4

Aku Tahu, Aku Memang Keliru (+3)

Olivia Herlina Hanggi May 21, 2015

Tulisan ini tidak sengaja saya temukan di dalam buku tulis agenda saya yang lama, dan bacaannya menurut saya, menarik. Saya ingin menghadirkannya kembali agar pembaca ikut merasakan, mengapa begitu penting tulisan ini saya simpan rapi dalam agenda saya. Sebenarnya saya lupa kapan saya menulisnya dan diambil dari buku atau majalah apa, tetapi saya menulis pengarang tulisan ini. Disitu tertera nama M. Bugi dan mohon maaf tidak ada keterangan lainnya tentang sang penulis. Tulisan ini berkisah tentang pengakuan Abu Jahal tentang kenabian Muhammad SAW. Selengkapnya saya mohon ijin menyadur tulisan ini. Berikut tulisannya….
Ini Percakapan antara Abu Jahal dan Abu Dzar Al-Ghiffari. Yang ternyata mereka menjalin persahabatan kala itu.
Abu Jahal : “Kau bawa barang dagangan, hai Sahabatku?”
Abu Ghiffari : “ Seperti yang kau lihat, tidak….!”
Abu Jahal : “Engkau bawa uang?” (semakin bingung dan heran)
Abu Ghiffari : “Wah, juga tidak.”
Abu Jahal : “Ada apa denganmu?, apa yang membuat engkau jauh-jauh ke Mekkah tanpa membawa barang dangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?” yang lain?”

Abu Ghiffari : “Sahabatku Abu Jahal,kali ini kedatanganku bukan utk mengadu untung dalam perdagangan” (sambil tersenyum)
Abu Jahal : “Lantas untuk Apakah?”
Abu Ghiffari : “Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu”
Abu Jahal : “Hah.. Kau ingin bertemu dengan kemenakanku, siapa yang kau maksud?”
Abu Ghiffari : “Muhammad”
Abu Jahal : “Muhammad?”
Abu Ghiffari : “ Ya, kudengar beberapa sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu telah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga punya kemenakan semulia itu, sahabatku.” ( Beliau berkata sambil tersenyum dan merasa heran karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari orang yang ada dihadapannya)

Abu Jahal : (Sambil berkerut) “Sahabatku dengarkanlah aku, jika kau ingin selamat. Jangan kau temui dia, sekali-kali jangan pernah menemui kemenakanku itu”

Abu Ghiffari : “Kenapa kau berkata seperti itu?”
Abu Jahal : “Kau tahu, Muhammad itu amat menarik, ia sangat mempesona. Sekali berjumpa dengannya, aku jamin kau pasti akan benar-benar terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya berisi, mutiara indah dan selalu benar. Perilakunya amat lembut dan sopan membacakan wahyu, semua kalimatnya menyentuh jiwa”.

Abu Ghiffari : “ Aku tidak mengerti, tapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?” (kali ini ganti memandang Abu Jahal dengan lekat)
Abu Jahal : “Jelas, mustahil rasanya jika ia bukan seorang rasul (sambil mengangguk) otaknya teramat pintar bahkan cerdas. Walaupun ia tidak bisa membaca dan menulis. Ia baik kepada semua orang, tua ataupun muda, budi pekerti dan akhlaqnya sangat mulia. Satu lagi yang perlu engkau ketahui ia sangat tabah menghadapi apapun yang terjadi padanya. Ia punya daya tarik yang hebat sekali”.
Abu Ghiffari : “Aku tidak habis mengerti terhadapmu Abu Jahal sahabatku”. Sambil geleng-geleng. “Kau bilang yakin bahwa kemenakanmu itu adalah seorang rasul.”
Abu Jahal :”Yakin betul, aku tidak pernah meragukannya sedikitpun.”
Abu Ghiffari : “Kau percaya bahwa dia benar?”
Abu Jahal : “Lebih dari sekedar percaya”
Abu Ghiffari : “Tapi Kau melarang aku untuk menemuinya.”
Abu Jahal : “Begitulah….” (sambil mengangkat bahunya)
Abu Ghiffari : “Lalu apakah kau mengikuti ajarannya?”
Abu Jahal : “Ulangi sekali lagi pertanyaanmu?” (mukanya mulai memerah)
Abu Ghiffari : “Engkau mengikuti agamanya, menjadi pemelik Islam?”
Abu Jahal : “ Sahabatku, sampai detik ini dan nantinya aku adalah Abu Jahal dan tetap Abu Jahal. Aku bukan orang sinting. Otakku belum miring. Dibayar berapapun, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad”.

Abu Ghiffari : “Loh, bukankah kau yakin Muhammad, itu benar?”
Abu Jahal : “Sahabatku, catat ini … walaupun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku akan tetap melawan Muhammad sampai kapan jua, sampai titik darah penghabisan”.

Abu Ghiffari : “Apa sebab?”
Abu Jahal : “Jika aku pengikut Muhammad maka kedudukan dan wibawaku akan hancur. Mau diletakkan dimanamukaku dihadapan Quraisy?”

Abu Ghiffari : “Pendirianmu keliru, engkau akan kalah kelak oleh kekeliruanmu itu.”
Abu Jahal : “Baik, biar saja aku kalah. Bahkan aku tahu di akhirat kelak bakal dimasukkan kedalam neraka jahim. Tapi aku tidak mau dikalahkan Muhammad didunia, walaupun diakhirat sana aku pasti dikalahkan”.

Dari dialog tersebut hal yang sebenarnya kita jadikan ibroh yang utama adalah pengakuan takjub musuh Muhammad terhadap pribadi dan fisik seorang Rasul utusan Allah SWT tersebut. Kehidupan kita yang sekarang ini merupakan kurun waktu yang jauh dari kehidupan Nabi Muhammad SAW di zamannya. Dengan begitu banyak idola dari tokoh dan selebritis masa kini, maka dapat dipastikan bahwa rasa cinta dan bangga terhadap Rasul Allah SWT itu pasti memudar. Padahal Rasululloh sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, yang terucap hanya Ummati..ummati..ummati… ummat saja yang terpikir didalam benaknya. Dan kita ummatnya sehari-hari, terpikirpun tidak dengan beliau, apalagi untuk mengungkapkan rasa kagum kita akan kepribadian terhadap rasul mulia Muhammad SAW. Seorang Abu Jahal yang namanya menggetarkan kaum Quraisy, ditakuti karena sifatnya yang kejam terhadap para pengikut Rasululloh saja, mampu mengakui kelebihan-kelebihan Muhammad SAW, keponakannya. Bagaimana dia deskripsikan lahiriah seorang utusan Allah SWT dengan bahasa yang kita pahami. Sehingga timbul rasa bangga bahwa Rasul yang kita cintai ternyata begitu mulia, begitu indahnya. Tak pernah kita tergambarkan sebelumnya paras, perilaku, ketabahan beliau di dalam hati kita. Yang hidup jauh dari Zamannya. Itulah tak bosan bosan saya membaca artikel dialog ini, dan saya tulis dalam agenda saya. Sehingga ketika saya selesai membacanya, rasa rindu kepada beliau seakan menderu dan tak padam. Mudah-mudahan tebar dialog singkat ini juga memberi nuansa segar bagi rekonstruksi spiritual iman kita semua ke arah yang lebih baik dan lebih baik lagi. Amiiiin….http://edukasi.kompasiana.com/2015/03/19/aku-tahu-aku-memang-keliru-707536.html

1,579 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar