• Mungkin eranya telah berubah 🙂

  • Telepon seluler menjadi sebuah kalkulator ujian?

    “Wah, kami tidak dapat melakukan hal tersebut. Siswa tidak dapat membawa telepon seluler mereka ke sekolah. Walaupun diijinkan, bukan untuk dibawa masuk ke dalam […]

  • If people are good only because they fear punishment, and hope for reward, then we are a sorry lot indeed.  ~ Albert Einstein
    Reward dan Punishment, masihkah relevan dengan pendidikan saat ini?

    Kalau saya m […]

  • Hedy Lim wrote a new post, Zaman Now 1 year ago

    Sudah sejak beberapa saat lalu, pemakaian kata jaman “now” menjadi fenomenal. (Dan seperti biasa, saya agak telat 😉 ). Lalu mudah sekali kita jumpai di banyak tulisan, komentar secara lisan di medsos maupun […]

  • Terimakasih @Pengelola Guraru.
    Acer Chromebooknya telah saya terima hari ini, dan pertama kali saya gunakan untuk menulis di kolom ini sekarang 😀

    Terimakasih pula untuk rekan2 lain.

    Salam…

  • Satu tahun ajaran sudah hampir selesai. Saatnya bagi para guru memberikan penilaian akhir kepada siswa mereka. Bagi siswa, mungkin inilah saat yang dinanti-nantikan apakah kemajuan belajarnya memberikan sebuah […]

  • Sama-sama Pak Nuel ^^

  • Bosan dengan jadwal persiapan ujian yang begitu-begitu saja? Pembahasan lagi, penjelasan lagi, bagi lembar kerja banyak lagi, kasih jawaban saja yang penting beres? Tenang, masih ada banyak metode lain yang bisa kita gunakan untuk mempersiapkan siswa menjelang suatu ujian.

    Di banyak sekolah (mungkin hampir semua), setiap guru memiliki jadwal rencana pembelajaran selama satu semester, dan biasanya menyiapkan satu sampai dua minggu pertemuan (tergantung jam pelajaran juga) untuk mereview semua bahan pelajaran yang akan diujikan kembali kepada siswanya (standardized test by school).

    Salah satu yang saya lakukan adalah memanfaatkan aplikasi google docs dan “add-ons” di dalamnya untuk melakukan kolaborasi antar siswa.

    Kolaborasi dapat didefinisikan sebagai praktik kerja dimana setiap individu saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

    Dalam hal ini, siswa diajak dan diajar untuk memiliki kemampuan dalam membantu dan membuat kerjasama tadi, yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama.

    Adapun kolaborasi yang saya lakukan di kelas kali ini adalah membuat siswa mengingat kembali topik-topik pelajaran yang telah dilaluinya selama dua semester. Setidaknya setelah mereka ingat topiknya apa, akan lebih mudah membuat mereka mengingat isi topik tersebut dan bagaimana menyelesaikan pertanyaan-pertanyaannya. Hal ini dalam rangka siswa harus mempersiapkan diri kembali untuk ujian akhir semester, dengan bentuk ujian masih bersifat “paper based test”.

    Aktivitas yang dilakukan sebagai berikut:
    1. Membuat daftar topik pelajaran selama dua semester. Ketikkan di dalam Google Docs. Lalu bagikan ke semua siswa dan pastikan semua siswa diberikan akses yang sama yaitu bisa melakukan edit atas dokumen tersebut. Hanya edit, jangan akses sebagai admin atau menambah anggota baru.

    2. Setelah siswa mempunyai dokumen yang sama, dimulailah kegiatan ini. Siswa wajib membuat minimal 10 soal sendiri (boleh juga mengambil dari soal-soal dari buku teks atau soal yang mereka sudah pernah kerjakan bersama saya di kelas, boleh dari internet), dan tidak boleh sama satu dengan yang lainnya. Terlebih variasi soal di matematika amatlah beragam.

    3. Setiap soal yang mereka buat atau ambil dari sumber buku teks tadi ataupun dari internet, harus mendapat persetujuan dari saya sebagai gurunya. Persetujuan di sini dalam arti, memastikan soal berbeda antar siswa, bernalar dan benar bisa dicari jawabannya. Soal yang telah disetujui oleh saya, akan saya berikan tanda “ya” atau “oke” pada kolom komentar di dokumen Google Docs nya. Jika ada yang salah, juga saya tandai di mana kesalahannya dan meminta mereka perbaiki dulu. Dan bila perbaikan selesai, saya cukup memberikan klik “marked as resolved”.

    4. Selain tugas membuat soal, mereka wajib pula menjawab soal buatan teman-temannya (tidak boleh menjawab soal sendiri). Dan inipun sama mendapat persetujuan saya sebagai jawaban benar atau kurang tepat.

    5. Kegiatan ini menghabiskan 3 jam pelajaran @60 menit di kelas. Sesuai dengan jadwal yang saya rencanakan. Karena kegiatan ini juga online, saya tidak menutup kesempatan mereka melakukan perbaikan di rumah di waktu jam belajar mereka sendiri. Prosedur persetujuan sama seperti yang dilakukan di kelas.

    Bentuk penilaian atas kegiatan ini adalah tetap individu. Rubrik penilaian (skala 1-5) sebagai berikut:
    1. Kriteria minimal 10 soal, dengan masing-masing soal berbeda topiknya, terpenuhi.
    2. Menjawab soal buatan temannya minimal sejumlah soal yang dibuatnya, terpenuhi.
    3. Tingkat kesulitan / bobot soal yang dimasukkan di dalam dokumen.
    4. Penggunakan g-Math add-ons untuk mempresentasikan persamaan / ekspresi / fungsi matematika di dalam dokumen.

    Lalu, bagaimana dengan g-Math? Berikut langkah-langkah mengenal dan menggunakan add-ons ini dalam Google Docs:

    Di dalam dokumen

    1

    2

    Boleh ditonton video tutorialnya jika diperlukan, lalu install.

    3

    Setelah install g-Math, dapat membuat ekspresi matematika:

    4

    5

    6

    Membuat Grafik:

    7

    8

    Membuat penampilan data statistik:

    9

    10

    Membuat tulisan tangan:

    11

    12

    Ini adalah salah satu contoh dari kegiatan belajar mengajar saya di dalam kelas, terutama menjelang ulangan akhir semester. Tentu saja, masih banyak kreatifitas lain yang dapat kita lakukan untuk membuat para siswa kita menjadi seorang pembelajar aktif.

    Keuntungan lain dari kegiatan ini adalah di akhir kegiatan, saya menerima banyak sekali soal matematika. Sementara bagi siswa, seperti tiba-tiba, mereka memiliki bank soal (dengan lembar jawaban tentu saja), yang tersimpan amat rapi di “cloud” 🙂

    Video berikut direkam saat kegiatan kolaborasi ini berlangsung di kelas.

    Salam,
    Hedy Lim

    – Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru –

  • “Selamat Hari Pendidikan Nasional”

    Apakah anak-anak / siswa kita pernah mengalami hal seperti gambar di bawah ini? Ataukah Bapak/Ibu Guru yang justru sibuk memberikan nama tes apakah yang akan dilalui siswa? *Bahan Perenungan*
    [caption id="attachment_45343" align="alignnone" width="601"]Picture taken from: http://languagetesting.info/humour/fun.php Picture taken from: http://languagetesting.info/humour/fun.php%5B/caption%5D

    _____________________________________________________________________

    Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata “Sekolah” memiliki beberapa arti berikut:

    se·ko·lah n 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan).
    Sebagai bangunan / gedung, harus memiliki ijin mendirikan bangunan, Sebagai tempat memberi pelajaran, harus memiliki ijin operasional sekolah. Sebagai usaha siswa menuntut kepandaian, harus memiliki ijin sertifikat telah terakreditasi.

    Belajar itu gratis, tetapi meraih sebuah catatan atas pengakuan akan hasil belajar di atas selembar kertas, membutuhkan biaya, demikian ungkapan seseorang di media sosial yang menarik perhatian saya.

    Dulu, ungkapan anak harus sekolah untuk menjadi pintar. Sekarang, mungkin tidak sesederhana itu. Karena menjadi pintar banyaklah faktor pendukungnya. Anak itu sendiri, orang tua, lingkungan, dan sekolah. Ada anak yang baru masuk ke suatu SMP / SMA, lalu ikut kompetisi nasional, dan juara 1, lalu sekolah sangat bangga, pasang spanduk kemenangan di beberapa titik, padahal anak tersebut pintar karena sudah pintar. Sekolah bangga? iya, (kurang lebih) sebagai tempat tumpangan si anak mengambil ijasah formalnya saja.

    Saya pribadi masih menyebut dan mengakui bahwa menempuh pendidikan usia sekolah itu penting. Bukan karena saya berprofesi sebagai guru, namun ada hal-hal yang memang baik bagi anak-anak untuk mengenal dunianya bersama teman sebaya melalui lembaga sekolah. Namun kadang menjadi miris jika memang sekolah hanya penting untuk sebuah pengakuan saja. Pengakuan telah berhasil melewati suatu level usia tertentu atau di jenjang tertentu. Belajar tak mengenal usia (teorinya), tetapi nuansa di sini, usia 12 tahun hendaknya selesai SD, usia 15 tahun hendaknya selesai SMP, usia 18 tahun hendaknya selesai SMA, usia 23 tahun hendaknya selesai S1, dan 26 tahun hendaknya selesai S2. Di luar itu, wah pasti anak ini ada masalah.

    ______________________________________________________________________

    Senangkah orang tua jika anaknya dapat bersekolah? Rasanya sih iya. Sebagian orang tua (termasuk saya *hiks), lebih merasa aman dan senang anaknya berada di sekolah daripada liburan berkepanjangan dan “berisik” di rumah 😉 . Beruntungnya saya memiliki anak yang suka ke sekolah. “Yaahh libur (merengut)”, “mau tanding bola dulu ma di sekolah”, “asik ada peltam (pelajaran tambahan) jadi lamaan di sekolah”…. Sambil menambah kerjaan saya untuk berpikir, ini beneran suka atau “suka” 😉

    Tapi tahukah para orang tua dan pihak yang berkompeten di sekolah (guru, kepala sekolah maupun pemimpin yayasan sekolah) bahwa si anak dengan mudah mengatakan “sudahlah, di sekolah yang penting bertemu teman, daripada di rumah “mager” (malas gerak), tadi gurunya menjelaskan apa juga saya tidak mengerti, nanti tanya guru les saja lah”. (Baru-baru ini, ada anak yang curcol demikian #aduuhh).

    Guru les lagi….. Memang sekarang sudah ada alih fungsi sekolah yang sebagai tempat belajar tadi kepada sekolah yang beneran hanya menjadi lembaga formal, tempat berkumpul teman sebaya, tempat berteman (siswa dengan siswa, guru dengan guru, siswa dengan guru, menambah jumlah teman di facebook dan social media lain). Karena sudah ada banyak “sekolah” lain yang mampu menyelenggarakan pendidikan akademis, kecuali mengeluarkan ijasah kelulusan suatu jenjang pendidikan secara formal.

    Dari beragam sosial media pula saya menemukan lembaga bimbingan belajar yang menawarkan jasanya, yang selalu disertai dengan iming-iming bahwa “anda bisa”. Menjadi motivator memang sudah menjadi era “kekinian”.

    Siswa memang sering dijadikan komoditi untuk bisnis berbalut pendidikan ini. Gaya promosi bimbingan les kian marak dan semakin menunjukkan kalau eksistensi mereka memang sangat dibutuhkan siswa dan orang tua. Menunjukkan foto-foto kertas ulangan siswa yang belajar di tempatnya dan memperoleh nilai ulangan di atas 90 di sekolah siswa masing-masing. “Kalian ingin seperti ….(nama siswa yang dipajang memegang kertas ulangannya yang di sekolah memperoleh nilai di atas 90)…., silahkan bergabung bersama kami….”

    Luar biasa bukan? Beberapa foto siswa yang dipajang kebetulan saya kenal, dan saya memang tahu persis, bahwa anak-anak tersebut kebetulan memiliki kecerdasan akademis yang tinggi. Jadi tidaklah heran mereka memang menambah ilmu di les dan mendapatkan hasil yang baik pula.

    Bagaimana dengan anak yang memang benar-benar harus mendapat perhatian lebih, dibimbing lebih? Di sekolah “seperti ditolak” oleh gurunya dan diminta belajar sendiri di rumah. Pergi ke tempat les, modelnya seperti sekolah kedua, isinya lembar kerja melulu dan lagi-lagi gagal.

    Jika bimbingan belajar sudah bisa menyelenggarakan les dengan jumlah siswa mencapai 10 siswa per kelas dan memfasilitasi dengan lembar kerja yang dibuat dengan khusus untuk siswa sekolah tertentu, ruangan seperti ruang kelas, meja kursi seperti di sekolah formal, sebenarnya tinggal menunggu adanya UU resmi yang mengatur belajar di rumah bisa menjalani ujian kesetaraan sesuai standar resmi pemerintah yaitu mengikuti Ujian Nasional.

    Kalau sampai bisa begitu, sekolah musti waspada dan mulai berpikir, apa benar sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar lagi? Saat ini memang masih banyak opini yang menyatakan sekolah bukan hanya tempat belajar akademis tetapi bersosialisasi, mendidik secara karakter, mencerdaskan anak bangsa secara umum karena sekolah menjangkau masyarakat luas, dan seterusnya. Jadi posisi sekolah masih aman sekarang karena semua “sekolah” (baca bimbel) itu kan hanya akademis. Namun, siapa yang tau akan jadi seperti apa dalam beberapa tahun ke depan.

    ___________________________________________________________________

    Kadang sedih dan senyum sendiri melihat foto-foto kertas ulangan yang bertaburan nilai 90 dan 100, dari prestasi siswa-siswa yang berkemampuan tersebut. Tetapi adakah yang mau menyentuh siswa yang sangat biasa-biasa saja kemampuan matematikanya di sekolah, umpamanya?

    Ada siswa yang sudah dua semester selalu mendapat nilai rata-rata ulangan 50%, menutup semester ketiganya dengan 61% atau bahkan 67%, bukankah sebuah kemajuan? Selalu terlihat masih gagal karena sudah terlalu banyak orang mematok dengan KKM. KKM 70, 65 adalah gagal. Usahanya meningkat 15% belum terlalu dipandang.

    Atau adakah bimbingan belajar yang mau “mempromosikan” siswa yang frustasi tidak bisa menjawab soal dengan benar malah menjawab seadanya? Apakah kitapun sama menganggap sebagai “meme” dan tertawa?

    ___________________________________________________________________

    Artikel ini saya akhiri dengan cerita berikut (sebagai perenungan lagi), saya kemas dalam bentuk menyerupai penulisan di twitter, karena jika tidak, akan terlalu panjang menceritakan betapa masih ada (bahkan mungkin banyak) kejadian seperti di bawah ini:

    Kemaren melihat lembar kerja matematika seorang siswa kelas 6. Nilai 50%, dan ditulis “malas berpikir”.

    Konon ini bukan yang pertama, beberapa kali ditulis “malas”, “tidak belajar”, “asal-asal”. Kata si anak, bukan hanya tulisan namun verbal.

    Verbal? Jadi ingat guru yang suka melakukan ini. Rupanya mental begitu laris juga.

    Anak ini bukan tergolong cerdas matematika, menghitung 12×45 saja masih suka grogi. Tetapi nilai rapor yang dicapai bisa 74 karena kkm sekolah 70 #tiranikkm

    Si anak stress dan semakin apatis. Si orang tua bingung, ingin mengajukan komplen sejak bbrp bulan lalu.

    Tetapi ditunda terus karena ketakutan berulang kejadian yang sama, sehabis didatangi sekolahnya, si anak jadi korban ditekan guru.

    Sebagai guru saya ditanya, mengapa ada guru begitu? Saya tidak bisa menjawab, karena ikut tidak habis pikir, kok ya ada guru begitu. *ada lah Hed*

    Guru yang bersangkutan mungkin tergolong guru “jeniyes” yang ingin “produk” jadi. Bukan urusan saya dong kamu gak bisa, les saja sana.

    Pokoknya “under pressure” ke anak-anak supaya di akhir hari nilai UN nya bagus, tuh kan untung juga saya “kejam”, buktinya nilai bagus kan? #hiks

    Mungkin beliyaw memiliki bisnis les besar-besaran. Memiliki jiwa sosial memakmurkan sesama guru les.

    Guru matematika sepertinya senang sekali berpikir kalau matematika itu mudah dan menyenangkan. #halah

    Ortu ini bercerita juga ada teman anaknya yang gara-gara sering dapat nilai jelek dan dikatai si guru dan ditulisi macam-macam di lembar kerjanya…

    …maka anak tersebut sering dipukuli ibunya di rumah dan datang ke sekolah dengan tangan biru-biru 🙁

    Guru “jeniyes” ketemu ortu kurang paham dirinya ortu, klop. Bahkan menyadari siswanya mendapat masalah di rumahpun si guru tidak mampu.

    Salam
    Hedy Lim
    http://hedy.me

  • Makasih pak Okky 🙂

  • Nah, akhirnya admin muncul.

    Setelah sekian lama, kita tidak dapat akses untuk upload image. Sekarang “at least” bisa lagi 😀

  • Schoology, “The only learning management system (LMS) that connects all the people, content, and systems that fuel education.”

    Membuka laman pertama Schoology, kita akan melihat tulisan seperti di atas, sebagai satu-satunya LMS yang menghubungkan antar orang, konten dan sistem dari pendidikan.

    Apakah benar sebagai yang satu-satunya? Saya tidak tahu persis, karena belum pernah membandingkan dengan LMS lain selain dengan MOODLE (CMS – Course Management System).

    Semenjak hampir dua tahun terakhir, saya menggunakan Schoology sebagai LMS saya (mengikuti yang menjadi kebijakan sekolah tempat saya bernaung) dengan versi “basic” artinya tak ada biaya apapun yang dibebankan kepada pengguna. Versi lain dari Schoology adalah “enterprise” (versi ada biaya).

    Schoology memiliki semua peralatan yang diperlukan sekolah terutama guru untuk membuat konten menarik, mendisain pembelajaran dan menilai pemahaman siswa.

    Untuk menggunakan Schoology, tidak perlu ada pelatihan khusus, karena pada saat Schoology dirancang, mereka sudah merancangnya dalam pemikiran sebagai pengguna. Schoology menggabungkan yang terbaik dari “interface” yang modern sehingga mudah untuk belajar dan mengakses informasi yang relevan pada perangkat apapun (desktop, tablet ataupun smartphone).

    Untuk menerapkan “blended learning” ataupun mencoba “flipped classroom”, menggunakan fasilitas LMS dalam hal ini “platform” Schoology, memungkinkan para guru untuk memiliki kesempatan lebih banyak mendisain dan berkreasi pada konten, menjangkau siswa per individu, memperluas definisi “classroom” dari “di dalam kelas sesungguhnya” menjadi “di manapun siswa berada” dengan mengkombinasikan beragam teknologi yang ada.

    Mengusung salah satu motto yaitu “connect all the people” tadi, maka dengan mudah, kita sebagai pendidik bergabung dengan para pendidik dari seluruh dunia, dengan menjadi anggota group yang disediakan di dalamnya, ikut dalam diskusi, saling menyapa dan juga mengikuti beberapa “event” yang diselenggarakan oleh Schoology.

    Salah satu yang saya ikuti adalah Menulis artikel, berbagi pengalamanan menggunakan Schoology dengan tema “Transform What’s Possible” pada bulan Mei 2015 lalu. Hampir setahun berlalu, dan saya tetap menggunakan platform ini sebagai salah satu pendukung media pembelajaran saya bersama para siswa.

    Minggu lalu saya dikejutkan dengan datangnya email dari Creative Manager Schoology untuk menjawab beberapa pertanyaan, melengkapi tulisan saya yang telah dikirim bulan Mei lalu itu, disertai ucapan selamat atas terpilihnya saya (rupanya) sebagai salah satu finalis “2015 Schoology’s Educator of The Year”. Wow, rasanya senang sekali. Berbagi pengalaman saya diakui secara global oleh Schoology dan dimuat dalam Blog mereka dalam “Educator Spotlight” minggu ini. Membaca pengalaman rekan-rekan pendidik dari belahan dunia lain dalam komunitas Schoology di Educator Spotlight, membawa persepsi saya pada banyak hal menjadi semakin luas dan dalam.

    Kegembiraan saya, ingin saya bagikan kepada rekan-rekan pendidik di seluruh tanah air, sebagai sebuah pengalaman saling berbagi informasi (yang mungkin) kecil yang kita lakukan ternyata menarik perhatian sebagian orang lain dan memberikan apresiasi kepada kita.

    Jika berkenan, berikut link Schoology Blog yang memuat artikel saya minggu ini.

    Selamat berkarya 🙂

    Salam,
    Hedy Lim
    http://hedy.me

  • Sama-sama pak Okky 🙂
    Salam,
    Hedy

  • Sebuah artikel lama, Des 2013, yang saya kemas ulang untuk sekedar refleksi diri saja. (Pernah posting di blog pribadi dan Kompasiana).

    Kriteria Ketuntasan Minimal atau KKM di dunia pendidikan Indonesia. Siapa […]

  • Kamis – Minggu, 10 – 13 Desember 2015 lalu, saya berkesempatan bertemu dengan 40 guru-guru hebat dari berbagai daerah di Indonesia. Memang masih terbanyak dari Pulau Jawa, tetapi, tetap ada dari Sumatera (Batam) […]

  • Wah, halo pak @Botaksakti 🙂

  • Rupanya waktu website Guraru upgrade di Feb 2013, file di media library yang diupload di bawah periode itu, tidak terbawa ya? 🙂
    Artikel ini harusnya ada video flash “menentukan luas lingkaran”.
    Yahhh artinya […]

  • TechDays 2015 yang diselenggarakan oleh Microsoft Indonesia ini rupanya berlangsung lumayan meriah selama beberapa hari. Tentu saja bagian yang paling menjadi sorotan saya adalah Microsoft dalam bidang pendidikan. Dan untuk itu, Microsoft mengadakan seminar singkat tentang peran teknologi Microsoft dalam pendidikan umumnya di Indonesia.

    Saya berhasil “diterima” pendaftarannya setelah beberapa hari menunggu notifikasi karena “Due to the popularity of this event…..”. Jadi, jika saya berhasil datang ke acara yang populer ini berarti wow dong ya? 😉

    Acara Seminar tanggal 8 Oktober 2015 itu pun dimulai cukup tepat waktu oleh para pembicara yang merupakan rekan-rekan dari Microsoft Indonesia khusus department edukasi nya. Visi mereka adalah mengembangkan pendidikan di Indonesia berbasis teknologi di era abad 21 ini.

    Seminar disampaikan dalam bahasa Indonesia, sementara di ruangan Raffles 1 di Balai Kartini ada peserta berbahasa asing. Agak kurang sinkron jadinya.

    Pembicara pertama, bapak Benny Kusuma, Education Lead, Microsoft Indonesia, memberikan pandangannya tentang pengaruh (positif tentunya) teknologi dalam dunia pembelajaran saat ini. Kadang sekolah ingin memanfaatkan teknologi tetapi pola pikir sekolah sendiri yang bisa menghambat perkembangannya, seperti contoh, sekolah yang kuatir bila siswanya memiliki akses internet di sekolah maka siswa mengakses situs-situs tertentu yang dianggap sekolah berbahaya. Atau sekolah merasa kurangnya budget untuk urusan bandwith yang akan dipakai.

    Berturut-turut pembicara berikutnya, bapak Tony Seno, bapak Arthur Renaldy dan Mr. Lalit Mohan membahas sedikit tentang masa depan teknologi dalam dunia pendidikan, tentang apa itu ruang kelas modern dan ruang kelas virtual.

    Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan merubah cara belajar, mengajar dan bekerja. Maka dari itulah Microsoft menyediakan dan menawarkan Office 365 for Education yang mampu menjembatani proses hadir di abad 21 ini.

    Beberapa layanan Office 365 for education tersebut antara lain Email, Kalender, Kontak, Perlindungan dari spam, 50 GB mailbox per orang, Audio/Video Konperensi, Office Web Apps, Media Kolaborasi, OneDrive 1TB, App Katalog, e-Discovery, dan lain-lain.

    Dengan membangun kompetensi yang dibutuhkan dunia saat ini, siswa diharapkan dapat berpikir kritis, mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan temannya, serta berkreativitas / melakukan inovasi.

    Increase Collaboration

    Meningkatkan kolaborasi antara peserta didik dan pendidik dengan memberikan kemudahan akses berbagi file, dokumen dan informasi.

    Asynchronous Learning

    Mendukung kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas dengan akses yang mudah, kapan saja dan di mana saja.

    1 to 1 Tutoring

    Menyediakan akses layanan komunikasi untuk berkonsultasi dengan pendidik. Selain itu dapat digunakan juga untuk layanan konsultasi dengan orang tua murid.

    Virtual Classroom

    Mendukung kelas pembelajaran jarak jauh yang dapat diakses oleh pendidik dan peserta didik dari tempat mereka masing-masing.

    E-Learning

    Mendukung peningkatan pengalaman mengajar baik di dalam maupun di luar kelas dengan akses yang mudah, kapan saja dan di mana saja.

    Online Lab

    Mendukung peningkatan pengalaman belajar dan berkolaborasi antar sesama siswa.

    Seminar berakhir pukul 12:00, dan sharing mereka semakin meyakinkan saya bahwa memang masa depan itu telah hadir di sini, bahkan dari beberapa tahun yang lalu. Hanya kadang orang tak sadar, sudah seberapa besar pengaruhnya bagi kehidupan kita.

    The future is already here — it’s just not very evenly distributed. (William Gibson).

    Sharing yang cukup menarik, mengingat masih banyak sekolah dan para pelaku pendidikan saat ini yang sebenarnya masih menutup diri dengan teknologi.

    Dengan berbekal alasan bahwa teknologi bukan satu-satunya alat untuk pembelajaran, dengan asumsi sekolah adalah tempat berinteraksi fisik bukan hanya terpaku pada gadget, maka seringkali saya jumpai pelaku pendidikan yang tidak mendukung pemakaian teknologi tadi di sekolah. “Ujian kita ujung-ujungnya pakai kertas dan tulis, anak tidak boleh dibiasakan enak tanpa menulis sehari-harinya”.

    Sebaliknya, tidak sedikit pula yang merasa sudah berteknologi dengan menggunakan presentation (berbasis komputer) di kelas, meletakkan material / catatan di platform e-learning tertentu, tetapi pola pikir diakses kapanpun di manapun tidak berlaku karena nanti keenakan siswanya bisa dibantu kerjanya kalau di rumah.

    Semoga perkembangan terus menghasilkan perubahan yang lebih baik, serta pola pikir yang semakin terbuka akan perubahan tersebut.

    Salam
    Hedy Lim
    http://hedy.me

  • Pelajaran Matematika dibantu alat hitung? Pertanyaan seperti itu sering menjadi pro dan kontra. Banyak yang beranggapan bahwa matematika adalah sebuah pelajaran berhitung, dan di dalam belajar itu masak dibantu […]

  • “Learning become relevant when we connect it with reality”
    ~ Robert John Meehan ~

    Kemarin, saya dibuat cukup tertawa geli dengan komentar seorang siswi kelas 3 SMP yang sedang belajar matematika menjelang […]

  • Load More

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar