6

Anak-anak “Sakti” (+3)

Botaksakti February 3, 2014

Jelang satu jam pelajaran terakhir, saya masih terdampar di kelas X IPA. Kelas yang bagi saya cukup menggembirakan. Betapa tidak, anak-anak di kelas tersebut kadang mampu menghibur dengan ‘ulah’ yang sepertinya tidak disengaja, tetapi memunculkan tawa dan kening berkerut. Lucu, sekaligus berpikir.

Seperti siang ini, mereka saya minta berkomentar tentang berbagai hal yang terjadi belakangan di negeri ini. Rupanya, mereka cukup tangkas mengerti keinginan saya. Dan yang agak mengagetkan, salah satu peristiwa yang menjadi sorotan mereka adalah tentang kasus pelecehan seksual oleh sekelompok anak SMP terhadap seorang gadis pelajar SMA di Makassar tempo hari. Kasus tersebut memunculkan berbagai komentar dari mereka.

“Mungkin itu disebabkan karena anak SMP sekarang dipakaikan seragam celana panjang, Pak!”, seru Peter.

“Maksudnya?”, saya balik bertanya.

“Ya, kan banyak sekarang anak SMP yang seragam cowoknya menggunakan celana panjang!”

“Terus, apa hubungannya denga  peristiwa itu?”

“Mungkin dengan seragam itu membuat mereka merasa sudah dewasa!”

“Dewasa terlalu cepat, begitu?”

“Betul, Pak!”

Saya manggut-manggut. Bisa jadi, benar juga seperti kata Pieter. Akan tetapi, bukankah seragam celana panjang itu dimaksudkan agar mereka tampil lebih syar’ie, seperti kata seorang teman waktu itu.

“Pak, apa yang sebaiknya dilakukan untuk anak-anak seperti itu, ya?”

“Nah, hayo….siapa yang punya pendapat tentang perlakuan yang tepat untuk anak-anak itu? Silakan kalian tuliskan di papan tulis!”

Tanpa menunggu lama, Malvin maju.

“Di cambuk”, begitu tulisnya.

Yohana juga maju.

“Di skors”,tulis anak itu.

Ivan maju.Cekatan ia menulis,”Di keluarkan dari sekolah!”

Saya biarkan mereka menuliskan pendapat masing-masing. Tiba-tiba…..

“Pak…!”, seru Ervina lantang.

“Ya, Nak, ada apa?”

“Ternyata murid-murid Bapak itu ‘sakti’ juga, ya?”

“Kenapa bisa begitu?”

“Itu, dalam sekejap bisa membuat atau menciptakan tempat baru!”

“Misalnya?”

“di cambuk, itu kan menunjukkan tempat yang namanya cambuk, Pak? Kan, harusnya bentuk di-nya disambung?”

Hahahahaha…….seisi kelas tertawa.

“Betul! Wah, hebat juga ya…….banyak murid sakti di sini!”

Belum selesai saya bicara, anak-anak yang membuat kesalahan dalam menulis imbuhan ‘di-‘ bergegas lari ke depan untuk membetulkan tulisannya. Hahahaha….siang yang riang!

 

 

1,365 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar