat serba digital terutama komputer. Ia menjadi sangat konsumtif sekali dengan komputer sehingga berkurang komunikasi antar abi dan uminya serta adik-adiknya. Intensias komunikasi yangkurang selain waktuya si sulung sudah terkuras di pesantren semakin berkurang kalau ia liburan karena lebih suka berbicara dengan laptop. Kelebihannya saya terkadang belajar dari dirinya jika ada ilmu-ilmu yang berkaitan dengan program komputer. Pernah suatu saat saya di ajari bagaimana membuat movie maker dari si sulung yang saat itu masih berumur 12 tahun.

Bagaimana Sikap Kita Seharusnya?

Yah, anak-anak kita bagi sahabat yang seumuran dengan saya, anak-anak kita adalah anak kandung zaman digital. Profesi kita sebagai pendidik sudah seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Ketika zaman ini hampir semua bidang berbasis digital maka guru juga harus belajar seperti apa dunia digital itu. Pun bila kita hanya sebagai orang tua yang bukan guru tetap tidak boleh menafikan perkembangan ini agar selalu bisa mengarahkan mana yang baik dan buruk untuk anak kita. Pembekalan karakter yang kuta buat anak didik sangat penting agar tidak diperbudak oleh teknologi. Seperti tulisan Renald Kasali mampukan kita mendidik anak kita menjadi driver bukan Passanger. Melahirkan generasi yang mempu mengendarai kehidupannya bukan menjadi budak kehidupan. Pendidikan yag mempu memunculkan karakter yang mampu mengantisipasi segala permaslahan bukan larut dalam masalah bahkan tidak mampu keluar dari maslah yang menggelayutinya.

Peran guru menjadi sangat strategis dan taktis untuk membangun bangsa yang mandiri. Jadi belajar dan terus belajar agar tidak mudah ditipu zaman, menjadi cermin bagi siswa dengan nyalanya semangat manusia pembelajar.

1,040 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

  1. Avatar of Lianawati

    Cie..yang orang Priok.., apa yang bapa paparkan di dalam tulisan bapa saya juga mengalaminya, tapi kita tetap harus membangun komunikasi dengan anak pa, kita masuk dalam dunia mereka sehingga kita tahu apa saja yang mereka lakukan dengan dunia digitalnya tanpa harus merasa di awasi. Semoga bermanfaat ya pa. Trims and jempol tuk pa Kasmadi.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!