0

15 Adab Guru Menulis (+2)

Kusnandar Putra June 5, 2015

Bismillahirrohmaanirrohiim

“Mengikat ilmu dengan tulisan akan menghindarkan dari kehilangan dan memperpendek waktu pencarian ketika membutuhkan.”
(Khatib Baghdadi, Al-Jami’, II/16, 183-185)

Saudaraku, bersungguh-sungguh dalam menjaga ilmu (berupa tulisan) adalah modal primer bagi seorang muslim. Dengan menulis, akan terpeliharalah sebuah ilmu.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Ikatlah ilmu dengan kitab (yaitu : dengan menulisnya).”
[Hadits shahih dengan keseluruhan jalannya sebagaimana diterangkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026]

Apalagi di saat-saat banyak mutiara yang berada di tempat-tempat tak terduga, mutiara yang berserakan yang kita lihat, dan didengar, yang sangat disayangkan apabila terlewatkan. Karena yakinlah, kemampuan hafalan akan melemah dan kelupaan pasti terjadi.

Karena itulah, Sya’bi rohimahulloh berkata,

“Jika engkau mendengar sesuatu, tulislah meski di dinding.”
(HR. Abu Khaitsamah, Al Ilmu No. 146)

Olehnya, belajar menulis, antusias mencatat, menukil risalah, adalah perkara primer.

Saudaraku, semoga risalah ini “15 Adab Penulis Muslim” yang kami tujukan kepada rekan-rekan, akan memberikan ilmu kepada kita semua:

  1. Memohon Pertolongan kepada Alloh azza wa jalla

    Alloh azza wa jalla berfirman,
    “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongam.”
    (QS. Al-Fatihah: 5)

    Penulis juga makhluk yang lemah, bagaimanapun cerdasnya ia menulis. Karena tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Alloh azza wa jalla. Maka minta tolonglah kepada Alloh azza wa jalla agar Alloh memudahkan urusan.

    2. Niat yang Ikhlas

    Alloh azza wa jalla berfirman,
    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama.”
    (QS. Al-Bayyinah: 5)

    Olehnya itu, jangan sampai menulis agar diklaim “ustadz”, “penulis senior”, “penulis terkenal”, dan tujuan dunia lainnya. Tapi, menulislah dengan niat hanya untuk Alloh azza wa jalla, mendapatkan keridhoan di sisi-Nya.

    3. Memohon Kekokohan kepada Alloh azza wa jalla

    Alloh azza wa jalla berfirman,

    “Dan Robbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…”
    (QS. Al-Mukmin: 60)

    Seorang muslim yang menulis, hendaknya ia tidak menyombongkan dirinya sehingga berharap total pada dirinya. Namun, ia wajib tahu bahwa dirinya lemah, sangat butuh kepada Alloh azza wa jalla.

    Karena itulah, mintalah kekuatan dalam menulis kepada Alloh azza wa jalla. Di saat lagi malas, mintalah pertolongan kepada Alloh azza wa jalla.

    Karena itulah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bias pergi ke masjid, sujud kepada Alloh azza wa jalla dan berdoa,

    “Wahai yang telah mengajari Ibrohim, ajarilah aku. Wahai yang telah memahamkan Sulaiman, pahamkanlah aku.”

    Maka Alloh azza wa jalla kabulkan doa beliau.

    4. Hati yang Jernih

    Syaikh Abdulloh bin Shalfiq adh-Dhafiri berkata,

    “Hati adalah tampungan ilmu. Apabila tampungan tersebut baik, niscaya akan menyimpan dan menjaga apa yang ada di dalamnya, namun apabila tampungan tersebut rusak, niscaya akan merusak dan menelantarkan apa yang ada di dalamnya.”
    (Buku Bekal bagi Penuntut Ilmu, hal 35)

    Karena itulah, jangan sampai ada orang yang menulis berkeyakinan yang rusak, yang menyimpang dari jalan benar.Serta hindarilah penyakit-penyakit hati, baik itu hasad, dengki, iri, dan sombong.

    Dan diantara hal yang harus dihindari adalah banyak tidur dan tergesa-tesa.Maka, jauhilah ini semua jika ingin menulis.

    5. Tekun Menulis

    Rasulullah shollallohu alayhi wasallam memberikan nasihat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

    “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing masing dari keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah, serta jangan merasa lemah…”
    (HR. Muslim no. 2664)

    Maka seorang seorang muslim yang menulis, hendaknya ia antusias, giat, bersemangat, tidak futur, tidak santai, serta menghindarkan dirinya dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

    Saudaraku, diantara sebab-sebab yang membantu seorang muslim yang mau menulis agar giat, tekun, dan bersungguh-sungguh dalam menulis adalah membaca biografi kehidupan para ulama dalam menulis, bagaimana kesabaran mereka dalam menulis.

    as-Sam’ani rohimahulloh menceritakan bahwa Imam al-Baihaqi rohimahulloh pernah tertimpa penyakit di tangannya, sehingga jari-jemarinya dipotong semua, hanya tinggal pergelanggan tangan saja. Sekali pun demikian, beliau tidak berhenti dari menulis, beliau mengambil pena dengan pergelangan tangannya dan meletakkan kertas di tanah seraya memeganginya dengan kakinya, lalu menulis denga tulis yang indah dan jelas. Demikianlah hari-harinya, sehingga setiap hari dia dapat menulis dengan tagannya kurang lebih sepuluh lembar.“Sungguh, ini adalah pemandangan sangat menabjubkan yang pernah saya lihat darinya,” kata as-Sam’ani.
    (at-Tahbir fil Mu’jam Kabir 1/223)

    Abu Fadhl bin Nabhan Al Adiib rahimahullah berkata, “Suatu ketika aku melihat Abul Alaa di dalam salah satu masjid diantara masjid – masjid Baghdad, Ia sedang menulis sambil bediri diatas kedua kakinya, karena lentera – lentara di tempat itu sangat tinggi.”
    (Dzail Thabaqaat Hanabilah 1 / 326)

    Imam ath-Thabari rohimahulloh menulis tiap hari sedikitnya 14 halaman. Rinciaannya begini, jika ath
    Thabari lahir 224 H dan meninggal 310 H, berarti sang Mufassir, hidup selama 86 tahun. Taruhlah, jika sebelum masa akil balignya tidak dihitung yaitu 14 tahun, maka sisa hidupnya di usia produktif adalah 72 tahun. Bila total hari selama 72 tahun dijumlahkan dengan 14 lembar itu, artinya ath-Thabari menulis sebanyak 358.000 lembar.

    Muhammad bin Ahmad bin Qudamah rahimahullah telah menulis ulang banyak sekali kitab dengan tanganya sendiri diantaranya : Al Mughny, Tafsir Al Baghawy, Hilyatul Auliyaa, Al Ibaanah milik Ibnu Batthah, dan banyak juga mushaf Al Qur’an yang ia salin.
    (Dzail Thabaqaat Hanabilah 2 / 53)

    Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah berkata, “Aku pernah berjalan bersama Abdullah bin Mubarak lalu aku ingatkan ia tentang suatu hadits, maka ia berkata, “Jangan pergi sampai aku menulisnya.”
    (Hilyatul Auliyaa, 9/3)

    Imam al-Bukhary rahimahullah, salah seorang mereka berkata: “Aku melihatnya di suatu malam, dia berdiri sekitar 15 sampai 20 kali menyalakan lentera, menulis faedah (saduran ilmu) yang terbetik pada dirinya kemudian mematikan lentera itu dan kembali.” Dalam satu malam 15-20 kali menyalakan lentera demi menulis saduran ilmu.

    Imam Ibnu Aqil rohimahulloh yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun.Tahukah anda berapa jilid kitab tersebut?Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: “Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut.”
    (Tarikh Islam 4/29)

    Imam Ibnu Jarir Ath-Thabary disebutkan padanya sbuah faedah ilmiyah ketika dia menjelang kematiannya, maka dia meminta diberi tinta dan kertas. Ada yang berkata: “Sekarang di saat yang begini wahai imam?” Dia menjawab: “Tidak sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk meninggalkan menyalin ilmu sampai dia mati.”

    Saudaraku, demikianlah beberapa kisah heroik para ulama ketika menulis.

  2. Memiliki Bekal yang Cukup

    Hendaknya seorang ahlusunnah yang hendak menulis, ia mencurahkan segala kemampuannya, ia memiliki persiapan yang komprehensif: baik buku agama yang shohih, kamus-kamus, buku pedoman EYD, dll.

    7. Senantiasa Bermajelis Ilmu

    Berkata Syaikh Abdulloh bin Shalfiq adh-Dhafiri,

    “Ilmu itu diambil dari lisannya para ulama. Seorang penuntut ilmu agar kokoh dalam menuntut ilmu, hendaknya ia membangunnya di atas dasar-dasar yang benar, hendaknya ia bermajelis dengan para ulama, mengambil ilmu langsung dari lisan mereka.”

    Inilah bekal terpenting bagi seorang penulis, bahwa ia senang duduk bermajelis ilmu.
    Maka termasuk ciri buku yang berbobot, tulisan yang baik dibaca adalah manakala penulis buku itu dikenal sebagai orang yang senang bermajelis ilmu, punya banyak guru.

    8. Sabar dalam Menulis

    Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rohimahulloh menulik sebuah hadits, bahwa Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,

    “Sabar itu cahaya.”

    Penulis hendaknya ia bersabar karena ia akan mengorbankan sedikit waktunya untuk menulis/mengetik. Ia tidak mudah jenuh, bosan, terhadap rintangan yang ia hadapi.

    Bahkan jika ia tidak memiliki komputer, maka gunakan media kertas atau yang lainnya. Karena demikianlah cobaan dalam menulis, pasti dibutuhkan kesabaran.

    Bersantai-santai, melamun, bukanlah ciri seorang penulis.Tetapi antusiasme dibarengi kesabaran merupakan paket keberhasilan menulis. Insya Alloh.

    9. Berterima Kasih kepada Ulama yang Menulis Buku

    Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,

    “Tidak bersyukur kepada Alloh azza wa jalalla orang yang tidak mau bersyukur kepada manusia.”
    (HR. Abu Dawud)

    Buku-buku aqidah, fiqih, muamalah, yang ditulis oleh ulama atau ustadz-ustadz, yang kemudian kita baca, menukil darinya, maka hendanya seorang penulis itu berterima kasih kepada mereka, mendoakan mereka, karena dengan sebab tulisan merekalah, pemikiran tidak keliru.

    10. Menjauhi Bacaan yang Tidak Berbobot

    Syaikh Sholeh al-Fauzan hafizhohulloh berkata,

    “Dalam setiap kondisi, waktu seorang muslim sangat berharga, jadi tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak ada manfaatnya.”
    (ad-Durar an-Naadhirah fil-Fataaawa al-Mu’aasirah)

    Maka hendaknya selektif dalam memilih bacaan.Jangan membaca hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi yang tidak menambah ilmu pengetahuan.

  3. Menjauhi Perdebatan

    Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,

    “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali setelah mereka melazimi debat.”
    (HR. Tirmidzi)

    Maka janganlah seorang seorang muslim yang menulis itu ikut dalam arus perdebatan. Karena perdebatan akan membuat hati mengeras, kaku, dan mati.

    Jadilah penulis yang sibuk dengan hal-hal beraroma positif.

    12. Mencari Kepastian dalam Menulis

    Alloh azza wa jalla berfirman,
    “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”
    (QS. An-Nahl: 116)

    Maka janganlah menulis hal-hal yang belum pasti kebenarannya. Telitilah sebelum menulis, adakan ‘tatsabut’, jangan menulis karena dalih “Katanya..katanya..”, tapi cross-ceklah beritanya lebih komprehensif.

    13. Menulis Untuk Mendapat Pahala

    Alloh azza wa jalla berfirman,

    “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Da akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu.”
    (QS. Muhammad: 7)

    Hendaknya seorang muslim yang menulis itu meniatkan untuk menaburkan kebaikan. Ia menulis bukan karena dendam, dll. Tapi ia semata-mata untuk meraih pahala di sisi-Nya.

    14. Menulis dengan Hikmah

    Alloh azza wa jalla berfirman,

    “Alloh menganugrahkan al-Hikmah (pemahaman dalam al-Quran dan Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang dianugrahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.”
    (QS. Al-Baqoroh: 69)

    Seorang penulis hendaknya berhias dengan hikmah. Al-Hikmah bagi penulis adalah menulis dalam bahasa yang sesuai dengan keadaan pembaca.Jangan sampai bahasa politik, sementara pembacanya adalah remaja. Sesuaikanlah!

    15. Menulis Sesuai Al-Quran dan As-Sunnah

    Alloh azza wa jalla berfirman,

    “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.”
    (QS. Shod: 29)

    Maka di sinilah kedudukan ahlusunnah, ia menulis sesuai penuturan Alloh dan Rosul-Nya. Di dalam tulisaya terdapat dalil al Quran, hadits, dan perkataan ulama.Ia tidak menulis dari olahan pemikiran pribadinya sendiri. Apalagi manu menukil dari orang-orang kafir, liberal, dll.

    Insya Alloh, tulisan yang berasal dari al Quran dan as Sunnah akan membawa pengaruh besar bagi pembacanya. Tentunya ke arah lebih baik.

    –Bontote’ne, 5 Romadhon 1435 H

1,704 total views, 1 views today

Tagged with: ,

Harap login untuk Vote UP postingan ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar