• Jika berkenan tolong bagikan ilmunya tentang blogspot dan worpres. Memang di google menyediakan banyak hal soal keuntungan dan kelebihan keduanya, kemudian soal desain dan lain sebagainya. Namun bapak sebagai […]

  • Bapak Agnas, salam kenal Bapak. Saat saya mengunjungi blognya, decak kagum menjadi satu. Semuanya memudahkan siswa. Saya masih baru di dunia bloger dan saya ingin menjadi guru dan bloger hebat seperti bapak, […]

  • Salam kenal pak Subakri saya orang baru di media ini (GURARU), membaca postingan bapak di atas sepintas pikirku “ah apaan si ini” tetapi setelah saya buka blog pribadi bapak. Wau, sunggu luar biasa, inspiratif dan […]

  • [caption id="attachment_46336" align="aligncenter" width="324"]penyampaian hal-hal teknis yang menyangkut keamanan dan keselamatan siswa sebelum melakukan aktivitas syuting. penyampaian hal-hal teknis yang menyangkut keamanan dan keselamatan siswa sebelum melakukan aktivitas syuting. Sumber foto : Dokumentasi pribadi dari penulis[/caption]

    Membahas teknologi dan kegiatan belajar mengajar di sekolah selalu menarik. Menghadirkan kontradiksi, dan tentunya membangkitkan harapan untuk terus berkarya. Sisi yang lain kita diperhadapkan dengan sumber daya manusia yang berbeda zaman (baca: guru); sedangkan pada sisi yang lain medan perjuangan guru adalah anak – anak zaman digital yang selalu menghadirkan sejuta kontroversi. Ibarat dua kepingan mata uang saling mengikat, namun sulit untuk diperhadapkan; sisi yang satu dengan sisi yang lain. Hal ini menarik untuk dianalisis lebih lanjut. Namun, pada kesempatan ini saya hanya membahas tentang cara menarik minat siswa untuk belajar Bahasa Indonesia dengan pemanfaatan teknologi informasi. Tepatnya ulasan saya mengenai cara efektif mengajari siswa-siswi SMA memahami drama dengan memanfaatkan android.

    Guru bangsa dan sidang pembaca terkasih. Setiap kita yang menjadi guru atau profesi apapun di negeri ini; tentu sebelum itu, kita secara formal belajar Bahasa Indonesia. Syukur ada guru kreatif, namun tidak jarang kita diperhadapkan dengan ceramah sang guru tentang unsur intrinsik, ekstrinsik, gestur, artikulasi, penokohan, latar, dan lain sebagainya. Secara teori ini membosankan. Apa yang saya katakan sepertinya skeptis sekali terhadap guru Bahasa Indonesia, namun sejujurnya itu yang saya rasakan dan saksikan.

    Belum lagi kebijakan kurikulum di sekolah – sekolah tertentu menempatkan pelajaran Bahasa Indonesia di jam terakhir. Jam pertama matematika, kedua fisika, ketiga kimia dan terakhir Bahasa Indonesia untuk jurusan IPA. Jurusan IPS pertama akuntansi, kedua matematika, ketiga sejarah; metode yang digunakan adalah ceramah. Lantas jam terakhir guru Bahasa Indonesia hadir dengan metode yang sama; maka selesailah sudah animo siswa untuk belajar Bahasa Indonesia. Namun guru bangsa, secara khusus guru Bahasa Indonesia di mana saja mengabdi.

    Melalui perkembangan teknologi informasi saat ini kita sangat terbantu. Berikut ini akan saya bagikan pengalaman mengajar Bahasa Indonesia, materi drama dengan memanfaatkan android atau HP dengan fasilitar internet.

    Rekan guru dan pembaca kritis, sekolah tempat saya mengbadi, SMA kanaan Jakarta. Umumnya siswa-siswi memiliki android, dan kebijakan sekolah dengan adanya kurikulum 2013 siswa diperbolehkan membawa HP ke sekolah (sebelumnya dilarang). Fakta yang lain, jika pelajaran Bahasa Indonesia animo siswa cenderung tidak begitu antusias. Hal ini subjektif sekali, apalagi tanpa data, namun setidaknya itulah yang kualami.

    Berbagi inovasi kulakukan, salah satunya adalah memanfaatkan HP dengan fasilitas internet yang dibawah siswa untuk mempelajari drama. Secara teknis inilah yang saya lakukan. Membagi siswa dalam beberapa kelompok dan saya meminta mereka (baca: siswa) untuk menulis teks drama.

    Sampai di sini saya tidak menjelaskan cara membuat teks drama yang benar itu seperti apa, namun saya meminta mereka untuk mencari di internet contoh-contoh teks drama dengan memanfaatkan android yang dibawah siswa. Hal yang sama berlanjut sampai proses perekaman. Saya hanya menempatkan diri sebagai fasilitator dan motivator. Semuanya siswa yang kerjakan. Saya ingin mengajak siswa untuk belajar menemukan sendiri (Discovery Learning).

    Pembuatan drama yang dikemas dengan menggunakan model discovery learning selesai. Tahap berikutnya, saya meminta siswa untuk mempublikasikannya melalui youtube; tentu sebelum melangkah pada tahap ini, ada penyortiran yang saya lakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak berkenan.

    Berikut ini beberapa karya siswa SMA Kanaan Jakarta yang berhasil saya himpun kembali;

    https://www.youtube.com/watch?v=fP0hUhyey9Q,
    https://www.youtube.com/watch?v=LpJEyLoyCmg,
    https://www.youtube.com/watch?v=Krl1i3anU9E,

    Saat semua tahap sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya ada dua hal yang saya minta kepada peserta didik untuk dilakukan.

    Pertama meminta perwakilan kelompok untuk menjelaskan judul drama yang diciptakan, siapa saja yang terlibat, ceritanya seperti apa, hingga pada pesan yang disampaikan dalam drama tersebut. Setelah siswa melakukan semua itu, kemudian saya menjelaskan bahwa judul yang mereka sebutkan dalam drama tersebut; dalam karya sastra dikenal dengan istilah tema. Kemudian saya menjelaskan perbedaan tema dan judul.Hal ini penting karena sejatinya antara tema dan judul berbeda. Terkait hal ini mungkin akan dijelaskan dalam kesempatan lain. Kemudian cerita yang anak-anak ceritakan dalam drama dikenal dengan istilah alur. Tahap ini menjadi “panggung saya” untuk menjelaskan hal-hal terkait drama, secara khusus unsur intrinsik dan ekstrinsik.

    Tahap kedua saya meminta setiap kelompok untuk memberikan ling youtube, dan secara bersama-sama menonton melalui proyektor. Setelah tahap ini dilakukan; kembali saya meminta kelompok lain untuk menanggapi kekurangan dari tampilan drama tersebut. Setelah proses ini selesai maka bagian akhir kembali menjadi panggung saya untuk menjelaskan tentang cara membuat naskah drama yang benar, tata panggung, gestur, ekspresi dan lain sebagainya. Intinya pada bagian kedua saya menjelaskan proses pembuatan drama, hal-hal teknis dalam bermain peran dan mempertegas kembali soal unsur ekstrinsik dalam drama.

    Apa manfaat yang diperoleh dengan menggunakan pembelajaran seperti ini. Setidaknya ada tiga hal. Pertama, siswa tertarik dan tidak jenuh dalam belajar Bahasa Indonesia. Kedua, menimbulkan ingatan yang kuat. Setidaknya itu yang saya rasakan melalui perubahan pada nilai ulangan yang diperoleh siswa. Ketiga anak dilatih untuk membangun kerja sama tim yang baik.

    Jadi apapun kurikulumnya dan berubah sampai berapa kalipun. Keberhasilan pendidikan ada di tangan guru sebagai pioner terdepan. Berpatok pada perangkat mengajar itu baik, namun lebih baik lagi jika berinovasi agar tujuan pelajaran tercapai.

    Semoga bermanfaat.
     

    Catatan :

    Teknik seperti ini tidak cocok untuk sekolah-sekolah di daerah terpencil yang minim sarana dan pra sarana. Terkait hal ini, nantikan arikel saya berikutnya dengan topik yang masih sama, namun fokus ulasan pada sekolah-sekolah di daerah terluar dan terdepan yang minim sarana dan pra sarana.

    Keterangan :

    Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk diikutsertakan dalam lomba menulis guru era baru. http://guraru.org/guru-berbagi/lomba-menulis-guru-era-baru

  • [caption id="attachment_46332" align="aligncenter" width="324"]Gambar Ilustrasi Gambar Ilustrasi[/caption]

    Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional keberadaannya sedikit membuat khawatir siapa saja yang mencintai negeri ini. Eksistensinya di tengah penuturnya sendiri agak bergeser dengan bahasa prokem, seperti, gue, luw, ko, koe, trada dan lain sebagainya. Bukan hanya bahasa prokem tetapi pengaruh bahasa alay versi remajapun cukup besar dalam mempengaruhi gaya bertutur mereka. Kata – kata seperti “alay”, ”kepo”, ”sabi”, ”agut”, dan lain- lain semakin marak digunakan.  Terutama di ”sosial media”. Salah satu kata yang sering digunakan adalah “baper”.

    Baper, merupakan kata yang biasanya diarahkan pada orang yang sedang dalam fase mengunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu hal. sesuai namanya ”bawa perasaan”. Contoh, Adam sedang sedih lalu Ryan menyela ”lagi baper yaa?”. Kata baper seharusnya digunakan seperti itu. Namun karena kekreatifan remaja milenium ini, kata ini sering diplesetkan dan digunakan sebagai “prisai” dan penganti umum kata Maaf.

    Belum lagi pengaruh bahasa Inggris, kecenderungan remaja dalam kebersamaan dan pergaulan mereka; baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata adalah, “oke bro, thanks ya”, GBU bro, singkatan dari god bless you. Di sosial media tidak jarang kita saksikan ulah remaja yang sedang jatuh cinta, kemudian mengekspresikan cintanya dengan kata, I love you.

    Pertanyaan saya sederhana pembaca terkasih, apakah terlalu jelek keberadaan Bahasa Indonesia sehingga remaja sepertinya malu mengungkapkan kata, “saya mencintaimu” untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada seseorang. Ataukah kata Bahasa Inggris I Love you kemungkinan diterima cintanya lebih besar daripada kata saya mencintaimu?. Sepertinya hanya remaja sendiri yang tahu jawabannya.

    Memang benar, bahwa Bahasa Indonesia yang baik dan benar apabila disesuaikan dengan konteks. Misalnya Kaesang Pangarep mendampingi sang ayah presiden Jokowido dalam sidang kabinet; tentu ini situasi resmi dan kapasitas Jokowi bukan sebagai ayah, melainkan presiden maka siapapun dia termasuk anaknya idealnya wajib berbahasa Indonesia yang baik. Namun, jika konteksnya adalah Presiden Jokowidodo dan Kaesang hari sabtu, di rumah pribadinya di Solo maka, tidak tepat jika Kaesang mengatakan kepada Presiden Jokowi, “apakah saya boleh meminjam hp anda?”. Konteksnya tidak benar dan tidak komunikatif tentunya. Benar adalah, “pak boleh ga, Kaesang pinjam hp bapak”. Ini sangatlah kominikatif daripada, “apakah saya boleh meminjam hp anda?”. Semantara anda yang dimaksud adalah ayahnya sendiri dan situasinya di rumah. Itupun hanya ada anggota keluarga, maka konteksnya tidak tepat.

    Jadi bahasa Bahasa Indonesia dikatakan baik dan benar apabila disesuaikan dengan siapa kita berbicara dan dalam situasi apa.

    Hubungannya apa dengan topik pembahasan tentang bahasa prokem, alay, dan Bahasa Inggris?. Tentu ada hubungannya, jika seorang tidak tertib berbahasa maka hal ini menjadi kebiasaan. Jika kebiasaan yang buruk dipeliahara maka akan menjadi tabiat atau karakter yang melekat. Sampai pada taraf ini, maka akibat yang ditimbulkan adalah Bahasa Indonesia kehilangan eksistensi di tempatnya sendiri, Indonesia. Masalah yang ditimbulkan pun karena pemiliknya sendiri yang tidak tertib dalam berbahasa. Dalam konteks ini yang dimaksudkan tertib adalah dengan siapa dia berbicara dan dalam situasi apa.

    Apa yang menyebabkan hal ini terjadi?, yang paling pertama dan utama adalah pengaruh teknologi. Sampai di sini apakah kita harus menyalahkan teknologi?, tentunya tidak pembaca sekalian. Soal ini akan saya bahas pada topik yang berbeda.

    Lantas siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini. Tentunya segenap tumpah darah Indonesia. Presiden dengan kebijakannya melalui menteri Pendidikan, Balai bahasa dan seluruh anak bangsa. Tetapi yang paling utama adalah guru di sekolah dan orang tua di rumah. Soal ini pun akan saya bahas pada tulisan saya berikutnya.

    Pembaca yang terkasih, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa; Bahasa Indonesia adalah dasar dari perjuangan para pahlawan kita. Setelah kita memiliki bahasa persatuan Bahasa Indonesia, sekarang kita harus berjuang lagi para guru bangsa dan pembaca terkasih. Apa yang kita perjuangkan?. Kita perjuangkan adalah mengembalikan eksistensi Bahasa Indonesia pada kedudukannya yang sebenarnya, sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan. Musuh sekaligus teman kita adalah remaja pengguna bahasa alay, bahasa prokem dan teknologi. Mari kita bijak bertindak, sehingga musuh jadi teman dan masalah jadi solusi. Semua ini untuk Indonesia yang lebih baik. Di Tangan guru, terutama guru Bahasa Indonesialah semua ini dititipkan untuk dilaksanakan. ***
    KUTITIPKAN REPUBLIK INI KEPADAMU GURU BANGSA.
    JAGA DAN “RAWAT” AGAR TERUS BERJAYA.
    Tulisan ini pernah dimuat di blog pribadi saya http://martinusruma.blogspot.co.id/2017/04/keberadaan-bahasa-indonesia.html

  • salam bersama guru bangsa dan penggagas kegiatan yang inovatif ini. saya ini bertanya beberapa hal. Pertama jika ikut lomba tulisan dikirim ke mana dan via apa?, Apakah menulis kemudian di shere di sosial media […]

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar