• Seperti keyakinan saya, anak ini bisa berubah. Lebih baik. Dulu dia sangat pemarah. Apa saja yang tidak sreg di hatinya akan menjadi sumber kemarahan. Melempar barang. Memukul kepala. Menguji kekuatan tembok […]

  • Salam balik.. semoga bermanfaat

  • Salam balik… saya asli Banjarnegara

  • Gegap gempita hasil Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) memang telah berlalu. Alhamdulillah, atas pertolongan Allah lewat kerja keras dan ikhlas guru, dukungan orangtua, dan usaha tidak kenal lelah anak […]

  • Alhamdulillah tahun ini santri kami bertambah. Dari berbagai kelas. Dari beragam tempat. Dan dari latar belakang yang berbeda, tentunya.

    Bertambahnya santri adalah peluang bagi kami untuk menambah aliran […]

  • Beberapa waktu yang lalu bapak dan ibu mengadakan tabligh akbar di kampung. Sebagai ungkapan syukur atas segala karunia. Kami mengundang salah satu kiai besar dari kabupaten tetangga.

    Target kami, orang […]

  • Ilmu itu diikat lewat tulisan. Jika saat ini lupa, semoga tulisan bisa mengingatkannya. Maka hari ini saya ingin mengabadikan ilmu yang beberapa tahun lalu saya dapat dari guru yang tulus dan bijak. Kata beliau kunci kesuksesan seorang guru bukanlah terletak pada kecerdasan pada materi yang diajar, maupun kepiawaiannya menerangkan. Kita tidak menyangkal kedua hal itu bagian penting, tapi ternyata ada yang lebih mendasar, keresahan guru pada masa depan murid-muridnya. Bukan hanya masa depan di dunia, tapi juga akhiratnya.

    Keresahan ini yang kemudian membawanya pada perenungan bagaimana memberikan pendidikan terbaik, bukan hanya mengajar yang dibatasi waktu. Keresahan ini pula yang membuatnya menyungkurkan kening di sepertiga malam terakhir dalam sujud panjangnya. Jika ada di antara muridnya yang sudah dididik dengan baik, sudah ada pendekatan personal, tapi belum membuahkan perubahan akhlak bersebab kerasnya hati, inilah saatnya minta tolong pada sang pemilik hati itu sendiri.

    Tahun-tahun terakhir ini kita menghadapi murid yang super. Hampir seluruh teman menjadi korban, pelajaran tidak dipedulikan, rasa hormat pada guru dipendam, ratusan nasihat berlalu begitu saja. Dalam rapat kita sering menyinggung bagaimana solusi terbaik. Bermacam pendapat mengemuka. Kita sadar hatinya keras, tapi ada peluang baginya berubah. Saya menjadi saksi beberapa kali dia berkunjung ke pondok, mengaji tanpa ada yang nyuruh. Ini menunjukkan ada celah di hatinya untuk dimasuki secercah kelembutan.

    Kalau nasihat sudah tidak mempan, hukuman tidak berdaya, mungkin ini cara Allah mengingatkan untuk lebih banyak menyebut namanya dalam do’a panjang di siang dan malam. Nah, pertanyaannya sudah berapa kali nama siswa tersebut terselip di antara permintaan-permintaan kita? Sudahkan ada do’a tulus untuknya agar kelembutan itu masuk? Tentu saja tidak hanya dia saja, tapi juga murid yang lain.

    Betapa besar pula keresahan kita pada keistiqomahan murid yang saat ini terlihat rajin dan cerdas. Sudahkah kita memohon pada sang pemilik hati untuk menjaga dan mengokohkan agar tidak limbung? Maka saya bersyukur di Buku Mutaba’ah Guru terselip poin ‘mendo’akan sekolah‘. Baik mendo’akan lembaganya pun anak didiknya. Sudahkah itu kita lakukan?

  • Salah satu kunci dalam memperoleh pengetahuan adalah dengan membaca, karena dengannya pemahaman dan wawasan kita akan bertambah, kemampuan dan pola berfikir lebih mendalam dan terarah, serta bisa memahami situasi dengan bijak. Selain itu, dengan membaca akan membuat kemampuan menulis dan berbicara kita semakin terasah. Bagi guru, kita akan mampu memberi penjelasan yang luas dan mendalam kepada anak didik sehingga tidak bosan dengan penjelasan yang monoton dan sudah sering didengar. Apalagi permasalahan yang dialami guru ketika berhadapan dengan anak didik, orangtua, sesama guru, yayasan, maupun dengan lembaga pemerintahan sangat kompleks. Oleh karenanya guru butuh pemikiran yang jernih dan bisa menganalisa serta memecahkan permasalahan yang ada. Lewat membaca buku akan memudahkan guru untuk berfikir bijak dan jernih serta bisa menentukan langkah yang akan diambil. Kita bisa belajar dari pengalaman para guru yang sudah banyak ditulis dalam buku maupun artikel, tentunya dengan membaca kisah terkait.
    Data UNESCO tahun 2011 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat minim, dari seribu orang penduduk hanya satu yang punya minat baca tinggi. Ini tentu sangat memprihatinkan. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat membuat keinginan membaca buku belum membaik. Amati saja di sekitar kita, apa yang lebih menarik bagi mereka, buku-buku berbobot atau gadget? Kebanyakan akan lebih senang up date status yang justru sering tidak penting di media sosial daripada menikmati buku. Padahal dengan membaca buku kita akan tahu banyak hal karena salah satu sifat buku adalah selalu up to date. Meski usianya sudah puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun tapi masih relevan untuk dijadikan bacaan hari ini.
    Dari buku-buku yang telah dibaca, kita akan mendapat banyak informasi yang masuk ke dalam otak lalu melahirkan keinginan untuk mengungkapkan. Bentuk ungkapan ada dua, yaitu secara lisan dan tulisan. Ungkapan yang keluar pun akan berbeda antara yang banyak membaca dengan yang kurang bahan bacaan. Anak didik yang terbiasa melahap buku-buku bemutu akan lebih mampu mengutarakan banyak hal, mendetail, dan runtut kepada orang lain. Sementara mereka yang kurang bahan bacaan, wawasannya sempit dan tidak bisa mengurai banyak hal kepada orang lain. Struktur kalimat yang dipakai pun tidak seruntut mereka yang terbiasa bergelut dengan bahan bacaan.
    Mulai dari Sekolah
    Maka tugas guru bukan sekadar memenuhi pengetahuan anak didik dengan ceramah. Anak didik yang hanya diceramahi akan bosan dan cenderung pasif mencari informasi baru lewat membaca. Anak didik perlu dipancing agar minat bacanya tumbuh. Ada banyak hal yang bisa dilakukan guru, diantaranya adalah:
    Pertama, memberi tugas yang menuntut mereka membaca. Misalnya ketika menugaskan untuk menjelaskan sejarah kemerdekaan Indonesia, jangan sampai mereka hanya diminta menyebutkan apa saja pertempuran yang terjadi, siapa pemimpin pertempuran itu, kapan, dimana. Pertanyaan itu hanya akan membuat anak didik menghafal tanggal dan pemimpin yang menghiasi sejarah. Akan lebih menantang dan meningkatkan pemahaman ketika kita minta mereka menjelaskan lebih luas dengan uraian yang lengkap. Anak didik bisa ditugasi mencari tahu mengapa pertempuran itu terjadi, apa yang menyebabkan kekalahan dan kemenangan baik di pihak Indonesia maupun para penjajah, dan tidak lupa kita beri tahu mereka buku-buku penunjang yang bisa dijadikan referensi. Kalau perlu, kita pun bisa minta anak didik untuk memberi komentar terhadap peristiwa terkait. Jika tugas itu berupa laporan tertulis, sarankan mereka untuk menulis tangan disertai daftar buku referensi yang telah dibaca. Kelihatannya sepele, tapi dengan menulis tangan ada dua tahap belajar yang dilalui anak didik, yaitu membaca dan menulis. Berbeda jika diketik, mereka bisa saja copy paste dari internet atau materi yang telah ada tanpa membacanya terlebih dahulu. Bukankah masih sering kita dapati anak didik yang tidak mengedit materi yang diambil dari internet.
    Kedua, menumbuhkan dalam diri anak kecintaan kepada perpustakaan. Guru harus memutar otak agar buku di perpustakaan lebih menarik bagi mereka dibanding makanan enak yang disajikan di restoran mahal, tempat main yang seru atau pakaian yang selalu berganti mode. Sekolah mempunyai tanggungjawab untuk menumbuhkan minat membaca. Sekolah bisa mendesain perpustakaan yang menarik minat baca anak didik. Sudah saatnya perpustakaan sekolah tidak hanya berisi buku-buku paket dan pelajaran, tapi juga menyediakan buku-buku pengetahuan umum yang mampu menarik anak didik untuk betah berlama-lama di dalamnya. Kita bisa menyediakan meja, kursi dan atau tempat lesehan yang nyaman untuk membaca. Bisa juga dengan mendekatkan perpustakaan dengan taman sehingga anak bisa membacanya di bawah pohon yang rindang sambil menikmati udara yang berhembus pelan. Selain itu, kita bisa mengusahakan adanya perpustakaan mini di setiap kelas agar anak didik mudah mengakses buku-buku yang dibutuhkan, di luar perpustakaan besar sebagai perpustakaan utama. Jika selama ini study banding identik ke tempat rekreasi, sesekali kita perlu mengajak anak didik study banding ke perpustakaan. Kita bisa mencari data perpustakaan mana yang menjadi percontohan. Diantara perpustakaan sekolah yang bisa dijadikan contoh adalah perpustakaan SDN IV Bubutan Surabaya yang sudah dikenal memiliki perpustakaan yang baik, bahkan sudah sering menjadi tempat study banding banyak sekolah dari luar Pulau Jawa.
    Ketiga, mengadakan lomba kepenulisan. Bentuknya bisa membuat mading, bercerita atau mengarang. Ini dilakukan sebagai upaya lain yang bisa menguatkan keinginan anak didik pada budaya literasi. Kita bisa memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih tema. Sesuai fitrah, manusia itu suka dengan cerita, apa lagi anak-anak. Ketika anak-anak diberi kebebasan untuk bercerita atau mengarang, imajinasi dan kekuatan kata-kata mereka akan berkembang. Ttidak perlu dibatasi berapa halaman yang akan ditulis karena itu sama dengan membatasi imajinasi mereka. Biarkan saja mereka menuangkan ide-ide cemerlangnya dalam lembar putih. Pun dengan mading. Untuk membuat mading yang bagus mau tidak mau mereka harus membaca sebagai bahan referensi.
    Keempat, contoh langsung dari guru. Sebanyak apapun usaha kita untuk memantik minat baca anak didik tidak akan efektif ketika guru tidak memberi contoh langsung. Mereka akan lebih mudah melakukan sesuatu karena apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Ketika membaca guru bisa memilih tempat yang bisa dilihat banyak anak didik. Tujuannya tentu bukan untuk pamer tapi semata memberi pesan kepada mereka bahwa membaca itu penting.
    Semoga peran aktif sekolah dalam menumbuh kembangkan minat baca anak didik akan melahirkan generasi yang cerdas sehingga indek perkembangan manusia Indonesia bisa bersaing dengan negara kain. Semoga.
    Artikel ini pernah dimuat di Harian Joglosemar

  • Salah satu kunci dalam memperoleh pengetahuan adalah dengan membaca, karena dengannya pemahaman dan wawasan kita akan bertambah, kemampuan dan pola berfikir lebih mendalam dan terarah, serta bisa memahami situasi dengan bijak. Selain itu, dengan membaca akan membuat kemampuan menulis dan berbicara kita semakin terasah. Bagi guru, kita akan mampu memberi penjelasan yang luas dan mendalam kepada anak didik sehingga tidak bosan dengan penjelasan yang monoton dan sudah sering didengar. Apalagi permasalahan yang dialami guru ketika berhadapan dengan anak didik, orangtua, sesama guru, yayasan, maupun dengan lembaga pemerintahan sangat kompleks. Oleh karenanya guru butuh pemikiran yang jernih dan bisa menganalisa serta memecahkan permasalahan yang ada. Lewat membaca buku akan memudahkan guru untuk berfikir bijak dan jernih serta bisa menentukan langkah yang akan diambil. Kita bisa belajar dari pengalaman para guru yang sudah banyak ditulis dalam buku maupun artikel, tentunya dengan membaca kisah terkait.

    Data UNESCO tahun 2011 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat minim, dari seribu orang penduduk hanya satu yang punya minat baca tinggi. Ini tentu sangat memprihatinkan. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat membuat keinginan membaca buku belum membaik. Amati saja di sekitar kita, apa yang lebih menarik bagi mereka, buku-buku berbobot atau gadget? Kebanyakan akan lebih senang up date status yang justru sering tidak penting di media sosial daripada menikmati buku. Padahal dengan membaca buku kita akan tahu banyak hal karena salah satu sifat buku adalah selalu up to date. Meski usianya sudah puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun tapi masih relevan untuk dijadikan bacaan hari ini.

    Dari buku-buku yang telah dibaca, kita akan mendapat banyak informasi yang masuk ke dalam otak lalu melahirkan keinginan untuk mengungkapkan. Bentuk ungkapan ada dua, yaitu secara lisan dan tulisan. Ungkapan yang keluar pun akan berbeda antara yang banyak membaca dengan yang kurang bahan bacaan. Anak didik yang terbiasa melahap buku-buku bemutu akan lebih mampu mengutarakan banyak hal, mendetail, dan runtut kepada orang lain. Sementara mereka yang kurang bahan bacaan, wawasannya sempit dan tidak bisa mengurai banyak hal kepada orang lain. Struktur kalimat yang dipakai pun tidak seruntut mereka yang terbiasa bergelut dengan bahan bacaan.

    Mulai dari Sekolah

    Maka tugas guru bukan sekadar memenuhi pengetahuan anak didik dengan ceramah. Anak didik yang hanya diceramahi akan bosan dan cenderung pasif mencari informasi baru lewat membaca. Anak didik perlu dipancing agar minat bacanya tumbuh. Ada banyak hal yang bisa dilakukan guru, diantaranya adalah:

    Pertama, memberi tugas yang menuntut mereka membaca. Misalnya ketika menugaskan untuk menjelaskan sejarah kemerdekaan Indonesia, jangan sampai mereka hanya diminta menyebutkan apa saja pertempuran yang terjadi, siapa pemimpin pertempuran itu, kapan, dimana. Pertanyaan itu hanya akan membuat anak didik menghafal tanggal dan pemimpin yang menghiasi sejarah. Akan lebih menantang dan meningkatkan pemahaman ketika kita minta mereka menjelaskan lebih luas dengan uraian yang lengkap. Anak didik bisa ditugasi mencari tahu mengapa pertempuran itu terjadi, apa yang menyebabkan kekalahan dan kemenangan baik di pihak Indonesia maupun para penjajah, dan tidak lupa kita beri tahu mereka buku-buku penunjang yang bisa dijadikan referensi. Kalau perlu, kita pun bisa minta anak didik untuk memberi komentar terhadap peristiwa terkait. Jika tugas itu berupa laporan tertulis, sarankan mereka untuk menulis tangan disertai daftar buku referensi yang telah dibaca. Kelihatannya sepele, tapi dengan menulis tangan ada dua tahap belajar yang dilalui anak didik, yaitu membaca dan menulis. Berbeda jika diketik, mereka bisa saja copy paste dari internet atau materi yang telah ada tanpa membacanya terlebih dahulu. Bukankah masih sering kita dapati anak didik yang tidak mengedit materi yang diambil dari internet.

    Kedua, menumbuhkan dalam diri anak kecintaan kepada perpustakaan. Guru harus memutar otak agar buku di perpustakaan lebih menarik bagi mereka dibanding makanan enak yang disajikan di restoran mahal, tempat main yang seru atau pakaian yang selalu berganti mode. Sekolah mempunyai tanggungjawab untuk menumbuhkan minat membaca. Sekolah bisa mendesain perpustakaan yang menarik minat baca anak didik. Sudah saatnya perpustakaan sekolah tidak hanya berisi buku-buku paket dan pelajaran, tapi juga menyediakan buku-buku pengetahuan umum yang mampu menarik anak didik untuk betah berlama-lama di dalamnya. Kita bisa menyediakan meja, kursi dan atau tempat lesehan yang nyaman untuk membaca. Bisa juga dengan mendekatkan perpustakaan dengan taman sehingga anak bisa membacanya di bawah pohon yang rindang sambil menikmati udara yang berhembus pelan. Selain itu, kita bisa mengusahakan adanya perpustakaan mini di setiap kelas agar anak didik mudah mengakses buku-buku yang dibutuhkan, di luar perpustakaan besar sebagai perpustakaan utama. Jika selama ini study banding identik ke tempat rekreasi, sesekali kita perlu mengajak anak didik study banding ke perpustakaan. Kita bisa mencari data perpustakaan mana yang menjadi percontohan. Diantara perpustakaan sekolah yang bisa dijadikan contoh adalah perpustakaan SDN IV Bubutan Surabaya yang sudah dikenal memiliki perpustakaan yang baik, bahkan sudah sering menjadi tempat study banding banyak sekolah dari luar Pulau Jawa.

    Ketiga, mengadakan lomba kepenulisan. Bentuknya bisa membuat mading, bercerita atau mengarang. Ini dilakukan sebagai upaya lain yang bisa menguatkan keinginan anak didik pada budaya literasi. Kita bisa memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih tema. Sesuai fitrah, manusia itu suka dengan cerita, apa lagi anak-anak. Ketika anak-anak diberi kebebasan untuk bercerita atau mengarang, imajinasi dan kekuatan kata-kata mereka akan berkembang. Ttidak perlu dibatasi berapa halaman yang akan ditulis karena itu sama dengan membatasi imajinasi mereka. Biarkan saja mereka menuangkan ide-ide cemerlangnya dalam lembar putih. Pun dengan mading. Untuk membuat mading yang bagus mau tidak mau mereka harus membaca sebagai bahan referensi.

    Keempat, contoh langsung dari guru. Sebanyak apapun usaha kita untuk memantik minat baca anak didik tidak akan efektif ketika guru tidak memberi contoh langsung. Mereka akan lebih mudah melakukan sesuatu karena apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Ketika membaca guru bisa memilih tempat yang bisa dilihat banyak anak didik. Tujuannya tentu bukan untuk pamer tapi semata memberi pesan kepada mereka bahwa membaca itu penting.
    Semoga peran aktif sekolah dalam menumbuh kembangkan minat baca anak didik akan melahirkan generasi yang cerdas sehingga indek perkembangan manusia Indonesia bisa bersaing dengan negara kain. Semoga.

  • Dunia guru yang selalu bersentuhan dengan banyak murid dari berbagai latar belakang keluarga dan daerah membuatnya harus selalu bijak dalam berkata dan bersikap. Perbedaan sikap dan cara pengungkapan kata murid […]

  • Sabtu, 25 April 2015 dunia dikejutkan dengan terjadinya gempa bumi di Nepal. Gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter ini meluluhlantahkan pemukiman dan gedung-gedung serta ribuan orang menjadi korban. Ini menjadi peringatan bagi kita untuk selalu waspada menghadapi gempa yang bisa datang kapan saja. Apa lagi sejumlah ahli geologi memprediksi akan ada gempa yang terjadi setelah di Nepal, diantaranya di Padang. Peristiwa sebelumnya juga pernah terjadi di Indonesia. Kita tentu masih ingat peristiwa tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 dan gempa Jogjakarta pada 27 Mei 2006 yang memakan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang tidak sedikit.

    Indonesia merupakan negara yang terletak di jalur pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Indo Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Asia Pasifik. Hal ini mengakibatkan posisi Indonesia menjadi begitu rawan terhadap gempa. Peristiwa demi peristiwa gempa bumi yang banyak terjadi bukanlah hal yang asing bagi kita. Gempa bumi adalah suatu peristiwa pelepasan energi gelombang seismic yang terjadi secara tiba-tiba. Pelepasan energi ini diakibatkan karena adanya deformasi lempeng tektonik yang terjadi pada kerak bumi (Hartuti, 2009: 12-13).

    Gempa yang terjadi selalu diiringi dengan berbagai kerusakan fasilitas umum, harta benda, bahkan nyawa sekaligus. Selain itu, gempa juga dapat membawa trauma yang mendalam bagi siapa saja yang mengalaminya. Korban paling rentan ketika menghadapi gempa adalah orang miskin, orang tua, wanita, dan anak-anak. Gempa bumi memang sulit diprediksi kapan akan terjadi, yang bisa kita lakukan adalah dengan mengetahui indikasi sebelum kejadian terjadi. Indikasi ini dapat diketahui melalui sistem peringatan dini “early warning sistem”. Melalui indikasi ini, paling tidak kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan mengetahui indikasinya pula kita akan bijak menentukan bagaimana cara menghadapinya.

    Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam hal ini harus lebih aktif. Upaya pemerintah dalam menanggulangi korban bencana gempa bumi dapat dilakukan melalui tanggap darurat, mitigasi bencana, dan rekonstruksi, baik rekonstruksi bangunan maupun rekonstruksi pkisis bagi korban bencana gempa bumi. Namun permasalahan gempa bumi tidak hanya masalah pemerintah saja, tapi juga masalah semua individu. Maka pemahaman tentang gempa bumi mutlak diperlukan bagi siapa saja agar korban dapat diminimalisasi. Selama ini kesiapan masyarakat terhadap bencana gempa bumi sangat minim. Hal ini bisa dilihat dari minimnya pemahaman masyarakat tentang bencana gempa bumi, sedikitnya pelatihan tentang mitigasi bencana gempa bumi, sarana dan prasarana yang belum memadai serta kurikulum kebencanaan yang belum banyak terintegrasi di sekolah.

    Salah satu lembaga yang diharapkan dapat memberi sumbangsih besar terhadap mitigasi bencana gempa bumi adalah lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah. Melalui sekolah, diharapkan pemahaman tentang gempa dan bagaimana menghadapinya, baik itu sebelum, saat, atau pun setelah terjadi dapat tersebar luas di masyarakat. Mitigasi, menurut Noor (2006: 150) pada hakikatnya adalah mengurangi risiko bencana geologi terhadap harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi. Sedangkan bencana, menurut UU No.24 tahun 2007 adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban. Suatu ancaman baru dapat disebut bencana jika menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

    Penerapan

    Sekolah merupakan lembaga yang strategis untuk menjadi wadah peningkatan pemahaman tentang mitigasi bencana gempa bumi. Oleh karena itu sekolah harus berperan aktif dalam upaya menanggulangi bencana gempa bumi ini. Beberapa cara yang bisa dilakukan di lingkungan sekolah adalah:

    Pertama, memasukkan pendidikan bencana gempa bumi dalam pelajaran sekolah. Misalnya dalam materi bentuk muka bumi pada pelajaran IPS, guru bisa menambah informasi kepada anak didik dengan mengidentifikasi daerah mana saja yang rawan gempa. Aceh, Jogjakarta, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur adalah diantara wilayah yang sering terjadi gempa vulkanik atau gempa runtuhan. Sebab dari gempa bumi vulkanik adalah persentuhan magma dengan dinding-dinding gunung api dan tekanan gas pada peledakan hebat. Sebab lain yang mengakibatkan gempa bumi vulkanik ialah perpindahan mendadak dari magma di dalam dapur magma (Katili, 1963: 253).

    Kedua, melakukan pelatihan tanggap bencana. Pelatihan ini jarang didengar apalagi diterapkan di sekolah padahal memiliki peran penting. Jika para petugas kebakaran sering melakukan simulasi penanganan kebakaran dan polisi pun melakukan simulasi menangani demonstran, sudah saatnya sekolah melakukan pelatihan menghadapi bencana. Hal ini penting dilakukan agar warga sekolah terbiasa menghadapi bencana yang sewaktu-waktu terjadi. Sekolah bisa menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memberi pelatihan kepada warga sekolah. Bentuk pelatihan ini tidak sebatas bagaimana menyelamatkan diri saat gempa terjadi dan bagaimana rekonstruksi setelahnya tapi juga bisa ditambah dengan pelatihan membaca tanda-tanda akan terjadinya gempa. Diantara tanda itu adalah; (a) memperhatikan hewan-hewan. Insting hewan tajam, jika akan ada gempa mereka memperlihatkan perilaku aneh, gelisah atau tiba-tiba menghilang. (b) air tanah tiba-tiba surut tidak seperti biasanya. (c) mengecek medan elektromagnetis, misalnya dengan mengecek suara televisi. Jika ada suara kurang jelas atau brebet itu artinya ada tanda-tanda gempa bumi. (d) memperhatikan langit. Ini adalah cara yang relatif mudah dibanding lainnya. Jika di langit ada awan seperti angin tornado atau pohon itu menandakan akan ada gempa bumi.

    Ketiga, Membuat jalur evakuasi. Jalur ini semacam denah yang menunjukkan jalan mana yang harus dituju ketika bencana terjadi dan dilengkapi tempat yang aman untuk berkumpul. Pembuatan jalur ini perlu diikuti penyuluhan bagi seluruh warga sekolah agar mereka bisa menyelamatkan diri atau keluar secara aman, tidak berebut, dan tidak panik saat menggunakan tangga darurat. Karena dari jumlah korban gempa bumi, tidak sedikit dari mereka yang meninggal bukan karena tertimpa runtuhan bangunan tapi karena panik saat menyelamatkan diri sehingga terinjak-injak. Jalur ini bisa dipasang pada kelas dan tempat-tempat yang strategis agar semua warga sekolah bisa melihatnya.

    Dengan adanya peran aktif sekolah dalam pendidikan mitigasi gempa bumi diharapkan wawasan kegempaan akan bertambah sehingga korban bencana bisa diminimalisasi. Semoga.

    Artikel ini pernah di muat di harian Joglosemar.

  • Sabtu, 25 April 2015 dunia dikejutkan dengan terjadinya gempa bumi di Nepal. Gempa bumi berkekuatan 7,9 skala richter ini meluluhlantahkan pemukiman dan gedung-gedung serta ribuan orang menjadi korban. Ini menjadi […]

  • Setuju banget… Dengan dibuat buku bisa menjadi referensi para guru lain yang mungkin mengalami permasalahan yang sama namun belum punya solusi.

  • Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengajak salah satu murid jalan-jalan sore. Berhubung tidak ada agenda lain di hari itu, kami pun cukup lama menghabiskan waktu mengitari Kota Solo yang memang tidak terlalu luas. Sempat ke kampung batik Kauman, patung Slamet Riyadi dan kawasan Gelora Manahan. Sepanjang perjalanan kami cukup asyik berbincang apa saja. Cukup banyak pertanyaan yang keluar dari Manto, nama murid itu, seputar Kota Bengawan ini. Maklum dia bukan asli Solo tapi dari Bumi Palapa, Temanggung. Meski saya pun bukan asli orang Solo tapi beberapa tahun tinggal di sana cukup membuatku paham seluk beluk Kota Budaya ini.

     

    Tidak terasa hujan mengiringi putaran roda motor kami. Tidak terlalu deras memang, tapi cukup membuat kami menggigil. Hingga kami sampai di perempatan lampu merah Kota Barat. Di sana hanya ada rintik-rintik hujan yang masih setia menyapa bumi. Ketika lampu merah menyala, pemandangan kami tertuju pada sesosok gadis kecil berusia sekitar sembilan tahun. Memakai payung biru lusuh, tangan kanannya tidak luput membawa koran lokal terbitan terkini. Hamparan mobil yang berjajar menunggu pergantian lampu didatangi satu per satu. Niatnya tentu tidak lain kecuali menjajakan koran yang mungkin sudah tidak banyak yang butuh. Maklum hari itu sore sudah menjelang.

     

    “Kasihan anak itu ya Pak. Masih kecil sudah bekerja, hujan lagi” Suara pembonceng membuyarkan pemandangan saya. Sembari tersenyum, saya hanya bertanya, “Lalu harusnya bagaimana?” “Ya sekolah” Jawabnya singkat. Selanjutnya saya mencoba menggali apa yang dirasakan jika berada di posisinya. Cukup banyak yang disampaikan.

     

    Saya memang tidak tahu apakah gadis penjual koran tadi masih sekolah atau tidak. Tidak pula mengetahui apakah orangtuanya masih ada atau tidak. Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini. Ya, meski Manto adalah salah satu murid yatim kami, tapi dia bisa merasakan bahwa ada yang kurang beruntung dibanding dirinya. Ibunya memang telah lama tiada dan beberapa tahun belakangan dia hanya bersama adik dan ayahnya. Namun kesempatan sekolah gratis di salah satu yayasan di Solo yang fokus pada pembinaan anak yatim membuatnya merasa bersyukur.

     

    Ibu memang telah tiada, tapi kesempatan hanya fokus sekolah membuatnya tidak fokus pada apa yang tidak dimilikinya. Dia menyadari tidak perlu bekerja di usianya yang sekarang. Yang perlu dilakukan hanyalah belajar dan belajar. Soal biaya, uang saku dan lainnya sudah ada yang menanggung. Ini yang membuatnya tersentuh ketika melihat orang lain mengalami hal sebaliknya.

     

    Guru memang perlu mengajarkan anak makna syukur. Makna yang tidak sekedar kognitif karena tidak akan berkesan. Sesekali kita perlu mengajak murid untuk melihat langsung penderitaan orang yang kurang beruntung. Dari situ akan timbul rasa syujur dan empatinya hingga tidak sering mengeluh dengan kondisinya. Juga agar mereka lebih bersemangat atas nikmat lebih yang tidak dirasakan oleh orang lain. Jika ini tertanam dalam diri anak, anak akan mudah berbagi. Tidak hanya saat dirinya punya kelebihan, bahkan ketika mereka juga sama-sama membutuhkan. Semoga.

     

    “Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

    IMG_1472

     

  • ThumbnailMenjadi seorang guru bukan berarti hanya murid yang belajar dari kita. Guru dan murid itu semacam sombiosis mutualisme, saling menguntungkan. Keduanya bisa saling belajar satu dengan yang lain. Guru bisa belajar […]

  • Dunia anak-anak adalah semesta yang sangat luas. Dunia mereka jauh lebih besar melebihi ukuran tubuhnya. Dunia yang sering menjebak para guru dan orangtua pada kemarahan tidak berdasar.

     

    Sering para guru […]

  • ThumbnailSemua adalah Pendidik
    Masa-masa kelas bawah, kelas 1-3, adalah masa dimana para siswa lebih banyak mencontoh apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Maka tidak salah ketika mereka lebih suka aktivitas fisik […]

  • Namanya Wawan Nugroho, salah satu murid asal Magelang. Dia adalah murid pindahan kelas empat yang masuk di pertengahan tahun ajaran sehingga ada beberapa materi yang tertinggal. Tidak hanya itu, perilakunya pun sering membuat para guru deg-degan dan mengelus dada. Bagaimana tidak, sering kami mendapati dia buang air kecil tidak di kamar mandi. Lalu dimana? Depan kelas di lantai dua. Dada kami lebih miris ketika tidak jarang mendapatinya memasukkan air kencingnya ke dalam plastik dan melempar dari lantai dua. Beruntung setiap dia membuang tidak ada temannya yang jadi sasaran. Entahlah, dia mungkin melakukannya karena iseng, merasa kurang diperhatikan guru atau ada tekanan dari teman-temannya karena statusnya sebagai murid pindahan.
    Perilakunya ini menjadi perbincangan hangat di kalangan guru. Sebagai guru mengusulkan adanya hukuman yang tegas agar Wawan tidak mengulangi lagi. Sebagaian yang lain menginginkan pendekatan personal agar ada kedekatan dan bisa menggali lebih dalam apa permasalahannya. Bahkan yang lebih ekstrim membawa raport dari sekolah sebelumnya dan menunjukkan nilai-nilainya yang hampir semua merah. Sang guru ingin guru yang lain realistis bahwa Wawan memang sudah diatur dan tidak akan bisa berprestasi. Sulit baginya untuk berubah, demikian kata sang guru dengan nada geram.
    Ya, diakui atau tidak perilaku Wawan memang sudah melewati batas. Ada-ada saja yang membuat kami geleng-geleng kepala. Saya yang saat itu berstatus wali kelasnya terus mencari cara agar bisa mendalami kepribadian Wawan. Bekal pengalaman dari kasus murid-murid sebelumnya dan bacaan buku-buku pendidikan dan parenting menjadi bekal saya menghadapinya. Terutama untuk buku-buku parenting, saya kemudian banyak membeli dan melahapnya. Saya perlu banyak belajar hubungan antara anak dan orantua. Ya, Saya beranggapan pendekatan dengan Wawan tak ubahnya pendekatan anak dan orangtua. Hingga akhirnya tibalah kejadian itu, Wawan sakit.
    Sudah hampir tiga hari ini dia izin. Tipes yang sudah dialami beberapa tahun terakhir ini kambuh lagi. Sebagai gurunya, saya pun menyempatkan diri ke asramanya yang tidak jauh dari sekolah. Sebagai catatan, Wawan adalah salah satu murid yang ikut program boarding school. Kamar yang cukup luas, ada enam buah ranjang di dalamnya. Ranjang-ranjang yang lain adalah punya teman sekamarnya. Aroma bunga mawar yang berasal dari lantai kamar tercium menusuk hidung menandakan belum lama di pel petugas asrama. Di atas kasur bersprei coklat dia merebahkan diri. Di sampingnya ada beberapa makanan khas orang sakit; bubur yang baru berkurang beberapa sendok, teh hangat, air putih, dan beberapa obat. Wajahnya pucat dan sesekali mulutnya terlihat sedikit mengaduh menahan nyeri.
    Saya mendekat. Ada senyum tersimpul dari bibirnya. Tidak lupa dia mencium tangan saya. Ya, meski perilakunya sering dikeluhkan tapi sejatinya dalam beberapa hal Wawan bisa menjaga adab. Ada kesan kaku saat saya mengelus rambutnya, mungkin karena sudah beberapa hari ini tidak mandi dan pakai shampo. Sambutannya yang hangat membuatku lebih percaya diri mengajak berbincang-bincang. Topiknya memang kemana-mana tapi bagiku yang penting ada kedekatan lebih dahulu. Hingga akhirnya saya mulai menggali tentang keluarganya. Cukup panjang dia bercerita seolah tidak ada ruang untuk menyela.
    Kata Wawan, alasan dia dipindahkan dari Magelang ke Solo adalah masalah biaya. Kedua orangtuanya telah meninggal dua tahun yang lalu. Lebih membuat mulut ini bisu adalah ceritanya tentang jarak kematian ibu dan bapaknya yang hanya seminggu. Ayahnya meninggal karena sakit berlanjut. Ketiadaan biaya membuat ayahnya tidak mendapat perawatan maksimal dari dokter dan memilih pada pengobatan tradisiolal. Namun apa boleh buat, ayahnya tidak bertahan lama dengan penyakit menahunnya itu. Ada air mata yang berusaha saya tahan agar tidak membasahi lantai.
    Belum hilang kesedihan ditinggal ayah tercintanya, seminggu kemudian ibunya menyusul sang ayah. Dengan penyebab yang sama, sakit berkelanjutan. Lengkap sudah kesedihannya. Di usianya yang baru delapan tahun dia sudah menjadi yatim piatu. Selanjutnya dia hidup dengan kakaknya yang belum punya perkerjaan mapan. Karena desakan ekonomi dan tidak ingin membebani kakaknya, akhirnya dia memutuskan berhenti sekolah. Menjaga adik keponakan menjadi rutinitas menggantikan aktivitas membalik buku pelajaran. Hampir satu tahun dia menjalani rutinitas itu.
    Merasa rindu dengan suasana sekolah, tahun ajaran baru dia kembali merasakan bangku sekolah. Alhamdulillah, ada beberapa tetangga yang membantu biaya sekolah meski tidak seberapa. Hari-harinya kembali berwarna. Harapan merajut asa telah terpenuhi lagi. Namun perputaran nasib memang tidak ada yang tahu. Dua tahun setelah kembali bersekolah, permasalahan klise kembali melanda. Kondisi keuangan kakaknya yang memang bekerja serabutan bergejolak. Untuk memenuhi kebutuhan harian dia dan keluarganya saja agak kerepotan, apalagi memberi uang saku Wawan. Tidak ada pilihan lagi bagi Wawan kecuali berhenti sekolah untuk kali kedua. Ini semacam ironi di tengah gencarnya program pemerintah mensukseskan wajib belajar sembilan tahun, bahkan untuk tahun-tahun belakangan ini menjadi dua belas tahun.
    Suara Wawan semakin kecil. Ada riak-riak di tengah ceritanya. Sesekali dia mengusap pipinya yang basah air mata. Bantal coklat yang senada warna kasur pun terlihat basah. Dia menghela nafas dan diam beberapa saat. Saya menyodorkan air teh yang segera disambutnya. Suasana hening. Saya semakin tidak kuat menahan tangisnya. Kelas empat, dengan usia sepuluh tahun saat itu dia sudah mengalami berbagai liku kehidupan. Selang beberapa saat dia kembali membuka mulutnya. “Setelah itu, saya ikut orang bekerja sebagai tukang pembuat batu bata” Deg, seolah ada yang memukul jantung ini begitu mendengar penjelasan Wawan mengenai aktivitas selepas keluar sekolah. Dari hasil kerjanya, dia gunakan untuk jajan dan membelikan susu untuk adik keponakannya.
    Air mata semakin banyak yang tidak bisa ditahan. Saya memeluknya untuk menghindari dia melihat saya menangis. Perlahan saya hapus air mata dengan lengan baju. “Dari ikut orang itu saya bisa menabung dan melanjutkan sekolah lagi sebelum pindah ke sini” Kata Wawan melanjutkan. Penjelasan panjang Wawan seketika mengubah persepsiku tentang dia. Dia tidak sebandel yang ada dalam bayangan dan saya yakin bisa berubah. Saya pegang tangannya yang berkeringat dingin.
    “Wan, mau tidak bapak dan ibumu bangga punya anak seperti kamu? Mau tidak kamu menghadiahkan pahala kepada mereka?” Tanyaku. Wawan hanya diam. “Kamu harus pintar Wan. Kamu harus belajar dan banyak beribadah agar orangtuamu juga mendapat kebaikan karena kebaikanmu. Kalau dulu kamu jarang shalat dan suka buang air kencing sembarangan, kamu harus merubahnya. Kamu bisa menjadi anak yang pintar dan shaleh. Orangtuamu pasti bangga punya anak seperti kamu” Kata saya selanjutnya. “Ya pak. Maafkan Wawan kalau selama ini banyak salah dan suka membuat guru marah” Tiba-tiba Wawan menjawab. “Bapak dan ibu guru tidak marah dengan kamu. Kami hanya ingin tahu mengapa dulu kamu sering seperti itu. Mungkin Wawan belum paham kalau itu salah. Nah, sekarang Wawan sudah tahu, saatnya Wawan berubah. Bisa?” Sambungku sambil mengusap rambutnya.
    Setelah percakapan itu saya pergi meninggalkan Wawan sendirian di kamar. Saya tahu, dia sebenarnya anak baik dan yakin bisa berubah. Sekarang saya pun baru menyadari mengapa Wawan begitu terampil kalau disuruh melakukan pekerjaan. Seperti saat hari raya idul adha kemarin, dia begitu cekatan mengiris daging kambing dan sangat cepat memasang spanduk ucapan selamat idul adha kepada kaum muslim. Harus diakui saya kalah dalam hal ini.
    Seminggu kemudian Wawan sudah sembuh. Selama sakit, saya memang sering menjenguk dan memberi banyak nasihat padanya. Kali ini dengan dandanan rapi; bersarung, baju koko dan berpeci hitam dia melangkahkan diri ke masjid. Segera saya melihat jam. Jarum pendek masih di angka dua dan jarum panjang ada diangka sebelas. Menunjukkan wakti shalat masih lima menit lagi. Saya yang saat itu masih di sekolah merasa takjub dengan penampilan Wawan. Saya dekati dia. “Wan, rapi banget” Sapaku. “Iya pak, saya ingin jadi anak shelah biar orang tua senang” Jawabnya. Guru mana yang tidak bangga mendengar dan menyaksikan sendiri perubahan pada muridnya. Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah atas hidayah yang ditujukanNya pada Wawan. Belakangan tidak hanya rajin ke masjid sebelum adzan, dia juga sudah mulai rajin belajar dan mengaji. Bahkan untuk memperlancar bacaan Al Qur’annya dia sering menarget sendiri jumlah halaman yang akan dibaca, di luar pembelajaran dengan guru. Tidak ketinggalan, shalat malam juga jarang ditinggalkan. Sejak sakit itu Wawan benar-benar berubah. Bahkan kalau dipilih siapa murid di asrama yang paling rajin, dialah pemenangnya. Nilai di sekolah juga mulai ada perbaikan.
    Bukti keterampilannya dia tunjukkan dengan menyabet juara satu dalam lomba pembuatan karya dari bahan bekas. Yang lebih membanggakan, Wawan adalah satu-satunya peserta yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Prestasi itu membuat kami tidak memandang Wawan sebagai biang kerusuhan dan susah diatur.
    Dari Wawan saya belajar untuk tidak mudah berprasangka buruk pada murid. Harus ada pendekatan untuk mendengar dan mengetahui latar belakangnya. Baru setelah itu ada masukan agar berbenah. Dan memang pendekatan murid dan guru adalah pendekatan orangtua. Wawan, kamulah inspirasiku. Iya, kamu.

    Koleksi Foto

    Wawan karya Bersama piala dan sertikfikat Wawan

    Wawan Bersama Piala, Hasil Karya dan sertifikat

     

    “Artikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

    Nama Penulis:
    Nama            : Andi Ardianto
    Aktivitas       : Guru SDIT Insan Cendekia, Teras, Boyolali
    No. Telepon : 085 725 153 164
    FB                  : Andi Ar

  • Kamu. Iya Kamu, Inspirasiku
    Namanya Wawan Nugroho, salah satu murid asal Magelang. Dia adalah murid pindahan kelas empat yang masuk di pertengahan tahun ajaran sehingga ada beberapa materi yang tertinggal. Tidak […]

  • Andi Ardianto became a registered member 3 years, 5 months ago

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar