2

Abraham Dakamoly, SM, “Menjadi Guru Itu Suatu Panggilan Tuhan” (+4)

Blasius Mengkaka May 9, 2015

484750_187372354711832_286061522_n

Foto sebagian para siswa/iku ketika mereka mengerjakan ujian try out di tahun 2013

Di sekolah, tiada hari tanpa suara guru dan tanpa gerakan badan karena memang mengajar memerlukan suara dan gerakan badan. Kalau suara guru berhenti ya bila dia sedang tidur atau menulis. Menulis dan mengajar, yang satunya tanpa suara, yang satunya bersuara dan bergerakan badan. Dari semuanya itu yang berkesan ialah menulis. Sebab hanya dengan menulis, kemanusiaan orang bisa disimak sedikit lebih lama karena pesan tertulisnya bisa disimak lagi beberapa saat kemudian. Memang, kedua aktivitas guru ini memerlukan ruang dan waktu.

Saya perhatikan para siswa/iku, mereka juga memiliki banyak ruang dan waktu karena usia yang masih muda. Merasa kelimpahan waktu membuat mereka berekspresi lebih bebas, bergerak ke mana sejauh keinginan mereka, kadang tak ada yang melarang. Dalam masa-masa muda, segalanya begitu indah, canda, tawa dan keceriaan selalu mewarnai masa muda..

10444712_761518837259879_9051628717922455514_n

 

Kepsek Abraham Dakamoly, SM di ruang Kepsek tahun 2013

 

Abraham Dakamoly, SM ialah salah satu tokoh yang menginspirasiku dalam menjadi guru. Beliaulah yang merestui saya mengajar bahasa Jerman di bulan Juli tahun 2005. Tanpa beliau saya mungkin bukan guru profesional bahasa Jerman seperti saat ini. Saya patut berterima kasih atas bantuannya. Saya teringat perkataan sang Kepala SMA Kristen Atambua-NTT pada awal tahun ajaran baru 2005/2006, ketika saya mulai mengajar bahasa Jerman di SMA itu, di mana saat itu statusku juga ialah guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Atambua.

Pada awal tahun ajaran baru itu, beliau berkata, “Menjadi guru ¬†juga merupakan sebuah panggilan Tuhan. Kita dipilih Tuhan untuk menjadi alatNya untuk mewartakan kebenaran iptek, budi pekerti dan agama“. Lalu saya mengiayakan kebenaran isi perkataan ini.

Sejak tahun 2014, Kepala Sekolah Abraham Dakamoly, SM, sosok Kepsek kelahiran Kabupaten Alor ini telah resmi pensiun lalu tak lama berselang, mungkin karena merasa ada perubahan besar dalam jalan hidupnya, akhirnya beliau jatuh sakit yang hebat. Saat sakit hebat itu beliau dirawat di RSU Atambua, ketika kami semua staff guru-nya diminta Wakasek Simon Fahik, S.Pd untuk menjenguk beliau dalam rawatan dan balutan berbagai alat Medis. Tampaknya beliau menderita kesakitan didampingi sang pendamping setianya yang berasal dari Malaka. Tak heran, Abraham Dakamolly, SM tampak fasih bahasa tetun-Malaka dan mengerti baik budaya Malaka. Meski asli Alor tapi tampaknya beliau sudah menjadi seperti orang Malaka.

Puji Tuhan! Ketika melihat kami tiba, sang mantan Kepsek itu berusaha bangkit dan berusaha untuk duduk pada ranjang sakit RSU Atambua, lalu berusaha untuk berbicara dengan gaya khasnya meskipun hanya dengan bahasa isyarat tapi tampaknya beliau masih seperti dahulu dalam gayanya ketika sebagai Kepsek SMA Kristen Atambua. Luar biasa, kekuatannyapun tampak pulih meski dibalut oleh berbagai alat Medis. Ternyata Tuhan yang diimaninya masih memberikati beliau. Ia mendapatkan kekuatannya kembali. Tak lama kemudian khabarnya beliau sehat kembali.

Dahulu beliau pernah berceritera kepadaku, “Setelah dua belas tahun sebagai Kepsek SMP Kristen Atambua, sayapun diangkat menjadi Kepsek SMA Kristen Atambua sejak tahun 2000”, katanya. Lalu saya menjumlahkan dalam hati, seluruh tahun beliau mengabdi sebagai Kepsek ialah selama 12 tahun ditambah 14 tahun yakni 26 tahun sebagai Kepsek.

“Jalan hidup saya memang menjadi Kepsek”, kata Abraham Dakamoly, SM alumnus Program Sarjana Muda (SM) jurusan Biologi Universitas Nusa Cendana Kupang ini di sela-sela rapat para staff guru yang dipimpinnya kepada saya ketika saya menanyakan tentang pengalamannya atau suka-dukanya menjadi Kepsek. “Lebih banyak suka dari pada duka. Suka karena saya bangga menyaksikan generasi bangsa Indonesia tampak tegak, sehat, ceria dan penuh vitalitas di hadapan saya setiap hari. Juga para guru yang selalu setia”, tandasnya. Keramahtamahannya membuat dia mudah akrab dan dikenal oleh berbagai kalangan di Malaka dan Belu. Baginya, jabatan Kepsek adalah utama satu kewajiban sebagai pengamalan hidupnya dalam aktivitas sebagai anggota Majelis Jemaat Kristen Polikarpus Atambua.

Suatu kali dalam perayaan perpisahan dengan para siswa/i kelas XII pada tahun 2007 di sebuah gereja kristen di Silawan-Belu, saat itu dalam kapasitas sebagai anggota majelis gereja mengkothbahkan tentang Yesus Kristus yang solider dan menyelamatkan manusia. Terdengar suara baritonnya memenuhi gereja yang kecil. Imannya memampukan beliau untuk berkothbah dengan tegas.

Abraham Dakamoly, SM kini menikmati masa-masa pensiun di rumahnya. Tak sia-sia dia menebar benih pendidikan bagi para siswa/i yang pernah merasakan taman pendidikan SMP dan SMA Kristen di bawah bimbingannya. Dua anak puterinya, Frida Dakamoly, S.Pd dan Merry Dakamoly, S.Pd kini mengikuti jejaknya sebagai guru di SMA Kristen Atambua, juga anak-anaknya yang lain akan menyusul tamat kuliah.

Menganologi tentang sabda Tuhan Yesus dalam Injil Lukas 8:4-8, para siswa/i dan taman pendidikan SMP dan SMA Kristen Atambua ibarat kebun atau ladang Tuhan. Kepsek dan para guru merupakan para penabur. Bila para penabur menabur benih di atas tanah subur, maka benih itu akan tumbuh dan menghasilkan hasil berlimpah. Namun bila benih itu jatuh di semak belukar, bebatuan, dll, pasti benih-benih itu akan mati sebelum menghasilkan sesuatu.

Idealnya, dengan berbasis domestik, pendidikan harus bisa membuat iman dan iptek menghasilkan buah-buah berlimpah bagi kebahagiaan hidup kini dan kehidupan yang akan datang.

__________________

1,254 total views, 3 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar