4

6 Atmosfer yang perlu diperhatikan guru dalam proses belajar (+1)

Lusia Gayatri Yosef December 4, 2013

Penulis memiliki pendapat bahwa proses belajar antara guru dan murid melibatkan proses transfer of knowledge (proses pemberian pengetahuan) dan transfer values (proses nilai-nilai hidup). Singkat kata, proses tersebut adalah proses belajar, artinya belajar adalah berubah (A.M, 1986). Berikut keterangan belajar adalah berubah menurut A.M (1986), belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan (transfer knowledge), tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap, pengertian, harga diri, minat, watak, penyesuaian diri (transfer values).
Dalam kesempatan ini terdapat 6 atmosfer yang perlu diperhatikan oleh guru dalam mendidik murid guna mendukung proses perubahan. Atmosfer dalam mendidik murid tersebut meliputi tantangan, kemerdekaan, hormat, kehangatan, kendali, sukses (Purkey, 1979 dalam Elkins, 1979). Seperti yang diungkapkan pada paragraf awal, penulis melakukan konversi dari pendapat Purkey (1979, Elkins, 1979) dalam konteks pembinaan murid. Selain itu, penulis menyertakan beberapa contoh aplikasi dari setiap atmosfer yang mendukung proses belajar.

Pertama, tantangan. Dalam menciptakan atmosfer “tantangan” kepada murid terdapat hal yang perlu diperhatikan mengenai materi guruan. Apakah pembelajaran yang diberikan atau tujuan dari hasil pembelajaran sesuai dengan pengalaman yang telah dimiliki murid. Berikut juga, sesuai dengan kemampuan murid. Sehingga menumbuhkan rasa bebas pada murid untuk mencoba sesuatu. Hal tersebut mendukung atmosfer memberi kebebasan kepada murid.

Kedua, kebebasan kepada murid. Hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan atmosfer ini adalah pertumbuhan dan perkembangan murid sebagai manusia. Perlu diperhatikan bahwa murid juga memiliki kesempatan untuk membuat keputusan terhadap dirinya sendiri. Perlu diperhatikan apabila murid takut mencoba tehnik tertentu, maka guru dan orang tua perlu mengetahui lebih lanjut “ancaman” apakah yang dirasakan murid. Sehingga ia takut mencoba atau memperbaruhi tehnik yang ia miliki. Murid akan merasa bebas berkembang serta belajar ketika atmosfer dalam pengajaran yang diberikan guru memuat atmosfer penuh tantangan namun sedikit “ancaman”. Misalnya dalam hal ini guru membolehkan murid untuk mencoba suatu tehnik kemudian saat murid mengalami kegagalan dalam belajar tehnik yang baru, guru dapat berkata “coba lagi, mungkin berikutnya kamu akan bisa!” bukan dengan perkataan “bagaimana sih?! Kamu ini! Tidak bisa-bisa!?” perkataan negatif tersebut membuat murid merasa terancam secara psikologis. Sehingga ia merasa tidak bebas mencoba, kemudian pola permainan yang ia kuasaipun tidak mengalami kemajuan. Beberapa pertanyaan refleksi yang dapat ditanyakan oleh guru kepada diri sendiri dalam hal menciptakan atmosfer menantang dan kebebasan:
a. Apakah saya memberikan dorongan kepada para murid untuk mencoba sesuatu yang baru serta mengajak para murid untuk bergabung dengan aktivitas-aktivitas baru?
b. Apakah saya mengijinkan para murid saya untuk mengutarakan pendapatnya dalam perencanaan, apakah saya memberi kesempatan kepada para murid untuk membuat aturan yang mereka buat sendiri kemudian mereka ikuti?
c. Apakah saya memberikan kesempatan kepada para murid saya untuk mendiskusikan opini yang telah saya ungkapkan?
d. Apakah saya memeberikan materi dengan cara yang menyenangkan dan menarik?
e. Apakah saya menghindari pertandingan yang melibatkan perilaku kasar dan tidak jujur saat mengajar?
Ketiga, atmosfer saling menghormati. Hal yang perlu diperhatikan oleh guru adalah perasaan berharga dan layak merupakan hal yang sangat penting bagi murid. Dalam konteks pembinaan murid murid adalah murid diperlakukan sebagai individu yang berharga dan murid diberikan hak untuk belajar atau kesempatan untuk menguasai suatu tehnik tertentu.

Keempat, atmosfer yang hangat. Dalam hal ini guru dapat menciptakan suasana saling mendukung, saling menerima. Beberapa pertanyaan refleksi yang dapat diajukan oleh guru kepada diri sendiri:
a. Apakah saya berusaha mempelajari nama setiap murid dengan cepat?
b. Apakah saya memanggil murid saya dengan nama yang ia miliki?
c. Apakah saya mengajarkan tentang kesopanan kepada para murid saya?
d. Apakah saya menyediakan waktu khusus untuk berbicara dair hati ke hati kepada murid saya?
e. Apakah saya membagi perhatian saya kepada setiap murid saya, serta memberi perhatian khusus kepada murid saya yang membutuhkan perhatian ekstra?
f. Apakah saya memberikan perhatian dan menunjukkan komentar “penerimaan” akan hal-hal yang penting untuk para murid?
g. Apakah saya menunjukkan ekspresi senang kepada para murid saya yang tidak hadir kemudian para murid saya kembali?
h. Apakah saya merasa ada sesuatu yang “hilang” atau terlewati saat murid saya tidak lengkap? Apakah saya mengutarakan perasaan ini kepada para murid saya?
Kelima, kendali. Dalam hal ini melibatkan ketrampilan guru dalam mengendalikan “kelas” atau saat memberikan pengarahan kepada murid murid. Hal yang perlu diperhatikan adalah kendali yang diciptakan tidak menyakiti dan memalukan murid. Oleh karenanya, ketrampilan guru dalam hal kepemimpinan menjadi hal yang utama. Ketrampilan kepemimpinan ini meliputi bagaimana guru mengkomunikasikan kepada murid murid mengapa latihan perlu diselesaikan, kekonsistenan dalam aturan yang berlaku, kesopanan, dan jujur. Misalnya saat jam latihan berlangsung, guru dan murid-murid membuat peraturan yang disepakati. Peraturan tersebut adalah bagi murid yang ramai sendiri atau mengganggu temannya maka akan berdiri di “pojok diam” selama 45 menit. Pojok diam adalah tempat murid berdiri di pojok ruangan latihan selama 45 menit. Setelah itu murid diperbolehkan untuk ikut bergabung dalam latihan. Beberapa pertanyaan refleksi yang dapat diajukan oleh guru kepada diri sendiri:
a. Apakah saya mampu mengkomunikasikan kepada murid mengenai masalah kedisiplinan dengan cara yang mudah dimengerti, tidak mempermalukan saya?
b. Apakah saya menghindari untuk memiliki murid-murid yang saya sukai dan tidak saya sukai
c. Apakah saya dan murid saya sudah cukup jelas mengenai hal-hal yang diterima atau tidak di terima dalam latihan?
d. Dalam “batasan” yang saya buat sendiri, apakah saya memberikan kesempatan kepada murid saya untuk aktif?
e. Apakah saya mempersiapkan materi guruan untuk murid saya?
f. Apakah saya memberikan materi guruan tanpa melibatkan hukuman kepada murid?
Keenam, suasana yang mendukung kesuksesan murid. Dalam hal ini penting bagi guru untuk menciptakan suasana latihan yang mengembangkan kesuksesan murid daripada kegagalan. Beberapa pertanyaan refleksi yang dapat ditanyakan guru kepada diri sendiri:
a. Apakah saya memberikan kesempatan kepada para murid saya untuk belajar dari kesalahan?
b. Apakah saya memberikan komentar atau tanggapan positif dalam bentuk tertulis ataupun lisan?
c. Apakah saya memberikan dukungan ekstra dan dorongan kepada para murid saya yang membutuhkan waktu ekstra dalam menguasai suatu materi latihan?
d. Apakah saya memberikan perhatian kepada para murid saya yang berhasil mencetak kesuksesan dalam waktu yang lebih cepat?
e. Apakah saya memberikan kesempatan untuk memuji kesuksesan yang telah dilakukan murid saya?
f. Apakah saya menghargai proses kesuksesan murid saya?
g. Apakah saya memberikan materi latihan kepada para murid saya sesuai dengan kemampuanya?

Referensi:
A.M., Sardiman. (1986). Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Canfield, J., Klimek, P. (1979). Teaching human beings to love themselves. Elkins, D. P (Eds.). Self-concept source book: ideas and activities for building self-esteem. New York: Growth Associates Human Relations Publishers and Consultants.

3,275 total views, 1 views today


Harap login untuk Vote UP postingan ini.

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar