• Oleh: Moh Mahfud
    (Peneliti muda di “Education of Borneo” provinsi Kalimantan Selatan asal Madura)
     mahfud
    (Sumber foto: Foto pribadi)
    Di dunia pendidikan, belajar dengan menggunakan media pengajaran yang bervariasi akan sangat embantu anak didik untuk memahami apa yang disampaikan oleh guru. Dalam hal ini guru menjadi menjadi fasilitator daka proses berpikir kreatif anak didik.

    Namun demikian, masih sedikit anak didik yang mampu memanfaatkan beragam media sebagai alat bantu belajar. Karena itu, tidak jarang kegiatan belajar justru berubah menjadi rutinitas yang tidak menyenangkan atau membosankan, dan kemudian anak didik melupakan tujuannya untuk mengambil inti sari pelakaran dari aktivitasnya. Jika hal ini terjadi, maka guru sebagai oendidikan berkewajiban untuk meluruskan tujuan belajar dengan memanfaatkan media pembantu, sehingga akan menumbuhkan kembali motivasi belajar yang sesungguhnya pada anak didik.

    Media Audio Visual atau Pesan Visual

    Motivasi belajar di dalam diri anak tidak selalu muncul dengan sendirinya. Motivasi tersebut bisa dimunculkan, dikembangkan dan juga diperkuat. Makin kuat motivasi anak, maka makin kuat pula usahanya untuk mencapai tujuan belajar. Motivasi itu sendiri sangat dipengaruhi oleh motif yang ada dalam diri individu. Upaya untuk memunculkan motif dalam diri seseorang, berarti mengupayakan adanya motif tertentu yang dapat menggerakkan tingkahlakunya.

    Di dalam dunia pendidikan, seorang guru harus senantiasa barusaha memunculkan motif tertentu di dalam diri anak didiknya. Cara menumbuhkan motif tersebut bisa bermacam-macam. Dewasa ini, presentasi visual di dalam kelas sudah mulai sering dimanfaatkan oleh guru dalam rangkan memunculkan motif belajar di dalam diri anak didik.

    Proses belajar mengajar dengan menggunakan media audio visual sangat berbeda dengan pengajaran konvensional. Pengalaman melihat dan mendengar membuat anak didik akan lebih mudah menginterpretasikan materi atau informasi yang disampaikan oleh guru. Belajar dengan media pengajaran yang bervariasi sangat membantu anak didik dalam memahami penjelasan dari guru. Anak didik sendiri cenderung lebih antusias bila dihadapkan pada realitas yang dipersentasikan secara visual, misalnya melalui potongan-potongan film. Potongan film tersebut bisa dikembangkan dengan menggunakan materi-materi yang dibuat sendiri oleh guru.

    Film Pearl Harbour dalam format VCD misalnya, bisa digunakan sebagai media bantu pengajaran sejarah. Caranya, film tersebut bisa dipotong pada bagian tertentu dengan menggunakan software Video Cutter, untuk kemudian dibuat dalam format Audio Visual Interface (AVI). Dokumen-dokkumen penyerangan sebagai bahan penunjang, termasuk naskah pidato dari presiden Amerika, dapat dicari di media internet. Materi-materi tersebut dapat dirangkum dalam bentuk persentasi dengan menggunakan Microsoft Power Point.

    Disini peran guru adalah sebagai motivator dan fasilitator dalam diskusi kelas. Anak didik dihadapkan pada visualisasi perang dengan fakta dokumen-dokumen pendukung. Visualisasi dan fakta tersebut akan mendorong anak didik untuk berpikir kreatif dan mengolah berbagai macam pertanyaan yang muncul di dalam benaknya. Kreatifitas berpikir inilah yang cendrung hilang dalam proses belajar mengajar sekarang ini. Tidak sedikit guru yang masih beranggapan bahwa ia memiliki hak penuh untuk menjejalkan materi-materi pelajaran kedalam benak anak didiknya.

    Microsoft Power Point, saat ini, menjadi software yang cukup sering digunakan untuk membuat persentasi visual dalam proses belajar mengajar. Software ini relative mudah untuk dipelajari dan sangat user friendly. Selain Microsoft Power Point, software lain yang juga mulai dimanfaatkan untuk mengembangkan media pengajaran adalah Macromedia Authorware 5.1 serta Macromedia Flash 5. Kedua software tersebut mampu memberikan fasilitas yang lebih baik untuk standar program multimedia.

     

    Langkah-langkah Pengerjaan

    Untuk menghadirkan persentasi yang bersifat visual, ada beberapa hal berikut ini yang harus diperhatikan.

    Pertama, penulisan naskah untuk program media pengajaran selalu mendasarkan diri pada ide atau gagasan tertentu. Gagasan tersebut dapat berupa sebuah kalimat atau pernyataan pendek. Ide atau gagasan tidak akan muncul dengan sendirinya. Oleh karena itu, diperlukan maksud atau tujuan tertentu agar ide bisa dimunculkan. Ide tersebut kemudian dikembangkan untuk mendapatkan tujuan yang telah ditentukan tadi.

    Kedua, merumuskan “Tujuan Pembelajaran Program Media”. Pada dasarnya, program media yang akan dibuat bertujuan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang teradu. Dengan demikian, tujuan pembelajaran program media tidak terlepas dari Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) dan Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK), sehingga ada hubungan dan keterpaduan di dalam tujuan pembelajaran tersebut.

    Ketiga, mempelajari sifat dan tingkat kemampuan anak didik. Guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak didiknya akan lebih mudah menuangkan ide dan memilih media apa yang cocok dengan anak didiknya.

    Keempat, menyusun treatment atau perlakuan. Disini treatment merupakan cerita yang berbentuk esai. Treatment yang baik merupakan gambaran yang jelas dari isi program. Treatment akan memberikan gambaran tentang jalannya cerita serta adegan-adegan apa yang akan ditampilkan. Selanjutnya treatment akan digunakan dalam naskah dan storyboard.

    Kelima,penulisan naskah. Tahap selanjutnya adalah mengembangkan treatment menjadi naskah. Pada dasarnya naskah dimaksudkan untuk mengomonikasikan gagasan tentang bentuk program kepada produsen, potografer serta pembuat grafis. Naskah bisa terdiri dari beberapa halaman, bisa pula hanya satu atau dua halaman tergantung pada panjang-pendeknya program yang akan dibuat. Pada umumnya naskah dibagi kedalam dua kolom secara paralel, yaitu kolom audio dan kolom visual.

    [playlist type="video" images="false" ids="48261"]

    Tahap Penggunaan Media Audio

    Dalam prakteknya, belajar dengan menggunakan media audio bisual atau pesan visual meliput tiga tahapan.

    Pertama, belajar dari pesan visual. Belajar dan menerima pesan visual membutuhkan keterampilan tersendiri. Ketika melihat sebuah pesan visual, seseorang tidak dengan sendirinya akan mampu belajar dari pesan tersebut. Oleh karena itu, anak didik harus dibimbing dalam menerima dan menyimak pesan-pesan visual secara tepat. Dalam hal ini, ada dua fase untuk menuntun anak didik melihat dan membaca pesan-pesan visual, yaitu: (1) Fase diferensiasi. Pada fase ini, anak didik akan mengamati, mengindentifikasi dan menganalisis terlebih dahulu unsure-unsur unit pengajaran yang berbentuk pengajaran tersebut. (2) Fase integrasi. Pada fase ini, anak didik menempatkan unsure-unsur visual secara serempak, menghubungkan keseluruhan pesan visual dengan pengalaman-pengalamannya, membuat kesimpulan dari visualisasi tadi dan kemudian menciptakan konseptualisasi baru tentang apa yang mereka pelajari sebelumnya.

    Kedua, menyimak pesan visual. Upaya untuk menyimak pesan visual sangat dipengaruhi oleh perkembangan usia anak didik serta latar belakang budaya yang dianutnya.

    Ketiga, mengamati pesan visual. Guru sebaiknya memperhatikan bagaimana anak didiknya mengamati materi grafis atau media visual lain yang ditampilkan. Penelitian yang pernah dilakukan tentang gerak mata seorang pengamat pada waktu melihat gambar menunjukkan bahwa pengamat tersebut cenderung hanya mengamati seperempat bagian kiri atas dari medan gambar. Oleh karena itu, jika kita perhatikan, beberapa stasiun televise swasta seperti, NET, RCTI, SCTV, KOMPAS TV, METRO, INDOSIAR dan INEWS menempatkan logonya di kiri atas.

    Manfaat Metode Audio Visual

    Penggunaan media audio visual atau pesan visual dalam dunia pendidikan akan memberikan manfaat dan keuntungan bagi guru maupun anak didik. Metode mengajar dengan audio visual atau persentasi visual mulai diterapkan oleh para guru untuk membantu proses pengajaran. Tidak diragukan lagi, metode seperti ini memang membawa banyak manfaat dan keuntungan, seperti dikemukakan di bawah ini.

    Pengajaran menjadi lebih menarik, sehingga motivasi anak didik lebih meningkat dan mampu menghilangkan kejenuhan. Anak didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar, seperti mengamati, mendengar, melakukan demontrasi dan merangsang anak didik untuk selalu mengubungkan satu kejadian dengan kejadian lain yang mendasarinya.

    Mampu melatih taraf berpikir anak didik dari konret ke abstrak, dari berpikir sederhana ke berpikir kompleks. Anak didik mampu menempatkan unsure-unsur visual secara serempak; menghubungkan keserluruhan pesan visual dengan pengalaman-pengalamannya; membuat kesimpulan tentang visualisasi yang dilihatnya; dan kemudian membuat konseptualisasi baru tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.

    Jika metode mengajar dengan audio visual ini dilakukan secara kontinu, maka secara tidak sadar guru telah membentuk pola berpikir analitis dalam diri anak didik. Hal ini, pada gilirannya, akan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas hasil belajar.

    Penutup

    Namun demikian, meskipun metode audio visual memberikan berbagai manfaat dan keuntungan, masih ada hambatan dalam pelaksanaannya. Hal ini berkaitan dengan infrastruktur atau sarana dan prasarana computer di sekolah yang harus memenuhi beberapa pesyaratan. Untuk bisa menerapkan metode audio visual ini minimal harus ada laboratorium kumputer yang mampu mengakses multimedia dan satu Personal Camputer (PC) yang bisa mengakses internet. Guru juga dituntut untuk mampu mengoprasikan komputer dan menjadi sutradara pembuat materi pengajaran, sebab guru yang lebih tahu tentang karakteristik anak didiknya. Selain itu, guru juga harus menyediakan waktu ekstra untuk selalu mencari informasi, membuat materi pengajaran dan sebagainya. Memang, kadang-kadang kondisi sosial ekonomi guru mempengaruhi kualitas kinerja guru tersebut, sementara disisi lain, pemerintah belum sepenuhnya memperhatikan masalah pengambangan pendidikan. Namun, untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang baik, semua kembali kepada komitmen guru sebagai pendidik, dengan segala keterbatasannya yang ada. Pertanyaan mendasar yang harus selalu digaungkan kepada guru adalah mau atau tidak melakukan yang terbaik untuk anak didiknya?

    penggunaan-media

    Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

     

     

  • mungkin ini masukan yang insyaAllah akan membuat guraru.org banyak dikenali masyarakat sebagai media guru yang kredibel. Ada beberapa hal diotak atik lagi,

    – logo guraru yang masih kurang menarik perlu […]

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar